Ibu, Aku Tidak Ingin Gagal Mencintaimu


“Allah dulu, Allah lagi, Allah terus” begitu kata Ibu dalam setiap perbincangan kita. Kata yang sering kali aku jadikan bahan bercandaan dalam setiap obrolan bersama kawan-kawan. Ibu sempat panik ketika aku ceritakan bahwa Tuhan adalah bahan bercandaan yang paling sering aku lakukan. Sampai pada akhirnya, Ibu pun mengerti kenapa aku selalu tertawa ketika dia mengatakan itu. Tidak, aku tidak membenci Tuhan. aku hanya tidak suka membicarakan Tuhan sebagai sesuatu yang eksis melalui representasi manusia.aku tidak suka menggunakan Tuhan sebagai bentuk afirmasi atas tindakan kita. Tidak cukup sulit untuk mengakui bahwa segala hal atas tindakan kita adalah pilihan sadar yang berkonsekuensi pada dunia materiil. Wise?, no, I simply learned to think.

Seperti kata John Leonard, “it takes a long time to grow an old friend”. Begitu kira-kira aku menggambarkan hubungan pertemanan kami. aku menganggap beliau adalah teman. Mungkin sama halnya ketika aku tengah menyukai seorang perempuan dan memacarinya. Bedanya, komitmen kami telah diuji selama puluhan tahun. Sempat putus-nyambung, tetapi kami menolak berpisah. Karena selalu ada hal yang sama-sama tidak kami ketahui untuk akhirnya kami bicarakan bersama. Untungnya aku bukan seperti Oedipus Rex dalam cerita Sophocles yang menginspirasi Freud membuat teori tentang Oedipus Complex.

aku yakin, ketika dilahirkan aku adalah orang asing bagi dirinya. Tetapi seperti kebanyakan orang yang percaya tentang gagasan kreasionis. Cerita adam dan hawa yang memiliki keturunan sudah merupakan dogma. Memiliki anak adalah untuk meneruskan generasi, membentuk cerita sejarah mereka sendiri, dan melanjutkan kepercayaan hidup mereka. Merawat dan membesarkan kami (aku dan adik-adik) tentu bukan perkara mudah baginya. Di masa kecil, aku mengingat, Ibu dan Ayah pernah memakan nasi dengan lauk tempe dan kecap. Tidak cukup banyak uang untuk kami memiliki asisten rumah tangga. Akhirnya, Ibu harus mulai belajar memasak dan merawat kami secara bersamaan. Ibu mengakui sendiri bahwa sebenarnya dia tidak bisa memasak. Seorang sarjana muda jurusan manajemen industri harus meletakan ijazahnya dan keinginannya untuk bekerja menjadi ibu rumah tangga. Sementara ayah adalah seorang guru swasta yang harus mencari penghasilan tambahan menjadi photographer agar kami bisa menikmati makan ayam goreng setidaknya sebulan sekali.

Kemampuan memasak Ibu mendorongnya untuk membuka sebuah warung soto di depan rumah. aku ingat betul bagaimana Ibu harus menjagaku sembari berjualan melayani pelanggannya. aku tumbuh sebagai anak yang suka makan. Setiap ada pelanggan aku juga selalu meminta disediakan semangkuk soto. Setidaknya Ibu pernah mencoba beberapa usaha dengan membuka warung rames, toko sembako, tukang rajut, tukang jahit, bahkan menjadi photographer seperti ayah. Bahkan keluarga kami sempat menerima beberapa orang untuk tinggal di rumah membagi hidup hingga hari ini. Sudah semacam tradisi dalam keluarga. Membuka rumah kami untuk orang lain, hidup bersama sampai mereka memutuskan untuk meninggalkan rumah menjalani hidup mereka sendiri. aku hanya mengingat beberapa nama orang yang pernah tinggal bersama kami. Mereka bukan keluarga atau kerabat yang tertaut ikatan darah. Tetapi tumbuh seperti saudara kami sendiri.

Ayah dan Ibu mungkin tidak sadar, bahwa apa yang dia lakukan secara tidak sadar membentuk cara pandangku tentang sebuah keluarga. Keluarga tidak selalu harus lahir dari rahim atau garis keturunan yang sama. Tetapi siapa yang sama-sama membuka diri dan saling berjalan dan masuk ke dalam kehidupan masing-masing. Sama halnya dengan keyakinan aku bahwa setiap orang adalah asing, sampai benar-benar aku diizinkan masuk ke dalam cerita hidup mereka. Melihat mereka menangis, tertawa, khawatir dan bahagia. Sampai akhirnya, kita sama-sama membangun komitmen untuk hidup atas dasar dialog dan konflik.

