Bagaimana Anggauta Komunitas Kami Menghabiskan Masa Pandemi

#membayangkankembalipurwokerto edisi Pandemi

Setiap komunitas memiliki cara sendiri-sendiri untuk menghadapi masa pandemi yang semakin mengkhawatirkan ini. Sebagian menghabiskannya dengan berusaha sekeras mungkin terlihat tetap sibuk, sebagian mengumpat dan merencanakan untuk membalas dendam entah pada siapa ketika masa ini usai, sebagian membualkan pemikiran positif beracun melalui petuah-petuah untuk tetap kuat bernada retoris, dan sebagian lagi seperti kami, mungkin, tidak tahu harus berbuat apa.

Ketidaktahuan kami untuk harus berbuat apa didasari pada beragamnya latar belakang anggauta yang tergabung. Itu hal biasa, semua komunitas juga sama. Ketidaktahuan tersebut mendorong kami untuk mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi ketika kami harus diam di rumah. Dorongan besarnya tentu saja untuk menunjukkan seberapa naik atau merosotnya kadar kewarasan dan perekonomian kami selama masa pandemi ini. Kami beranggapan sekaligus langsung menyetujuinya bahwa dua hal tersebut adalah hal penting yang harus diungkapkan, karena dua hal tersebut adalah hal yang paling terimbas besar dari pandemi ini.

1. Wiman Rizkidarajat (Dosen, 33 Tahun)
Selama masa pandemi sebenarnya tidak banyak pukulan yang saya rasakan. Sebagai seorang yang beruntung menjadi tanggungan negara, pandemi hanya merumahkan saya secara fisik karena kegiatan perkuliahan dipindah wahanakan dari langsung menjadi daring.

Kegiatan tersebut paling-paling cuma membuat saya harus kerja lebih karena beberapa mahasiswa meminta tambahan materi kuliah secara daring di luar jam mengajar atau kegiatan administrasi yang sifatnya harus segera diselesaikan saat itu juga. Bukan sesuatu yang besar.

Juga dengan kewajiban di RT tempat saya tinggal yang mewajibkan setiap orang untuk mengubah kegiatan rondanya dari berjaga dan mengambil uang jimpitan menjadi menjaga portal yang dipasang di depan gang sebagai upaya melindungi warga RT dari menyebarnya pandemi. Bukan sesuatu yang besar sama sekali.

Satu-satunya hal yang besar dan kerap melintas di pikiran saya hanya mengapa tidak semua orang seberuntung saya. Dan kalaupun saya mencoba membagi keberuntungan, satu hal masih menghantui adalah pertanyaan, bagaimana membuat bagi-bagi keberuntungan itu menjadi sesuatu yang berkelanjutan dan dapat menjadi jaring pengaman alih-alih terus menerus menjadi sesuatu yang bersifat karitatif. Karena sampai menuliskan rangkaian kalimat ini saya belum menemukan jawabannya dan seperti tidak berbuat apa-maka, maka itu sesuatu yang besar bagi saya.

2. Kemal Fuad Ramadhan (Pekerja Swasta, 31 Tahun)

Menurut angan-angan saya, tahun 2020 akan menjadi sebuah rangkaian hari-hari yang menyenangkan untuk dijalani. Penuh dengan optimisme dan potensi-potensi positif. Terlebih lagi bagi saya pribadi, angka 20 adalah nomor kesukaan. Jadi, setumpuk energi maksimal sudah disiapkan untuk menghadapi ‘tahunku’ ini. Setidaknya itu yang saya bayangkan semenjak akhir tahun lalu mengingat sederet hal-hal yang sudah saya dan teman-teman jalani.

Pucuk dicinta, ulam tak kunjung tiba. Tahun yang dinanti malah ternyata sangat menyakiti hati. Belum penuh 3 bulan berlalu, tahun 2020 sudah banyak menguras energi kesedihan lewat berita-berita pilu. Salah satunya mengenai wabah Covid19 yang menjangkiti berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Pukulan yang begitu terasa bagi saya adalah pada sektor finansial. Sebagai pelaku bisnis perorangan skala kecil menengah pada sektor jasa & produk di bidang food & beverages yang sudah cukup mapan sejak 2016, saya harus merasakan babak belur dihajar rindu. Eh, maksudnya virus.

