Cherrypop Pertama Saya dan Hal-hal Lainnya

Share

Prolog

Setelah dibungkam kurang lebih dua tahun lamanya akibat pandemic Covid-19, pada akhirnya kita merasakan kebebasan untuk berkeliaran di luar rumah guna bersosialisasi dan berbagai kekegiatan selayaknya manusia normal. Salah satu hal yang kembali setelah dua tahun kegelapan dan ketakutan itu adalah kembali digelarnya festival musik yang justru benar-benar berkembang seakan sebuah aji mumpung saking banyaknya orang yang berupaya untuk mengusahakannya. Entah berusaha mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang hilang selama dua tahun, atau memang dasarnya seorang manusia yang memang butuh duit yang banyak.

Banyak festival kemudian mencari aman dengan bintang tamu yang itu-itu saja sebagai jaminan bagi promotor dan sponsor untuk menyedot penonton masuk, bersaing secara ketat dengan jeda waktu antar festival yang berdekatan. Ada festival yang berhasil digelar dan ada yang sampai sekarang masih menunggu kejelasan pengembalian dana, walau sebagian besar calon penontonnya sudah ikhlas. Dari situ hadir sebuah festival musik yang memberi warna berbeda dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Fetival tersebut bernama Cherrypop, yang saat itu memberikan “warna” pada penampil yang dihadirkan sehingga terlihat ngeyel sekaligus edukatif.

Gosipnya, awal gelaran Cherrypop 2025 merupakan “self-reward” dari sebuah promotor besar di Jogja untuk membuat event musik yang penampilnya merupakan band-band kesukaan panitia sehingga hampir bisa dibilang cukup 50:50 antara menuruti pasar serta apa yang mereka kurasi. Juga mereka memiliki statemen bahwa Cherrypop harus selalu ada set musik spesial, kolaborasi dan juga hadirnya band mitos manapun yang bisa dibangkitkan untuk manggung kembali. Bukan tanpa alasan, sebab panitia penyelenggaranya yang nantinya disebut Swasembada Kreatif ini merupakan orang-orang yang bertumbuh kembang, berdedikasi dan hidup bersama budaya populer dalam balutan semangat cutting edge. Kombinasi keduanya tidak hanya terlihat melalui festival musik pada hari pelaksanaan tetapi dari berbagai pra-acara, program khusus dan pembinaan hingga akhirnya Festival yang pada gelaran kali ini menginjak tahun kelima sudah berevolusi menjadi festival komersil setara nasional dengan line-up pengisi paling bizzare di antara yang lain.

Pada paragraf sebelumnya, saya sempat menyinggung mengenai ngeyel sekaligus edukatif. Kenapa bisa saya berasumsi demikian? Dari ingatan, ketika masih tinggal di Purwokerto, saya sempat menyaksikan Heartcorner bersinggungan dengan Swasembada Kreasi melalui film Ruang Kami: Soetedja untuk gelaran Cherrypop 2023. Tahun itu terdapat program Rekam Skena, sebuah sarana dokumentasi dan pengarsipan gerak laju komunitas musik Bawah tanah di Jogja dan Jawa Tengah. Di situlah saya menyaksikan keseriusan Cherrypop tidak hanya mengejar profit semata namun juga kepedulian pada skena-skena kota kelas kedua, dimana saya pernah ikut tersesat di dalamnya. Asumsi saya yang berjarak itu terpangkas jaraknya ketika saya bekerja di Jogjakarta. Kombinasi antara kesibukan pekerjaan baru dan sok idealis yang pernah saya bawa dari Purwokerto mulai ternegosiasi sesuai dengan jargon Heartcorner, Kerja-Keluarga- Skena. Semuanya. Kecuali pasangan hidup tetap.

Mengalami Cherrypop untuk Pertama Kalinya

Melompat ke tahun 2026 saat Indonesia mulai terjun bebas ke titik terendah karena ketidak becusan seorang Presiden, saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bersentuhan pertama kali dengan Cherrypop. Melalui forward undangan kehadiran oleh bapak skena Kemsoy Fuad saya diminta untuk menuju Chery District yang digelar di GIK UGM. Cherry District sendiri merupakan program yang memperkenalkan “market” musik yang lebih luas selain nonton orang band-bandan dengan adanya pasar rilisan fisik, dan merchandise musik. Diskusi, pemutaran dokumentasi dan musik video dan tentu saja transaksi langsung rilisan fisik dan kaos band digelar selama tiga hari.

