Dekade Dekadensi: Persinggungan Gangster dengan Pelajar di Purwokerto


Pada pertengahan tahun 1990 hingga awal 2000, dekadensi tengah berkembang pesat di Purwokerto. Periode tersebut bisa dikatakan merupakan, meminjam judul album Motley Crue, Decade of Decadence – Dekade Dekadensi yang dipenuhi penyalahgunaan narkotika dan cita-cita menjadi berandalan – Dua hal tersebut menciptakan hal keren yang harus dicatat untuk diingat; muncul merebaknya gangster-gangster sekaligus persinggungannya dengan pelajar di Purwokerto.

Sayangnya, seperti semua yang pernah terjadi di kota ini, fenomena dan periode keren tersebut terekam dalam ingatan saja. Tidak seorangpun sisa generasi tersebut mencoba membekukannya dalam bentuk tulisan. Maka, akan menjadi hal yang sangat menarik untuk menuliskannya melalui pengumpulan memori kolektif dari para pelaku yang pernah bersinggungan dengan gangster di Purwokerto sewaktu menjadi pelajar. Metode tersebut menjadi signifikan karena tiap memori mewakili masing-masing wilayah ruang, wilayah ingatan, dan rentang periode yang berbeda dalam satu dekade.

Kisah-Kisah Dekaden

1. Wiman Rizkidarajat, 31 tahun, Seorang anti militerisme sejak dari bawah sadar

Dahulu ketika mengenyam pendidikan menengah pertama di SMP 2 Purwokerto tahun 1998 hingga tahun 2000 dekadensi tengah tumbuh subur. Pusatnya berada di situs legendaris Taman yang terletak di belakang Rumah Sakit lama yang kini telah menjadi Rumah Sakit Geriatri.

Di sini biasanya para pelajar berkumpul untuk menunggu angkutan kota yang akan mengantar mereka pulang. Namun, tidak semua pelajar ingin segera pulang. Sebagian dari mereka kadang tidak berniat pulang sama sekali dan menghabiskan waktu sambil melakukan perilaku-perilaku dekaden: bertarung satu lawan satu, menonton tawuran, belajar merokok, menghisap bisono – ganja kelas kecoa yang membuat penggunanya tertawa dan muntah bersamaan, merekam dalam ingatan gambar-gambar syur sekaligus kisah petualangan Om Bram dalam tabloid Lipstik untuk bekal ritual sebelum mandi sore, dan berkenalan dengan para gangster.

Ada dua hal yang menarik untuk diceritakan ulang dari perilaku dekaden di atas. Yang pertama mengenai menonton tawuran. Pada saat pertama kali diterima di SMP 2 pernah terjadi kejadian yang terlalu cool untuk diingat. Kejadian tersebut terjadi dalam tanah kosong bertembok keliling di perbatasan antara Taman dan Rumah Sakit Lama.

Hari itu, sepulang sekolah, pintu gerbang tanah tersebut dijaga oleh dua orang pelajar SMP yang sepertinya telah berpuluh-puluh kali tinggal kelas. Keduanya berjaga layaknya dewa pintu dalam film-film vampire mandarin: diam tidak saling bicara dan menyajikan paras mencekam.

Seorang senior dari SMP tetangga, SMP 3, menyarankan untuk tidak segera mencegat angkutan kota untuk pulang apabila ingin menyaksikan pemandangan sekali seumur hidup. Benar saja. Selang sekitar satu jam kemudian gerbang besi digedor dari dalam. Dua penjaga membukakan pintu dengan segera. Selepasnya berhamburan puluhan anak berseragam sekolah menengah pertama keluar dengan darah berceceran di tubuh dan seragam mereka. Mereka keluar dengan tatapan bangga seperti patriot pulang dari perang suci. Tak ada seberkaspun tatapan penyesalan di mata mereka. Seandainya menyaksikan adegan tersebut Ekin Cheng dan kawan-kawannya dalam film “Young and Dangerous” pasti terkagum-kagum.

Konon pertarungan itu adalah salah satu dari rangkaian partai pembuktian gangster mana yang terkuat di tingkat SMP. Apakah SMP 3 atau SMP Piri? Sampai hari ini tidak ada klarifikasi dari kedua belah pihak mengenai pemenang partai tersebut. Tapi, sudah pasti pemandangan tersebut merupakan hal yang terlalu cool bagi mereka yang beruntung menyaksikannya.

