Editorial Board

MIASMA TAHUN ASU 2024: CATATAN AKHIR TAHUN

Beberapa jam yang lalu 2024 telah berakhir dalam kalkulasi kalender masehi. Tahun 2024 terlalu jauh untuk dikonversi sebagai sebuah periode menggembirakan, meskipun tidak bisa dinobatkan menjadi periode yang tragis. Namun, karena kebingungan itu 2024 menjadi sebuah periode yang sangat melelahkan. Dalam berbagai ensiklopedia ilmu pengetahuan konon terdapat lebih dari dua puluh zona waktu di seluruh penjuru dunia. Oleh karenanya tidak mungkin membuat selebrasi pergantian tahun dilakukan serempak. Dalam periode satu tahun, tahun apapun dan kapanpun, miliaran peristiwa beruntun terjadi setiap hari. Mulai dari kabar negara, kematian, bencana alam, geger politik, ricuh ekonomi, arketip dan disrupsi populis, serta adegan-adegan ranjang lainnya. Meskipun terdengar klise karena setiap periode punya repetisi serupa yang memaksa bergerak dalam metanarasi pengejar cakrawala, namun bukankah demikian tugas

Read More »

Pernyataan Sikap Kami Terhadap Omnibus Law, Daripada “Ora Ngapa-Ngapa”

Pernyataan sikap ini kami buat secara sadar dan mungkin bisa membawa polemik. Sebagai komunitas ndakik-ndakik yang fokus pada isu-isu kontempeler, agaknya memang cukup sulit bagi kami membuat sebuah pernyataan sikap yang serius. Tetapi, atas desakan para anggauta agar ikut mendukung gerakan yang terus bergelombang tanpa henti, kami, komunitas yang berisikan anggauta mulai dari anak art kontempeler, tukang kendang, abdi negara dan koporat, wiraswata modal pas-pasan hingga pemuda yang punya obesi mati muda harus menyatakan sikap. Kami merasa perlu untuk ikut-ikutan menolak pengesahan Omnibus Law. Udang-Undang tersebut, merupakan peraturan yang literally sapu jagad. Beberapa lembaga dan organisasi masyarakat, akademisi, aktivis, mahasiswa hingga masyarakat umum telah menyatakan penolakannya. Tentunya dengan kajian dan hasil analisa yang tidak sembarangan juga. Kami telah menyimak seluruh paparan

Read More »

Kita Baik-Baik Saja untuk Merasa Tidak Baik-Baik Saja

Prolog Memasuki bulan September 2020, terhitung sudah lebih dari satu semester kita sebagai warga negara Indonesia hidup dalam kondisi pandemi. Selain menguras keuangan, kondisi pandemi ini juga menguras energi dan perasaan. Saya pernah menuliskan sebagian kecil dampak pandemi pada ruang lingkup pekerjaan pada bulan April 2020 lalu di laman ini. Tercatat hingga pertengahan bulan April jumlah pasien positif covid-19 sebanyak 10 orang menurut data pemerintah daerah. Sebuah jumlah yang bisa dibilang sedikit jika dibandingkan dengan ibukota yang sudah menginjak angka ribuan pada waktu yang sama. Meski dibilang minim, gejolak kepanikan masyarakat Purwokerto akan munculnya kasus positif tersebut sangat berasa dan berujung pada langkah lockdown mandiri yang dilakukan oleh beberapa wilayah, seperti salah satunya daerah saya sendiri di Purwokerto Selatan. Akses

Read More »

Bagaimana Orang-Orang di Sekitar Komunitas Kami Menghabiskan Masa Pandeni

Kami mencoba membuka ruang bagi para slurd sekalian untuk ikut berkeluh kesah. Beberapa tulisan telah masuk ke dalam kamar redaksi kami. Menarik, karena kami menerima tulisan dari berbagai macam latar belakang pekerjaan. Memang tidak bisa disangkal, bahwa kita semua tidak siap menghadapi wabah yang tidak hanya menyerang kesehatan tetapi juga secara sistemik mulai menjalar ke syaraf-syaraf mental kita semua. Sekaligus untuk yang pertama kalinya, kita berpuasa dengan membatasi diri dari lingkungan sekitar. Sore hari menjadi berbeda karena kita bahkan tidak bisa menikmati ngabuburit seperti masa puasa sebelumnya. Sekadar untuk beli takjil, kita bisa berpikir berkali-kali untuk memutuskan keluar rumah. Aksioma tentang setan yang dipenjara pada bulan puasa pun menjadi bahan bercandaan. “Ternyata bukan setan penyebab dunia ini rusak, kitalah yang

Read More »

