Gelap, bengis, dan penuh kemarahan adalah sebuah kesan yang dilukis indah oleh Monarch Of Avarice dalam debut EP berjudul “Vinter“. Sebagai one man band atau band yang hanya digawangi oleh satu orang, Monarch Of Avarice menggarap EP ini dengan sangat serius.
Dikerjakan sejak tahun 2021, EP ini merupakan sebuah terapi bagi Fariz Rahman, otak yang ada dibalik proyek band ini. Semua rasa mulai dari keresahan, keputusasaan, dan kemarahan menjadi tema utama EP yang didominasi oleh gempuran extreme metal yang dikemas dengan nuansa gelap.
Musik yang disajikan oleh Monarch Of Avarice di EP “Vinter” berpedoman pada pengaruh band-band extreme metal seperti CABAL, Humanity’s Last Breath, dan juga nama-nama klasik seperti Morbid Angel dan Suffocation. Band ini menggabungkan elemen modern metal popular Thall dengan agresifitas dan sinisme death metal klasik.
Tidak digarap sendirian, penggarapan EP ini juga melibatkan Elliot Merriman, seorang produser asal Amerika Serikat yang juga personel dari band Our Common Collapse. Dari segi produksi, semua digarap sesuai dengan standar sound modern metal internasional, sehingga target pendengar band ini bukan hanya metalhead lokal, tapi juga mancanegara.
“EP ini adalah kumpulan perasaan amarah, kesedihan dan kesuraman yang saya terjemahkan menjadi sebuah karya. Penggarapan proyek ini menjadi salah satu tantangan terberat dalam hidup saya. Setiap rintangan yang muncul membuat penggarapan EP ini sama sekali tidak mudah, namun akhirnya EP ini terealisasi dari sebuah ide menjadi nyata. Saya ingin membagikan apa yang saya rasakan saat menulis EP ini, dan juga mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada semua yang mendengarkan VINTER,” ungkap Fariz.
Monarch Of Avarice menjadi jawaban lokal atas eksistensi genre baru dalam dunia modern metal, Thall yang merupakan evolusi yang lebih gelap dan agresif dari Djent. Beberapa musisi dari skena Thall juga
ikut berkolaborasi dalam EP ini seperti Oscar Jacobsson dari Silverlake Murder pada lagu ‘Ångest,’ Jacob Fuss dari Path of Giants, dan Gage Olson dari Our Common Collapse pada lagu ‘Shadows
Silk.’
Kehidupan tak selamanya memberi warna pelangi dan kebahagiaan. Terkadang seorang manusia harus melewati fase sulit yang dipenuhi oleh kemarahan, keputusasaan, dan juga tekanan dalam melaluinya. Vinter adalah soundtrack bagi mereka yang sedang bertarung atau malah menikmati indahnya kegelapan.





