Bagaimana Orang-Orang di Sekitar Komunitas Kami Menghabiskan Masa Pandeni

#membayangkankembalipurwokerto edisi Pandemi

Kami mencoba membuka ruang bagi para slurd sekalian untuk ikut berkeluh kesah. Beberapa tulisan telah masuk ke dalam kamar redaksi kami. Menarik, karena kami menerima tulisan dari berbagai macam latar belakang pekerjaan.

Memang tidak bisa disangkal, bahwa kita semua tidak siap menghadapi wabah yang tidak hanya menyerang kesehatan tetapi juga secara sistemik mulai menjalar ke syaraf-syaraf mental kita semua. Sekaligus untuk yang pertama kalinya, kita berpuasa dengan membatasi diri dari lingkungan sekitar. Sore hari menjadi berbeda karena kita bahkan tidak bisa menikmati ngabuburit seperti masa puasa sebelumnya. Sekadar untuk beli takjil, kita bisa berpikir berkali-kali untuk memutuskan keluar rumah. Aksioma tentang setan yang dipenjara pada bulan puasa pun menjadi bahan bercandaan. “Ternyata bukan setan penyebab dunia ini rusak, kitalah yang perlu dipenjara agar bumi kembali pulih”.

Ya apapun itu, saat ini memang semua orang berusaha membuat jokes untuk membuat syarat tetap kendor. Mengutip Putu Wijaya dalam laman facebooknya, katanya “Lelucon. Salah satu senjata pertahanan yang banyak dianjurkan dalam memerangi pandemi global corona, adalah tetap gembira. Dan salah satu doping untuk selalu gembira adalah humor. Tak sedikit lelucon yang sudah lahir dari berbagai keadaan mencekam yang tujuannya membuat syaraf yang tegang kembali kendor”.

Tulisan mengeluh pun muncul dari salah satu Aparatus Sipil Negara (ASN) favorit skena bernama mas Atiq alias Pardi. Seorang ASN yang kami anggap hidupnya sangat mapan dan cukup glamour ternyata juga memiliki keresahan. Meskipun begitu, sebagai role model pemuda/I skena masa kini Mas Atiq sama sekali tidak mengeluhkan perihal pendapatan yang berkurang, seperti yang dikeluhkan penulis lainnya. Hal ini juga merupakan bukti, bahwa pesan orang tua kita untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil agar hidup yang nyaman dengan banyak jaminan hari tua patut dipertimbangkan kembali. Ia tidak risau akan pengurangan tenaga kerja, karena jelas-jelas telah memiliki SK pegawai negeri yang bisa sekolah sewaktu-waktu. Ia sangat gelisah karena anak keduanya akan lahir tetapi tidak bisa kembali ke Purwokerto. Kegelisahan yang sangat melampaui pemuda/I pada zamannya.

 

*

1. Jalom Noor (Sekarang Jadi Streamer, 36 tahun)
Semenjak pandemi ini saya banyak liat liat video tutorial apa aja, nemu sesuatu yang menarik, trus bikin talkshow online streaming. Kemarin baru dilaunch Rabu, 29 April 2020 dan kayaknya akan terus jalan, selain live-live ambyar saya di facebook pribadi.

2. Bima CB (Pelatih Kontrak, 25 tahun)
Tahun 2020 merupakan tahun yang sudah saya tunggu-tunggu karena di tahun 2020 merupakan tahun dimana kejuaraan bergengsi diadakan termasuk PON 2020. Namun hal tersebut kini hanya menjadi impian saja karena pandemi yang memaksa para atlit untuk di rumah saja. Memang latihan dapat di rumah saja, tetapi hal tersebut kurang maksimal.

Di dalam kondisi seperti ini saya hanya dapat mengimbau dan memotivasi atlit agar tetap semangat untuk terus berlatih walau hanya secara online agar performa mereka tidak menurun dan berdoa agar pandemi ini segera berlalu.

