Alternatif pekerjaan bagi milenial?


Menurut Ida Bagoes Mantra, pengangguran adalah bagian dari angkatan kerja yang sekarang ini tidak berkerja dan sedang aktif mencari kerja. Ya, pembaca sekalian jika saat ini sedang duduk santai dan secangkir kopi maupun teh ada dalam jangkauan tangan, mungkin kalian bisa masuk dalam definisi kalimat pembuka di atas. Dan tak adil rasanya jika kami langsung menghakimi pembaca sekalian, tentu saja kalian berhak untuk menuduh balik kami tergolong dari definisi di atas juga, karna meluangkan waktu untuk menyelesaikan tulisan ini.

Data yang kami himpun dari Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran di tahun 2018 kurang lebih 5%, tentu presentase itu dari jumlah penduduk indonesia, yang bila dihitung ada diangka 6 juta jiwa, angka yang cukup banyak memang. Pengangguran memang isu yang relevan untuk dibicarakan, peka jaman seperti converse basic.

Mungkin fenomena dimana ada sarjana lulusan pertanian dan berkerja sebagai kolektor leasing bukan lagi hal yang janggal. Bisa jadi karna terbatasnya lapangan pekerjaan hingga terjadinya fenomena tersebut, bahkan fenomena yang lainnya. Lapangan perkerjaan yang terbatas itu juga yang menjadi faktor banyaknya pengangguran. Dan tulisan ini juga bukan upaya kami dalam membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan cara open recruitment, kami hanya akan menyarankan sedikit opsi untuk pembaca, terlebih kalian milenial yang sedang atau sudah mencari pekerjaan.

Didorong dengan adanya isu tenaga kerja azeng, cukup membuat kelimpungan dalam pencari perkerjaan. Walaupun kabar tersebut masih kami ragukan kebenarannya. Banyak juga diantara kita, memilih untuk menjadi tenaga kerja azeng di negeri yang asing juga. Sebetulnya tidak salah juga untuk mengambil langkah tersebut, hanya saja ada resiko yang mesti dibayar, jauh dari rumah, jauh dari keluarga dan jauh pula dari cinta. Kalau saja jeli untuk melihat kesempatan yang ada di sekitar, mungkin pengangguran tidak lagi banyak mengeluh dengan kurangnya lapangan pekerjaan.

Saat tulisan ini diunggah oleh admean kesayangan kami memang bertepatan dengan pesta demokrasi yang akan kita sambut secara serentak, meriah, dan tentunya sudah ditunggu -tunggu oleh masyarakat Indonesia. Karna beberapa bulan terakhir setiap udara yang kita hirup rasanya berbau politik. Bagaimana tidak, mulai dari kampanye politik yang hanya sekedar stiker caleg yang menempel begitu saja di warung kopi terdekat hinggal iklan di televisi, “Udah?! Udah?!”. Pastilah kalian paham dengan iklan tersebut, Partai Solidaritas Indonesia. Satu dari belasan partai peserta pemilu 2019 yang anak muda banget, atau bisa kita sebut partainya milenial. Cara PSI menyapa saja dengan sebutan bro sis, sungguh anak muda banget. Milenial yang dirasa kadang smuanya instan pun, kami rasa tidak smuanya menggunakaan sapaan bro sis untuk kesehariannya.

Seperti yang diulas sebelumnya, kami membicarakan tentang pengangguran, dan kalo kita lirik lebih kaitannya dalam pemilu tahun 2019, kami rasa smuanya bisa bersangkutan. Bahkan dalam beberapa acara debat capres maupun cawapres, isu tentang pengangguran dan milenial juga menjadi isu yang selalu dibahas. Sekarang ini memang sudah saatnya milenial cukup diperhitungkan, bahkan dalam perpolitikan. Terlebih bapak presiden kita saja sering membuat acara dengan mereka pelaku industri kreatif yang didominasi oleh para milenial. Tidak berhenti disitu, fashion Pak Jokowi saja berusaha untuk tampil muda, usaha itu pun sempat diikuti oleh beberapa menteri di kabinet kerja, dengan menggunakan sneakers walau kami rasa kurang kewes dan hanya menimbulkan tawa. Adapun kekecewaan tersendiri dari penulis yang merupakan opini pribadi, saat capres dan kedua cawapres mesti hadir dalam satu frame dengan yutuber ternama dan menggunakan hoddie dari brand yutuber tersebut, yang dirasa yutuber tersebut juga bukan perwakilan dari milenial kebanyakan. (Maaf, sampai disini editor kami terpaksa berusaha mengedit opini dari penulis karna bersifat kebencian pribadi)

Kembali kepada pembahasan di atas, milenial disini tidak serta merta hanya berperan sebagai warga negara yang mempunyai hak pilih. Dari data yang kami himpun dari tirto.id ada 878 caleg muda yang berusia dibawah 30 tahun, 100% meningkat dari jumlah pileg 2014. Bahkan caleg termuda berusia 21 tahun, kami rasa cukup untuk mengumandangkan slogan “Sudah saatnya negara memanggil!” Kalo ditelisik lebih dalam, jika kalian memilih jalan menjadi caleg dan berhasil menjadi dewan perwakilan rakyat, itu merupakan karier yang cukup menjanjikan dan cukup mentereng apabila berhadapan dengan calon mertua dan ditanyakan bab perkerjaan.

