Mengenang Cabang: Wahana Permainan Segala Umur Di Purwokerto


Selepas penat 7 jam dijejali pelajaran-pelajaran buatan rezim, belum lagi bila jatah pelajaran olah raga di tengah jam pelajaran mengharuskan pergi ke kolam renang penuh kaporit dan kembali lagi ke sekolah, adakah yang lebih menarik dibanding menghabiskan sisa uang jajan di wahana permainan sepulangnya?

Pertanyaan di atas lazim membekas dalam benak setiap pembaca yang sekarang seharusnya sudah didampingi istri- satu atau lebih terserah kebijakan internal, menimang anak- berurutan atau mbarep semua itu juga pilihan masing-masing, dan syukur-syukur sudah mencapai target tabungan 1 Milyar- dalam bentuk utang atau piutang juga tak jadi soal. Tapi, akan menjadi sangat tidak adil apabila membatasi isi sebuah tulisan untuk dipahami satu generasi saja. Maka, pinjamkan beberapa menit milik pembaca untuk larut dalam kisah mengenai sebuah wahana permainan segala umur yang pernah berdiri di tengah kota Purwokerto.

Wahana Permainan

Apabila pembaca melintas di depan lorong di antara toko pakaian Ciki Fashion dengan Matahari di bilangan Kebondalem, tengoklah satu ruko yang kini lebih mirip dengan sarang para hantu. Amati sejenak tapi menyeluruh. Pandang bagian atas gedung itu lalu ke bawah.

Dahulu sebelum menjadi semacam sarang hantu, gedung itu selalu ramai dengan anak-anak yang mungkin mengalami perasaan dalam paragraf pembuka tulisan ini. Mereka bergerombol atau mengantri mesin-mesin ding-dong, istilah lazim untuk menyebut arcade machine, yang menyajikan permainan populer seperti Aero Fighters, King Of Fighters, Donkey Kong, Knights of the Round- permainan ini lebih sering disebut Lancelot merujuk pada salah satu jagoannya, Captain Commando, Street Fighters, sampai permainan sepak bola bergambar miring, FIFA. Tempat itu disebut Cabang. Pusatnya di mana sampai tulisan ini diunggah masih belum bisa ditemukan.

Mereka biasanya terlihat menghajar togle dan tombol di alat tersebut sambil kadang membubuhi luapan ekspresi permainan dengan kata-kata yang kurang bijak terdengar di telinga orang tua mereka. Kata-kata tersebut biasanya dipelajari dari pemuda-pemuda tanggung ora jelas yang berdomisili di daerah para gangster di belakang Pasar Kebondalem.

Kehadiran pemuda-pemuda tersebut mulanya bukan merupakan hal yang mengundang perhatian. Sebab bagi anak-anak mereka kerap dianggap cult hero karena memiliki kemampuan-kemapuan yang akan memberi jalan lempang menuju kesuksesan dalam kehidupan nyata seperti: menamatkan Captain Commando dengan satu koin 100 Rupiah, menyelesaikan petualangan Donkey Kong di bawah waktu 1 jam, membuka karakter-karakter yang tersembunyi dalam King Of Fighters, atau mengakali mesin permainan dengan kawat.

Perhatian mulai terundang. Mulanya yang membuat undangan untuk perhatian adalah tempat yang pasti dijadikan para pemuda tanggung berkumpul: di bawah tangga menuju lantai dua. Mereka biasanya menghentikan obrolan ngalor-ngidul ketika sesosok perempuan mengenakan rok, berdandanan menor, dan beraroma minyak wangi murah yang disemprotkan ke tubuh dalam kadar kelewat-lewat menuruni tangga. Salah satu dari pemuda pasti akan melakukan gerakan aneh di bawah tangga: memepetkan badan ke tembok sebelah bawah tangga sambil mencuri-curi pandang ke atas. Selepasnya ia kembali ke kerumunannya, menyebutkan sebuah warna, dan disambut dengan tawa lirih pemuda lainnya.

Yang Dewasa Yang Juga Butuh Permaian

Tawa lirih mereka semakin kerap terjadi ketika minggu memasuki akhirnya. Di masa itu intensitas perempuan mondar-mandir dan menuruni tangga meningkat. Aroma minyak wangi murah menguar di penjuru wahana permainan di lantai satu.

Pemandangan tersebut mengundang hal lain selain perhatian. Ia adalah saudara dekatnya: pertanyaan. Pertanyaan tentu dialamatkan pada para pemuda yang gemar tertawa lirih. Mengalamatkan pertanyaan pada perempuan-perempuan yang mondar-mandir, apalagi masalah warna, pasti membutuhkan keberanian yang lebih dan mungkin menyebabkan akibat-akibat yang diinginkan.