Untuk saya sendiri sebagai pelatih kontrak hal ini tentu merupakan tendangan telak dimana saya yang selama ini memperoleh penghasilan dari melatih dan memperoleh hiburan saat berlatih dan bertemu atli-atlit saya harus terhenti . Akan tetapi saya harus terus bertahan dan saya selalu ingat pesan pelatih saya dulu ” juara sejati itu bukan yang tak terkalahkan, tetapi yang memiliki semangat tak terkalahkan” hal itu juga yang saya sampaikan pada atlit-atlit saya agar terus semangat jangan sampai pandemi ini menghilangkan semangat mereka.

3. Aiza Nabila (Magister 4.0 dan Anak Rumah Tangga, 25 tahun)
Dibandingkan dengan kebanyakan orang, saya mungkin adalah salah satu manusia yang mengkarantina diri lebih awal yakni sejak 14 Maret 2020. Momen yang menyadarkan saya adalah ketika datang untuk berbelanja frozen food di sebuah swalayan daerah UGM. Semuanya kosong tidak tersisa, termasuk sayur dan bahan masakan lainnya.

Singkat cerita, ketika beberapa urusan di Yogyakarta selesai, singgah di Purwokerto adalah agenda selanjutnya sekaligus datang ke acara pernikahan sahabat saya. Hal tersebut tidak bisa terlaksana karena imbauan agar tidak menciptakan kerumunan (social/physical distancing).

Sebagai orang lain tentunya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan sahabat saya yang harus menunda resepsi dan menetapkan waktu, sementara virus Covid-19 ini tidak memiliki masa tenggang. Bagaimana biaya serangkaian pernikahan yang sudah diserahkan baik down payment atau bahkan telah lunas harus direlakan begitu saja. Melihat kejadian tersebut, dampak buruk yang dialami oleh orang lain tidak dialami oleh saya pribadi.

Saat pulang maka status saya adalah pengangguran berkedok mahasiswa. Ketika pandemi ini bertahan, kuncinya saya juga harus bertahan. Contohnya, ketika pundi uang sudah habis meminta orang tua bukanlah sebuah solusi. Saya mendaftar pekerjaan kesana kemari namun belum ada panggilan. Hingga berpikir untuk menjadi reseller bakso tulang yang begitu fantastis pesanannya. Menambah skill masak mulai dari makanan rumahan hingga kue dengan peralatan dapur seadanya menjadikan diri ini semakin mahir dan tertantang. Kini status saya adalah Anak Rumah Tangga. Kemudian mengagendakan untuk membaca buku yang belum tuntas saya baca. Juga mengikuti drama korea hits beberapa bulan ini sekaligus melihat kerumunan manusia di twitter yang begitu antusias dengan teori konspirasi yang ujungnya menjadi cocokologi beserta keluhan yang setiap hari mereka ketik dengan inti yang sama “AKU BOSAN”.

4. Atiq Fivian Alfa (Oknum ASN Guru, 32 Tahun)
Purwokerto adalah kampung halaman yang tiap tahun mempertemukan kerabat maupun sahabat untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri. Saya dan keluarga besar berkumpul setahun sekali. Kesedihan tentu ada dalam benak ini, namun seperti yang dikatakan pemerintah bahwa mudik dan pulang kampung memiliki pengertian yang berbeda, nampaknya Purwokerto akan tetap menjadi ‘rumah’ untuk beberapa orang yang tidak bisa membendung rindunya dengan mengesampingkan resiko penularan Covid-19 yang begitu cepat serta telah menginjak 770 lebih kematian ini.

2020 harusnya menjadi tahun yang spesial bagi semua orang di belahan bumi manapun, tanpa terkecuali termasuk saya. Sebagai seorang Guru yang setiap bulannya sudah ada yang harus dipikrkan seperti masalah ekonomi keluarga saya, pademi ini tidak berpengaruh apa-apa alias biasa bae dari segi ekonomi.

Secara sosialpun tidak banyak yang berubah, karena kebetulan saya tinggal di komplek perumahan yang sejatinya banyak yang sudah meninggalkan budaya srawung dengan tetangga, bahkan kanan kiri rumah sayapun kosong tidak berpenghuni, entah kalau kehidupan tak kasat matanya. Jadi sekali lagi pandemi ini sangat tidak berpengaruh dalam lingkungan sosial di sekitar tempat tinggal saya. Karena saya terbiasa di rumah dengan kegiatan parenting dan yang pasti selalu bermain FIFA setiap harinya, Nonton cerita-cerita horor di Youtube, atau hanya re-run anime kaya Dragon Ball, One Piece, Captain Tsubasa sampai hafal setiap adegannya, pandemi ini lagi-lagi tidak terlalu berdampak kepada keseharian saya yang gitu-gitu aja. Hanya saja sekarang waktu saya bertambah ketika di depan komputer tercinta.

