Yang Mungkin Terlewatkan Dari Persidangan Terbesar Dekade ini: Joko Anwar Memvonis Livi Zheng


Melengkapi rentetan tulisan investigatif yang dilakukan Limawati Sudono di Geotimes, Tim Tirto.id, dan Dea Anugrah di Asumsi.co, MetroTV melanjutkan usaha-usaha yang luar biasa apik tersebut melalui acara Q&A dengan tajuk “Belaga Hollywood” pada 1 September 2019 lalu. Harus diakui acara tersebut merupakan upaya paling serius untuk membuat jelas-sejelas-jelasnya yang terjadi belakangan pada Livi Zheng: seorang yang terlalu membesar-besarkan dirinya, baru setelah itu karyanya, melalui cara yang kesalahannya terlampau fatal.

Dari investigasi kasus Livi pada tiga media yang disebutkan di atas carut-marut semesta yang melingkupinya mulai terurai, mulai dari betapa banalnya media arus utama di Indonesia dalam menelan bahan mentah berita, Livi yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa masalah film, sampai inferiority complexs bangsa ini dalam memaknai Nasionalisme dan rekognisi global lewat istilah go international yang kali ini hadir dalam terma spesifik: “menembus Hollywood”.

Meskipun berupaya serius untuk mengurai tiga hal tersebut secara lebih spesifik, ada beberapa hal yang mungkin terlewatkan dari acara tersebut.

1.Etika Pembukaan: Awal Mula Legitimasi-Delegitimasi
Q&A langsung dibuka dengan ungkapan tendensius tentang bagaimana media arus utama kerap menelan mentah-mentah apa saja dengan embel-embel go international. Guna memerkuatnya kemudian dihadirkan kolase potongan video berita tentang Joe Taslim dan Rich Brian yang go international. Semua sumber penguat tersebut datang dari media elektronik, televisi lain, NetTV dan CNN.

Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan kolase potongan dari media lain, media daring, cuitan akun twitter @jokoanwar yang mencuit ulang tulisan Limawati di Geotimes dengan cuitan “Ini tidak akan terjadi, dan orang seperti ini tidak akan ada, kalau wartawan mau cek dan ricek”, dua bagian In-depth dari Tirto.id berjudul “Omong Kosong Citra “Hollywood” Livi Zheng” dan “Livi Zheng Tak Tahu Apapun Masalah Film”, dan Bagian pertama tulisan Limawati di Geotimes berjudul “Meneliti Livi Zheng”. Semuanya ditampilkan dengan narasi berupa pertanyaan “Apa parameter “menembus Hollywood” sebenarnya?”

Melalui pencarian dengan kata kunci “Pemberitaan Livi Zheng” di platform Youtube ditemukan 12 hasil dengan sebaran sumber 7 dari NetTV, 3 dari CNN, 1 dari KompasTV, dan 1 dari INews. Tidak ditemukan satupun hasil pencarian kata kunci tersebut yang berasal dari MetroTV. Fakta tersebut melegitimasi bahwa sebagai media arus utama yang tidak ikut-ikutan memamah kemudian menelan embel-embel “menembus Hollywood” yang digelorakan Livi, MetroTV berhak untuk menggelar tanya jawab ini.

Rentetan narasi demikian kemudian memunculkan pertanyaan apakah benar ini adalah tanya-jawab? Karena narasi awal acara tersebut sudah kadung tendensius dan menjadi terlampau dikotomis. Ia membagi segalanya dalam dua kubu. Media yang menentang Livi sebagai pemegang legitimasi yang berhak mendelegitimasi semua media yang ikut-ikutan mengamplifikasi berita salah darinya. Padahal, MetroTV  berada di kolom yang sama dengan NetTV, CNN, KompasTV, dan INews, sebagai media arus utama. Etiskah legitimasi-delegitimasi dengan cara demikian dijadikan pembukaan sebuah sesi tanya-jawab?

2.Tanya Jawab Berbuah Persidangan
Dengan terbaginya legitimasi-delegitimasi melalui cara demikian sudah terprediksi bahwa tidak akan ada mekanisme tanya-jawab, bahkan meskipun acara berjudul Q&A. Yang ada di kelanjutan acara adalah persidangan dengan proses penjatuhan vonis yang instan dan vulgar.

Joko Anwar menjadi pemimpin persidangan. Legitimasinya didapatkan dari fakta bahwa ia adalah sutradara yang paling prominent sekaligus prolific juga kesayangan media-media di Indonesia. Baik arus utama maupun arus pinggir.

