Wawancara Endah N Rhesa Regenerate Tour


Mumpung masih ada waktu, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok

 

Begitulah kira-kira apa yang diungkapkan Endah dari dynamic duo  Endah n Rhesa saat saya menyambanginya selepas usainya Regenerate Tour chapter Purwokerto yang diadakan Rabu, 4 September 2019. Sebuah album yang tidak hanya berisi konsep musik yang diaplikasikan dalam cakram padat namun juga diaplikasikan dalam “pergerakan” mereka sendiri. Berangkat dari hal itulah obrolan kami menjadi terlampau seru ngalor-ngidul sehingga saya memutuskan untuk membagi hasil wawancara menjadi dua narasi yang menjadi dasar hingga akhirnya kita bertemu: album dan tur.

 

Album

Pembuatan album Regenerate membutuhkan waktu satu setengah tahun karena Endah n Rhesa(selanjutnya disingkat EAR) bisa dibilang menggodok konsep yang cukup menantang untuk lepas dari pakem songwriting yang sudah mendarah daging dalam 4 album sebelumnya. Sehingga, banyak perdebatan selama proses kreatif dengan Rhesa menjabat sebagai produser. Regenerate yang diambil saat Rhesa bermain game Injustice menghasilkan konsep dasar “menjadi fresh, tetap in dengan keadaan sekarang namun tidak menjadi berbeda”.

Kembali menggunakan Bahasa inggris selepas album Seluas Harapan diakui Endah berawal dari penggarapan Nowhere to Go, di mana perlu ada cerita seru di setiap penggarapan sebuah album. Salah satunya di penulisan lirik di mana dia mengakui lebih sulit membuat lirik berbahasa Inggris. Akan tetapi, di situ akhirnya Endah menyadari bahwa EAR memberikan ruang baginya untuk belajar tanpa perlu takut untuk salah. Salah satu fakta menarik lainnya adalah EAR ternyata memiliki anagram Shane Harden yang mana merupakan tokoh yang menjadi sudut pandang setiap lagu yang EAR ciptakan. Dan karena namanya “sangat Inggris” di situlah salah satu alasan mayoritas lirik mereka berbahasa Inggis.

Regenerate bukanlah konsep yang nantinya diaplikasikan hanya dalam bentuk lagu saja. Namun juga secara keseluruhan. Maka dari itu saya sempat menyinggung artwork dari Regenerate dan benar saja Rhesa memiliki jawabannya. Dijelaskan bahwa si Robot berkepala dua adalah rumah di Nowhere to Go yang terus mendapat upgrade menjadi robot yang ada di album Escape hingga akhirnya berupa Robot berkepala dua yang merupakan perwujudan EAR selama 15 tahun dan 4 album. “….Tapi sampai sekarang kita tidak tahu apakah si robot ini sudah mencapai bentuk sempurna atau belum.” Ucap Rhesa.

 

Tur Mandiri

Regenerate Tour adalah inti dari wawancara kemarin. Tanpa mengesampingkan albumnya sendiri, tur mandiri pertama mereka selama 15 tahun berkarya jelas merupakan pertanyaan besar karena bisa dibilang tur mandiri merupakan pattern sebuah band independen dalam berkarir, Lalu, mengapa selama 15 tahun berkarya EAR dapat melewatkannya? Ternyata mereka memberikan jawaban dengan menggaris bawahi bahwasanya karir EAR merupakan kombinasi dari keberuntungan dan kenaifan.

Semua berawal saat 2009 merilis Nowhere to Go. Tak lama setelah merilis album tersebut, Rollingstone Magazine baru merilis buku Music Biz yang ditulis Wendy Putranto mengajak EAR untuk ikut mempromosikan buku tersebut di beberapa titik kota yang membuat promosi album juga berjalan bersamaan. Hal tersebut berjalan hingga album kedua dan ketiga. Dengan album-album tersebut dan demand yang mereka dapatkan, membuat band yang sudah berkarir selama 15 tahun ini lebih sering mendapatkan panggung Besar. Akan tetapi, rasa haus akan pengalaman barulah yang membawa pasangan suami istri ini ingin bermain di panggung yang lebih intim.

Gagasan tersebut mulai bergairah semenjak mereka membuat EARHouse, common room yang mereka dirikan di 2013 tidak lama selepas album Escape. Keseruan dan semangat anak muda yang terjadi di EARHouse adalah dasar dari lagu Young Again di album Regenerate yang mewakili konsep “menjadi fresh”. Menurut Rhesa, “….banyaknya brainstorming dan masukan yang mereka dapatkan dari kacamata anak muda, justru malah membuat kami yang lebih banyak belajar di sana sehingga semangat untuk kembali menjadi muda seperti pada 2009 lalu bangkit dan mengoreksi apa yang sudah kita lewatkan sejauh ini.”

Lalu, mengapa tur mandiri baru terlaksana sekarang? Diakui Endah, sebenarnya semenjak apa yang terjadi dalam EARHouse gagasan tur sudah ada. Sayangnya, mereka belum menemukan trigger yang tepat. Adapun rilisnya Seluas Harapan yang sebenarnya cukup berpotensi untuk diturkan tidak mereka lakukan karena secara mengejutkan Endah mengakui tidak terlalu excited dengan album tersebut karena merupakan materi lama dan bukanlah album konsep. Karena baginya, harus ada sesuatu yang disampaikan dalam sebuah tur.