Dengan adanya penyebaran wabah yang begitu masif pada akhirnya mengubah perilaku masyarakat di Purwokerto, khususnya pada pola konsumsi. Setelah ditetapkannya status waspada kota, diiringi dengan beberapa kebijakan seperti work from home, kuliah daring, dan beberapa lainnya berakibat bagi pendapatan bisnis yang saya kelola.

Penurunan omset mencapai hingga menyentuh angka kurang lebih 90% dari kondisi normal. Hal ini tentu berpengaruh besar bagi pengambilan keputusan bisnis yang sedang dalam kondisi tidak sehat, secara sosial, kesehatan, dan finansial.

Hidup berjalan tak sesuai harapan, sebetulnya bukan sebuah hal baru bagi saya. Saya juga percaya bahwa berharap adalah menanam luka. Tapi ketika kita membangun harapan kolektif, setidaknya kita punya banyak tenaga untuk merawat tujuan bersama. Seseorang pernah menulis, kehilangan harapan berarti kehilangan segalanya. Mungkin setelah kita melewati ini, kita tidak akan pernah sama lagi. Semoga kita bisa segera berjumpa lagi. Aku, dan kamu.

3. Henrikus Adi Setya (Wiraswasta, 30 Tahun)
Awalnya saya adalah seorang pekerja sosial dalam bidang penelitian dan advokasi di sebuah organisasi nelayan tingkat nasional. Keinginan meraih cinta dan cita membawa saya pulang ke kampung halaman (Purwokerto). Cinta tidak saya dapat, yang ada cicilan makin meningkat. Tetapi ternyata bukan cinta saja yang mendapat hantaman telak. Usaha yang saya bangun bersama teman-teman juga mendapat pukulan yang sama.

Bisa dikatakan, saya baru saja memulai usaha, dengan modal hutang bank tentunya. Saya pikir tahun ini, jika tidak mendapatkan cinta, saya mampu perlahan menapaki cita-cita yang terpendam. Saat ini, semua usaha saya masih bertahan, dengan tersengal-sengal. Beberapa kali saya mencoba memformulasikan agar semua usaha tetap beroperasi. Bukan karena saya egois, bahkan ketika akan menutup usaha sementara.

Masih terpikir bagaimana nasib pekerja yang ikut bekerja bersama-sama. Solusinya, saya (kita) bertahan, yang penting operasional dan biaya untuk mencukupi kebutuhan dasar terpenuhi. Saya dan pekerja berkerjasama untuk bisa tetap memenuhi kebutuhan hidup. Belum lagi usaha kolektif (Koperasi Ke666elapan) yang baru saja dirintis bersama kawan-kawan. Baru sempat berproduksi sebentar, sudah harus terpaksa berhenti karena pandemi.

Ibu berpesan “hidup harus ikhlas”. Tetapi siapa yang mau kehilangan aset karena gagal bayar cicilan bank. Meskipun begitu, sebagai kelas menengah saya jelas masih beruntung. Setidaknya saya masih bisa bertahan untuk beberapa waktu ke depan.

Pandemi ini saya akui memang sangat menguras hati dan pikiran. Terlebih, di tengah kecamuk ini. Saya selalu mendapat berita-berita omong kosong atas kelakuan otoritas yang semakin hari semakin tidak jelas. Lebih dari itu semua, tahun ini sangat menarik. Karena saya telah berani memulai banyak hal baru. Sisanya, seperti pesan Ayah “kita hanya mampu berusaha dan mempersiapkan sesuatu, tetapi tidak perlu berharap atas sesuatu tersebut”. Terakhir untuk yang tidak pernah ternilai, saya sangat senang masih memiliki kawan-kawan dan keluarga yang terus saling mendukung meskipun sama-sama dalam keadaan sulit. Dan maaf, saya tidak berkontribusi apapun kepada society dalam kondisi seperti ini.