Proses persidangannya dimulai dengan usaha penyamaan persepsi tentang apa itu “menembus Hollywood”. Kesimpulannya Livi salah besar karena kesalahan pemaknaan istilah “seleksi nominasi Oscar” dan glorifikasi klaim “menembus Hollywood”nya disampaikan dengan cara yang salah pula. Delegitimasi segera divoniskan kepadanya. Tidak ada yang perlu lagi untuk disimak di kelanjutan acara karena pertanyaan pertama sebenarnya sudah menggeser peran Livi dari narasumber dalam sesi tanya-jawab menjadi terdakwa dalam persidangan yang akan dieksekusi sesegera mungkin.

Untuk melakukan eksekusi vonis sesegera mungkin, di belakang Joko berdiri regu tembak yang lengkap. Awalnya orang-orang di belakangnya adalah panelis cum representasi yang sangat baik untuk menunjukkan pada Livi ekosistem film yang komplit: Sutradara, Aktris, Kritikus, Penulis Naskah, dan Seorang notulen yang turut bertanya sambil di akhir acara menyimpulkan keselauruhan acara tersebut.

Dengan berubahnya sesi, berubah pula peran mereka. Livi yang sudah divonis dengan instan melalui pertanyaan pertama segera dijatuhi hukuman tembak berkali-kali dengan vulgar melalui pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang diajukan oleh panelis lain.

3.Joko dan Livi Berpijak Pada Satu Mimpi Yang Sama
Sajian vulgar tersebut untungnya bukan akhir dari acara yang sudah kadung terbaca arahnya. Seketika mayat Livi yang penuh lubang menganga dari peluru yang diberondongkan regu tembak digotong menuju kursi mereka, Joko sebagai pimpinan sidang memutuskan untuk unjuk kekebalan di kursi tersangka. Dari rangkaian ini ditemukanlah sebuah plot twist.

Hal tersebut muncul ketika Joko unjuk jurus besar “kita semua mengidap inferiority complexs yang membuat kita bangga ketika diasosiasikan dengan negara lain”. Peluru pertama ditembakkan oleh Maman Suherman lewat pertanyaan “gap yang terlalu besar antara generasi kolonial dan generasi milenial di era post-truth”. Joko berhasil menunjukan ia kebal dari peluru tersebut. Ia menangkisnya melalui gerakan bahwa “membuat film adalah urusan lain yang lebih besar dibandingkan hal-hal mewakili negara atau mewakili karyanya. Membuat film adalah suatu kerja mewah yang melibatkan standar moral untuk membedakan mana yang benar dan mana yang bohong”. Gerakan tersebut ditutup menjelaskan sekilas bagaimana ekosistem film yang sehat seharusnya bekerja.

Peluru kedua datang dari John De Rantau, dua peluru sekaligus malah. Peluru pertama berupa pertanyaan tentang “ketidakberesan lembaga perfilaman yang berujung pada maraknya orang-orang yang kurang beres juga klaimnya di dunia perfilman”. Joko menahan peluru itu dengan percaya diri melalui gerakan bahwa “negara ini mabuk nasionalisme dan gila rekognisi dari negara lain” dengan sekali lagi mengulang bagaimana ekosistem film yang sehat seharusnya bekerja.

Peluru kedua datang melalui permintaan konfirmasi tentang “apakah ia akan bekerja di Hollywood”. Joko tidak menjawabnya. Tapi ia terlihat tetap kebal dari peluru tersebut.

Pertanyaan kedua dari John De Rantau adalah plot twist yang segera mengubah lagi jalannya acara dari yang awalnya tanya-jawab berubah menjadi persidangan lalu setelahnya berubah lagi menjadi konsolidasi yang seharusnya dilakukan oleh  Joko dan Livi karena ternyata mereka berdua adalah orang yang berpijak pada satu mimpi yang sama: berkarier di Hollywood. Mengapa mereka berdua mesti bertengkar. Lagipula hanya perbedaan metode yang membedakan mereka. Tujuan dan pijakan mimpi mereka sama belaka.

Livi sudah divonis bersalah karena menggunakan metode yang harus diakui kelewat banal, kelewat fatal, dan kelewat norak. Tidak perlu dibahas ulang karena sudah ada rangkaian penjatuhan vonis tersebut di atas. Semuanya dilakukan karena ia berpijak pada mimpi ingin berkarier di Hollywood.

Joko yang menjatuhkan vonis pada Livi dalam acara ini, ternyata memijak mimpi yang sama dengannya. Hanya metodenya berbeda. Secara tersurat ia menolak dengan tegas segala bentuk inferiority complexs, mabuk nasionalisme, dan rasa haus pada rekognisi negara lain yang digunakan Livi untuk mengadali banyak penyelenggara negara dan hampir sebagian orang awam di negara ini. Tapi, secara tersirat dalam film-filmya, benarkah ia demikian?

