Mengubah Dari Dalam? Emang Bisa? (Pengantar Redaksi Perilisan Buku Kapita Selekta Pemasyarakatan)


Tulisan ini merupakan pernyataan dari kami (Heartcorner Collective) sekaligus ucapan selamat atas diterbitkannya buku yang berjudul Kapita Selekta Permasyarakatan. Buku ini bisa dikatakan sangat spesial karena para penulisnya adalah orang-orang yang berkecimpung sebagai Aparatus Sipil Negara (ASN). Mereka bertugas sebagai Pembimbing Kemasyarakatan yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Kembali ke pertanyaan, apakah bisa mengubah dari dalam?

Bukan barang aneh tentunya bahwa pekerjaan sebagai Aparatus Sipil Negara masih merupakan pekerjaan favorit. Bahkan dalam masa yang saat ini kerap disebut sebagai era disrupsi. Di mana setiap orang mampu menciptakan inovasi dengan kemampuan yang mampu merubah sistem lama menjadi sistem yang baru. Tetapi kerap kali, pengertian disrupsi hanya dimaknai dalam bidang teknologi dan informasi seperti: internet cepat, start up, sistem informasi manajemen berbasis komputer dan lainnya.

Perhatian kita sering kali luput, bahwa disrupsi juga perlu diterapkan dalam birokrasi yang bekerja dengan sistem yang sebenarnya telah sangat usang. Dalam konteks negara, sejarah birokrasi tidak akan pernah lepas dari keberadaan dan perkembangan negara itu sendiri. ASN adalah personifikasi birokrasi di Indonesia. Secara kuantitas terdapat sekitar 4.285.576 orang yang bekerja di sektor pemerintahan (data jumlah PNS, Kemenpan RB, 11 Juni 2019).

Secara kasat mata, kita melihat bahwa dalam birokrasi yang sangat besar, sama sekali tidak nampak dinamika yang terjadi. Mirip seperti buruh pabrik konveksi, ASN pun nampak serupa. Mekanis, formal, kaku dan terkesan cenderung ribet. Kita selalu memahami mereka sebagai pengabdi penguasa, bukan pengabdi masyarakat. Kita bisa berdebat tentang itu, apakah hanya asumsi atau memang telah menjadi fakta.

Selain menganggap bahwa ASN adalah sekelompok pengabdi penguasa, menerima gaji dari dana yang diambil dari masyarakat, dekat dengan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, serta sering kali memakan anggaran yang sangat besar untuk mereka (birokrasi) sendiri. Sepertinya kita juga perlu berlaku adil, bahwa dalam birokrasi terdapat juga subjek-subjek berpikir yang tidak bisa diabaikan. Mereka juga individu yang berkesadaran seperti kita.

Individu di dalam birokrasi juga memiliki pengetahuan yang sama berkembangnya seperti kita. Tetapi kenapa, gambaran besar dalam birokrasi selalu terlihat mengabaikan individu yang kreatif, inovatif, reflektif dan kritis? Kenapa asumsi bahwa Ketika masuk ke dalam pemerintahan menjadi ASN seakan membuat orang yang berada di dalam menjadi terlumat sistem tersebut? Apakah birokrasi kita memang seperti tangan besi? Atau jangan-jangan itu adalah penjara dalam bentuk lain, yang memaksa orang untuk turut patuh?.

Buku ini merupakan titik terang, bahwa di dalam birokrasi masih terdapat individu yang tetap berpikir, dan menginginkan perubahan.  Mereka berusaha menjaga kesadaran, pengabdian dan mencari formulasi untuk membumikan gagasan tentang bagaimana birokrasi harus bekerja untuk masyarakat.

Untuk itu, kami (Heartcorner Collective) merasa perlu untuk ikut menyebarluaskan gagasan tersebut. Serta memberi dukungan kepada kawan-kawan lainnya untuk juga memulai mendokumentasikan gagasannya. Sesekali kita mungkin perlu percaya kata-kata Marcos bahwa “Another World Is Possible”.

Buku tersebut dapat di akses secara gratis di sini Buku Kapita Selekta Pemasyarakatan

 

Previous Bagaimana Anggauta Komunitas Kami Menghabiskan Masa Pandemi
Next Hyndia - Manusia & Rasanya