Tenggara Street Art Festival 2020

Latest

Maio Rilis Debut Album Bersama HSTD Records

Setelah merilis dua single yang ber-titel “The Justice Trap”...

Mirza W. Soenarto feat. Glenn Fredly Tetap Berkarya Untuk Negeri

Dalam ketiadaannya, Glenn Fredly hadir bersama Mirza W. Soenarto...

“Berhenti Mengerti”, Single Pembuka Konsep Trilogi Dari Prinsa Mandagie

Prinsa Mandagie Gadis berumur 22th berasal dari Bandung ini...

Janice Mencari “Magic” Untuk Lagu R&B Terbarunya

Penyanyi Soul Swedia dan pembangkit tenaga R&B, Janice, merilis single...

Share

Sabtu, 28 November 2020, Tenggara Street Art Festival ditutup. Festival ini diinisiasi oleh Gubuak Kopi dan Rumah Tamera – Solok Creative Hub, sebagai pengembangan wacana mengenai street art dan semangat D.I.Y di Sumatera. Festival yang sudah berlangsung selama 10 hari ini terdari dari rangkaian program. Program-program yang berlangsung terdiri dari Artist in Residence, Workshop, Jamming Session, Camping, dan Closing Night.

Artists in Residence atau residensi seniman sudah berlangsung terhitung tanggal 18 November 2020. Program ini menghadirkan 10 seniman yang dipilih berdasarkan pengalamannya dan juga seniman yang mampu memberi warna baru dalam skena street art Sumatera Barat. Mereka adalah Bujangan Urban (Jakarta), Autonica (Yogyakarta), Blesmokie (Jakarta), Minangtypers (Sumatera Barat), Rumah Ada Seni (Padang), Dhigel (Jakarta, Da Boy (Solok), Verdian Rayner Solok, serta Magenta dan Bayu (Medan).

Para seniman ditantang untuk membuat mendapatkan pengalaman yang berbeda dan merespon lokasi-lokasi yang tengah disoroti oleh Tenggara Street Art Festival. Bujangan Urban memiliki nama yang cukup besar dalam skena street art Asia Tenggara, ia juga merupakan salah seorang inisiator kehadiran Gardu House sebuah kolektif street artis yang juga menggagas festival street art terbesar di Indonesia yakni Street Dealin. Oleh direktur artistik, Bujangan Urban dengan karakter “Capital Flower”nya ditantang untuk merespon sebuah climb wall milik GOR Kota Solok. Dinding berkuran tinggi 15 meter dan lebar 6 meter. Ini menjadi dinding tertinggi yang pernah ia garap seorang diri.

Masi dalam lingkungan GOR Kota Solok, di sisi tembok gedung hall, Autonica juga mengoreskan kuasnya di media tembok terbesar yang pernah ia garap. Karya itu berukuran tinggi 9 meter dan lebar 4 meter. Karya yang itu ia beri tajuk Siasat Baru Anak-anak Lauik, merepresentasikan kesannya akan Solok dan festival ini. Kehadiran Autonica sebagai seniman yang lebih dikenal sebagai komikus, penyair, dan zinemaker ini cukup signifikan memberi warna baru dalam skena street art Sumatera Barat. Karya yang berbasis komik itu bernarasi dengan garis-garis yang sederhana.

Sementara itu Magenta, Bayu, Dhigel, dan Verdian ditantang untuk memberi warna baru di lingkungan tertutup Lapas Klas IIB Kota Solok. Lapas ini diisi oleh lebih dari 500 tahanan, yang sebagian besar merupakan tahanan dengan khasus narkoba. Mereka difasilitasi oleh tim Tenggara Festival dan pihak lapas untuk berkolaborasi bersama enam orang warga binaan. Para seniman residensi diajak untuk merasakan atmosfer lingkungan lapas dan bersama-sama menghadirkan citraan visual untuk menemani warga lapas. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membuat gambar seukuran tinggi enam meter dan lebar hingga 32 meter. Gambar ini menghadirkan karakter-karakter visual yang saling merespon dan terhubung. Di sisi atasnya tertera sebuah teks “Relax” yang cukup mencolok.

Di Taman Bidadari, sebuah taman yang tidak terkelola dengan baik itu hadir Blesmokie merespon sebuah tabung penampungan air milik PDAM Kota Solok. Tabung dengan tinggi 3 meter dan Panjang sisinya mencapai 18 meter ini merupakan baja yang tidak kalah menarik. Ia tidak begitu menyerap seperti halnya tembok dan sangat berembun dalam keadaan dingin. Blesmokie meresponnya dengan cat spray yang biasa ia mainkan, di kala Solok mengalami puncak musim hujan. Media tabung juga merupakan tantangan itu sendiri. Kita tidak bisa melihat semua sekaligus, dan kedetilan garis ataupun warna yang menjadi kekuatan Blesmokie menjadikannya karya yang selesai setelah 10 hari ini menjadi sangat mengagumkan. Grafiti Blesmokie mengaktivasi kecerian taman yang murung itu.

Di saat yang sama, Dika dan Cokoik, sebagai representasi Minang Typers, sebuah kelompok belajar seni tipografi, berkolaborasi dengan pemuda Kelurahan Kampung Jawa. Ia difasilitasi untuk bertemu dan berkomunikasi dengan pemuda ronda di Pos Induk Kelurahan Kampung Jawa. Para pemuda yang ramah ini saling berdiskusi dengan mereka. Diskusi itu melahirkan sebuah teks besar “Jambak with Attitute”. Bagi Minang Typers, teks itu adalah penyataan yang ia tangkap dari kesan yang ia rasakan selama berkomunikasi dengan para pemuda dan warga di lokasi itu, yang sangat ramah dan senang menghadiahinya beragam makanan. Bersama teks besar itu, Minang Typers juga menghadirkan slogan pilihan pemuda.

