Seberapa Bebas Kita Sebenarnya (1-Bersambung)


Kita Hanya Gamang Menghadapi Dunia, Bukan Berarti Pilihanmu adalah Kehendak Bebas

 

Di dalam Alkitab pada hari 1-6 penciptaan Allah mengatakan semuanya baik, setelahnya Manusia diciptakan dan dikatakan, “sungguh amat baik”. Mungkin saat itu Allah telah tahu bahwa manusia akan membuat dunia yang diciptakannya lebih berwarna. Di antara gelap dan terang, manusia melengkapinya dengan cinta dan perang. Di antara kelahiran dan kematian, manusia melengkapinya dengan persetubuhan dan pembunuhan. Begitu pula sabda-NYA agar “beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhi bumi dan taklukan itu”. Di antara semua yang baik, manusialah yang dikatakan-NYA “Amat Baik”.

Namun, Allah menciptakan Adam dan Hawa kemudian meletakkannya di sebuah taman. Di mana sebuah sungai mengalir keluar dari Eden untuk mengairi taman itu, dan di situ sungai itu bercabang menjadi empat sungai. Entah di mana taman itu berada, meskipun terdapat sejumlah klaim dari peneliti tentang lokasi geografis dari Taman Eden. Dikatakan berada diantara sungai Tigris, Eufrat, Pison dan Gihon. Ada lagi yang mengatakan dekat Mesopotamia, Ethiopia, Jawa, Seychelles, Brabant hingga Florida. Bagi teolog Kristen, percaya bahwa taman ini tidak pernah ada di muka bumi, melainkan di dekat surga. Begitupun teolog islam, bahwa sebelum Adam dan Hawa memakan buah Khuldi mereka tengah berada di surga. Jika taman itu di surga? Kenapa ada bumi? Kenapa Adam dan Hawa harus memakan buah Khuldi? Kenapa setelah memakannya mereka baru diletakkan di bumi?

Perjalanan panjang pencarian kebebasan dan kehendak bebas manusia mungkin memang telah dimulai sejak awal penciptaan. Mungkin bukan Iblis yang menghasut Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang. Melainkan pilihan sadar mereka untuk menentukan kehendak bebasnya dengan melanggar apa yang dilarang oleh Allah. Manusia memang akan terus mengada untuk dirinya. Berusaha terus mencari hakikat pertemuan dengan dirinya. Namun apakah kita benar-benar bebas untuk menemukan dan menjadi diri sendiri?

Bahkan para pakar eksistensialisme yang mengajak kita untuk menjadi diri pemberontak dan manusia super atas segala fakta sosial yang ada. Terbentur dalam tembok yang sama dengan membuat apologi bahwa sisifus mungkin saja senang. Menerima hidup dengan sinis dan dingin hanya karena kita harus hidup sambil menunggu mati. Menjadi manusia super yang menihilkan norma. Namun menjadi seorang pecandu seks yang cemburu ketika gundiknya bersetubuh dengan orang lain. Atau seorang fuckboy seperti pengujar jargon “Hell is Other people” yang pernah membuat depresi seorang gadis 17 tahun karena mempermainkannya atas nama cinta. Bisa jadi juga menjadi seorang feminis eksistensialisme yang mengakui cinta eksistensialis, tetapi menangis di sebuah café karena kelakuan pria berkacamata yang nyaris buta.

Apapun itu, kehendak bebas manusia memang terus mencoba menerobos, bukan saja norma, tata cara, agama tetapi juga kepercayaan orang lain. Hasrat untuk membuktikan bahwa manusia adalah amat baik di antara yang baik. Sering kali menggugurkan dan menegasikan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.