4. Krisna Suh Sasomo (Pewaris Tahta Sudimara, Musikus, 29 Tahun)

Mulai awal bulan Maret saya sudah dihadapkan pada berbagai permasalahan seperti jodoh yang tak kunjung datang, gaji yang belum memenuhi ekspektasi, dan yang tentu pula dirasakan oleh masyarakat global belakangan ini yaitu wabah virus Covid 19.  Bagi saya pribadi ada dampak baik dan buruknya sekaligus pada masa pandemi ini, baik menyangkut pekerjaan ataupun nguri-nguri skena yang sampai saat ini saya belum menyerah untuk nimbrung di dalamnya.

Pada kantor yang harus saya baktikan juga terdapat anjuran bekerja di rumah walaupun terdapat jadwal untuk berangkat secara bergantian. Setidaknya dengan adanya penjadwalan hari kerja, dapat memberikan kesempatan bagi untuk bangun siang dan melanjutkan ora ngapa-ngapa di rumah. Memang terdengar sangat tidak patut dicontoh dan semakin memperburuk citra pegawai pemerintahan daerah tapi itulah dampak baik bagi saya sendiri. Selain fokus ora ngapa-ngapa anjuran untuk yang seharusnya kerja di rumah juga saya manfaatkan untuk menambah khasanah anime, membuat konten keple di sosial media dan juga memainkan secara acak gitar yang saya punya.

Dampak buruk yang dirasakan justru ketika pada masa pandemi ini menyebabkan terhambatnya proses album perdana Getar dan beberapa jadwal panggung Getar. For Your FYI, saya juga merupakan member band tersebut hehehehe. Juga beberapa dampak buruk lainnya yaitu gagalnya srawungan, pengayoman bahkan per-Tinderan.

Saya rasa di benak semua golongan masyarakat pada masa pandemi ini terdapat petanyaan yang serempak pasti akan terucap “sampai kapan ini semua berakhir?”.  Atau bahkan pertanyaannya dirubah menjadi “Apakah ini akhirnya?”. Entah lah pertanyaan ini pun akan ditujukan pada siapa, Pemerintah? Atau mungkin Om Hao?.

5. Zacky Mochammad (Pekerja Lepas, 29 Tahun)
Tahun ini saya berkesempatan memulai karir di industri seni. Beberapa tawaran untuk mengelola pameran dan bekerjasama dengan beberapa ruang sudah dalam tahap pembahasan akhir.

Tahun ini ada setidaknya hingga bulan April, ada 5 pameran yang harusnya sudah terlaksana, dan tinggal menyelesaikan program untuk para pemusik Banyumas Raya agar lebih memerluas cakupan pendengar. Tapi ternyata angin segar yang bertiup untuk skena lokal tidak berlangsung lama. COVID19 pada akhirnya menghampiri kita, lebih sialnya lagi, pernyataan konyol pejabat negara tidak mengakhiri apapun karena ditunjang dengan kerja-kerja-kerja mereka yang sama konyolnya.

Dalam kondisi suram ini, saya masih harus dihantui dengan pendapatan saya yang hilang, dan harus bertahan dengan sisa tabungan yang jumlahnya tidak besar. Lalu semenjak program WFH dicetuskan, hal yang bisa saya lakukan adalah membuat konten bersama spektakel.id. Pada sesi pertama, saya telah membuat 2 video wawancara berikut dengan artikelnya, yang pertama bercerita soal CIU Banyumas, dan yang kedua bercerita soal biduan dangdut dari Cilacap.

Mungkin sementara hanya dengan begini saya bisa menjaga kew³arasan, meskipun sempat terdengar ada program bantuan untuk pekerja seni dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Kebudayaan, tapi saya tidak yakin ini akan tepat saaran (dan saya tidak mengharapkannya). Ya, semoga saja ada pihak sponsor yang mau mendanai konten-konten tidak jelas yang saya buat dengan Spektakel.id dan Heartcorner Records. Sambil menunggu itu terjadi, saya sesekali membayangkan menjadi bagian dari oligarki negeri ini. Enak betul hidupnya, tidak bingung besok masih bisa makan atau tidak. Hoooohoooohooo~~~~~~ entah sampai kapaaaaaaan, ku mampu bertahan (TipeX)

