Adanya Live Dalam Life


Oleh: Fajar Peloo

Dalam tulisan ini saya akan menceritakan tentang hal yang sebetulnya sudah lama ingin dituangkan dalam tulisan. Tapi perlu diketahui pembaca sekalian, saya termasuk pemuda yang kerap kali mengijabkan perintah orang tua. Terlebih untuk urusan ke warung kelontong yang mungkin dalam satu hari lebih banyak dari porsi saya mandi. Akhirnya niatan untuk menuangkan opini dalam tulisan sering kali dinomor sekiankan, perlu pembaca tahu kalau nomor satu sudah pasti urusan dengan Sang Pencipta.

Sudah-sudah. Pada tulisan ini saya bukan hendak berkeluh kesah tentang aktivitas sehari-hari. Sepertinya tak etis untuk mencurahkan urusan pribadi dan mengunggahnya di kolom heartcorner, mungkin dalam laman lainnya.

Sehari-hari selain melaksanakan perintah pergi ke warung kelontong, sudah pasti saya pun berselancar internet sana sini, sesuatu yang umum. Toh, bukankah kita hidup di era digital dimana gawai seperti ditanam di tangan kita. Perkara tangan kanan maupun tangan kiri, tak jadi soal.

Kegiatan tersebut membuat saya disuguhi berbagai perkara dari A sampai Z. Mulai hal-hal menggelitik, sampai urusan sok tahu di ranah elit. Selancar juga memudahkan saya dalam bertegur sapa. Mau hanya dalam bentuk suara hingga bertatap muka di layar gawai semuanya bisa diakomodasi melalui fitur-fitur yang disediakan oleh aplikasi di internet.

Dari sekian banyak aplikasi tersebut terdapat aplikasi yang menawarkan Live Broadcast melalui gawai yang akan menjadi bahasan tulisan ini. Banyak sekali aplikasi yang menawarkan fitur tersebut, mulai dari Instagram, Facebook, Youtube, Periscope, Bigo, Nono, sampai Kitty. Dari sekian banyak aplikasi yang menyediakan fitur Live Broadcast, pembahasan akan dipusatkan hanya pada fitur yang ditawarkan oleh Instagram saja. Hal yang menjadi alasan pemilihan Instagram adalah karena saya bukan seorang yang gemar memberi gift cuma-cuma di aplikasi Bigo hanya demi melihat sedikit aurat lawan jenis. Sepertinya kenakalan tersebut bukan passion saya.

Fitur live pada Instagram mungkin baru ada tahun lalu. Tapi seperti kita ketahui, Instagram sudah menjadi identitas diri dari kebanyakan orang, dari kalangan bawah hingga elit. Awalnya hal tersebut tidak terlalu menarik perhatian saya, karena selama ini fitur yang sering saya gunakan secara maksimal hanya like, comment, direct message yang sangat jarang dibalas oleh lawan jenis, dan, yang terakhir tapi memberi kepuasan sangat luar biasa selepas menggunaknnya, report as spam maupun block. Tapi pengalaman menuntun saya pada fenomena di tempat nongkrong dimana beberapa pemuda berinteraksi dengan gawainya. Awalnya saya kira melakukan videocall, tetapi dugaan meleset karena ternyata mereka tengah live melalui Instagram. Bermula dari situlah, saya mencouba menelisik lebih dalam.

Perlu diketahui sebelum memberanikan diri untuk menulis, saya melakukan riset kecil-kecilan. Saya terjun langsung untuk terlibat interaksi live Instagram di beberapa akun. Fakta yang ditemukan mengejutkan, meskipun tak semengejutkan paparan Dr. Bernard Mahfouz mengenai bahaya vaksin. Fakta tersebut adalah tidak dicapainya pengertian dari interaksi itu sendiri. Seperti diketahui interaksi melibatkan adanya aktivitas individu dengan individu lain ataupun kelompok. Tapi dalam riset saya tidak menemukannya.