Mengubah Dari Dalam? Emang Bisa? (Pengantar Redaksi Perilisan Buku Kapita Selekta Pemasyarakatan)

Tulisan ini merupakan pernyataan dari kami (Heartcorner Collective) sekaligus ucapan selamat atas diterbitkannya buku yang berjudul Kapita Selekta Permasyarakatan. Buku ini bisa dikatakan sangat spesial karena para penulisnya adalah orang-orang yang berkecimpung sebagai Aparatus Sipil Negara (ASN). Mereka bertugas sebagai Pembimbing Kemasyarakatan yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Kembali ke pertanyaan, apakah bisa mengubah dari dalam? Bukan barang aneh tentunya bahwa pekerjaan sebagai Aparatus Sipil Negara masih merupakan pekerjaan favorit. Bahkan dalam masa yang saat ini kerap disebut sebagai era disrupsi. Di mana setiap orang mampu menciptakan inovasi dengan kemampuan yang mampu merubah sistem lama menjadi sistem yang baru. Tetapi kerap kali, pengertian disrupsi hanya dimaknai dalam bidang teknologi dan informasi seperti: internet cepat, start up, sistem informasi manajemen

Read More »

Permintaan Maaf Saya Kepada Staf Khusus Milenial

Terima kasih sebelumnya kepada staff khusus milenial yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengisi waktu luang dengan membuat tulisan ini. Mungkin sudah banyak orang melontarkan tulisan kepada kalian. Jadi izinkan saya menambah satu tulisan lagi. Pertama, respon saya muncul karena beberapa kali membaca pemberitaan yang cukup santer tentang bagaimana kalian bekerja. Merepresentasikan diri sebagai bagian dari golongan milenial yang sedang turut memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara jelas patut untuk dipertanyakan. Sepanjang Indonesia berdiri persoalan representasi adalah bagian yang sering menjadi pertanyaan. Karena bahkan saya sendiri sangat meragukan sistem representasi sejak saya mulai memiliki hak pilih dan mampu membaca. Tentunya, tidak perlu merasa mewah hanya karena membaca buku tebal seperti yang dikatakan oleh Budiman Sujatmiko. Biasa bae, karena saya

Read More »

Berita Lelayu: Daun Studio Resmi Ditutup

Daun studio merupakan tempat nongkrong bapak-bapak Metalhead seram sampai dianggap sebagai medium oleh skena lokal untuk berkembang di Purwokerto. Saat ini Daun studio ditutup dan rumah yang dijadikan studio telah dijual oleh istri almarhum pemilik. Bertahan cukup lama pasca meninggalnya om Tomu sang pemilik, akhirnya pada akhir tahun 2019 studio yang sudah tidak ramai pengunjung ini ditutup.   Waktu itu sekitar tahun 2012. Masih sangat membekas di ingatan ketika pertama kali saya dan teman-teman band semasa SMA mencicipi studio Daun untuk latihan sepulang sekolah lengkap dengan seragam dan rokok ketengan. Dulu bahkan sampai sekarang di Purwokerto banyak studio yang melarang musik metal untuk masuk. Beberapa studio bahkan dengan jelas meletakkan label besar “No Punk No Underground” di pintu gerbang mereka. Dengan alasan

Read More »

Memoar Sang Pengobar Api

I Young and Glory vol. 2 bisa dibilang cukup spesial. Gig tersebut berawal dari orang yang tidak mengenal satu sama lain dan buta dalam menyelenggarakan gig, mereka ditantang untuk membuat sebuah gig. Persiapan memakan waktu hingga 3 bulan karena berbagai kendala mulai dari masalah sponsor dan finansial yang tak semudah dibanding saat mengelar Pensi SMA hingga sulitnya mencari venue untuk gig skala menengah. Imbasnya, lamanya waktu tersebut membuat setiap orang yang terlibat jadi semakin intens berkomunikasi dan akhirnya menciptakan kedekataan personal. Hal tersebut berlanjut jauh meskipun gelaran Young and Glory vol.2 sudah usai. Contohnya, para alumnus selalu berkumpul malam hari di Kopi Kebon – yang saat itu masih berlokasi di Jatiwinangun sebagai tempat merumuskan gig dan bertemu dengan “yang tua-tua”-.