6. Fajar Nugroho (Wiraswasta & buruh design lepas, 26 tahun)
Selama ini saya yang hanya menjalankan usaha rentalan alat foto maupun video, dan menjadi buruh digital khususnya untuk keperluan konten. Usaha tersebut membuat saya lebih banyak beraktifitas di rumah, jauh sebelum ramai WFH. Pada awal tahun, saat berita COVID19 mulai merebak, saya tidak berpikir bahwa hal tersebut akan berdampak keras pada penghidupan saya. Tapi pada kenyataannya sejak bulan Maret, saat akhirnya wabah sudah menghantam beberapa kota besar di Indonesia hingga akhirnya merambat juga ke kota purwokerto, saat itu juga saya merasakan dampak keras pada usaha saya: rentalan saya dipaksa mati suri.

Ketika WFH diiiringi dengan larangan untuk berkumpul dari pemerintah, imbasnya banyak pesta pernikahan yang harus ditunda bahkan dibatalkan. Imbasnya tentu saja usaha rental alat foto/video yang saya geluti harus ikut mencicipi getir akibat larangan tersebut. Bagaimana tidak, member rentalan yang didominasi oleh fotografer maupun videografer wedding membatalkan semua jadwal booking mulai dari pertengahan Maret, hingga saat ini, saya memutuskan untuk ikut menulis di tulisan bersama ini.

Kalau berbicara mengenai seberapa nggesruk usaha rentalan saya, dari angka 100%, sekarang tidak lebih dari 5%, angka yang menurut saya cukup dijadikan alasan untuk segera pulang ke rahim ibu. Di sisi lain, saya sempat berbangga, karena perkerjaan saya lainnya bergantung pada jual beli design maupun konten dengan pasar global.

Pandemi sempat membuat nilai tukar Dollar AS terhadap rupiah meroket. Saat itu juga saya sempat tersenyum selebar-lebarnya di saat yang tidak tepat. Namun senyum itu tidak bertahan lama, karena saya sadari wabah ini juga bersifat global. Yang artinya, berharap order dari pasar global untuk tetap ramai adalah mustahil.

Perlu diketahui pula, selain dua pekerjaan di atas saya cukup antusias dengan kehidupan akar rumput, dimana aktivitas harian saya, selalu saya sempatkan untuk srawung dengan kehidupan akar rumput. Dan wabah ini cukup membuat saya kehilangan kebiasaan yang mengasyikan. Untuk 2 hari sekali belanja ke pasar tradisional, tidak lagi ada kesempatan untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul dengan tukang parkir. Bahkan dengan penjual sekalipun, semua menjaga jarak dan selalu terburu-buru untuk meninggalkan tempat ramai.

Di tengah pandemi seperti ini, seni bertahan hidup saya hanya bergantung dari saving yang tentu saja akan remuk redam kalo pandemi tidak juga usai. Jujur saja, pandemi ini membuat saya merasakan kerinduan yang besar pada beberapa hal. Rindu akan riweuh meladeni transaksi rentalan, rindu akan mengurangi tidur dan menggantinya untuk menyelesaikan deadline design, rindu akan menghadiri beberapa gigs, rindu akan srawung secara random tanpa khawatir dan menjaga jarak, rindu akan obrolan hangat dan tak kenal waktu setelah acara tahlilan.

Misal saja akan ada yang bertanya “kenapa tidak rindu dengan lawan jenis?”, tentu saja semua tahu, tanpa pandemi pun sudah sangat susah untuk mengajak dating lawan jenis. Pandemi datang hanya sebagai alasan halus dan masuk akal untuk menolak sebuah ajakan dating saat sekarang ini. Tapi dari semua kesuraman ini saya teringat plesetan lirik lagu Saosin, “you’re not alone… kamu gak sendirian!”. Semoga pandemi ini usai, dan semua berangsur membaik.