Beberapa Waktu kemudian, sepulang bekerja, tiba-tiba ada undangan yang dikirim pukul 7 pagi lagi-lagi oleh Kemsoy untuk hadir pada CherryLive! sebuah pemanasan yang mengusung konsep musik instrumental dengan beberapa penampil yang jika ditujukan untuk penonton awam, jelas nol kompromi (ngeyel emang!) di Arttotel beberapa minggu sebelum gelaran utama pada 22-23 Agustus di Candi Prambanan.

Beberapa waktu setelah rangkaian itu, saya mengajukan cuti dan telah disetujui. Di pikiran saya waktu itu hanya ada Repelita Musik, yang dalam hemat saya mungkin dipinjam dari singkatan masa Orde Baru yaitu Rencana Pembangunan Lima Tahun. Meskipun pada kenyataannya asumsi saya meleset, sebab Cherrypop mengakronimkan Repelita menjadi Rekreasi, Peristiwa, dan Lima Tahun Musik tetap saja halitu tidak jadi soal malah semakin memperkuat asumsi terbesar saya betapa mereka ngeyel dan mungkin makin menggila sekaligus tidak main aman.

Ketika line-up diumumkan, seperti biasa semesta digital menganggapinya dengan dua pendapat. Pendapat pertama bernada seperti saya. Pendapat kedua berisi protes kenapa band popular masing-masing generasi kesukaan mereka dimainkan pada waktu yang hampir bersamaan dan merata, tidak melulu panggung utama. Padahal di festival lain, band-band tersebut sudah pasti di panggung utama dan prime-time secara bergiliran. Justru beberapa nama cukup asing dimainkan pada panggung utama. Hal tersebut memicu munculnya gerakan “Cherry Run” untuk mengejar band -band yang lagi-lagi, di festival lain, selalu tampil berurutan di panggung utama. Di sini saya menangkap adanya edukasi untuk bisa mengapresiasi band lain yang seharusnya juga punya kesempatan yang sama.

Tiba pada hari pertama gelaran dimulai, saya yang sedang bermacet-macetan di pintu masuk area Prambanan berboncengan dengan teman saya mulai dengan jelas mendengar Murphy’s Radio sedang memainkan setnya. Teman saya sekonyong-konyong turun dari motor dan berlari guna mengejar penampilan mereka. Kurang lebih pukul 4 sore, saya baru bisa masuk pada saat Lipstik Lipsing sebuah band mitos yang lha kok masih ada aja, ajaib pula kok Faisal Hafiz-nya Surn lagi membetot bassnya di Yayapa Stage, stage yang notabene paling bersahabat buat crowdsurf ini. Sebagian besar waktu selama 2 hari ini saya habiskan di sekitar Yayapa Stage yang jadi titik sentral untuk ibadah “Cherry Run” karena posisinya yang ideal. Dilanjut menonton band yang perasaan kemarin ngga ada kata reuni, tapi kok nongol di sini, Polka Wars. Bagi pendengar indierock lokal, tetapi baru terjun sekarang-sekarang ini, adalah kesempatan untuk discovering salah satu indierock lokal paling mantap. Terlihat pula ada tiga orang yang membawa lirik yang di print berusaha ikut sing-a-long lagu-lagu mereka.

