Bagaimana Skena Saya Memandang CPNS Tempo Hari


Pagi masih belum usai, tapi saya sudah berkeringat cukup deras akibat “perdebatan” dengan seseorang soal Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang sebetulnya hanya karena salah paham belaka. Lah, kok bisa? Begini ceritanya, auuuuu.

Awal cerita, saya hendak berkelakar soal pekerjaan yang sedang saya jalani sekarang. Kemudian disambut dengan cerita ketidak ikut sertaan saya akan lowongan CPNS yang cukup menjadi fenomena di kalangan pegiat skena kreatif Purwokerto yang berada dalam lingkaran pertemanan saya khususnya. Apa alasannya? Saya menjawab bahwa saya adalah orang yang malas serta nilai indeks prestasi yang saya miliki terlampau buruk dan tidak memungkinkan untuk lolos persyaratan administrasi.

Alih-alih guyon membangun suasana jenaka, malah kau tuduh akulah segala penyebabnya. Maaf, maksudnya saya malah dituduh menjelekkan kalangan pendaftar CPNS karena menganggap pilihan mereka untuk memilih jalan sebagai abdi negara adalah sebuah langkah yang salah cuma lantaran karena saya tidak suka hal tersebut.
Dari kejadian tersebut, saya menyimpulkan penyebab salah komunikasi yang terjadi disebabkan omongan yang disampaikan dengan cara written alias tertulis. Sehingga intonasi atau nada yang menunjukkan letak guyon yang mengakibatkan stereotip soal PNS absen.

Guna menanggulangi salah komunikasi tersebut saya memutuskan untuk menceritakan ulang kisah seorang anak yang lahir dan dibesarkan oleh seorang ayah PNS yang harus ”berpisah” selama lebih dari 15 tahun karena pekerjaan. Tidak hanya sampai di situ, saya juga akan melibatkan pendapat-pendapat dari sobat-sobat skena yang sudah lelah dengan usaha-usaha untuk menjadi terlihat sukses di mata para warganet agar kemudian, paling tidak, kesalahpahaman bisa terkikis.

*

19 tahun yang lalu, seorang bocah berusia 11 tahun sedang mengendap-endap kamar orang tuanya untuk mencari sisa-sisa harta karun berupa uang kembalian belanja untuk sekadar memenuhi hasrat jajannya.

Alih-alih mendapatkan sisa-sisa, ia malah mendapatkan harta karun berupa dompet bapaknya yang tergeletak di meja kamar. Diambilah satu lembar uang senilai Rp 20.000,00 dari sekian lembar yang tak sempat dihitungnya.
Dengan rasa percaya diri, si bocah pergi membelanjakan uang tersebut untuk sebuah es krim dan sebuah action figure Spiderman yang menjadi idolanya pada saat itu. Setelah menuntaskan misi, si bocah pulang dan mendapati suasana rumah yang seketika menjadi sangat mencekam.

Bapaknya sudah menanti di kamar dengan wajah serius. Ia kemudian memanggil si bocah masuk ke dalam kamar. Tidak banyak hal yang disampaikannya pada bocah tengik tersebut. Dengan nada tenang, ia menyampaikan bahwa sudah tahu apa yang baru saja dilakukannya.

Ia kemudian mengingatkan, bahwa kondisi keluarga mereka tidaklah berlimpah banyak uang seperti yang si bocah liat secara kasatmata atau bahkan kasat reskrim apalagi kasat lantas. Keluarganya berada dalam kondisi yang amat sangat pas-pasan, sehingga ia tahu betul secara detail apa saja yang mereka miliki hingga satuan yang terkecil karena memang tidak banyak yang bisa dihitung.

Meski diberi penjelasan demikian dan tidak membantahnya sedikitpun, dalam hati ia tetap meyakini bahwa apa yang dikatakan bapaknya tidak sepenuhnya benar. Ia tetap meyakini bahwa bapak adalah PNS yang digaji negara. So pasti uangnya banyak. Apalagi tempat kerjanya di ibukota negara, Jakarta.

Memasuki masa sekolah menengah atas, kebutuhan hidup si bocah tentu saja semakin bertambah. Terlebih lagi ketika akan memasuki masa-masa cinta monyet, tentu saja ia ingin terlihat sempurna di mata warga sekitar, terlebih di hadapan gadis idamannya.

Permintaan si bocah akan penunjang performa kepada orang tua perlahan mulai tumbuh seiring bertambah usia. Jauh dari si Bapak, pelariannya mau tidak mau jatuh pada ibunya dalam urusan keluh kesah kehidupannya, terutama soal keuangan.