Sebagai seorang guru peralihan tanggungjawab pekerjaan selama pandemi ini dilaksanakan secara daring, namun pada kenyataannya tempat saya bekerja itu merupakan tempat yang bisa dibilang terpencil, harus ditempuh dengan transportasi air, bahkan secara geografis sudah terpisah dari pulau Jawa. Yang dimana tidak ada fasilitas yang memadai di sana. Jangankan untuk melaksanakan daring, untuk mencari sinyal hanya sekedar untuk telpon atau SMS saja susah. Jadi kewajiban daringpun dilaksanakan tidak seperti di kota yang interaktif, hanya bermodalkan Whatsapp.

Justru hal yang membuat saya terpukul selama pandemi ini adalah saya terpaksa tidak bisa kembali ke Purwokerto untuk sementara waktu dan tetep kepater di Cilacap tanpa sanak famili, padahal tahun ini Istri saya akan melahirkan anak ke-2 saya yang kebetulan pertengahan Mei ini diperkirakan lahir. Padahal saya sudah berandai-andai kalau nanti anak saya lahir, saya dan keluarga akan kembali ke Purwokerto sembari merayakan Idul Fitri, bahkan Istri saya sudah memikirkan akan melahirkan di mana nanti. Semua harapan tersebut musnah seketika karena pandemi ini. Istri saya sudah tidak bisa kembali ke Purwokerto, kecuali mengurus perizinan sampai tingkat kecamatan dan yang pasti itu akan sangat ribet dan harus memenuhi syarat lolos jadi ODP. Terlebih lagi saya sebagai Abdi Negara sudah diwanti-wanti untuk tidak mudik kecuali atas seizin kepala Dinas.

Kadang saya berfikir, apa efeknya ketika pandemi ini berakhir, apakah akan seperti film-film Fiksi Ilmiah bertemakan wabah ataupun kehidupan carut marut setelah kerusakan bumi yang saya tonton? Semoga saja tidak. Tapi apalah mau dikata, pandemi ini entah kapan akan berakhir tidak ada yang tahu. Semoga segera kembali ke kehidupan normal, karena anak ke-2 ku juga harus mengenal Purwokerto.

5. Naufal KD (Pelajar, 24 tahun)
Bangkrek abis! Karena saya penyuka teori konspirasi, saya meyakini betul bahwa pandemi ini sengaja disebarkan oleh sekelompok orang untuk tujuan tertentu. Kesalnya, ini orang siapa si ?! bangkreknya tuh banget, jadi bikin merembet-rembet dan banyak yang amsyong gara-gara kepentingannya ini orang-orang. Agendanya banyak, saya sudah membayangkan tahun 2020 ini akan menjadi taun yang “weseh” dan saya tunggu-tunggu banget, salah satu yang paling bikin kesel ya jelas banget adalah ga jadi nonton mas corey dkk! dimundurin setahun lagi acaranya.

Band saya bersama empat orang teman saya yang lain pun ikut sedikit merasakan imbasnya, ya banyak ding. Awal-awal tahun yang seharusnya bisa banget buat band-band nan sembari pamer-pamer EP baru pun akhirnya harus pupus dan berakhir dengan pamer lewat social media saja. Yah, tapi tetap disyukuri, karena dampak positifnya kita jadi punya lebih banyak waktu luang untuk fokus mematangkan materi di agenda besar kita selanjutnya, asik.

Dampak lainnya dan yang paling terasa buat saya pribadi, yakni bisnis warmindo “Burya Yohni” yang saya dan dua orang teman saya baru rintis di awal-awal tahun ini. Harus merelakan warung yang baru satu bulan oprasional itu sekarang harus istirahat dahulu, karena memang tidak memungkinkan untuk tetap beroprasi secara efektif di tengah pandemi seperti ini. Padahal, saya sudah berencana membeli putus Lapangan Sumampir buat lahan parkir Burya Yohni.