Untuk menjadi dewan perwakilan rakyat kelas kabupaten saja mendapat gaji minim 4 juta rupiah, tentu belum dihitung dari dana aspirasi dan tuntangan ini itu. Angka yang cukup besar bila dibandingan dengan UMK kota purwokerto yang hanya berkisar Rp. 1.750.000,00. Dan kalian milenial perlulah untuk membandingkan apabila harus memilih membuka usaha kuliner misalnya. Kalian harus memikirkan kulier yang mesti edgy dan disukai pasar, belum lagi modal yang tidak sedikit. Itupun kalo usaha kuliner kalian bisa berjalan lancar, tanpa harus nyungsep bahkan lebih tragisnya mesti gulur tikar. Tidak perlu ambil pusing, jikalau modal usaha itu dari orang tua, tapi bagaimana kalo modal usaha dari pinjaman bank? Tentu saja kalian mesti putar otak dan memilih perkerjaan lainnya yang berpendapatan lebih besar. Banyak memang kisah sukses para milenial dalam membangun usaha, tapi tidak sedikit juga kisah memilukan dari sekitar kita, para milenial yang gagal dalam membangun usaha, dan berakhir entah menjadi roda roda perusahaan yang padahal sebelumnya mengclaim jalan ninjanya adalah menjadi entrepreneur.

Tanpa bermaksud menghakimi atau merendahkan, sebetulnya memilih jalan untuk berkerja menjadi bagian roda roda perusahaan juga tidak salah, karna mungkin yang salah apabila kalian merupakan bagian dari deskripsi kalimat pembuka tulisan ini tapi tidak merasa bagian dari itu sendiri. Apalagi bila kalian memilih jalan untuk menjadi ASN, mungkin pilih yang baik juga, tetapi untuk menjadi ASN tentu saja tidak mudah, baik secara administasi maupun melakukan ujiannya. Belum lagi resiko yang perlu kalian ketahui, banyak juga yang berhasil menjadi ASN namun penempatan pekerjaan yang mengharuskan kalian menyebrang ke pulau lain.

Sebetulnya di era digital 4.0, ada pilihan lainnya ketimbang dicap untuk menjadi pengganguran. Start up! Yak, mungkin istilah yang cukup familiar untuk sekarang ini, terlebih tidak sedikit milenial yang sudah memulai membangun start up. Indonesia pun sudah punya beberapa start up yang kelas dunia, tapi ingat hanya beberapa. Untuk membangun start up tidak semudah memesan nasi telor di warmindo, banyak poin yang perlu kalian perhatikan, mulai dari riset pasar, start up business plan, meng-onlinekan start up kalian, dan tidak lupa modal yang tidak sedikit. Kalau saja mau memakai modal dari orang tua, sudahkan kalian mempersiapkan cara untuk memintanya?

Dari sekian banyak opsi di atas, kami rasa kalian bisa mulai meneguhkan dalam hati kalian bahwa “Sudah saatnya partai memanggil!” atau “Sudah saatnya negara memanggil!” saatnya kalian ambil kesempatan di jalur politik ini dengan menjadi caleg, tentu untuk tahun 2024 yang bisa kalian persiapkan mulai dari sekarang. Karna perlu kalian ketahui, seletah kalian menjadi anggota dewan tentu saja ada beberapa fasilitas yang tidak kalian temui apabila hanya menjadi ASN, pekerja swasta bahkan entrepreneur. Mulai dari dana aspirasi yang tidak sedikit, uang saku untuk setiap kunjungan kerja, fasilitas akomodasi dan penginapan yang tentu saja membuat nyaman disetiap kunjungan kerja, dan beberapa mendapat kendaraan operasional, dan yang lebih penting jaringan yang cukup luas dan bisa kalian manfaatkan dikemudian hari. Untuk mengurani tuduhan jarkoni, kalian juga mesti tahu bahwasana anggota kami pun ada yang berniat untuk menjadi caleg sebelum berhasil mendapat SK CPNS dengan penempatan di sea village, dan juga terkendala partai yang menaunginya hanya ada di film kolosal cina, partai pengemis.

Apabila tulisan ini terbilang cukup telat dalam memberi saran, kalian masih punya kesempatan di pemilu 2024, persiapkanlah dari sekarang, Sudah saatnya kalian dipilih bukan hanya mendapat hak untuk memilih. Smua fasilitas bak sultan seperti yang kami beberkan di atas bisa kalian nikmati apa bila kelak kalian memilih jalan untuk menjadi caleg, dan tentu saja terpilih menjadi anggota dewan legislatif. Karna untuk dari sekian banyak orang memilih jalan menjadi caleg, banyak juga yang gagal. Mesti tidak cukup sampai ditaraf gagal, tapi bisa bangkrut secara ekonomi, dan banyak juga yang berakhir dalam penangan dan perawatan intensif dari rumah sakit jiwa. Di pemilu 2014 saja sempat tersiar berita, seorang caleg gagal dan berujung menggantungkan jiwanya pada tali tambang. Tentu saja, ada kerugian yang mesti ditebus oleh kalian pribadi, keluarga bahkan orang sekitar apabila kalian gagal menjadi caleg. Dan pesan terakhir, kalian mesti mengingat bahwa sebuah hasil tentu butuh pengorbanan yang nggetih, karna kadang yang sudah nggetih pun belum tentu berhasil. 🙂

Previous BERANDA by B.L.N.T.R.
Next KON:FLIK:TION - Lepas Single Baru Dari Album Debut Yang Pertama Yang Akan Segera Dirilis