7. Rizky Hardiansyah (Karyawan Swasta & Animu Enthusiast, 26 Tahun)
Menjadi karyawan swasta merupakan pekerjaan yang cukup aman karena bisa mendapatkan gaji pokok tiap bulan, tetapi sejak pandemi COVID-19 merambah Indonesia banyak karyawan swasta terutama saya mulai panik dengan isu pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan. Bisa dibilang saya dan tim yang ada di Purwokerto termasuk orang yang beruntung dan mendapatkan kebijakan berupa Work from Home dari Perusahaan namun tetap trataban dengan kemungkinan tidak adanya Tunjangan Hari Raya tahun ini.

Selain berdampak pada pekerjaan, kegiatan saya beserta Faishal DVTR dan Gibran di unit “Karaokewan” terpaksa dihentikan sampai pandemi ini berakhir, padahal gelaran Karokewan kali ini bisa dipastikan sukses karena mengusung tema K-Pop yang jumlah peminatnya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Dari kebijakan Work from Home ini saya harus standby dan sembari menunggu tugas yang harus dikerjakan saya bisa sambil menonton film dan animu yang sudah lama ada di media penyimpanan eksternal saya. Berbagai jenis film mulai dari action sampai film ndakik-ndakik yang setelah nonton tidak mengerti cerita film tersebut sudah berhasil ditonton selain itu beberapa judul animu berbeda dengan total ratusan episode juga sudah berhasil ditonton secara marathon.

Kegiatan lain yang saya lakukan adalah bermain permainan video yang telah lama dibeli namun belum sempat dimainkan di Steam. Yakuza 0 merupakan permainan video wibu berkedok preman Jepang yang saya selesaikan dalam waktu satu minggu. Selain itu saya juga menjadi virtual manager di sebuah klub sepakbola semenjana West Ham United dan membawa klub ini menuju puncak gemilang cahaya pada permainan Football Manager 20.

Tidak ketinggalan juga selalu cek linimasa di berbagai platform sosial media yang saya punya. Seperti melihat update berita terkait pandemi, pendapat para pakar sosial media, opini seram namun nonsense dari orang-orang, dan tak ketinggalan melihat tingkah laku para member JKT48 mulai dari yang gemes sampai yang gemes banget di masa sulit ini merupakan asupan positive energy buat saya. Selain itu, tanggal 4 mendatang saya bakal ikut berpartisipasi di program terbaru grup idola nasional tersebut dengan melakukan video call dengan Pucchi, salah satu member JKT48 hehehe~. Saya harap pandemi ini cepat berakhir jadi bisa melakukan kegiatan kita seperti sedia kali, meskipun kegiatan tersebut adalah ora ngapa-ngapa.

8. Gibransyah Putra (Seorang Gibran, 26 tahun)
Di kala teman-teman lain memusingkan dampak ekonomi menghantam kehidupan mereka, saya sendiri tenang-tenang saja akan hal itu, lha wong jauh sebelum wabah ini melanda saja, saya sudah seorang pengangguran gagal. Yang saya sesalkan adalah saya yang pengangguran ini tambah menjadi pengangguran alias tambah ora ngapa-ngapa.

Selain sudah menjadi pengangguran lama sebelum pagebluk ini melanda, saya pun sudah terbiasa berdiam diri di rumah tanpa interaksi sosial berhari-hari. Hanya di rumah saja bermain game sambil mendengarkan lagu. Jadi selain dampak ekonomi, dampak kejiwaan pun sebenarnya tidak begitu berpengaruh pada diri saya.

Dampak paling terasa dari wabah sing asu,bajindul tenan iki cuk sebenarnya adalah fokus saya pada band yang sedang saya rintis beserta empat teman saya sejak akhir tahun 2018 ini mau tidak mau harus ntar dulu bro leren sek. Mimpi-mimpi yang telah tertata dan akan kami lakukan di tahun ini (2020) harus rela kami tunda sampai entah kapan. Praktis, kami hanya bisa melakuan perilisan album mini digital dan melakukan penjualan merchandise ala kadarnya. WEDHUUSS!!

