BONUM COMMUNE
Musik adalah bahasa universal umat manusia.”
– Henry Wadsworth Longfellow
Pembicaraan ihwal toleransi, pluralisme dan multikulturalisime sudah terasa akrab di lingkungan kita. Suaranya terus menggema dari mimbar-mimbar akademik sampai obrolan di warung warung kopi. Kita terlampau sibuk mendefiniskan konsep hingga implementasi, tapi wujudnya seperti lesat kembang api—yang begitu lekas padam. “Toleransi” sering kali menjadi hal yang sakral, tapi juga acap kali diobral. Persoalan benar dan salah saling baku hantam. Alhasil yang kita temui kini, lagi-lagi kepungan intoleransi yang pelik dan menyeramkan.
Piotr Jaroszynski dalam “Metaphysics and Art” secara gamblang mengidentifikasi bahwa seniman adalah manusia-manusia yang memainkan imajinasinya secara optimal hingga memungkinkan mereka menjadi manusia-manusia yang paling mempunyai akses pada kebenaran hidup yang sesungguhnya melebihi para filsuf atau ilmuwan manapun. Imajinasi bukan hanya membawa para seniman menciptakan karya seni, tetapi juga menciptakan mitologi dan memungkinkan hadirnya agama dan bahkan realitas sehari-hari.
Jika kita sepakat seni adalah ekspresi jiwa manusia yang paling dalam untuk mengungkapkan baik ihwal realitas dirinya sendiri, realitas sosial, hingga realitas ilahiah, maka seniman memiliki peran kunci. Kunci untuk membuka dinding-dinding pembatas. Selama ini saya merasa bahwa para seniman cenderung bersikap eksklusif dengan lingkungannya. Saya pikir, ada saatnya, hari ini para seniman dan komunitas seni harus membuka diri, baur dengan masyarakat, dan bersiap menjadi misionaris yang mengemban tugas dakwah seni. S
Musik berada dalam ruang yang memungkinkannya bertemu, bersilangan, bersimbiosis, berdialog, bercampur dengan unsur lain yang beragam, membuka aneka “ruang kemungkinan”. Musik bukan sekadar instrumen dan bunyi, melainkan sarana komunikasi mempererat relasi antarwarga, suku, golongan, bahkan bangsa. Musik juga sebagai ruang kritik sosial. Misalnya apa yang disampaikan lagu “We are the World‟ Michael Jackson untuk merespon isu kelaparan dan politik apartheid di Afrika Selatan. Atau perhelatan LiveAids Festival di Woodstock sebagai ruang kritik para musisi pada persoalan kesehatan dan lingkungan.
Lantas apa yang ingin diusung oleh Sillas dalam #dharmasafari di rumah-rumah ibadah? Apakah sekadar gimmick atau ada opsi lain?
Ditulis oleh Nissa Rengganis, penulis asal Cirebon. Saat ini bergiat sebagai dosen, pegiat komunitas, dan mengelola Rumah Rengganis (Rumah Buku & Kopi).
***
Jika bicara soal musik dan rumah ibadah, saya rasa keduanya memiliki sejarah yang saling berkelindan. Bagaimana Wali Songo menyiarkan Islam menggunakan musik, juga tradisi Islam dalam sholawat barzanji. Dalam tradisi umat Kristen ada istilah “Jemaat Kristen adalah jemaat yang menyanyi”. Di ajaran Buddha bahkan mendengar merupakan satu dari persepsi manusia yang paling peka. Musik menjadi medium permohonan doa kepada Tuhan. Ini pula barangkali yang menjadi dasar Sillas mengusung gagasan #dharmasafari, yaitu pernampilan musik dan dialog di rumah-rumah ibadah. Apa alasannya? Sebab kata Schopenhauer, musik menjadi salah satu jalan untuk manusia keluar dari dunia yang penuh dengan penderitaan, manusia hanya memiliki dua jalan yaitu estetis (seni) dan etis (perbuatan baik). Keduanya harus saling bersahutan.
Menilik soal rumah ibadah, sudah sepatutnya rumah ibadah menciptakan ruang-ruang transformatif yang segar dan “bergairah”. Sillas sebagai musisi berupaya membuka sekat dan simpul-simpul eksklusifitas. Tidak berlebihan jika kita berharap inklusifitas memang harus terbangun dua arah. Dalam hal ini seniman sebagai masyarakat, dan rumah peribadatan sebagai public sphere. Bukankah di era sebelumnya, rumah peribadatan dari agama mana pun menjadi rumah bersama?. Saya teringat pada kisah diceritakan Abah, konon di zaman Rasulullah SAW, masjid adalah tempat pusat budaya dan ilmu pengetahuan. Begitupun Gereja yang tidak hanya sebagai tempat peribadatan, tapi juga sebagai tempat perkumpulan organisasi, belajar, konseling, bahkan mess. Vihara difungsikan sebagai tempat tinggal dan belajar bagi para biksu yang mengembara. Klenteng tidak hanya sebagai tempat pemujaan dan ritual, tetapi berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan kebudayaan.
Ini pula mungkin yang menjadi kerinduan Sillas. Dari kerinduan ini, Sillas mengusung tour mini #dharmasafari sebagai ikhtiar kecil untuk membongkar sekat-sekat ekslusifitas atas nama agama. Agenda kolaborasi Sillas dengan Forum Komunikasi Lintas Iman (Forkolim) Cirebon, setidaknya sebagai interupsi bahwa musik tidak hanya sekadar ruang menghibur, tapi juga bertugas sebagai penyampai moral, hingga mengusik persoalan sosial. Tercatat agenda #dharmasafari berkeliling ke beberapa rumah peribadatan: Vihara Welas Asih, Vihara Darma Mulya Losari-Brebes TBA, Gereja Santa Maria Kota Bukit Indah – Purwakarta, dan Pondok Pesantren An-Nasuha Pabedilan, Cirebon. Ikhtiar #dharmasafari ini menjadi semacam simakrama yang harapannya menjadi simpul kerukunan, kedamaian, dan harmoni antarumat bergama.
Sejarah panjang peran musik sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam ritual keagamaan, harus digaungkan kembali. Tidak hanya itu, musik juga kiranya perlu ambil bagian dalam menjaga toleransi. Karena dalam pelbagai perbedaan, musik adalah bahasa yang berbicara pada seseorang dan semuanya. Ia suara dari harapan. Sekalipun sayup-sayup, suaranya bisa jadi sebagai pintu awal tercapainya gagasan bonum commune. Maka, tidak berlebihan jika kita menaruh harapan pada Sillas yang meneguhkan posisi sebagai peranti perdamaian. Semoga.