Ibu menikahi seseorang yang tanggal kematiaan pernah diprediksi secara medis. Tetapi selama aku hidup bersama, dia bahkan tidak pernah menunjukan kecemasan akan hal itu. aku tumbuh seperti anak pada umumnya, hingga akhirnya dewasa. aku mulai mengetahui banyak persoalan yang terjadi dalam keluarga kami. Sebagai seorang yang merasa telah memiliki kemampuan berpikir, aku pun mulai menentukan sikap atas hidup aku sendiri. Tidak jarang kita beradu argumen tentang banyak hal. Tidak saling bertegur sapa padahal tinggal di satu rumah. Bahkan aku pernah memutuskan untuk meninggalkan rumah dengan waktu yang cukup lama.

Aku pernah sangat marah terhadap Ibu dan menjauh darinya. Terkadang memang, pergi adalah cara terbaik untuk mengetahui apakah kita akan kembali atau bahkan tidak sama sekali. Tetapi tidak untuk hubungan aku dan Ibu. Sepertinya, bodoh sekali ketika aku telah merasa mampu berpikir tetapi tidak mampu menemukan solusi atas permasalahan kami. Memang hidup puluhan tahun bersama tidak memiliki jaminan untuk kami saling mengenal. aku pernah dikritik olehnya bahwa “aku adalah anak satu-satunya yang tidak dikenali oleh dia”. Cukup lama memang aku menutup diri dan tidak menceritakan apapun kepada siapapun bahkan kepada orang yang melahirkan aku. Ibu bahkan baru mengetahui aku merokok saat setelah lulus kuliah, dan baru-baru ini dia mengetahui jika alkohol pernah menjadi kawan baik aku selain buku.

Ibu tidak pernah menuntutku menjadi apa yang dia inginkan. Proses ini bukan tanpa kendala, berulang kali aku menjelaskan tentang bagaimana aku ingin menjalani hidup. Meskipun tidak dipungkiri, Ibu selalu menginginkan aku menjalani hidup dengan tidak banyak bertaruh, melantaikan mimpi pada hal yang sederhana. Tapi bu “Hidup yang tidak diuji dan dipertaruhkan, tidak layak dihidupi”, begitu jawabku mengutip Socrates. Tidak jarang Ibu melakukan hal yang aku lakukan di waktu kecil, “aku ga punya uang mas, minta sangu (uang saku) besok mau pergi”. aku tidak lantas menghakimi dia perihal mempersiapkan diri dengan cukup uang agar tidak merepotkan di hari tuanya. Pikirku, apa yang diharapkan dari seorang Ibu rumah tangga yang setiap harinya hanya berdagang dan mengurus anak?. Lebih sering, dia hanya diam ketika tidak memiliki uang, bahkan ketika sakit. “Tidak ingin merepotkan anak-anak”, katanya.

Saat ini, aku menganggap Ibu seperti halnya diriku. Seseorang yang juga dipaksa harus menjadi dewasa, menjalani hidup yang jauh di luar pikirannya. Tetapi dia terus melakukannya, tidak jarang aku mendapat hantaman gesper ketika sulit diatur dan bersikap keterlaluan. Terkadang Ibu memukulku karena memang tidak tahu cara menghadapiku. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang harus diperbuatnya terhadapku. Pernah sekali waktu, Ibuku dipermalukan oleh orang dihadapan umum. Semua adikku mengetahui itu. Tetapi dia baru menceritakan setelah cukup lama kejadian itu berlangsung. Ya, Ibu tahu, aku bisa menjadi seseorang yang sangat mengerikan ketika ada yang mencoba melukai dia.

Setelah kepergian Ayah, adalah waktu terberat kami menjalani hidup. Kami berusaha menegakkan tiang-tiang yang hampir runtuh. Belum lagi persoalan lain yang juga menghantam kami berkali-kali. Ditambah sikap dan perlakukan aku yang cukup keras terhadap Ibu karena menumpahkan semua kesalahan kepadanya. Dia tak bergeming, kepergianku jauh dari rumah tidak menghentikan dia untuk terus menghubungiku hampir setiap hari. Sekalipun jawaban aku dalam pesan tersebut sangat singkat.

Selang tahun berganti aku tetap enggan pulang ke rumah. Di suatu kesempatan, aku tengah bekerja saat itu, mengunjungi sebuah kampung nelayan melihat para ibu bekerja membantu suami mereka mempersiapkan bekal ke laut. Tiba-tiba kakiku ingin sekali bejalan menuju pantai, sesampainya di sana, air mataku tumpah tanpa sebab. Dalam lamunanku sembari menangis, aku seakan berkata “aku harus pulang, semua hal masih bisa dibicarakan dan diperbaiki”.

Hari ini, kami adalah kawan baik. Semua hal telah kami bicarakan dan diskusikan, segala hal tanpa kecuali. Kemarahanku terhadapnya, kekecewaannya terhadapku. Semua orang melakukan kesahalan, begitupun denganku. Ibu adalah orang biasa sepertiku. Dia disebut Ibu bukan karena melahirkan, merawat dan membesarkanku. Melainkan komitmennya merawat kehidupan yang lebih besar dari dirinya. Mencoba melakukan banyak hal, terus belajar dalam segala hal hingga hari ini. Kami masih akan terus belajar bersama harapanku dalam waktu yang cukup lama. Setidaknya, sampai aku benar-benar siap mengantar kepulangannya menuju hidup selanjutnya.