Kembali menyinggung ide besar Edukasi. Cherry Stage, panggung utama dengan pemandangan ikonik Candi Prambanan nampak lengang orang bersantai duduk saat Daruma Rollin’ band asal Jepang melantunkan lagu-lagunya termasuk kover lagu “stecu-stecu”. Padahal di sebelah Nanaba Stage ada Ali yang bersiap, beberapa mulai bergeser, beberapa tetap di panggung utama. Entah karena keyakinan bahwa panggung utama diisi oleh yang terbaik, memang jenuh dengan penampil lain serta tidak ada energi atau malah menunggu Maliq & D’essentials. Banyak sekali orang yang tetap berada di Cherry Stage meskipun jedanya cukup lama hingga Indonesia raya dikumandangkan. Seraya orang orang berdiri, salah satu kebanggaan Indonesia khususnya Yogyakarta mengambil alih panggung utama tersebut. Senyawa, band dengan format duo yang namanya sangat harum di luar negeri tapi asing di negeri sendiri ini berhasil membuat area menonton penuh sesak dan menghipnotis penonton, baik yang memang tahu, sengaja menunggu atau yang sama sekali awam. Terlihat di linimasa Threads banyak sekali puja puji dan bersyukur “menemukan” duo Rully Shabara dan Wukir Suryadi di gelaran Cherrypop kali ini pada penghujung malam. Sayapun bersyukur bisa menonton kembali duo yang lebih sering manggung di luar negeri ini setelah terakhir menyaksikannya dengan formasi rembol 12 tahun lalu di Purwokerto.

Lompat ke hari kedua, saat berhasil masuk, saya disuguhkan dengan panitia yang sedang berusaha mendirikan kembali si Selo & Seli sebagai maskot dan ikon Cherrypop 2026 yang sedang terguling. Seakan pertanda waktunya bangun dan waktu berpesta sore ini akan segera dimulai.

Saya langsung menuju Yayapa Stage karena The Bunburry akan naik panggung, tidak ada alasan khusus sebenarnya selain pada hari sebelumnya, waktu lebih banyak dihabiskan bersosialisasi dan mengobrol dengan Mirza sang vokalis. Dan sialnya, pada waktu perdana menonton mereka si Mirza yang lancar ngobrol, cepat nyambung tapi di atas panggung harus memegang HP dan gemetar sedikit waktu speech malah mengumumkan bubar, berhenti, hiatus, lah?! Kemudian, saya memutuskan bergerak ke Nanaba Stage, tetapi niat itu segera menciut karena lautan debu dan manusia yang sedang melepaskan energinya semaksimal mungkin diiringi oleh Kelompok Penerbang Roket dan semakin mantap untuk mengurungkan niat bergabung dalam moshpit saat refrain “Mati Muda” berkumandang diiringi tiga tandu yang sudah ada isinya dan beberapa orang yang dipapah keluar dari moshpi. Tim medis gelaran ini sangat sat-set, apalagi hari sebelumnya saya menjumpai seorang penonton yang sudah memakai gips kayu. Saya memutuskan putar balik dan berhenti di penampilan Olski. Baru satu dua lagu mereka paling imut, akhirnya saya memutuskan bergerak kembali ke Nanaba Stage sebab pahit juga rasanya nonton Olski yang seromantis itu sendirian tanpa pasangan. Pertimbangan lebih besar adalah siapa sih yang mau melewatkan Pandai Besi mengobrak abrik lagu Efek Rumah Kaca hingga matahari terbenam?

Matahari sudah tidak menampakkan diri, bulan segera menyongsong dan gerombolan massa dalam jumlah besar, jauh lebih besar dan banyak dibanding NDX AKA kemarin, mulai merapat di Nanaba Stage. Kulminasi massa itu disebabkan akan dikumandangkannya album penanda generasi music alternatif pasca 2015an: Reality Club memainkan setlist “What Do You Really Know?”. Sisa massa sepertinya memilih untuk menyaksikan Orkes Pensil Alis yang literally membawa Reog Ponorogo, memilih menuju Yayapa Stage.

Memasuki post-Isya, sebubaran Reality Club, crowd mulai memecah diri menuju Sal Priadi di Cherry Stage, Bleeedrz di Yayapa Stage atau tinggal di Nanaba Stage untuk menyambut Elephant Kind yang sudah “pulang”. Hingga pada akhirnya penonton terbagi rata sesuai kapasitas masing-masing panggung, bahkan Chilli Stage yang paling mungil sekalipun penuh sesak. Di sini pula saya melihat lagi bagian “semua memiliki kesempatan yang sama” saat Eleventwefth berada di Yayapa Stage, dan bintang muda Alkateri di Nanaba Stage yang jauh lebih besar. Sudah waktunya band yang berisi para mantan kru The Panturas ini semakin bersinar dengan materi-materi bagusnya dengan panggung yang lebih besar, serta seniornya beristirahat dulu di panggung yang lebih kecil. Sebelum akhirnya sebagian besar penonton kembali “Cherry Run” menuju The Adams di Nanaba Stage tepat sebelum semua memori baik ini berakhir.