Hingga akhirnya pada gelaran We The Fest kemarin EAR secara resmi merilis Regenerate. Dan terlahir kembali mereka menjadi band independen yang fresh. Kurang dari sebulan mereka persiapkan tur tersebut. Diawali dari panggung besar di Pasuruan dan Sidoarjo, mereka memilih untuk mencari jalan untuk pergi ke sana dan kembali dari sana dengan mencari titik kota yang bisa mereka singgahi. Bermula dari 9 titik, akhirnya digenapkan jadi 15 titik untuk -katanya- dicocokkan dengan 15 tahun EAR berkarya.

Dibantu Ruang Tuju sebagai database bagi pegiat kreatif di setiap kota untuk saling terhubung, bertukar ide, kolektif, eksekusi, dan berkolaborasi. Mereka memulai langkah yang menurut mereka seharusnya sudah dilakukan sejak 2009. Selain berkomunikasi by person di tiap kota hanya bermodalkan online tanpa memiliki bayangan tempatnya nanti meskipun sebagian besar kota yang mereka sambangi sudah pernah mereka datangi. Mereka juga mencontek jalur band-band yang sebelumnya sudah melakukan tur mandiri. saya mengambil kesimpulan bahwa cara yang mereka lakukan masih sama dengan langkah-langkah di 2009 dan mereka mengamininya.

Dengan sedikit nekat tadinya mereka hanya merencanakan untuk berangkat dengan 3 orang saja dengan Rendi sebagai manajer. Namun akhirnya tim manajemen dengan sukarela ikut berangkat karena –sekalian jalan-jalan – juga sebagai sarana latihan kerjasama manajemen dengan gol suksesnya tur ini. Di samping itu, tur juga sarana maintenance bagi EAR sendiri yang bagi mereka selain TV, Radio, panggung besar, social media yang bisa dikejar, get in touch dengan komunitas juga perlu supaya dunia nyata dan maya harus tetap seimbang. Karena itulah proses berjalan tur ini adalah sebuah nilai yang perlu didapatkan.

Memilih tempat dengan skala kecil seperti café, restoran bahkan artspace juga menyelenggarakannya di hari kerja tidak lain untuk mengadakan proses “seleksi”. EAR ingin mengadakan pertunjukan seintim mungkin dengan penggemar yang memang berniat untuk menonton mereka. “….Kami memilih 200-300 kapasitas maksimal meskipun ekspektasi kami di bawah itu sebenernya. Bahkan bagi kami 50-70 orang yang datang bagi kami sudah packed. Karena bagi kami menyenangkan karena semakin sedikit yang datang, lalu terjadi interaksi dan waktu mengenal satu sama lain lebih. Ini mengingatkan kami pada proses album pertama, inilah proses yang ingin kami rasakan. Lebih intim dan tenang. Tidak terlalu riuh seperti panggung besar.” Kata Endah. Disambung Rhesa “…inilah experience yang ingin kami dapatkan.”

 

Setelah gelaran Regenerate Tour chapter Purwokerto selesai digelar, saya pun bertanya apa yang mereka rasakan dengan perbedaan ditonton ribuan penonton dan 50-an penonton. “…kami bahagia.” Kata Endah. Diakuinya nilai intens yang didapat jauh berbeda saat panggung besar. Dia dapat melihat dengan jelas muka masing-masing penggemar yang datang, mengobrol, atau mendapatkan teh langsung dan gelang dari penggemar yang jauh-jauh datang dari Bumiayu tiap EAR manggung di Purwokerto. Endah berkata, “…ya meskipun di panggung besar juga ada sesi seperti itu, tapi penjagaannya lebih ketat jadi sedikit menyulitkan karena memang tanggung jawabnya lebih besar dan memang tidak salah, tetapi saya memang selalu suka komunikasi yang bisa seintim itu, karena ini adalah hal yang indah banget bagi kami. inilah tujuan kami dalam membuat lagu, bermusik, to get in touch with people who listen to ours. Its very important to absorb their energy.”

 

Hingga sampai di penghujung wawancara, saya bertanya lebih detail mengapa memilih Purwokerto sebagai salah satu titik sebagai closing statement. Dan ternyata bagi Rhesa, Purwokerto adalah Hightlight. Dia selalu menyukai kota ini. Hingga sejauh ini baru di Purwokerto mereka memainkan setlist sepanjang dua jam  yang kemudian ditimpali oleh Endah bahwa mereka pada 2009 lalu mendapat pesan dari David Karto Demajors yang mengatakan CD Nowhere to Go laku 400 keping di Purwokerto tanpa pernah sekalipun duo tersebut bermain di sini. Dengan posisi distribusi Demajors kala itu masih bergerilya dengan menitipkan album tersebut lewat perantara distro atau personal. Sayang, sekarang perwakilan Demajors di Purwokerto telah hijrah.

Di akhir wawancara Endah menutup perbicangan ini dengan sebuah statement yang menjawab pertanyaan David Karto dan pertanyaan saya perihal tur.

 

“…akhirnya kami menemukan alasan bagaimana album kami laku 400 keping di tahun 2009. Menunjukkan kota ini sangat visioner, sangat maju dan berpotensi bikin industri sendiri. Karena bagi kami Purwokerto memiliki pemikiran yang sangat modern, kalian keren!!!.” (RW)

 

 

Previous DESPAIR – VIDEO KLIP DAN SINGLE TERBARU DARI WORLD DOMINATION
Next Hulica – The Soldiers That Generate Farewell