Saya Berangkat Bahagia. Itu Kesalahan Pertama.
Sabtu, 31 Mei 2026. Sejujurnya perasaan saya sedang sangat senang hari itu. Bagaimana tidak? Sore itu langit Purwokerto berubah warna menjadi jingga kemerahan, pemandangan yang sudah cukup lama tidak saya nikmati dengan tenang. Dalam beberapa hari terakhir, cuaca di kota ini memang sedang bersahabat. Matahari seolah betah menggantung lama di atas atap bangunan, memberikan cahaya hangat yang malas. Fenomena ini membuat banyak orang sibuk mengeluarkan ponsel untuk memotret langit dan mengunggahnya ke Instagram. Melihat antusiasme itu, rasanya seolah-olah musim hujan yang biasanya basah dan kelabu tidak pernah benar-benar ada di sini.
Karena suasana hati yang cerah itu, saya berangkat menuju Hetero Space dengan penuh semangat. Saya sempat berpikir bahwa perasaan positif ini akan terus bertahan sampai acara selesai dan saya kembali ke rumah. Namun, ternyata perkiraan saya meleset total. Malam itu ceritanya bukan lagi soal indahnya langit Purwokerto yang bisa diprediksi, melainkan soal sesuatu yang jauh lebih rumit dan sulit ditebak, yaitu suasana hati manusia.
Cuaca Cerah Adalah Propaganda
Acara bertajuk Inward Tour ini merupakan titik terakhir dari rangkaian perjalanan Liburan Di rumah. Sebelumnya, mereka sudah berkeliling ke beberapa kota besar seperti Surabaya, Malang, Jombang, Jakarta, dan Semarang. Jika kota-kota lain itu ibarat lembaran buku yang sudah selesai saya baca, maka Purwokerto terasa seperti paragraf penutup yang sangat penting. Paragraf ini tidak bisa dibaca terburu-buru, melainkan harus dinikmati perlahan kata demi kata agar maknanya meresap sepenuhnya.
Saya datang ke lokasi dengan persiapan yang bisa dibilang sangat minim. Saya belum benar-benar mendengarkan EP terbaru mereka secara utuh. Memang ada beberapa cuplikan atau spoiler yang sesekali lewat di lini masa media sosial saya, tapi saya sengaja tidak mencari tahu lebih jauh. Saya ingin membiarkan diri saya datang tanpa ekspektasi atau pengetahuan awal.
Menurut saya, ada sensasi yang berbeda dan menarik saat kita mengenal sebuah karya musik secara langsung di depan mata. Terkadang, sebuah lagu tidak harus selalu didengarkan sendirian melalui earphone di kamar. Ada kalanya lagu justru terasa lebih hidup saat ia bertemu dengan energi banyak orang di satu ruangan yang sama.
Sebelum Liburan Di rumah naik ke atas panggung, suasana malam itu dibuka dan dihangatkan oleh penampilan dari Sad Story on Sunday, Askyouask, dan Chapter Twentyfour. Kalau saya perhatikan, ketiga nama ini punya satu kesamaan meski gaya musiknya berbeda. Tiga nama yang jika disandingkan dalam satu poster terasa seperti tiga cara berbeda untuk menjelaskan patah hati. Perlahan tapi pasti, ruangan mulai dipenuhi oleh penonton. Beberapa wajar terlihat familiar. Beberapanya lagi baru saya lihat malam itu. Mungkin mereka ke sini untuk mencari tempat pelarian, atau mungkin sebaliknya, yang jelas mereka seperti sedang mencari alasan untuk kembali mengingat memori yang sebenarnya ingin mereka lupakan.
Ada satu hal yang cukup mengejutkan malam itu. Beberapa Anak Gaul Purwokerto yang biasanya saya temui di acara-acara yang jauh dari kata emo ternyata ikut datang. Dan bukan tipe yang datang karena diajak pacar atau kebetulan lewat. Mereka memang tahu Liburan Di rumah dan sengaja datang untuk menyaksikannya. Jujur saya takjub. Seumur-umur saya kira mereka hanya mengekor dengan apa yang sudah populer dan dibicarakan. Ternyata saya salah. Di sela tongkrongan-tongkrongan yang nampak yoi itu, rupanya masih ada juga yang diam-diam mengikuti pergerakan skena.
Kalau boleh jujur, komposisi penontonnya malam itu cukup menarik. Mungkin sekitar tujuh puluh lima persen pengunjung adalah laki-laki. Sebagian mengenakan kaos hitam kebesaran, sebagian lagi berambut warna-warni. Merah, pirang, hijau, atau warna-warna yang saya sendiri tidak tahu namanya. Dan tentu saja, banyak mas-mas gondrong. Banyak sekali. Jumlahnya mungkin cukup untuk membentuk satu band emo baru lengkap dengan dua gitaris cadangan.
Di sela-sela pergantian penampil, ada dua orang yang bertugas menjaga ritme panggung tetap bernapas: Jijang dan Nizhar. Saya sudah cukup sering melihat Jijang memegang mikrofon.
Namun ini kali pertama saya melihatnya berduet dengan Nizhar. Tetap seru. Meski kalau boleh jujur, kombinasi favorit saya masih Jijang dan Adit Balung. Menariknya, segala kekonyolan dan tawa yang dihadirkan di atas panggung itu justru menjadi jeda yang sangat diperlukan. Setelah tawa mereda, suasana kembali berubah. Malam seolah memaksa kita untuk kembali serius dan berhadapan dengan perasaan masing-masing yang mungkin sedang tidak baik-baik saja. Di sudut lain saya sempat melihat beberapa orang saling berbagi tegukan dari botol yang dibawa diam-diam dari rumah. Bukan untuk membuat lingkaran moshpit atau membuat malam menjadi lebih liar. Namun sebagai upaya agar beberapa lagu dapat sampai ke tempat yang ingin mereka tuju. Dan kalau melihat ekspresi mereka beberapa lagu setelahnya, sepertinya upaya itu cukup berhasil.