“Ah, mungkin karna saya baru melihat beberapa saya live Instagram”, begitu pikir saya. Hipotesa sekaligus bantahan yang dibuat sendiri mendorong saya untuk menyelam lebih dalam pada banyak akun di seputaran kota saya hidup, Purwokerto. Pertanyaan sempat muncul ketika saya terlibat dalam live beberapa akun pemuda saat tengah kongkow bersama teman-temannya. Bukankah jumlah yang menontonnya live jauh lebih sedikit dibanding teman yang benar-benar ada di sekitarnya? Lalu mengapa ia tidak ngobrol saja dengan teman-teman di sekitarnya? Pertanyaan tersebut urung dilontarkan karena takut dianggap polisi sosial. Memilih berpikiran positif, kesimpulan yang diambil adalah ada baiknya menyalurkan bakat-bakat terpendam atau cita-cita sewaktu kecil untuk menjadi artis atau penyiar berita. Setidaknya Instagram bisa mengajarkan untuk lebih percaya diri saat menjadi sorotan orang-orang, entah banyak maupun sedikit.

Apakah hanya pemuda nongkrong saja yang live Instagramnya saya telisik? Tentu saja tidak. Ada fenomena aneh lainnya yang saya sendiri sampai saat ini masih gagal paham; live Instagram saat berkerja. Aktivitas itu membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi dan tentu saja tanggung jawab. Tapi kok ya bisa disambi live ? Hebatnya tidak hanya live saja. Mereka masih sempat menjawab pertanyaan atau sekedar mengecek seberapa banyak orang di belahan dunia lain yang melihat live -nya. Saya berharap di kemudian hari ada teman saya yang bekerja sebagai debt collector, kicau mania, atau master of togel menyiarkan kerja mereka, sebab jelas sebagai akar rumput enthusiast hal tersebut melebihi definisi menarik itu sendiri.

Perlu diketahui, untuk melakukan live Instagram juga butuh modal. Jangan dikira hanya cukup membuka Instagram di gawai lalu melilih fitur live bisa dengan gampangnya langsung tersiar. Karena ini fitur live broadcast, sudah pasti harus didukung dengan sinyal yang stabil dan yang tak kalah penting gawai dengan kamera yang jernih. Jadi untuk pembaca sekalian yang tertarik setelah membaca paparan riset saya di atas, kemudian ingin terlibat dalam live-live Instagram di akun-akun cemehuhuw tapi sinyal gawainya kurang moncer apalagi force closed setiap membuka Instagram, ada baiknya cukup bermain Candy Crush saja.

Persyaratan di atas tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dilengkapi oleh orang yang ingin melakukan live saja. Orang yang ingin menyaksikan live juga harus memenuhi persyaratan tersebut. Oleh karena itulah muncul slogan “Harta, Tahta, Kuota”.

Puncak kekerenan live Instagram adalah fitur tandem. Jadi bukan hanya sepeda saja yang bisa tandem. Terobosan tersebut menurut saya cukup ciamik. Bayangkan saja kita bisa menyaksikan dua orang sedang berinteraksi via live Instagram. Siapa tahu dari interaksi dua orang yang sedang live kita bisa mendapat informasi kelas A tentang, misalnya: rencana-rencana teroris ISIS. Tapi itu sangat tidak mungkin.

Lalu bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak ambil pusing maupun tidak melakukan live Instagram? Tentu saja itu live mereka. Mungkin mereka memikmati interaksi langsung. Toh, live Instagram, riset, dan tulisan ini menunjukkan bahwa saya menikmati semuanya. Mau disimpulkan bahwa para pelaku live ora jelas sepertinya tidak live . live kegiatan yang saya lakukan lebih ora jelas, kok. Jadi interaksi jenis apa yang kalian pilih dalam live kalian?

Previous Pementasan Pesona Awan Hitam Oleh Pinantun Pandu
Next Klarifikasi desain rubrik Public Opinion di Heartcorner.net