Kita Baik-Baik Saja untuk Merasa Tidak Baik-Baik Saja


Prolog
Memasuki bulan September 2020, terhitung sudah lebih dari satu semester kita sebagai warga negara Indonesia hidup dalam kondisi pandemi. Selain menguras keuangan, kondisi pandemi ini juga menguras energi dan perasaan.

Saya pernah menuliskan sebagian kecil dampak pandemi pada ruang lingkup pekerjaan pada bulan April 2020 lalu di laman ini. Tercatat hingga pertengahan bulan April jumlah pasien positif covid-19 sebanyak 10 orang menurut data pemerintah daerah. Sebuah jumlah yang bisa dibilang sedikit jika dibandingkan dengan ibukota yang sudah menginjak angka ribuan pada waktu yang sama.

Meski dibilang minim, gejolak kepanikan masyarakat Purwokerto akan munculnya kasus positif tersebut sangat berasa dan berujung pada langkah lockdown mandiri yang dilakukan oleh beberapa wilayah, seperti salah satunya daerah saya sendiri di Purwokerto Selatan. Akses beberapa jalan protokol pun kemudian dibatasi yang berimbas perubahan pada rute tempuh masyarakat. Hal ini saya rasa cukup berpengaruh pada sektor-sektor usaha yang berada pada wilayah yang terkena perubahan kebijakan tersebut, termasuk dengan pekerjaan saya.

Tidak baik-baik saja pada kerja harian saya

Meski jumlah pasien positif yang terhitung minimal, namun dampak terhadap bisnis di bidang food & beverages yang saya kelola cuku signifikan. Terhitung omset tempat saya bekerja terjun bebas hingga sekitar 60% dari omset normal. Hingga tulisan ini saya buat pada tanggal 24 September 2020, jumlah kasus positif di Banyumas meningkat hingga 421, dan kasus terbanyak ada di daerah sekitar saya tinggal yakni Purwokerto Selatan. Dapat dibayangkan bagaimana dampaknya saat ini.

Mari sejenak kita melihat catatan omset penjualan dari bisnis yang saya kelola pada periode sebelum pandemi, tepatnya bulan Januari 2020 yang mencapai Rp 60.752.800,00. Jika kita melakukan perkiraan, rata-rata penghasilan per hari bisa mencapai dua juta rupiah dengan perkiraan minimal 40 pengunjung per hari. Hingga akhirnya pada bulan Maret virus semakin masif menyebar, lantas status waspada kota ditingkatkan yang kemudian membuat pemegang keputusan tertinggi tempat saya bekerja mengambil langkah menutup bisnis untuk sementara dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Lalu para pekerja, dengan sangat terpaksa harus dirumahkan.

Beberapa rekan kerja kemudian berkumpul dan mencari solusi agar bisnis ini tidak mati dihajar pandemi. Kemudian kami bernisiatif memberikan tawaran kepada dua arah, pemilik bisnis dan juga sesama rekan kerja. Kami menawarkan menjalankan bisnis dengan manajemen mandiri dengan berbagi presentase keuntungan dengan pemilik bisnis, juga dengan rekan kerja yang bersepakat untuk tetap beroperasi tanpa mendapat gaji ideal. Namun ada beberapa rekan yang tidak bersepakat dengan tawaran tersebut, dan memilih menggunakan momen ini untuk beristirahat di rumah.

Setelah pemilik setuju, kami menjalankan bisnis dengan mengandalkan dana operasional yang seadanya sehingga tidak bisa memaksimalkan penambahan modal untuk belanja dan perbaikan beberapa alat penunjang penjualan dikarenakan cashflow yang melambat akibat minimnya transaksi.

Selain melewatkan hari-hari sepi pungunjung, kami juga harus menghadapi ‘serbuan’ Satpol PP dan Polisi yang rutin melakukan sweeping pada jam operasional sekitar pukul 20.00 untuk memberikan sosialisasi perihal protokol kesehatan, maupun perkembangan terbaru perihal surat edaran dari Bupati. Tercatat pada laporan keuangan kami, pada periode Maret – April omset hanya bisa mencapai angka Rp 10.383.425,00. Ini merupakan sebuah catatan penghasilan terburuk bagi saya pribadi selama 4 tahun saya bekerja. Lalu titik puncak mumetnya bisnis ini adalah ketika kantor pusat yang terletak di Jogjakarta, harus tutup sementara karena ‘tergusur’ akibat biaya sewa bangunan yang membengkak dua kali lipat pada masa krisis seperti ini.

Saya sungguh belum bisa membayangkan apa yang akan selanjutnya terjadi pada keberlanjutan bisnis dengan kondisi kesehatan sosial yang semakin darurat. Secara logika, status waspada kota seharusnya semakin tinggi yang kemudian akan berpengaruh terhadap kebijakan bagi pengelola bisnis di Purwokerto secara khusus.

Tidak baik-baik saja pada kerja sampingan saya

Namun cerita di atas baru sebagian kecil keresahan yang saya harus saya rasakan dari pengelolaan bisnis komersial di sektor kuliner. Keresahan lain yang lahir akibat memilih jalan ‘sok’ kreatif adalah perihal pengelolaan koperasi kreatif Ke666elapan dan Heartcorner Records yang telah merancang pola bisnis selama satu tahun dengan berbagai program yang siap dijalankan namun terpaksa tidak bisa direalisasikan sesuai rencana karena kendala yang sama.