Melalui dua film terakhirnya fakta tersebut sayangnya diingkarinya sendiri. Dalam “Pengabdi Setan”, ia terlihat sangat mengejar semua unsur The Conjuring-esque. Mulai dari tone warna, cara menghadirkan ketakutan, sampai penyelesaian konflik dalam film. Lalu, dalam rangkaian usaha terbarunya, menghidupkan pahlawan dari komik Indonesia dengan tajuk “Negara Ini Butuh Patriot” sekaligus menghadirkan semesta besarnya, ia sangat Marvell Cinematic Universe-esque. Apa yang tidak tidak mengidap inferiority complexs dan mabuk nasionalisme dari dua film terakhirnya?

Berbicara masalah inferiority complexs pasti akan berujung pada dikotomi barat-timur. Dalam dikotomi tersebut setiap yang masih berusaha mengimitasi barat pasti akan dilabeli sebagai makhluk yang mengidap sindrom tersebut. Lalu apa label bagi makhluk yang katanya menentang sindrom tersebut tapi ternyata memijak mimpi buat berkarier di pusat dikotomi tersebut?

Seandainya Joko memiliki cara pandang seperti Ciro Guerra atau Apichatpong Weerasethakul dalam membuat filmnya mungkin segala usaha sekaligus penjatuhan vonisnya tidak akan bermasalah dan memiliki legitimasi dalam kadar kelewat-lewat.

Ciro Guerra adalah sutradara dari Kolombia yang secara tegas melakukan demonisasi terhadap barat dalam segala bentuk mulai dari kehadiran orang sampai ilmu pengetahuannya. Di filmnya yang berjudul “Embrace of The Serpent” (2015) ia menceritakan setan dari barat berupa ilmuwan yang beradu kuat dengan lagu-lagu ilmu pengetahuan yang memertahankan diri di pedalaman Amazon. Ia secara berani mengambil keputusan di akhir film bahwa narasi barat adalah narasi yang kalah dalam filmya. Di “Birds of Passage” (2019) ia memeragakan cara yang lebih ekstrem. Dalam film tersebut penetrasi kapital dari barat berupa kebutuhan suplai ganja adalah akar permasalahan mengapa sampai hari ini kartel di Kolombia mampu mendirikan negara dalam negara. Penetrasi tersebut memaksa orang-orang Kolombia dalam film tersebut menjadi produsen sekaligus penjual narkotika.

Sedangkan Apichatpong Weerasethakul adalah seorang sutradara dari Thailand. Di tangannya kehadiran narasi barat dihadirkan dengan cara yang paling ekstrem: absen sama sekali. Dalam tiga filmnya mulai dari “Tropical Malady” (2000), “Uncle Bonmee” (2010), dan “Cemetery of Splendour” (2015) tidak ada satupun narasi barat hadir di sana. Paling mentok, kehadiran tersebut cuma dalam narasi tipis seorang lelaki barat yang menikah dengan tokoh utama dan seorang perempuan yang mampu membaca masa depan yang katanya akan disewa oleh FBI di film “Cemetery of Splendour”. Sisanya di tangan Weerasethakul Thailand adalah negara para hantu yang kalis dari narasi barat.

Kedua sutradara tersebut tidak pernah secara tersurat menentang narasi barat tapi secara tersirat mengimitasinya dalam film-filmnya. Apalagi memijakan mimpinya di Hollywood. Mereka berusaha menemukan cara pandang baru. Permasalahannya Joko tidak demikian. Ia masih berada di tahap menjadikan film-filmnya sebagai ruang unjuk imitasi cara pandang Hollywood tanpa sanggup menemukan satupun cara pandang baru dan malah ternyata ia memijakan mimpi untuk berkarier di sana.

Hingga akhirnya acara disimpulkan oleh notulen dengan semburan kalimat-kalimat bijak yang membelah apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya, tidak ditemukan sebuah kesimpulan yang jelas. Karena memang seharusnya dibanding berdebat Livi dan Joko seharusnya tampil di satu kubu yang sama.

Sebagai penutup tulisan, tanpa mengharap pembenaran, seorang kritikus yang terlihat lebih banyak tersenyum-senyum sepanjang acara dibandingkan memberondongkan pelurunya pada Livi atau mencoba jurus kebal peluru Joko pasti tahu sedari awal kalau acara ini tidak perlu diadakan apalagi sampai menyedot perhatian ramai. Karena, sekali lagi, orang yang sama seharusnya tidak dipisahkan dalam dua kubu. Sebaliknya mereka harus disatukan sekaligus didukung untuk mengejar satu mimpi mereka: berkarier di Hollywood. (WR)

Previous "TEMAN KARIB" by MANIFRUSTASI
Next DESPAIR – VIDEO KLIP DAN SINGLE TERBARU DARI WORLD DOMINATION