Komunikasi yang akrab antara seniman dan warga tentunya menjadi momen yang menarik untuk bertukar pengetahuan. Memudarkan segala stigma yang negatif. Masoki adalah street artist asal Kota Padang yang difasilitasi untuk hadir di Terminal Bareh Solok. Ia merespon salah satu dinding pagar terminal. Ia menggoreskan icon grafitinya di pagar tersebut. Kehadirannya menarik perhatian warga dan anak muda di sekitaran terminal. Para anak muda terminal yang berprofesi sebagai pengamen, pedagang, dan pengatur parkri ini juga sering distigma negatif. Mereka saling berdikusi dan berbagi pengalaman bersama Masoki sebagai representasi street artist yang dalam konteks Sumatera Barat, juga sering distigma negatif. Pertemuan mereka saling membangun semangat dan martabat. Interaksi Masoki dengan warga sekitar tidak jarang membuahinya pengalaman-pengalaman baru. Ia juga mewarnai beberapa titik rumah warga atas permintaan warga itu sendiri, hingga ruang privat. Di salah satu dinding tidak lupa Masoki meninggalkan teks “Solok Milik Warga” sebuah kampanye hastag yang masiv dinyatakan Gubuak Kopi.

Masoki bekerja cukup cepat, ia juga berhadapan dengan sebuah mobil Bank Sampah milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Solok. Mobil box itu beroperasi menuju titik-titik sekolah Kota Solok nantinya. Bersama Bujangan Urban, ia meninggalkan beberapa bekas yang khas di mobil itu. Karakter visual yang nanti akan berkelana di sepanjang gang Kota Solok.

Kolaborasi berikutnya berlangsung di Kodim 0309 Kota Solok. Di sana Da Boy, seniman mural asal Solok dan kelompok Rumah Ada Seni hadir memberikan kontribusinya untuk mewarnai pusat aktivitas baru anak muda Solok. Sejak beberapa tahun terakhir, khususnya sejak wacana “Normal Baru” dimulai, halaman Kodim menjadi pilihan bagi anak muda Solok untuk berolah raga, tentu didukung dengan fasilitas yang olah raga yang cukup lengkap. Keterbukaan kodim terhadap aktivitas anak muda dan mewadahi kebutuhan berkumpul memantik Tenggara Festival untuk turut memeriahkan titik itu. Para seniman residensi mengukirkan warn aitu pada lapangan basket. Para remaja yang biasa latihan di sana sangat senang dan turut membantu para seniman. Lapangan itu berkuran 28×15 meter.

Selama Artists in Residence berlangsung, workshop Tenggara Festival berlangsung di Rumah Tamera – Solok Creative Hub pada tanggal 21-22 November 2020. Workshop ini dipandu oleh beberapa orang seniman, diantaranya adalah Autonica yang mengajak adik-adik remaja Sumatera Barat untuk mengenal sebuah sub-culture zine atau majalah mini yang bisa dibuat secara mandiri, dengan perlatan yang mudah dijangkau. Selain itu juga ada Verdian Rayner dan Sayhallo0 yang mengajak para remaja untuk mengenal praktik stencil. Seni grafis menggunakan kertas sebagai cetakan untuk disemprot ke berbagai media. Dalam workshop ini para instruktur juga mengajak para remaja untuk mencobanya lansung dan menyajikan karya mereka di salah satu dinding di Taman Pramuka Kota Solok.

Program utama lainnya adalah Jamming Session atau sesi gambar bersama. Kesempatan ini terbuka untuk semua street artist muda yang bekerja dalam medium street art apapun, mulai dari graffiti, wheatpaste, mural, poster, dan lainnya. Sesi ini diikuti oleh 80 orang yang tergabung dalam kelompok ataupun individu dan tersebar di 47 dinding. Sesi ini iringi dengan pemberian award atau penghargaan untuk karya-karya yang dianggap potensial oleh para juri. Para juri tersebut adalah Bujangan Urban (Gardu House), Andang Kelana (Visual Jalanan), dan Verdian Rayner (Rumah Tamera). Penghargaan ini dibagi menjadi empat kategori award, yakni: Tenggara Award yang didapatkan oleh Muhammad Aqil Azizi untuk karya pilihan juri baik secara estetika maupun narasi; Gubuak Kopi Award diraih oleh Nurul Ilham, untuk karya mewakili semangat otokritik dan optimis; Solok Milik Warga Award diraih oleh Rafiq Alun untuk karya yang mewakili semangat keberpihakan terhadap warga yang berdaya; dan terakhir adalah Cadas Award diraih oleh Aprivaldi Avei untuk karya yang bertindak eksploratif terhadap mediumnya.

Tenggara Street Art Festival dicanangkan hadir setiap dua tahun sebagai perhelatan maupun wadah yang mendorong pembaharuan wacana mengenai street art di Sumatera. Namun, setiap tahunnya Tenggara Festival menyiapkan beberapa program untuk mengupdate perkembangan artist-artist pilihan, baik dalam bentuk residensi ataupun pameran.

Open chat