Setelah melempar single kedua berjudul ‘Pijar’ tahun lalu, Tirto Pawitro akhirnya kembali menunjukkan keseriusannya dalam bermusik dengan merilis sebuah mini album bertajuk Resahku, Resahmu. Band asal Jogja yang terbentuk pada tahun 2019 ini beranggotakan Hafidz Efendi (vokal/gitar), Inamul Hasan (gitar), Afrizal Sulistyo (bass), Najib Hasbulloh (drum). Mini album ini berisi lima lagu baru berlirik gamblang, bertema tentang berbagai keluh kesah dan problema hidup yang kerap dialami anak muda usia 20-an.
Resahku, Resahmu layaknya curhatan sehari-hari seseorang kepada teman baiknya sendiri. Para personel Tirto Pawitro menarik mundur memori mereka dan bercerita bahwa cikal bakal terciptanya materi-materi album ini memang berawal dari sesi curhat. “Semua bermula saat kami berkumpul dan saling curhat, kami selalu mengeluh tentang masalah yang sama, yaitu tidak punya uang. Kemudian, kami tergerak untuk mulai menulis lagu-lagu dengan tema-tema nelangsa yang kami temui sehari-hari, seperti kelelahan bekerja, kehabisan uang sebelum gajian tiba, dan kekhawatiran tentang usia yang terus bertambah sedangkan hidup tak jua beranjak. Setelah terkumpul menjadi beberapa lagu, kami sepakat untuk merekamnya,” tutur Hafidz.
Lagu ‘Pe.lu.ka’ didapuk jadi track pembuka di mini album Resahku Resahmu karena mengusung tempo yang lebih cepat dari dua rilisan sebelumnya. Pada track kedua dan ketiga, kita bisa mendengar ‘23’ dan ‘Seperempat’ yang bercerita tentang derita tanggal tua dan kecemasan tentang usia yang juga tak lagi muda. Sementara lagu ‘Setelah Lima Hari’ menggambarkan tentang kesedihan dan betapa putus asanya seorang pengangguran akibat kondisi hidupnya yang kian tak menentu. Lalu, mini album ditutup dengan sebuah lagu akustik berjudul ‘Redup’. Sebuah track pamungkas yang ditujukan untuk membalut nyeri-nyeri kesedihan di empat lagu sebelumnya. Fakta unik lainnya, kata Resahku, Resahmu yang dijadikan sebagai judul mini album ini ternyata diambil dari penggalan lirik di single pertama Tirto Pawitro, ‘Saat Ini’ yang rilis pada tahun 2020.
Dalam proses kreatifnya, Tirto Pawitro mengaku banyak terinspirasi dari warna musik Joyce Manor dan The Ataris. Seluruh personel terlibat dalam penulisan lagu di mini album ini. Proses rekaman memakan waktu kurang lebih lima bulan. Mini album ini direkam dan dimixing oleh Robie Ananda di Potrobangsan Studio dan di Studio Sicma. Proses mastering dikerjakan oleh Dhandydelic dari CatPaws Lab. Tirto Pawitro juga menggandeng seorang kawan dekat sekaligus manajer mereka, Rizka Fortuna PW untuk mengerjakan artwork mini album ini.
“Rasanya senang dan lega, akhirnya kesedihan dan keluh kesah kami malah bisa tertuang jadi sebuah EP. Kami harap lagu-lagu ini bisa menyemangati kawan-kawan pendengar yang sedang mengalami kondisi serupa,” harap Hasan.