Bisa kita bayangkan, bagaimana seseorang pernah saling mencintai dengan melakukan banyak usaha dan pengorbanan, kemudian berpisah atas nama kehendak bebas. Di sisi lainnya, dengan Cuma-cuma menyerahkan diri pada orang lain sebagai bucin hanya karena perasaan yang muncul secara tiba-tiba. Yang tidak lain hanya menyerahkan dan memindahkan kehendaknya pada sesuatu yang lain. Mencoba menjalani hubungan terbuka atas nama kejujuran, sembari menangis setiap malam karena pasangannya menggoda perempuan lain. Berbalas kejujuran sang perempuan menceritakan kepada prianya telah meniduri pria lain, atas nama kehendak bebas. Pada akhirnya saling mengutuk dalam doa atas nama Tuhan bahwa seharusnya mereka tak dipertemukan dengan cara seperti itu.

Kita juga bisa mengambil pengandaian tentang keinginan papua merdeka. Melalui dalih cinta tanah air dan persatuan, kebebasan diberangus hingga meregangkan nyawa. Para medioker lainnya berbicara lantang “Jika Papua merdeka bisa jadi akan diambil alih oleh Amerika atau Australia”. Tetapi biarlah saja mereka merdeka, jatuh ditangan siapa pasca kemerdekaan mereka nanti. Itu adalah urusan mereka sendiri. Atas nama kehendak bebas mereka akan memilih pada siapa mereka akan dikangkangi.  Pada negara lain, oligarki lokal atau bahkan korporasi yang hingga hari ini terus menikmati hasil sumber daya mereka tanpa berhenti meski terjadi konflik berulang kali.

Bisa juga, seseorang pengujar “Be Your Self” yang terus berceramah tata cara untuk mencintai dan menjadi diri sendiri. Bercerita tentang lakukan segala sesuatu untuk dirimu karena kamu berhak dan mendapatkan yang layak. Alih-alih kehendak bebas untuk mencintai diri sendiri. Pada akhirnya abai pada diri yang menjadi ignorance dan selfish. Sejatinya dia hanya tengah memilah dan memilih apa yang dia inginkan untuk dirinya. Karena, di hadapan lainnya dia hanya sebuah faktor produksi dalam pencetak komoditas yang harga dirinya ditukar dengan uang. Seperti sebuah jargon popular, “If you won’t accepted of my worst, then you don’t deserve get of my best”. Tetapi jangan lupa, “because capitalism also want to people do the best and take of advantages from other people, but fired when you’re fucked up”.

Kita bisa saja berharap hidup sembari menutup mata bahwa Eropa telah terbakar menghadapi rekor suhu tertinggi sepanjang 20 tahun terakhir. Kita bisa saja bercumbu mesra dengan menikmati berita berjudul “Perubahan iklim: 12 tahun untuk menyelamatkan planet ini? Jadikan itu 18 bulan akibat hutan amazon terbakar. Menimang seorang anak yang masa depannya harus menghadapi kecamuk yang lebih berat karena akan lebih banyak menghirup polutan ketimbang oksigen.

Kehendak bebas adalah ilusi bagi kita menghadapi dunia yang gamang. Ilusi yang sengaja diciptakan agar kita nampak baik-baik saja di tengah ketidakberdayaan kita sendiri. Kita hanya sedang terus mencari atas keinginan diri. Mencoba menikmati hidup atas diri kita sendiri sebelum mati. Sebaiknya memang kita menikmati itu semua.

Sebelum Yesus turun dunia telah porak-poranda dan Allah akan membentuk kembali duniannya. Berbahagialah untuk generasi yang tidak mendapati hari penghakiman tiba. Karena Allah telah memberkati semua penciptaannya pada hari ketujuh dan menguduskannya. Dan pada hari itu pula DIA berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. Sembari berkata “Semuanya adalah baik.” Untuk saat ini, nikmatilah dunia yang gamang sembari terus percaya pada kehendak bebas. Meskipun sebenarnya kita hanya tengah meletakan dan menggantungkan diri kita pada yang lainnya, sekalipun itu pada diri sendiri. (HSA)

Previous Hulica – The Soldiers That Generate Farewell
Next AK//47 Gelar Konser 20 Tahun: “Mengingat yang Belum Tercatat”