Membayangkan jika nantinya pandemi ini akan berjilid-jilid lamanya, saya jelas akan mencari satu orang yang saya rasa paling bertanggung jawab dari mbabitnya pandemi ini, yaitu bundemi. Ya soalnya pa ndemi bandel ya obatnya bu ndemi! hehehe lucu dong pasti.

Tapi ya sudah lah, mau bagaimana pun, entah ini konspirasi atau apapun itu, yang jelas dengan adanya pandemi ini banyak hal yang saya sadar betul sebenarnya memberikan hikmah-hikmah positif, terutama untuk kehidupan pribadi saya. Pun semoga juga kepada siapapun diluar sana yang sedang berjuang bersama melewati pandemi ini. Semoga ini lekas berlalu, semoga kita semua segera pulih. Pulih dari keadaan, maupun pulih dari rasa syukur yang mungkin masih kurang.

6. Bhaskara Anggarda GS (Mahasiswa, 28 tahun)
Sebagai seorang mahasiswa saya mengisi masa pandemi ini dengan kuliah, meeting dan diskusi daring dengan pembimbing akademik. Oiya, ini merupakan Ramadhan tahun kedua saya di Turki. Kebetulan saya sedang kuliah S3 di Turki, nek jere Henrikus Direktur Koperasi Ke666elapan “bocah koh senenge sekolah baen langka bosene”.

Menjalani masa karantina saat pandemi dan juga harus berpuasa sebenarnya tidak menjadi masalah. Saya masih dapat berpuasa dan menikmati uang beasiswa secara full walau beban kuliah tidak lagi full. Selain hal-hal yang saya sebutkan di atas tadi, saya juga mengisi masa pandemi dengan masak, menamatkan beberapa series di netflix dan sesekali menonton upin-ipin di youtube.

Entah kenapa selama pandemi ini saya merasa tidak produktif, mungkin hanya perasaan saya saja. Soalnya saya terbiasa bekerja di lapangan untuk mengambil data, mengamati tanaman dan melihat pertumbuhan batang dan akar padi. Selama pandemi ini saya merindukan padi saya di lahan dan ekstrak kultur jaringan di laboratorium. Ruang gerak pun semakin terbatas, karena di Turki menerapkan sistem weekend lockdown. Setiap Jumat-Minggu kami dilarang keluar rumah dan pemerintah Turki menerapkan denda bagi yang melanggarnya.

Secara ekonomi saya juga tidak mengalami masalah yang cukup berarti, walaupun ada beberapa harga bahan makanan yang naik tetap tidak menjadi masalah. Uang beasiswa yang saya terima dari Erdogan alhamdulilah di atas UMR kota tempat saya tinggal di Turki, jadi masih aman lah. Selain itu juga sesekali saya mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah atau LSM kemanusiaan yang ada di sini.

Satu-satunya masalah terbesar bagi saya adalah ketika memasuki pukul 14.00 waktu Turki, dimana di saat yang bersamaan waktu berbuka puasa sedang berlangsung di Purwokerto. Saya masih harus berpuasa dan menanti waktu berbuka yang masih 6 jam lagi, iya di Turki tahun ini kami berpuasa 16 jam. Belum lagi melihat postingan mendoan bumbu kacang dan kolak biji salak membuat beban hidup terasa semakin berat.

7. Husni (ASN, 33 Tahun)
Pada masa pandemi ini saya merasa sangat terpukul, bukan karena kondisi keuangan tapi karena mobilitas yang dibatasi oleh yang berwenang. Masih sangat bersyukur masih dapat THR senilai gaji pokok tanpa tunjangan jabatan, sementara di luar sana PHK sedang meraja lela. Pulukan itu adalah tidak bisa pulang ke Jakarta untuk bertemu keluarga itu cobaan yang berat terutama karena si kecil sedang lucu-lucunya mulai belajar bicara. Ini kebahagiaan utama hidupku sekarang, karena hampir cita-cita pribadi sudah tidak ada sejak serangan G30S CPNS pada tahun itu hahaha.

