Dalam kitab Wisnupurana dituturkan: “Pada masa Kaliyuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak akan punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, dan tindak kejahatan akan menjadi santapan sehari-hari. Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot. Gairah dan nafsu menjadi pemuas hati di antara pria dan wanita. Wanita akan menjadi objek yang memikat nafsu birahi. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Orang-orang terpelajar kelihatan lucu dan aneh. Hanya orang-orang kaya yang akan berkuasa.”
‘SURA’ menjadi refleksi The North Palm dalam memandang ke depan apa jadinya manusia tanpa tanah yang subur, pohon, dan hutan, yang itu semua seharusnya dirawat dengan baik. Namun semakin banyak saat ini orang yang mempertahankan hak atas tanah dan hak atas hidup dengan mudahnya tergusur dan dikalahkan hanya untuk memuaskan hasrat kepentingan perorangan atau golongan.
Veda menyatakan “Dvau bhuta sargau loke’smin daivasura evaca”, yang artinya di alam material ini ada dua golongan makhluk hidup. Satu golongan disebut Deva (Sura) dan golongan lainnya disebut Asura. Terkasih sayang kepada semua makhluk (daya-bhutesu) adalah salah satu sifat Sura. Single ini didedikasikan kepada suku-suku pedalaman Indonesia yang masih berpegang teguh terhadap tradisi dan budaya leluhur mereka dalam merawat alam, terlebih terhadap hutan. Mungkin mereka adalah Penjaga Terakhir dari Hutan Terakhir yang ada di negeri ini kelak.