Bagi aku, sekalipun pada akhirnya kita akan selalu merasa sendiri dan harus sendiri. aku tidak ingin melewatkan cerita yang akan menjadi ingatan baik tentang hidup. Meskipun hidup sulit untuk dimaknai secara penuh, lebih sering adalah absurd. Bukan berarti kita harus tidak memiliki kepercayaan dan keyakinan apapun tentang hidup. Beberapa pun banyaknya buku yang aku baca, bahkan setiap orang yang tulisannya aku baca. Selalu memiliki cerita hidup yang tidak kurang getirnya. Sebutkan saja satu tokoh dalam buku yang pernah dibaca, di dalam tulisan mereka memuat pengalaman hidup yang tidak jarang bertolakbelakang dengan apa yang mereka tulis.

Satre yang pernah membuat seseorang nyaris bunuh diri. Wittgenstein yang pernah menjadi pendukung Nazi. Kierkeegard yang melepaskan Regina Olsen karena ketakutannya sendiri. Nietzsche yang patah hati karena seorang pelacur. Freud yang menyukai adik iparnya Minna Bernays. Carl Jung yang mencumbui murid dan pasiennya sendiri bernama Sabina. Jadi, semakin banyak aku membaca buku, aku hanya semakin melihat dunia ini adalah hal yang paling patut ditertawakan. Tidak ada hal yang benar-benar mutlak tentang sebuah kebenaran, apalagi dalam hidup.

Apapun yang akan kita kejar untuk dimiliki adalah sesuatu yang tidak pernah akan menjadi milik kita selamanya. Kita hanya memiliki kesempatan untuk merawat, menjaga dan menumbuhkan. Sama halnya dengan hubungan aku dengan Ibu. Seperti sebuah puisi yang pernah aku berikan ke Ibu berjudul Anakmu Bukanlah Milikmu karangan Kahlil Gibran:

Anak adalah kehidupan,
Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal Darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
Curahkan kasih akung tetapi bukan memaksakan Pikiranmu
karena mereka Dikaruniai pikiranya sendiri

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tak bisa kau datangi
Bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan
Tidak tengelam di masa lampau.

Kaulah busur,
Dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu meleset,
jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita
Dalam rentangan Sang Pemanah,sebab Dia
Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,
Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap

Mungkin, aku sering kali gagal dalam menjalani hubungan dengan perempuan. Tetapi aku tidak ingin gagal menjalini hubungan dengan perempuan yang melahirkan aku. Diantara banyak kegagalan yang pernah dan akan aku alami. aku tidak ingin merasa gagal menjadi seorang teman di masa tuanya. aku ingin dia leluasa menceritakan kehawatiran, kebahagiaan dan banyak hal tentangnya. Dan aku harap, apa yang aku pelajari bersama Ibu, akan menjadi pengetahuan bagiku untuk merangkai hubungan bersama orang lain.

Seperti kata Fromm dalam bukunya The Art Of Loving “Love is a decision, it is a judgment, it is a promise. If love were only a feeling, there would be no basis for the promise to love each other forever. A feeling comes and it may go. How can I judge that it will stay forever, when my act does not involve judgment and decision. Love isn’t something natural. Rather it requires discipline, concentration, patience, faith, and the overcoming of narcissism. It isn’t a feeling, it is a practice”.

Memang begitu, sesuatu yang sangat dekat dengan kita justru nampak begitu jauh dan sulit kita rasakan. Kita sibuk mencari di luar sana dengan harapan menambal luka, terkadang itu justru menambah luka yang lebih dalam. Membuat kita ingin pulang, tetapi kita masih berkeras hati dan menolaknya. Meskipun tidak semua keluarga adalah tempat yang layak untuk kita pulang. Beberapa memang harus bercerai-berai untuk membentuk tempat yang baru. Angkuh bukan hanya kepada orang lain tetapi diri sendiri. Akhirnya kita terjebak dan terjerembab, mengutuk diri sendiri dan orang lain.

Bahwa dunia ini bergerak atas kepergian dan kedatangan, kematian dan kelahiran. Tetapi ada hal yang yang masih meragukan. Apakah dunia memang harus berjalan atas ketidakadilan yang berkepanjangan?. Beberapa hal yang pasti aku yakini adalah, dunia dibentuk dengan tumpukan hasrat jutaan manusia yang saling bertarung. Apapun yang terjadi pada dunia saat ini adalah tanggungjawab manusia, tidak perlu ada hal lain. Tidak ada yang sempurna adalah kepastian dari paradoksnya manusia. Dan aku, tidak sedang mencari apapun, kecuali tempat di mana aku akan membagi banyak hal tanpa terbatas ikatan darah. Mungkin itu surga yang mampu aku bayangkan.

Previous YELLOW JET CLUB MENGAJAK AUDIENS BERDAMAI DENGAN FASE KEHIDUPAN
Next “CHANT OF THE SUN SCREAM” The End, Is The Beginning