Selama pandemi dengan sistem kerja WFH dengan piket harian kantor 2 kali seminggu membuat banyak waktu luang untuk berada di rumah. Waktu tersebut lebih banyak saya gunakan untuk tidur, nonton film dan membayar hutang bacaan yang belum selesai. Tapi berdosa rasanya makan gaji buta dari APBN. Menjelang bulan Ramadan saya dan tetangga rumah dinas sebelah bercapak ringan tapi berujung mendalam. Munculah ide untuk mengumpulkan tulisan teman-teman ASN dari penjuru Indonesia yang masih mau “mikir”. Mulailah tugas dibagi, mulai dari editing layout dan hal operasional lain yang biasa dilakukan jika mau menerbitkan buku. Obrolan buku ini saya ceritakan pada teman saya Henrikus di Purwokerto, ya… saya hanya menunjukan design cover yang rencana akan kami gunakan. Satu kata yang dia katakan, design kaku banget! Satu kata yang menggambarkan kehidupan ASN di Kementerian yang semi militer ini. Kerja di instansi yang kebanyakan slogan anti korupsi tapi doyan piti,daripada kerja bersih dan melayani majikan (masyarakat), membosankan bukan? Hidup di tengah kemunafikan.

Singkat cerita Henrikus menawarkan bantuan, salah satu temannya Fajar Peloo bersedia membuatkan kami design cover buku, dan luar biasa hasilnya. Bahkan orang jadi tertarik membaca buku karena melihat covernya dulu. Buku yang tadinya kita buat untuk dengan niat agar gaji yang kita dapat pas WFH ini tetap berkah jadi nafkah keluarga dengan tetap berkarya meski wabah sedang melanda. Meski minim sambutan dari internal instansi tempat kami bekerja, Alhamdulillah kerja kolektif tim penulis dengan masing-masing jejaringnya mampu mendapat testimoni dari para tokoh penting (menurut kami), dari guru besar psikologi forensik, juru bicara KPK hingga guru bangsa mantan Ketua PP Muhammadiyah serta mantan Wakil Menteri di Kementerian kami pada masa pemerintah Presiden sebelum Jokowi.

Yaa ini cerita baiknya sih, tapi sisa hari lainnya saya tetap gunakan untuk tidur dan baca buku ketimbang kayak seleb-seleb sosmed yang ramai berbincang tentang Covid-19. Ya tidur bagiku cara memperpendek waktu, semoga pas bangun bencana wabah ini cepat berlalu. Percaya pada para ilmuwan medis yang bekerja keras dan saya hanya bisa membantu doa dan tetap di rumah.

***

Dari sekian banyak tulisan yang masuk, ternyata memang pandemi ini memaksa kita semua untuk mengubah cara hidup kita secara mendasar. Sekaligus memberi waktu untuk lebih lama berpikir dan berrefleksi tentang apa yang telah kita kerjakan semasa hidup. Kembali lagi melontarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan.

Kami masih membuka peluang bagi dari teman-teman yang berminat berpartisipasi untuk kami unggah di laman kami dengan tagar #membayangkankembalipurwokerto. Teman-teman bisa mengisinya dengan apa saja mulai dari keluh kesah sampai ramalan salah tempat sekaligus konyol yang membayangkan bagaimana dunia ini setelah pandemi selesai tanpa pernah memikirkan bagaimana dunia ini ketika menghadapi pandemi yang tak selesai-selesai. Kami akan terus menginformasikannya. Tetap sehat karena kami berjanji, kalian di rumah saja, skena biar kami yang urus. Dari rumah juga, tentu saja.

#membayangkankembalipurwokerto edisi pandemi merupakan program dengan beragam medium
Dalam medium foto sudah bisa dilihat di instragram @heartcorner
Dalam medium video akan diunggah di chanel youtube heartcornerTV pada hari Jumat 1 Mei 2020
Dalam medium tulisan kolektif bisa teman-teman bisa berpatisipasi dengan mengunggah tulisan melalui google form dengan mengisi form di alamat ini

Previous Hyndia - Manusia & Rasanya
Next Press Release Like I Wanted by Dynamic Duo