Rencana pengelolaan koperasi sebetulnya sudah dirancang sejak tahun 2013, yang kemudian dimatangkan melalui lokakarya yang sempat saya ikuti pada bulan Juni 2019 di Surabaya yakni Creative Hub Academy yang kemudian disebut CHA. Segala kebutuhan penunjang keberlangsungan koperasi didata sedemikian rupa dengan pendampingan dari tim CHA dalam persiapannya hingga bulan November 2019.

Beberapa program produksi yang disusun dalam jangka waktu satu tahun sebagai langkah bisnis penunjang kemandirian ekonomi siap dijalankan pada tahun 2020, antara lain pembuatan merchandise band-band Purwokerto, pendanaan gigs berbayar, pembuatan sepatu yang bekerja sama dengan perupa-perupa Purwokerto, hingga mekanisme pembelian alat produksi yang berupa kebutuhan back line panggung dari gitar elektrik hingga amplifier.

Sistem pendanaan koperasi dilakukan secara iuran dari anggotanya sebagai modal untuk menjalankan pola bisnis yang disiapkan. Anggota koperasi yang tercatat sudah mencapai 47 orang pada saat terbentuk di awal tahun 2020, dengan melibatkan orang-orang yang peduli dengan kegiatan kreatif, baik itu pelaku maupun penikmat. Proses iuran anggota berjalan dengan lancar dan baik, dan mampu menopang segala kegiatan produksi, termasuk pembuatan sepatu yang telah selesai pada bulan Juni. Namun karena kendala pandemi, proses promosi dan penjualan hingga kini masih belum menemukan titik terang.

Sama halnya dengan Heartcorner Records. Tahun 2020 kami proyeksikan sebagai tahun produktif yang menyenangkan karena kami berhasil menggandeng beberapa roster yang aktif berkarya macam Eternal Desolator, Surn, Space Cubs, Getar dan beberapa nama lainnya yang sudah kami persiapkan dengan menyusun jalur distribusi ke kota-kota lain agar karya mereka semakin tersebar dengan merata. Untuk itu, kami menyiapkan siasat dengan mengirimkan karya teman-teman ke pengelola festival-festival musik yang bonafit, serta membuat brand yang menyajikan pertunjukan tour yang bersifat solo exhibition dengan membawa identitas kota sebagai agenda utama dalam misi ini.

Di samping itu, kami juga menyiapkan agenda kultural tiap bulan dengan berbagai komunitas dan pekerja seni kreatif lainnya agar semangat berkarya tetap terjaga dengan menyusun gigs ringan yang kami jadikan sebagai road to dari sebuah pagelaran akbar di akhir tahun sebagai penutupnya.

Epilog

Saya dan rekan-rekan berencana, Tuhan yang menentukan, dan kegagalan hanya bisa kami tertawakan. Tapi saya pribadi sesungguhnya memiliki rasa tak enak hati kepada seluruh kolega yang sudah siap menjalin kerja sama, terlebih pihak-pihak yang dilibatkan secara pengelolaan. Rasa bersalah yang besar seketika muncul karena harus membawa mereka menuju jurang kesulitan ketika mengikuti prosesnya.

Berbagai daya dan upaya direncanakan dan diwujudkan dalam misi menyelamatkan diri, baik secara finansial maupun kesehatan mental. Namun sesungguhnya tidak banyak yang bisa dilakukan dengan kondisi ruang gerak yang sangat terbatas. Setelah berusaha semampunya, hari-hari yang berat dilewatkan dengan memutar deretan lagu yang saya klasifikasikan dengan judul “Pengantar Bunuh Diri” sambil menenggelamkan perasaan dalam lamunan. Sempat terpikir pada suatu hari, ada dua kemungkinan terburuk ketika saya telah mencapai batas maksimal menghadapi pandemi, antara kehilangan nyawa atau akal sehat.

Melalui tulisan ini, saya berharap bisa sedikit menyelamatkan jiwa yang terluka dengan terus memaksa berpikir sistematis meski intensitasnya sedikit sekali. Sedangkan harapan lainnya masih akan terus saya pertahankan keberadaannya agar semangat hidup ini tetap terus menyala.

Menanam harapan, berarti harus siap menuai luka. Saya mengamini sebuah ungkapan populer hope is painful. Tapi, dengan menanam harapan setidaknya saya terus ada alasan untuk tetap bertahan hidup dan berusaha mewujudkannya. Karena seseorang yang sudah kehilangan peran harapan, bisa kehilangan segalanya.

Tulisan ini dibuat dalam keadaan rumit, dengan memutar lagu dari Novo Amor yang berjudul “Repeat Until Death” dan Lauv & Lany yang berjudul “Mean It” secara berulang-ulang. (KFR)

Previous Dari Kota-Kota, Kesedihan, Hingga Dian Sastrowardoyo: Percakapan dengan Beni Satryo
Next Pernyataan Sikap Kami Terhadap Omnibus Law, Daripada “Ora Ngapa-Ngapa”