Bekerja sebagai PNS di ibukota, membuat si Bapak tidak bisa memantau langsung perihal perkembangan keseharian si bocah. Waktu yang dimiliki untuk menikmati rasanya pulang ke kota asal hanya dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Kadang pulang seminggu sekali, atau sebulan sekali. Sebuah rutinitas yang harus dijalani, demi keluarga yang si Bapak hidupi. Hal ini membuat kedekatan si Bapak dan si bocah menjadi berkurang. Enggan berbicara banyak, bahkan sekedar meminta uang saku pun sungkan.

Perlahan-lahan prasangka buruk si bocah yang menganggap bapaknya banyak duit pun mulai luntur ketika ibunya meninggal. Momen tersebut mengantarkannya pada penemuan akan surat-surat dan beberapa rincian pendapatan yang ternyata tak seberapa dari si Bapak yang dikirimkan pada ibunya semasa kerja. Sebuah dokumentasi tentang perjalanan berat seorang PNS yang harus bergelut dengan jarak, terpisah ruang dan waktu demi menjadi abdi negara, dan memastikan bahwa keluarganya baik-baik saja melalui selembar kertas penuh cinta.

*

Mengingat kisah pendek dari bocah tengik di atas, membuat saya berpikir menerawang jauh sebetulnya kita bekerja untuk apa, dan siapa? Mungkin pertanyaan saya tadi terkesan retoris, namun kadang perlu direnungkan sejenak, terutama oleh mereka yang menghabiskan waktu siang dan malam, 5-6 hari dalam seminggu.
Beberapa orang mungkin akan menjawab bekerja demi keluarga, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, bekerja demi gengsi dan citra diri, bekerja sebagai aktualisasi diri, yang mungkin kesamaan dari semuanya adalah sebagai cara bertahan hidup.

CPNS tempo hari tentu menyediakan tawaran yang menggiurkan. Bayangkan apabila jerih payah kita untuk membuat akun pada laman yang memiliki bandwith sekelas laman kelas coro, kemauan kita untuk membuang waktu ke Dindukcapil karena alasan data kependudukan tidak ditemukan padahal kartu tanda penduduk yang beberapa hari saja sudah nglethek karena dana pemuatannya dikorupsi Papa sudah berada dalam dompet, dan mengorek dokumen-dokumen yang mungkin sekarang sudah berada di tempat pembuangan akhir yang tak kunjung jelas tempatnya di Banyumas terbayar. Kita tidak hanya akan mampu untuk bertahan hidup. Ada tawaran sekaligus kemungkinan menggiurkan untuk menjalani kehidupan yang dikelilingi dengan tunjangan, fasilitas, jaminan pensiun, perlindungan, dan pengembangan potensi, siapa yang tidak tertarik? Tawaran ini sama menariknya dengan tawaran bagi mereka yang sukses membangkitkan King Paimon.

Paket menggiurkan tersebut pasti menggoda banyak orang. Tak terkecuali orang-orang yang berada dalam lingkaran skena saya.

Sebutlah seorang anak muda berbakat bernama Rizky Hardiansyah, atau biasa dipanggil Kiky. Ia aktif dalam skena independen Purwokerto karena kecakapannya di bidang fotografi dan videografi.

Ia sempat bekerja sebagai desainer grafis dan web developer pada sebuah perusahaan penyedia perumahan sebelum sebuah kesalahan konyol –menyimpan file milik perusahaan saingan yang ia gunakan sebagai bahan brief– mengakhiri kariernya.

Selama bekerja ia berpandangan bahwa bekerja selain untuk memperjuangkan hidup juga sebagai sarana membangun jaringan dan wadah untuk bersosialisasi. Dari bekerja, ia mendapat hal-hal baru, jejaring baru, yang mungkin suatu saat bisa berguna dalam hal apapun, baik finansial maupun moral, atau sebagai jalan menemukan mamahnya anak-anak yang sekian lama terpisah oleh algoritma.

Karena sempat menganggur ia mengikuti geliat bursa lowongan CPNS. Baginya sudah saatnya menjawab seruan “Indonesia Memanggil” setelah sekain lama hanya menjawab seruan “Skena Memanggil”. Selain itu iming-iming fasilitas PNS sangat menggiurkan. Baginya fasilitas tersebut dapat memberikan ketenangan di hari tua meskipun ia belum tua-tua amat. Tapi, di luar itu, keputusannya untuk mengikuti CPNS adalah langkah yang bisa membuatnya terlihat berguna bagi warga sekitar, minimal keluarganya.

Tak jauh berbeda dengan Kiky, sahabat dekat saya, Wiman memilih pekerjaan menjadi tenaga honorer non PNS. Ia berpendapat bahwa bekerja adalah negosiasi dan metode untuk bagaimana tetap bisa bertahan hidup serta menghidupi skena secara tipis-tipis. Karena lebih jauh ia sadar bahwa di Purwokerto, kerja kreatif tidak bisa dijadikan pegangan utama.