Yang kedua adalah berkenalan dengan gangster. Nama yang sangat harum di Taman adalah Bawal. Konon ia seorang gangster yang berasal dari daerah paling buas dalam peta pergangsteran di Purwokerto, Jalan Bank. Namanya rupanya merupakan gambaran yang paling tepat untuknya. Apabila pembaca kesulitan membayangkan, cukup ikuti petunjuk berikut: bayangkan manusia berbadan pada umumnya, berkulit gelap, berambut belah tengah, tapi bermuka ikan bawal.

Suatu hari ia datang ke Taman dengan muka mirip pecak bawal. Kemudian dikisahkannya pada para pelajar bahwa keadaannya didapat akibat bertahan dari serangan delapan orang anggota gangster semalam. Cerita tersebut seketika membuat mereka terkagum-kagum dan segera mengidolakannya. Kelanjutannya adalah sejarah yang menjadi pengalaman umum pengidolanya: Ia akan membekingmu setiap ada masalah dengan pelajar sekolah lain dan sebagai timbal balik ia bisa tidur di rumahmu selama berbulan-bulan sambil berusaha mengubah motormu mejadi berkecepatan cahaya, lalu mencapai level “to infinity and beyond”, alias raib.

2. Rahadian Descond Karunia, 33 tahun, Pelopor gerakan “Balas Dengan Karya”

Keberadaan pusat permainan di dekat Pasar Kebondalem dan Cabang merupakan faktor paling berpengaruh dalam penyebaran dekadensi di SMP 8 tahun 1996 sampai 1998. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa pemukiman padat di sekitar pasar merupakan salah satu daerah terkeras dalam peta pergangsteran di Purwokerto.

Para anggota gangster daerah tersebut kerap menyebarkan dekadensi pada para pelajar melalui cara yang terlalu mencolok mata. Pada masa itu bukan merupakan pemandangan menakjubkan ketika melihat halaman luar sekolah tidak hanya dipenuhi oleh penjual jajan saja, melainkan juga oleh bakul cimeng.

Selain menjual barang tersebut mereka juga kerap memalak para pelajar. Metode memalak mereka tidak melulu melalui pemalakan langsung. Kadang mereka juga melakukan pemalakan alus yang melibatkan relasi kuasa. Contohnya salah satu anggota gangster pernah memaksa seorang pelajar untuk membeli gitar akustiknya yang berada dalam keadaan hampir ringsek dengan harga 17 ribu Rupiah.

Tapi, tidak selamanya pemalakan menimbulkan akibat negatif, karena sesungguhnya terdapat mutualisme di dalamnya. Anggota gangster akhirnya mulai memberikan mutualisme melalui mekanisme bekingan bagi para pelajar yang menjadi sumber pemasukannya dengan menjamin keamanan para pelajar dari ancaman pelajar sekolah lain. Tidak hanya itu saja, seorang pemalak cum tukang parkir bernama David memberikan bonus yang sangat berharga dengan memperkenalkan produk budaya populer melalui salah satu album musik paling bernas masa itu, Dookie milik Green Day, pada para mangsanya.

Persinggungan anggota gangster Kebondalem dengan pelajar SMP 8 tidak kemudian mendorong terbentuknya gangster sekolahan. Para pelajar dan para gangster tetap membatasi hubungan mereka di luar sekolah. Memang terdapat nama Sinyo sebagai jager yang diakui oleh hampir seluruh pelajar SMP 8. Namun, ia tidak berasal dari Kebondalem dan tidak sedikitpun bertendensi membentuk gangster sekolahan. Ia lebih memilih menjadi bandar narkotika, mencintainya, sekaligus menjadikannya sebagai cara untuk mati muda.

Sebagai contoh ketika terjadi pertarungan antar sekolah, para pelajar SMP 8 tetap menyelesaikannya sendiri. Kisah tersebut berawal ketika seorang pelajar SMP 5 yang entah datang dengan alasan apa tiba-tiba menggoda seorang pelajar perempuan SMP 8 di depan sekolah. Kejadian tersebut berlanjut pelik.