Fokus saya di kala wabah saat ini pun hanya sebatas bermain FIFA20, salah satu game seri FIFA dari EA yang sudah saya mainkan sejak tahun 2004, sembari mendengarkan alunan lagu Genesis era Peter Gabriel-Steve Hackett. Selain tumbuh mimpi baru ingin menjadi Pro-Player Fifa, mimpi lama saya pun tumbuh kembali, yaitu mempunyai band Progressive-rock yang megah.

Saya paham betul, sebenarnya mimpi-mimpi saya tersebut tidak akan terlaksana karena kerjaan saya hanyalah bermalas-malasan saja. Yaaaaaa itu kenapa tadi di atas saya bilang kalau saya ini pengangguran gagal Wokwokwokwokwokwokwokw. Yaudahlah gitu aja saya bingung kalo disuruh nulis 200 kata gini, semoga pandemi ini lekas usai dan dunia kembali pulih biar band saya bisa melanjutkan mimpi-mimpinya, dan kalian semua yang baca ini juga bisa mewujudkan mimpi-mimpi kalian semua. Sampai bertemu lagi, shalommm.

9. Farobi Fatkhurridho (Pegiat ujian dan seleksi, 23 tahun)
Momen yang membuat saya sadar betapa seriusnya problem pandemi ini adalah ketika saya harus pergi ke Depok bulan Maret lalu untuk mengikuti seleksi masuk program magister di sebuah universitas. Saat itu adalah hari dimana surat edaran kepada mahasiswa rantau yang diimbau untuk meninggalkan kampus dan segera pulang ke kampung halamannya masing-masing. Namun ujian seleksi masuk tetap diselenggarakan sesuai yang dijadwalkan. Oleh karena itu saya harus tetap berangkat kesana. Cukup tiga hari penuh dengan ketidaknyamanan, saya ingin segera pulang.

Pada hari terakhir ketika dalam perjalanan menuju stasiun saya melihat dengan mata kepala saya sendiri betapa kacaunya situasi. Hari itu tanggal 16 Maret 2020, merupakan hari pertama ditetapkannya kebijakan pembatasan operasional angkutan umum di Jakarta dan sekitarnya. Saya melihat lautan manusia yang tumpah di halte-halte bus Transjakarta. Dan tidak lama berselang berita ini dimuat di berbagai media dan cukup ramai di sosial media dengan aneka tagarnya.

Saya mengikuti seleksi ujian masuk di tengah pandemi penuh dengan tekanan. Mulai dari ujian yang molor karena harus cek kesehatan satu per satu, kewajiban mengenakan masker di ruang ujian, cuci tangan, dan sebagainya. Namun pukulan yang sesungguhnya hadir beberapa hari yang lalu ketika pengumuman hasil ujian keluar dan saya dinyatakan belum lulus ujian seleksi.

Gagal seleksi masuk bukanlah hal baru, terlebih dalam seleksi kemarin saya melakukan keteledoran keterlambatan pengiriman karya tulis. Namun mendapat berita gagal di tengah pandemi cukup mantap rasanya karena berarti saya harus mengulang seleksi gelombang berikutnya yang dijadwalkan pada bulan Juli. Semoga kegokilan ini tidak merembet sampai jadwal seleksi gelombang berikutnya.

Saya merupakan penyandang beasiswa Kementerian Keuangan dan memiliki jangka waktu 18 bulan untuk mendapat LoA dari universitas yang dituju. Tunjangan dana beasiswa tentunya tidak akan cair sebelum saya lolos seleksi masuk universitas. Naasnya, di masa sulit sekarang ini, saya yang beberapa bulan lalu melepaskan pekerjaan sebagai content writer, berakhir pada kehidupan tanpa pemasukan saat ini. Pandemi ini memberi makna kemantapan kemelaratan seperti kalah bermain catur dan lawan kita meledek “wlee wlee wlee” dengan wajah menjengkelkan tepat di depan mata.

10. Bayu Sayekti (PHP – Penjual HP, 29 tahun )
Selama pandemi ini sebagai orang yang terbiasa bekerja di lapangan, saya cukup kesulitan menghadapi belenggu tembok tembok yang membatasi kreativitas. Sebagai seorang yang mempunyai pekerjaan sales alias bakul hp ideran di masa pandemi ini membuat saya harus bekerja di rumah sesuai anjuran pemerintah. Setelah beberapa hari menjalani anjuran tersebut saya mengalami kebingungan pekerjaan apa yang harus dikerjakan karena memang kapasitas saya adalah pekerja lapangan, bukan seperti seorang admin yang terbiasa di kantor.