Seorang pemuda menjawab bahwa di lantai dua adalah wahana “Permainan Orang Dewasa”. Katanya di sana mesinnya lebih canggih, tombolnya lebih banyak, toglenya pun lebih keras, jenis permainannya berat: lebih rumit sekaligus menguras energi kelewat banyak.

Mendapati jawaban tersebut sebagai seorang anak yang normal, reaksi yang keluar sekadar “oooh”. Tanpa ada lanjutan pertanyaan atau bantahan mengenai permaianan orang dewasa apalagi keberanian untuk mencoba memainkannya di lantai dua.

Sejak hari itu normalisasi hadir dalam keseharian. Ia tidak hanya dihadirkan oleh rezim rupanya. Normalisasi hadir dalam bentuk pemikiran bahwa ternyata orang dewasa pun butuh permainan. Mungkin mereka juga penat menghadapi pekerjaan atau urusan yang membutuhkan kedewasaan sehingga dihadirkan konsol permainan orang dewasa lengkap beserta wahananya. Seandainya benar demikian, baik betul penggagas Cabang. Mereka menyediakan wahana permainan yang mencakup segala umur: anak-anak dan dewasa. Penghargaan tertinggi pemerintah daerah seharusnya layak dialamatkan bagi mereka. Tapi mengapa hal itu tak pernah terjadi?

*

Suatu hari saat tengah asyik bercerita sambil bersiap memulai permainan Street Fighters tiba-tiba saya merasakan saku celana merah saya ternyata bolong. Dua keping uang 100 Rupiah yang telah disiapkan lolos entah ke mana. Di tengah kebingungan, seorang perempuan meyodorkan tiga keping uang 100 Rupiah. Perempuan itu adalah ibu saya yang kebetulan habis berbelanja di Pasar Kebondalem. Saya malu setengah mati. Ibu mengajak saya pulang menumpang angkot B2 dengan tidak menunjukan kemarahan sedikitpun. Di dalam angkot ia hanya berpesan untuk tidak lagi-lagi bermain di situ, karena di sana adalah wahana permaian orang dewasa. “Permaianan orang dewasa”, lagi-lagi. Saya menundukan kepala sambil memutuskan untuk kembali tidak membantah atau menanyakan permainan jenis apa yang dimainkan orang dewasa. Ketika mengangkat muka untuk mengiyakan permintaannya, Ibu tersenyum. Mukanya memancarkan damai sebuah telaga. Sampai sekarang kami masih mengenangnya sambil tertawa seperti kejadian itu baru terjadi kemarin siang.

Ketika menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Kranji I dengan prestasi gilang gemilang, paling tidak menurut diri sendiri, saya melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP 2. Setelah itu karena kombinasi antara jarak yang jauh, kegemaran baru pada pita kaset, dan hasrat untuk mencoba permainan konsol yang lebih mutakhir, saya kehilangan minat untuk mengunjungi Cabang.

Perlahan-lahan Cabang mulai runtuh. Konon kerjasama perkembangan zaman dan kerja-kerja polisi moral berhasil menyungkurkan mereka. Di awal tahun 2000an gedung yang dahulu menjadi tempat belajar permainan konsol, mendengar bahasa-bahasa yang kurang patut didengar, dan menghadapi kenyataan-kenyataan kehidupan yang terlalu dini untuk diketahui akhirnya menutup operasi mereka. Tidak ada karangan bunga yang dipajang di depan gedung atau orang berwajah muram yang berkerumun layaknya di sebuah rumah duka. Meskipun saya yakin para pria, baik anak-anak maupun dewasa, mendedikasikan air mata dan tangis menderu untuk kepergiannya.

Seandainya Cabang masih berdiri, saya mungkin sudah naik level permainan. Dari yang tadinya di lantai satu kini mungkin saya bisa mondar-mandir di lantai dua karena kini telah dewasa. Tetapi sebenarnya permainan seperti apa yang disediakan di lantai dua? Apa pula yang dimaksud dengan “Permainan Orang Dewasa” seperti yang dikatakan salah seorang pemuda di Cabang dahulu dan Ibu saya? Daripada menyimpulkan sendiri, saya lebih memilih membiarkan pembaca untuk menarik kesimpulan sekaligus menjawab berdasarkan apa yang tertulis di atas. Ketika akhirnya menemukan jawaban, pembaca boleh mengumpat jijik atau mengenang dengan khidmat kehadiran Cabang seperti yang saya lakukan dalam tulisan ini.

Previous Klarifikasi desain rubrik Public Opinion di Heartcorner.net
Next Press Release - US Dollar