Entah karena si pelajar perempuan melaporkannya pada pelajar lelaki atau karena hal lain, tiba-tiba beberapa hari setelahnya massa pelajar SMP 5 dan SMP 8 terkonsentrasi di Lapangan Brobahan. Massa pecah dan terlibat dalam kejar-kejaran yang menegangkan. Kepelikan bertambah ketika pelajar STM 75 yang tengah mengikuti pelajaran olah raga di lapangan tersebut lebih memilih olah raga alternatif mengejar secara random pelajar SMP yang berlarian dibanding mengikuti instruksi dari guru olah raga mereka.

3. Anindya Ryadinugroho, 36 tahun, Penikmat pahit getir kehidupan

Meskipun menyandang predikat sebagai sekolah favorit pilihan para elit sekaligus penghasil orang sukses, bukan berarti SMA 1 lolos dari dekadensi. Rentang waktu tahun 1997 hingga tahun 2000 merupakan salah satu masa paling enigmatik dalam dinamika SMA 1. Kolaborasi antara dekadensi di luar dan di dalam sekolah menghasilkan enigma-enigma yang sulit dijelaskan dengan akal sehat.

Dekadensi di luar sekolah diinisiasi oleh infiltrasi dua gangster besar CBZ (Crazy Boys) dan DNG (Dayak Ngomprenk) ke dalam sekolah. Seperti pada kebanyakan cara kerja gangster, mereka menginfiltrasi sekolahan untuk mencari anggota sebagai sumber pemasukan dan sebagai timbal baliknya para anggota mendapatkan bekingan.

Pada masa itu DNG merupakan contoh yang sangat baik sekaligus komplet dalam hal pengorganisasian anggota. Hal tersebut terjadi pada tiap balap liar yang diadakan di timur GOR Satria atau di Berkoh. Saat itu balap liar merupakan wahana hiburan sekaligus mekanisme pengganda uang, maka pelajar SMA 1 yang menjadi anggota DNG tentu tidak akan melewatkan kesempatan bersenang-senang tersebut.

Sebelum balapan dimulai anggota DNG yang agak senior akan berpatroli mengendarai motor mengitari lintasan balapan untuk menghitung jumlah anggotanya yang berada di tempat tersebut. Bukan tanpa maksud, patroli itu digunakan untuk memberikan pertolongan pertama apabila sewaktu-waktu polisi datang menggrebeg balapan lalu menciduk anggota yang kebetulan tengah menonton. Tidak sampai di situ, para dedengkot DNG yang lebih tinggi akan turun tangan seandainya ada anggotanya yang terpaksa menginap di hotel prodeo. Tidak peduli sekroco apapun tingkatannya.

Dekadensi di luar sekolah tentu tidak akan seimbang bila tidak diikuti dengan dekadensi yang dilakukan dalam sekolah. Untuk perilaku tersebut Budi Liong merupakan sosok yang esensial. Pada masanya ia serupa rasul yang entah dikirim oleh Tuhan siapa. Dikatakan demikian karena ia kerap menunjukan mukjizat bagi teman-temannya.

Pada dasarnya Budi Liong tidak teridentifikasi sebagai anggota gangster manapun. Dibanding gelut atau mengikuti balapan liar, ia lebih memilih untuk pamer mukjizat seperti meminjamkan uang pada temannya yang gemar menilap uang SPP dan memberikan kebahagiaan melalui sabu-sabu, jenis narlotika yang tidak main-main untuk ukuran pelajar SMA.

Mukjizatnya melalui sabu-sabu merupakan hal yang sampai hari ini masih terkenang-kenang dalam ingatan para pelajar yang memilih kelas IPS pada saat Ebtanas tahun 2000. Pada masa tersebut kelas IPS lebih merupakan tangsi pelajar-pelajar apkir dibandingkan sebuah kelas. Ketika menjelang Ebtanas sudah pasti mereka berada dalam kebingungan total, sebab selama 3 tahun bersekolah waktu lebih banyak dihabiskan untuk merokok di kantin di saat jam pelajaran, berusaha menggandakan uang SPP melalui balapan liar, atau tindakan-tindakan konyol lainnya.

Pada saat genting tersebut, Budi menawarkan solusi yang melibatkan mukjizatnya: belajar sambil menghisap sabu-sabu. Secara logika hal tersebut akan memberikan hasil yang ambyar. Tapi sebagai rasul, Tuhan tentu tidak membekalinya dengan mukjizat yang memblangsakan pengikutnya. Saat pengumuman hasil NEM para pengikutnya mendapat kabar gembira bahwa mereka mendapatkan hasil jauh di atas memuaskan. Berita bahagia tersebut dirayakan oleh sebagian pengikutnya dari dalam rumah sakit.