Kalian, yang membaca tulisan ini dan menghadiri “lebaran skena” Jawa Tengah dan Yogyakarta ini pasti paham. Saya tidak membahas pemuncak dua hari acara ini. Saya sengaja menyimpan lima band pemuncak yang mengakhiri dua hari yang sangat menyenangkan ini karena merekalah representasi dari musik cutting edge “kota kedua”. Sesuai dengan apa yang saya tangkap dari tema besar Repelita musik dan bagaimana penyelenggara mengeksekusinya menurut saya apa yang bapak Arsita Pinandita dan kawan-kawan pilih sebagai pemuncak acara ini adalah representasi dari Repelita Musik itu sendiri. Cocoklogi tersebut berasal dari bacaan bahwa rekreasi dalam konteks musik adalah bagaimana penonton bisa sesekali melihat penutup acara bukanlah band yang terlalu besar dengan rekam jejak besar pula. Peristiwa? ya, orang-orang akan mengalami peristiwa atas apa yang terjadi di akhir malam tersebut. Lima Tahun Musik? semua yang hadir dan musik sang penampil adalah sesuatu yang perlu dirayakan.

Sesi Penutup dan Penghormatan Bagi sang Pahlawan Skena Kota Kedua

Menempatkan band lokal di “kota” sendiri sebagai pemuncak? Siapa takut! Siapa tau mereka adalah Sheila on 7 untuk generasi masa depan. Dasar Ngeyel nih panitia! Impactnya, beberapa penonton mulai nyeletuk, “…ah, band ini kemaren aku udah nonton di sini, sekarang mau nonton ini aja” atau “…band ini bisa kutonton di festival manapun, sekarang nonton yang belum pernah”. Hasilnya? Menurut saya Works!

Hari pertama, ditutup dengan Nevermind “The”, yang berisi The Kick, The Jeblogs dan The Skit. Siapa mereka? Mereka adalah para bintang muda bawah tanah dari Jogja, Klaten dan Solo serta dapat dibilang sebagai energi dari penggerak scene musik alternatif Jogja, Jawa Tengah dan sekitarnya. Sebetulnya jika mereka tampil sendiri-sendiri, bagi beberapa sudut pandang sudah pasti mereka belum layak sebagai pemuncak acara dan di panggung utama apalagi untuk The Skit yang belum menelurkan sebuah album utuh. Ini menunjukan bagaimana dengan cerdas Cherrypop menggabungkan ketiganya sekaligus dalam satu panggung dan satu set. Beberapa tahun belakangan yang tidak begitu jauh, nama mereka mulai muncul di sana-sini. Fanbase mulai terbentuk, penonton mulai bernyanyi bersama mereka, rotasi diputar musiknya di tempat umum semakin sering. Bahkan “Cherry” dari The Skit menjadi anthem Cherrypop.

Untuk The Jeblogs, saya bisa menggunakan ingatan saya ketika mereka mampir ke Purwokerto 2023 dan hanya ditonton cah-cahane dewe. Sekarang mereka ada di panggung utama sebuah festival musik skala nasional. Puncaknya, penonton yang penuh sesak di panggung utama sebagai satu-satunya panggung masih aktif semakin bergemuruh kencang saat The Skit mengumumkan akan meluncurkan album perdananya bulan depan. Semuanya berkumpul, berdendang, ebeg-ebegan literally, bersama ketiga band generasi baru paling menjanjikan ini. Sambutlah!

Hari kedua, menjelang para penampil usai di panggung masing-masing, posisi Cherry Stage sedang rehat cukup lama setelah Perunggu. Saya mendengar berulang kali mendengar bunyi serta sirine darurat “… Objek Vital Nasional” yang menandakan set special antara Jenny dan FSTVLST akan dimainkan.

