Tradisi Pencerita Di Balik Tempurung


“Tuhan tidak apa-apa ketika mereka mengakui kebingungan, mereka bisa mengundang-Nya”. “Mereka” di dalam rangkaian cerita bagian Belalang Sembah yang Sedang Bingung Berdoa adalah suatu kebingungan yang mengakar terhadap persoalan antara Tuhan dan dirinya. “Mereka” selalu menanggapi mana yang dianggap benar dan mana yang dianggap sebaliknya, seperti pada tokoh yang tercipta sebagai pedagang pasar di dalam puisi “Orang-Orang Dukun yang Sekarang Kaya”, batinnya berteriak menanyakan apakah agama bermain di dalam hidupnya? Atau bagaimana yang seharusnya? Namun, dalam bagian Pelajaran Perdebatan Bercerita berisi pertanyaan tentang keadaan pikiran yang dirasakan dan perasaan yang dipikirkan oleh “aku” “kamu” dan “mereka” yang saling menggantungkan harapan untuk berceritalah murni dengan cinta. Kenyataannya sulit bagi tokoh “aku” untuk merindu di samping tokoh “nenek” yang sederhana menceritakan tentang mendatangkan kebahagiaan, melihat rumah yang menjadi tembok antara peristiwa yang terjadi di pelataran rumput taman dan di ruang tamu. Di bawah puisi-puisi yang bergemuruh itu, terdapat berbagai cerita yang hidup di hamparan tanah yang luas. Tokoh-tokoh yang saling menggugah kedalaman dirinya bahwa terdapat luapan api yang mendidih dari luar dirinya. Mereka saling hati-hati karena bagi tokoh “Ceret” sebagai seorang politikus, pembual atau yang dikenal sederhana dalam lingkaran politiknya adalah  “pembohong” zaman sekarang lah yang dapat menjadikan postur tubuh pembohong dapat terlihat sempurna. Begitu juga, pada tokoh “Kiri” sebagai perempuan berusia belasan tahun ketika harus mengikuti tradisi temurun memangkas buah dada. Adapun, tokoh “Lliong” yaitu sosok laki-laki keturunan Hakka yang berhadapan dengan peristiwa pembakaran Glodok pada tahun 1998. Buku ini menjadi pijakan para tokoh dalam menyuarakan perasaannya ketika melihat bahwa sekitar mereka tidak kosong.

Farrah Eva Nabila, lahir di Jakarta pada 8 November 1995. Pada tahun 2016, dua kali menjadi peserta terpilih Kelas Cerpen yang diselenggarakan oleh Kompas di Jakarta dan di Magelang, serta menjadi salah satu penulis dalam buku loka karya yang berjudul “Cerita Para Perambah” melalui seleksi oleh Tim Kompas. Cerita Pendek yang dimuat di dalam buku tersebut berjudul “Kursi Siradj Sood”. Buku itu telah terbit sejak 15 Juni 2017. Pada tahun 2017, cerita pendek yang berjudul “Hari Itu Ketika Menunggu Perahu” dimuat dalam Harian Palembang Ekspres di mana cerita tersebut juga akan diterbitkan pada buku ini. Cerita-cerita yang tergambarkan sebelumnya mengangkat seluk-beluk sosial, budaya, serta keributan politik.

Keterangan :

  1. Jumlah halaman : 68
  2. Harga buku : Rp 48.000
  3. ISBN : 978-602-309-438-7
  4. Penerbit : Indie Book Corner
  5. Penulis : Farrah Eva
  6. Tahun terbit : 2019

 

Buku dapat dipesan melalui penulis dengan nomor ponsel 0858-1052-9880, Indie Book Corner, Post Santa, serta Kios Ojo Keos untuk mendapatkan diskon menarik.

Kontak :

farraheva@gmail.com

Previous Rhyme And Reasons, Album Rap Gagal Kami Yang Sedang Belajar
Next Seberapa Bebas Kita Sebenarnya (3-Bersambung)