Tipologi Gangster

Dari informasi narasumber-narasumber di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai tipologi gangster di Purwokerto masa itu: yang tidak bernama dan bernama. Gangster yang tidak bernama berasal dari daerah seperti Jalan Bank, Kebondalem, Kober, atau Sitapen. Sifat dari gangster ini biasanya eksklusif dalam artian tidak merekrut anggota dari luar daerah mereka apalagi membentuk sistem organisasi yang baik. Apa yang dialami Descond selama bersekolah di SMP 8 dan akhirnya bersinggungan dengan gangster dari Kebondalem tidak bisa dikatakan berada dalam mekanisme perekrutan anggota. Sebab, persinggungan mereka lebih diakibatkan tempat hidup yang bersisian yang menghasilkan rutinitas perjumpaan.

Daerah-daerah tersebut dapat dikatakan merupakan penghasil gangster tradisional, sehingga tidak memerlukan identitas yang tegas karena produksi gangsternya terjaga dan berkelanjutan. Kisah-kisah mengenai kejayaan mereka juga terjaga turun temurun dan dipoles-poles, sehingga misalnya berhadapan dengan musuh, cukup mengaku saja berasal dari salah satu daerah tersebut. Musuh yang tadinya petantang-petenteng niscaya akan berubah menjadi menaruh hormat atau minimal menjadi cengengesan di hadapanmu. Jenis gangster ini tidak terlalu menarik untuk dibahas lebih dalam karena sifatnya yang cenderung statis.

Gangster bernama adalah jenis yang lebih menarik untuk dibahas lebih dalam karena bersifat dinamis dan memiliki sifat inklusif. Meskipun tidak menjelaskan secara rinci, tiga narasumber pasti menyebutkan nama-nama semacam CBZ, DNG, Belzme (Belakang SMEA), Innocent, Kamso (Kampungan Ndeso), atau Samudra ketika ditanya mengenai nama-nama gangster di Purwokerto.

Anindya yang pernah menjadi anggota DNG semasa SMA menyampaikan informasi lanjutan yang sangat menarik mengenai sistem pengorganisasian DNG yang sangat rapi. DNG merupakan gangster yang dikepalai oleh Pakdhe Dieng yang berasal dari Proliman. Menurutnya narasi tunggal bahwa DNG adalah akronim dari Dayak Ngomprenk perlu disandingkan dengan narasi alternatif karena sewaktu menjadi anggota, DNG adalah akronim dari nama kepala mereka.

Di bawah Pakdhe Dieng terdapat semacam dewan inklusif yang terdiri dari gangster-gangster berbagai daerah. Dewan ini kemudian membawahi koordinator-koordinator wilayah. Koordinator ini bertugas membentuk koordinator sekolahan yang bertugas mengumpulkan anggota anak sekolahan beserta uang iuran yang digunakan sebagai biaya membuat kartu identitas guna menjamin keamanan mereka.

Mekanisme-mekanisme tersebut membuktikan bahwa DNG menganut sifat inklusif dan lebih penting lagi merupakan kompas empiris yang menunjukan adanya persinggungan antara gangster dengan para pelajar pada periode pertengahan tahun 1990 sampai awal tahun 2000.

Selain memiliki organisasi yang kuat, DNG juga memiliki kode etik yang mulia. Masih menurut Anindya, Koordinator wilayah DNG yang membawahi koordinator-koordinator sekolahan tidak akan turun tangan ketika terjadi perkelahian antar pelajar yang menjadi anggotanya. Mereka diikat oleh kode etik hanya akan turun tangan membela anggotanya ketika lawannya menggunakan bantuan gangster lain.

Persinggungan antara gangster bernama dengan pelajar tidak melulu terjadi melalui mekanisme koordinasi, melainkan juga melalui proses imitasi. Aditya Ardiansyah, seorang pelajar SMP3 tahun 1996-1999, mengatakan bahwa ketika masuk SMP telah terdapat gangster sekolahan bernama Rascal Boyz yang diketuai oleh seorang pelajar karismatik dan disegani di hampir seluruh SMP di Purwokerto bernama samaran Castelo. Anggotanya adalah pelajar SMP 3 yang telah membayar iuran rutin. Identitasnya berupa kaos dan kartu anggota. Cara kerja tersebut tentu saja merupakan imitasi dari gangster bernama yang ada di Purwokerto. Yang membedakan hanya tempat di mana hal tersebut diaplikasikan.

