The Melting Minds Rilis Debut Album Berjudul “Alternate Universe”

Latest

Simak Single Kedua dari Aruna Dawn yang Berjudul ‘right person, wrong time’

Aruna Dawn merupakan singer-songwriter berusia 16 tahun asal Tangerang....

Video Musik Terbaru dari SLEEP PARALYSIS yang Berjudul ‘Dimensi’

SLEEP PARAYLISIS adalah band yang mengusung genre emo dari...

OVERGREY Rilis EP Bertajuk “Perfectly Imperfect”

OVERGREY adalah salah satu band pop punk asal kota...

Xerikho Hadir Kembali Dengan Kisah yang Manis

Yerikho Tobias atau lebih dikenal sebagai Xerikho merupakan seorang musisi pendatang baru...

Share

“Into this house we’re born, into this world we’re thrown…”

Begitulah penggalan lirik dari lagu The Doors – Riders on The Storm, yang ditulis oleh Jim Morrison dalam album L.A. Woman (1971). Pada rumah inilah kita lahir, kemudian dilemparnya kita ke dunia ini untuk menyelami berbagai seluk-beluknya. Sejarah mungkin tidak bisa terulang, tetapi kehidupan mempunyai pola. The Universe is a machine, semesta akan selalu bergerak layaknya mesin tak kasat mata, yang akan selalu menunjukkan banyak tanda asalkan jeli mencari. Selama manusia masih mau untuk mengembangkan imajinasi dan pikiran kritisnya, dunia ini mungkin masih bisa diselamatkan. Namun, jika manusia mati dalam berimaji, menjalani kehidupan selayaknya manusia dengan substansinya, maka jiwanya telah mati. 

Maka, selayaknya manusia lainnya yang berusaha, The Melting Minds mencoba untuk membaca tanda-tanda yang telah ditemukan. Juga untuk menjalankan tugas baru (yang polanya mungkin masih sama dengan kehidupan kami di masa lampau) untuk bekerja dengan satu sama lain dan menghasilkan sesuatu yang baik adanya. The Melting Minds: Kelompok eksperimen imajinasi yang merilis album perdananya bertitel “Alternate Universemelalui label independen Boneless Records.

Alternate Universe merupakan perpanjangan tangan, kaki, dan pikiran untuk mencoba membaca tanda-tanda semesta, yang seolah merintih melihat manusia di dalamnya yang sudah semakin busuk, sakit, dan ignorant. Konsep album ini mengambil pendekatan perjalanan leluhur personilnya dari desa Branjang, Ngawis, Karangmojo, Gunungkidul dalam membuat tempat kecil yang baru, melawan kejahatan yang ada di dunia ini. Dikisahkan dulu desa tersebut adalah hutan lebat, yang dipercayai mempunyai penunggu yang sangat kuat. Leluhur desa kemudian meminta kepada astral yang menjaga tempat itu bahwa ia akan membangung sebuah desa untuk kaum-kaum yang termarjinalkan. Namun, astral tersebut tidak setuju dengan permintaan beliau, pecahlah sebuah perang antara leluhur kami dan astral tersebut. Singkat cerita leluhur menang melawannya. Untuk mengingat kemenangan leluhur, maka dibangunlah sebuah desa yang kemudian bernama Branjang. Beliau kemudian memberikan tanah gratis untuk mereka yang termarjinalkan. The Melting Minds kemudian mengambil intisari cerita dari leluhur dengan membangun dunia kecil di tengah keadaan yang semakin ignorant.

Alternate Universe merupakan pendekatan kepada manusia-manusia yang tersesat (yang tidak mau berpikir) untuk kembali menggunakan pikirannya secara mendalam, menyelami bagian-bagian yang belum pernah terpikirkan sebelumnya dan berharap manusia bisa hidup selayaknya manusia dengan segala entitasnya. Album ini adalah satu cerita besar yang utuh yang terbagi dalam 10 lagu yang dituntun oleh Lois N. Fathiarini sebagai narator dengan sudut pandang orang ketiga seperti sang ibu yang mendongengkan sebuah kisah sebelum tidur kepada anaknya dengan menggunakan pendekatan musik psychedelic rock dengan nuansa yang dinamis nan progresif yang absurd dengan sound design vintage nan eargasmic. Diimbangi harmoni vokal yang membius, merepresentasikan dari dunia secara indah namun sebenarnya hancur berantakan yang bermakna bahwa lagu terakhir merupakan akhir dari cerita, di mana penikmat diajak kembali kepada realitas dunia setelah melalui perjalanan imajinasi yang cukup dalam.

Representasi Alternate Universe tidak hanya disajikan lewat setlist, album, maupun gigs. Tetapi juga lewat sebuah pertunjukan yang bertajuk sama dengan judul album yang telah digelar di Taman Budaya Yogyakarta pada 3 Juni yang lalu, tanggal yang sama dengan perilisan album secara digital dan fisik berupa kaset. Konser yang mengedepankan visual tersebut mengajak penonton untuk berimajinasi lewat banyak tanda, seperti kostum yang mereka pakai laiknya para penyihir yang tak punya tempat pulang yang tak pernah kehabisan tempat untuk singgah. Tata cahaya yang diatur sedemikian rupa plus membaurnya aroma dupa menambah kesan mystical dalam pertunjukan tersebut. 

Klik untuk dengarkan Alternate Universe.