Perihal CPNS ia memilih lowongan menjadi dosen, yang dikatakannya merupakan dream job. Ia yakin bahwa jika menjadi seorang dosen, ia bisa berkontribusi lebih bagi skena. Sayangnya dalam hal urusan diterima atau tidak ia tidak terlalu yakin.

Pendapat yang cenderung ekstrem dikemukakan oleh Krisna Suh Sasomo, pembetot bass Bunker. Berbeda dengan Kiky dan Wiman yang memilih bekerja untuk tujuan yang mulia dan mencoba peruntungan lewat CPNS, ia bekerja sebagai tenaga honorer non PNS di sebuah dinas di Banyumas hanya untuk memperoleh penghasilan rutin sehingga pemenuhan hasrat biologisnya untuk menjamas keris dapat terpenuhi secara rutin. Semoga ia segera mendapatkan obat dari kebiasaan buruknya yang akut.

*

Zaman memang sudah berubah. Kesejahteraan PNS pada masa sekarang dibanding dengan cerita yang dialami si bocah tengik tadi juga banyak mengalami perubahan.

Sembari menilik ulang kisah di atas, bagi saya menjadi PNS pada era kreatif sekarang yang melahirkan banyak peluang lapangan pekerjaan bukanlah sebuah hal yang jelek atau rendah derajatnya. Kita bisa lihat dari kisah tersebut, si bocah tengik memiliki seorang bapak dengan penuh integritas terhadap pekerjaannya sebagai PNS lebih dari 15 tahun dengan pendapatan yang tidak seperti orang bayangkan. Namun siap mengambil resiko berpisah jarak dari keluarga.

Secara pribadi, saya tidak turut serta meramaikan bursa CPNS 2018 dikarenakan beberapa hal mendasar seperti yang saya utarakan pada awal tulisan, yakni nilai indeks prestasi yang tidak memadai sehingga bisa dipastikan tidak akan lolos seleksi adminisrasi. Kedua, saya cukup mengenal cerita si bocah tengik dengan segala duka menjadi anak seorang PNS yang harus mengalami rasanya jauh secara jarak dan emosional dengan bapaknya. Resiko berat sebagai abdi negara yang harus ditanggung dan dirasakan oleh sebuah keluarga, dan tentu saya tidak ingin mengalami hal tersebut. Meskipun bekerja pada ranah swasta pun bukan jadi jaminan saya bisa tetap dekat dengan keluarga saya nantinya.

Pada akhirnya, saya memilih untuk membuka luas ruang-ruang kemungkinan agar saya tetap bisa bekerja dengan sesuai keinginan, tetap dekat dengan keluarga, namun bisa terus berproses dalam skena. Dengan pekerjaan yang saya pilih dan jalani sekarang, saya merasa sangat beruntung karena kemungkinan tersebut tetap sangat besar peluangnya. Namun jika pada suatu saat nanti, regulasi yang mengatur soal CPNS kembali berubah, memungkinkan, dan masuk akal bagi saya untuk mencobanya, itu adalah bagian dari proses perjalanan hidup yang saya sudah jalani selama ini.

Senada dengan pernyataan Wiman, bahwa sekarang bekerja adalah metode untuk bertahan hidup dari usaha sendiri dan agar tetap bisa bergerak untuk menghidupi hal-hal yang sejak dahulu dicintai, terutama kamu.

Bagi saya, bekerja tidak hanyalah soal “bekerja mah apa aja yang penting capek”. Bekerja harus bisa memberi manfaat bagi orang lain. Bekerja bukan hanya sekadar untuk apa, untuk siapa, tapi juga bagaimana kita menjalaninya. Apapun yang sudah kita pilih, baiknya dijalani dengan rasa cinta dan sepenuh hati.

Tulisan ini hadir hanya sekadar untuk memberikan semangat dan pandangan dari seorang pemuda yang hampir kedaluwarsa. Tidak untuk menjawab keresahan masyarakat secara langsung atau bahkan keresahan saya sendiri. Setelah anda membaca tulisan ini, akan sangat mungkin untuk tidak sependapat atau bahkan mengumpat dengan gaya free style. Apapun pekerjaannya tak perlu khawatir akan persoalan dunia. Setiap permasalahan akan muncul bersama dengan jalan keluarnya, juga lagu dangdutnya, kata Irfan teman saya.

Catatan :
Bocah tengik itu bernama Kemal Fuad Ramadhan

Previous "Hello Kittie's Spank" - Lefty Fish
Next Grrl gang Not Sad, Not Fulfilled Tour : Gejolak Cinta Kawula Muda