Gangster sekolahan yang mengimitasi cara kerja gangster bernama memiliki kendala utama berupa terbatasnya kaderisasi karena melibatkan lingkup yang terlalu kecil; satu lingkungan sekolahan saja. Akibatnya, lanjut Aditya, selepas Castelo lulus SMP dan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Rascal Boyz tinggal nama belaka.

Gangster dan Dekadensi Hari Ini

Pada pertengahan 2000an gangster dan pelajar masih menikmati indahnya kebersamaan. Berdua mereka masih kerap terlihat menikmati tawuran di Lapangan Brobahan, Lapangan Veteran, tanah kosong di samping SMA 4 dan Rumah Makan Indonesia, menenggak miras kelas wedhus bersama di Taman, atau menggelar partai satu lawan satu di tanah kosong di utara GOR Purwokerto. Namun, di sudut-sudut setiap sekolahan mulai terlihat samar-samar dekadensi jenis baru yang akan membuat mereka bercerai untuk dekade selanjutnya.

Dekadensi jenis baru ini menyerang pelajar sejoli yang tengah dimabuk cinta. Awalnya dekadensi tersebut membuat si pelajar perempuan tidak masuk sekolah dalam waktu yang sangat lama. Puluhan surat izin sakit dibuat untuk membuat alasannya terlihat normal. Si pelajar laki-laki masih terlihat pada hari-hari biasa. Keduanya akan bersamaan menghilang ketika Ebtanas berlangsung. Dan ketika pengumuman hasil Ebtanas nama keduanya sama sekali hilang dari daftar pelajar.

Dekadensi tersebut mulanya menjangkiti satu-dua sejoli. Lama kelamaan mereka berubah menjadi semacam wabah yang menjangkiti banyak sejoli di setiap sekolah. Dari tahun ke tahun sejoli yang hilang menjelang Ebtanas semakin banyak.

Tak berhenti di situ dekadensi tersebut berhasil mendorong kota untuk membangun pusat penyebaran wabah melalui kedok bangunan-bangunan berbilik kecil dan dilengkapi dengan layar serta perangkat komputer di pusat pendidikan. Sejak hari itu para pelajar bercerai dengan para gangster. Mereka meninggalkan sifat ganas yang ditularkan oleh para gangster dan menggantinya dengan sifat kekeluargaan yang dimanifestasikan melalui gerakan membangun keluarga dalam usia terlalu dini.

Perkembangan zaman dan perceraiannya dengan pelajar akhirnya menggulung para gangster. Nama-nama seperti CBZ, Samudra, Innocent, Belzme, atau Kamso sudah tak lagi terdengar hari ini. DNG yang dahulu terkenal ganaspun sekarang mengubah halauannya menjadi organisasi filantropi dengan tetap memanfaatkan warisan sistem pengorganisasian yang sangat baik.

Daerah gangster tradisional tetap bertahan meskipun, sama nasibnya seperti gangster bernama, mulai tidak terlalu terdengar namanya. Sisa-sisa dari mereka akhirnya memutuskan untuk melupakan perbedaan masa lalu dan merekatkan diri melalui melalui hal baru: Ideologi. Kini hampir sebagian besar dari mereka mendadak hafal Pancasila, gemar mengenakan kaos paramiliter berwarna paduan hitam-oranye, ketakutan setengah mati pada komunisme, dan sangat gemar berteriak “NKRI harga mati” atau “Pancasila abadi”.

Pada dasarnya tidak ada satu halpun yang mampu membunuh dekadensi karena ia memang tidak bisa mati. Apabila ada satu percobaan pembunuhan yang dilakukan melalui usaha pemisahan persinggungannya dengan hal lain, maka usaha tersebut tidak sedikitpun kemudian melemahkannya. Sebab ia akan tetap hidup bahkan menjadi lebih kuat melalui persinggungan-persinggungannya dengan hal baru.

Previous "Berbagi Kamar" - Rekah
Next Rull Darwis Rilis Album“Rull Darwis #2” dan Melakukan Tur Mandiri