Semiotika: diantara Ruang dan Gelombang Darat


Ada yang berbeda dengan Purwokerto malam itu  dengan kerinduan saya akan acara gigs-gigsan seperti di kota besar. Acara Road to Soundrenaline (31/07/2018) menyulap ruangan kecil dengan model semi-outdoor menjadi tempat yang cukup asik untuk nge-gigs. Dibuka dengan band instrumental rock asal Jambi, Semiotika, cukup menghipnotis saya malam itu.

Semiotika menjadi salah satu gambaran semangat anak muda Indonesia dalam menghasilkan suatu karya yang jujur. Terbentuk di Jambi pada 2014 silam, band ini terdiri dari Bibing (Gitar), Gembol (Drum) dan Riri (Bass) yang sebelumnya memiliki band dengan latar belakang musik yang berbeda-beda. Selain itu juga berkat cekokan Riri yang mendengarkan band-band post rock seperti UTBBYS, Explosion in The Sky, Mono dan beberapa band keren lainnya, akhirnya tercetus ide untuk ngejam bareng.

“Sebenernya pas ngejam awalnya ga mikir mau buat band instrumental atau buat band yang serius. Jadi kaya ngejam aja, karena bosen di kedai setiap hari, nah pas awal ngejam langsung kebuat beberapa materi, jadi kita emang iseng, terus kita rekam. Emang pas pertama ngejam kita kayak ngerasa udah ngeband lama. Kita mainnya lepas aja gitu”

Lalu proses itu berlanjut menjadi keseriusan untuk menggarap suatu karya, yang padahal direkam hanya untuk dokumentasi dan diedarkan untuk teman-teman di Jambi. Tetapi tentu saja jalan yang ditempuh tidak mulus, salah satunya kendala mendistribusikan suatu karya di tempat yang sebenarnya ‘jauh’ dari radar industri musik Indonesia. Berkat pencerahan dari beberapa kawan salah satunya Rio “Gerram”, band Dark Hardcore Punk asal Palembang, yang memberikan ilmunya tentang cara mendistribusikan album dan mengemasnya menjadi menarik.

“Mandeg nya di Jambi tuh buat band, buat album tapi gatau nih, cara mendistribusikan, terus cara promosi segala macem. Terus coba deh tuh kita lakuin tur mandiri. Respect itu yang kita jemput. Ga mesti ditunggu. Ibaratnya kita bertamu lah, memperkenalkan diri”.

Uniknya materi yang pertama kali dibuat saat ngejam justru tidak masuk dalam album Ruang (2015), karena kesulitan dalam mengaransemen. Baru kemudian lagu ini hadir di dalam mini album mereka, Gelombang Darat (2018) yang dirilis pada bulan April bertepatan dengan Record Store Day. Semiotika tidak ingin membatasi pendengar dalam berimajinasi ketika mendengar musiknya. Karena itu, mereka memilih untuk tidak menggunakan lirik dan vokal. Beberapa judul lagu yang digunakan memang interpretasi Semiotika, khususnya keadaan lingkungan Jambi saat itu.

“Kita ga pengen ngebatasin, lirik dan interpretasi orang. Harapan kita cuman itu sih, Semiotika didengerin orang mau pas sedih atau seneng. Jadi kalian bisa ngeluarin imajinasi kalian pas dengerin kita. Itu hal yang berharga buat kita”

Jambi 2015 merupakan tahun dimana jarang sekali lahir rilisan fisik. Kurangnya dukungan fasilitas seperti mixing dan mastering, studio yang layak untuk rekaman, bahkan ketidakpahaman dalam mendistribusikan rilisan. Berbagai permasalahan itu yang pada akhirnya menjadi alasan Semiotika tetap berani membuat rilisan fisik, yang nyatanya hari ini semakin menurun peminatnya di belahan dunia manapun.

“Jadi permasalahannya itu harus kita pecahin nih gimana caranya. Ya jadi alhamdulillah temen-temen di Jambi sekarang udah mulai semangat proses. Bibing juga banyak ngebantu temen-temen lain yang recording, kayak yang mixing mastering dia”.

Semangat yang dibangun Semiotika dalam menyebarkan karyanya sangat patut diapresiasi, apalagi tentang memaksimalkan segala fasilitas yang ada meskipun sangat sangat terbatas. Semangat ini juga yang ingin dibawa Semiotika kepada teman-teman yang lain, khususnya skena musik Purwokerto.

Previous Sweet After Tears Rilis Single Pertama “Strangest Things”
Next You Go Away I'm Here Rilis Video Musik "Working Class Hero"