Akhirnya, Liburan Di rumah naik ke panggung. Saat itulah perasaan riang yang saya bawa sejak sore tadi seolah-olah libur untuk istirahat sejenak. Lagu pertama yang mereka bawakan terasa seperti sapaan awal yang sopan. Memasuki lagu kedua, suasana mulai berubah menjadi ajakan untuk menyelami emosi lebih dalam. Namun saat lagu ketiga dimainkan, tiba-tiba saja perasaan saya berubah menjadi mendung tak menentu. Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya, apakah karena aransemen musiknya, liriknya yang kuat, atau mungkin hanya kebetulan saja momennya sedang pas. Tapi yang jelas, sejak lagu itu menggema, saya merasakan sensasi yang aneh di dalam diri.
Seperti sensasi sedang menangis di dalam hati sendirian. Adalah jenis perasaan yang biasanya baru muncul saat jam dua pagi, ketika keadaan sudah sunyi, semua orang sudah terlelap, dan pikiran kita mulai memutar kembali kejadian-kejadian lama yang seharusnya telah usai. Saya sempat melihat ke sekeliling, menatap ke depan lalu ke samping. Saya merasa mas-mas yang berdiri tepat di sebelah saya menyesap perasaan yang sama. Mungkin itu hanya asumsi saya saja, tapi malam itu saya benar-benar percaya bahwa satu ruangan itu tengah mempraktikkan proses bersedih dengan cara yang serupa.
Teman disebelah saya, Faliq, sepertinya menikmati pertunjukan ini dengan cara yang berbeda. Saat saya sedang sibuk bergulat dengan perasaan sendiri, dia justru fokus memperhatikan teknis permainan musik mereka. Matanya tidak lepas memperhatikan bagaimana gerakan tangan bassist di atas panggung, mengamati bagaimana suara gitar dan drum saling mengisi tanpa tumpang tindih. Di tengah set ia sempat berkomentar pendek. “Masih jauh ini mah” ucapnya sambil tersenyum menunjuk mas Shandy. Kalimat yang mungkin hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang juga pernah mencoba membuat musik. Faliq sendiri bermain bass di Mancar. Jadi ketika dia mengatakan itu, saya menganggapnya sebagai pujian yang cukup mahal.
Sore sebelum acara dimulai, saya sempat ikut meliput obrolan antara teman-teman dari Saba Group dengan para personel Liburan Di rumah. Dalam pengakuan Liburan di Rumah, mereka memang berikhtiar untuk mencoba membawakan suara baru dalam arus melankolia genre emo west di indonesia. Pengakuan itu terdengar masuk akal ketika mereka mulai memainkan lagu-lagu dari Inward. Alih-alih hanya mengandalkan ledakan emosi, Liburan Di rumah justru terdengar sangat terukur. Setiap instrumen memperoleh ruang yang cukup untuk berbicara. Tidak ada yang berebut perhatian. Tidak ada yang terdengar tenggelam.
Sependek pengalaman saya mendatangi gigs, jarang sekali saya menemukan band yang bisa tampil dengan suara yang sebersih itu. Seringkali masalah teknis membuat suara gitar terlalu keras sampai menutupi vokal, atau drum yang terdengar berantakan sendiri. Namun malam itu, semuanya terdengar sempurna di tempatnya masing-masing. Kedengarannya sepele, tapi justru karna itu saya bisa menangkap detail-detail kecil yang sebelumnya hanya bisa saya tangkap melalui headphone monitor. Saya jadi paham bagaimana tiap lapisan suara itu dibangun untuk saling mendukung satu sama lain. Dari pengalaman itu saya baru mengerti apa yang mereka maksud dengan “suara baru”. Bukan tentang sesuatu yang sangat aneh atau eksperimental, melainkan tentang keberanian untuk menyampaikan kesedihan dengan cara yang lebih jernih dan dewasa.
Hetero Space Sedang Mengalami Hujan Lokal
Menurut saya EP Inward memang terasa seperti itu. Bukan kesedihan yang meledak-ledak. Bukan pula kesedihan yang haus dipertontonkan. Ia menjelma percakapan panjang dengan diri sendiri. Tentang kehilangan, penerimaan, dan hal-hal yang selama ini disimpan terlalu dalam hingga akhirnya mengendap menjadi satu karya seni. Dan ketika dimainkan secara langsung, lagu-lagu tersebut berubah bentuk. Tidak lagi hanya menjadi milik band. Melainkan menjadi milik siapapun yang berada di dalam ruangan.
Saat pertunjukan hampir berakhir, ingatan saya kembali melayang pada langit sore Purwokerto yang begitu cerah tadi. Kota ini memang sedang dalam kondisi cuaca yang sangat terang.
Matahari muncul hampir setiap hari dan awan mendung jarang sekali terlihat memberikan ancaman hujan. Namun, malam itu saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa cuaca yang baik di luar sana tidak selalu menjamin hati seseorang juga sedang baik-baik saja. Mungkin itulah sebabnya musik dari band seperti Liburan Di rumah ini akan selalu dibutuhkan. Karena faktanya, tidak semua hujan jatuh dari langit. Ada jenis hujan yang diam-diam deras di dalam dada. Dan malam itu, di Hetero Space, saya melihat banyak orang memilih untuk kehujanan bersama-sama.
Ditulis oleh Iqbal Eksa Febrian peserta program Internship Heartcorner Collective & Saba.3gp