Akhirnya saya mulai mencari kesibukan seperti menata ulang dekorasi kamar, misalnya menggeser lemari sesuai fengshui. Selain itu, agar disegani penikmat film sekitar, saya mencouba menghabiskan waktu dengan menonton film-film art. Layaknya cah kalcer pada umumnya. Namun, sialnya saya tidak paham dan akhirnya lebih memilih untuk menonton Wiro Sableng saja tampaknya lebih cocok dengan jiwa jagoansaya. Setelah menonton Wiro Sableng saya mendapatkan ilham untuk mempraktikan salah satu jurus andalannya yaitu jurus pukulan matahari. Mungkin saja di antara kalian ada yang ingin menjajal jurus tersebut saya siap melayani hehehe.

Dari kegiatan mengisi waktu luang, kegiatan-kegiatan ora penting itu akhirnya rutin saya lakukan hingga sekarang. Selain kegiatan tersebut saya masih menjaga rutinitas lama seperti merokok dan menyeduh kopi menikmati sore di teras rumah. Belakangan ini ketika melakukan rutinitas dan pengulangan tersebut membawa saya menjadi banyak berpikir kapan semua ini akan berakhir.

Lamunan saya diperkuat dengan kata-kata guru ngaji saya semasa kecil. Beliau mengatakan salah satu tanda akhir zaman adalah dengan kosongnya tempat ibadah. Maka, timbul keinginan dalam benak saya untuk menanti pandemi berakhir sembari sering-sering sujud dan tahiyat akhir.

Tak banyak yang bisa diharapkan. Maka, sebaiknya saya menutup cerita saya dengan pantun saja.

Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ketepian
Pandemi cepatlah berlalu
Biar aku tak kesepian

 

Kumpulan tulisan ini tidak dibuat untuk menyalakan lilin, membakar jiwa para pembacanya, apalagi membuat tagar massal #heartcorneradalahkita. Komunitas ini tidak membutuhkan ekspose sebesar itu.

Yang menjadi tujuan tulisan ini adalah bahwa setiap orang berhak untuk menuliskan apa yang menjadi keluh kesah mereka di tengah pandemi ini. Tapi tidak juga lantas membuat keluh kesah itu adalah sesuatu yang harus diselesaikan karena kita tidak memiliki kekuasaan sebesar otoritas. Kita berhak dan kita harus melakukannya. Yang lain-lain, urusan untuk menjadikan hak kita menjadi realitas, itu silakan diurus oleh otoritas.

Setelah ini, kami akan membuat google form yang memuat cerita lebih banyak dari teman-teman yang berminat berpartisipasi untuk kami unggah di laman kami dengan tagar #membayangkankembalipurwokerto. Teman-teman bisa mengisinya dengan apa saja mulai dari keluh kesah sampai ramalan salah tempat sekaligus konyol yang membayangkan bagaimana dunia ini setelah pandemi selesai tanpa pernah memikirkan bagaimana dunia ini ketika menghadapi pandemi yang tak selesai-selesai. Kami akan terus menginformasikannya. Tetap sehat karena kami berjanji, kalian di rumah saja, skena biar kami yang urus. Dari rumah juga, tentu saja.

#membayangkankembalipurwokerto edisi pandemi merupakan program dengan beragam medium
Dalam medium foto sudah bisa dilihat di instragram @heartcorner
Dalam medium video akan diunggah di chanel youtube heartcornerTV pada hari Jumat 1 Mei 2020
Dalam medium tulisan kolektif bisa teman-teman bisa berpatisipasi dengan mengunggah tulisan melalui google form dengan alamat ini.

Previous Permintaan Maaf Saya Kepada Staf Khusus Milenial
Next Mengubah Dari Dalam? Emang Bisa? (Pengantar Redaksi Perilisan Buku Kapita Selekta Pemasyarakatan)