Read More »

Membangun Memori Kolektif tentang Irfan Gama Setiawan

Irfan Gama Setiawan atau Acong telah pergi pada 23 Juli 2016 kemarin. Ia tidak akan kembali secara fisik. Meskipun banyak keyakinan yang bersliweran di dunia maya  yang menganggap ia akan tetap ada, tapi kita harus menerima bahwa secara fisik ia telah tiada. Keberadaan selalu berkaitan dengan eksistensi fisik. Maka, saat Acong pergi, baik sepertinya untuk merawat ingatan kita mengenai apa saja tentangnya. Namun ini bukan sesuatu yang mudah mengingat kehilangan Acong bukan kehilangan yang bersifat personal melainkan bersifat kolektif. Ia tidak hanya dimiliki oleh satu-dua kolektif atau komunitas yang hidup di Purwokerto. Banyak kolektif yang merasa memilikinya karena hasil karyanya sering digunakan di sana-sini. Kami sebagai salah satu kolektif yang entah berapa kali merasa terbantu dengan hasil karya dan kerap nongkrong bareng di

Read More »

MIASMA TAHUN ASU 2024: CATATAN AKHIR TAHUN

Beberapa jam yang lalu 2024 telah berakhir dalam kalkulasi kalender masehi. Tahun 2024 terlalu jauh untuk dikonversi sebagai sebuah periode menggembirakan, meskipun tidak bisa dinobatkan menjadi periode yang tragis. Namun, karena kebingungan itu 2024 menjadi sebuah periode yang sangat melelahkan. Dalam berbagai ensiklopedia ilmu pengetahuan konon terdapat lebih dari dua

Read More »

Pernyataan Sikap Kami Terhadap Omnibus Law, Daripada “Ora Ngapa-Ngapa”

Pernyataan sikap ini kami buat secara sadar dan mungkin bisa membawa polemik. Sebagai komunitas ndakik-ndakik yang fokus pada isu-isu kontempeler, agaknya memang cukup sulit bagi kami membuat sebuah pernyataan sikap yang serius. Tetapi, atas desakan para anggauta agar ikut mendukung gerakan yang terus bergelombang tanpa henti, kami, komunitas yang berisikan

Read More »

Kita Baik-Baik Saja untuk Merasa Tidak Baik-Baik Saja

Prolog Memasuki bulan September 2020, terhitung sudah lebih dari satu semester kita sebagai warga negara Indonesia hidup dalam kondisi pandemi. Selain menguras keuangan, kondisi pandemi ini juga menguras energi dan perasaan. Saya pernah menuliskan sebagian kecil dampak pandemi pada ruang lingkup pekerjaan pada bulan April 2020 lalu di laman ini.

Read More »

Mengubah Dari Dalam? Emang Bisa? (Pengantar Redaksi Perilisan Buku Kapita Selekta Pemasyarakatan)

Tulisan ini merupakan pernyataan dari kami (Heartcorner Collective) sekaligus ucapan selamat atas diterbitkannya buku yang berjudul Kapita Selekta Permasyarakatan. Buku ini bisa dikatakan sangat spesial karena para penulisnya adalah orang-orang yang berkecimpung sebagai Aparatus Sipil Negara (ASN). Mereka bertugas sebagai Pembimbing Kemasyarakatan yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Kembali

Read More »

Permintaan Maaf Saya Kepada Staf Khusus Milenial

Terima kasih sebelumnya kepada staff khusus milenial yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengisi waktu luang dengan membuat tulisan ini. Mungkin sudah banyak orang melontarkan tulisan kepada kalian. Jadi izinkan saya menambah satu tulisan lagi. Pertama, respon saya muncul karena beberapa kali membaca pemberitaan yang cukup santer tentang bagaimana

Read More »

Berita Lelayu: Daun Studio Resmi Ditutup

Daun studio merupakan tempat nongkrong bapak-bapak Metalhead seram sampai dianggap sebagai medium oleh skena lokal untuk berkembang di Purwokerto. Saat ini Daun studio ditutup dan rumah yang dijadikan studio telah dijual oleh istri almarhum pemilik. Bertahan cukup lama pasca meninggalnya om Tomu sang pemilik, akhirnya pada akhir tahun 2019 studio

Read More »

Memoar Sang Pengobar Api

I Young and Glory vol. 2 bisa dibilang cukup spesial. Gig tersebut berawal dari orang yang tidak mengenal satu sama lain dan buta dalam menyelenggarakan gig, mereka ditantang untuk membuat sebuah gig. Persiapan memakan waktu hingga 3 bulan karena berbagai kendala mulai dari masalah sponsor dan finansial yang tak semudah

Read More »

Membangun Memori Kolektif tentang Irfan Gama Setiawan

Irfan Gama Setiawan atau Acong telah pergi pada 23 Juli 2016 kemarin. Ia tidak akan kembali secara fisik. Meskipun banyak keyakinan yang bersliweran di dunia maya  yang menganggap ia akan tetap ada, tapi kita harus menerima bahwa secara fisik ia telah tiada. Keberadaan selalu berkaitan dengan eksistensi fisik. Maka, saat

Read More »