Sebelum sirine itu meranung-raung saya baru saja menyelesaikan setlist Dabwok. Setelahnya saya terlibat obrolan sengit dengan Diptya The Skit dan Ceking Cherish. Ketika sirine mulai mereda dan Jenny dan FSTVLST bersiap, saya sebenarnya tidak minat-minat amat menonton mereka. Namun, Ceking malah menceramahi saya 3 SKS kenapa Hitsh Skitch adalah sesuatu yang sangat esensial, paling tidak baginya. Ceramahnya masih gagal mengubah keinginan saya, karena saya sudah cukup sering menonton keduanya.

Ketika tetap memilih bertahan pada keputusan untuk tidak menyaksikan Jeny, pikiran saya malah ngelangut ke sekitar tujuh belas tahun lalu saat Jenny pertama kali manggung di Purwokerto adalah di gigs skala (sangat) kecil dalam rangka  perayaan ulang tahun teman. Band yang kemudian berevolusi menjadi FSTVSLT ini semakin berkembang dan memberikan pengaruh bagi gelombang kemunculan para “the” bersama dengan prototipe musiknya, bahkan nuansa keliaran liriknya. Maka, memberikan kepercayaan kepada Objek Vital Nasional adalah keputusan yang sangat tepat sebagai tuan rumah sekaligus salah satu band indie terbesar di Indonesia yang merepresentasikan skena D.I.Y dan Jawa Tengah. Penonton hari kedua bernyanyi bersama mulai dari “Menangisi Akhir Pekan” hingga “Menantang Rasi Bintang”.

Saya memutuskan untuk bergabung pada setlist ini, dan sepertinya keputusan itu bukan sesuatu yang salah. Dalam pandangan saya selama setlist berlangsung terlihat bapak Dito merekam secara pribadi moment ini dari balik barikade karena gelombang massa sungguh bikin merindin666. Puncak dari penampilan mengerikan itu adalah ketika Faried menaruh mikrofonnya secara penuh dan memberikan kesempatan bagi mungkin lebih dari separuh empat puluh ribu penonton dari total pengunjung selama dua hari menyanyikan “Mati Muda”. Sebuah perayaan bagi dan untuk skena Jogja dan Jawa tengah; berakhirlah Cherrypop 2026 Repelita Musik.

Epilog

Terlepas dari banyaknya kekurangan yang dikeluhkan baik di media sosial maupun secara langsung, apa yang berusaha disampaikan baik nilai, edukasi atau apapun itu oleh panitia khususnya Swasembada Kreasi adalah salah satu hal “mahal” yang tidak sebanding dengan harga tiket yang dijual. Bagaimana usaha panitia yang merupakan orang-orang yang sudah  memakan asam garam dalam ekosistem kreatif untuk merangkul berbagai komunitas dan kolektif di jogja dan sekitarnya dalam memajukan apa yang kita sukai dalam bentuk berbagai disiplin seni yang saling terkait dan berkumpul dalam “lebaran skena” patut diapresiasi dengan setinggi-tingginya.

Bukan hanya mencari cuan namun bagaimana sebuah festival musik bisa lebih luas dari sekedar menonton band dan artis, bagaimana semua yang berada dalam sebuah ekosistem bergerak bersama, beresonansi menjadi sebuah gelaran dan gerakan yang memorable. Penonton mendapatkan rekreasi baik secara literal maupun kiasan, menonton band yang baru mereka kenal atau yang mereka harap bisa menontonnya suatu hari karena tertidur menjadi mitos, set spesial yang tidak mereka bayangkan, penampil yang caur baur menjadi satu area backstage tanpa tembok tinggi pemisah antara satu band dengan lainnya, melihat instalasi seni seperti gate yang dilukis manual juga Selo & Seli yang sebesar itu. Kolaborasi lintas disiplin dalam sebuah pertunjukan musik seperti para “the” dengan baju dari Future laundry, OVN dengan video dari FAYAFLA, Senyawa yang “ditemukan”, terkena cuci otak dari Jajan Awet dan banyak hal baik lainnya. Semua menjadi memori yang ingin kita ulang dan teruskan dalam sebuah festival yang disebut Cherrypop. Selamat Lima Tahun!!!!

“Whenever you feel so lonely

Blue and the night made you cried

I’ll be there and hold you so tight”

Diedit secara pontang-panting oleh Wiman Rizkidarajat