PURWOKERTO METAL FEST : Asteroid killuminaty / Meski Nostalgia Tak Lagi Menjual, Kibasan Tangan Ala Frank Mullen Tetap Menjadi Ritual.


Setelah 5 tahun absen dari aktifitas penyelenggara pertunjukkan musik keras di Purwokerto, sabtu kemarin tepatnya 21 September 2019 Purwokerto Metal Fest hadir kembali dengan konsep yang sama. Event musik skala festival lokal dengan kapasitas Sound System yang cukup menggetarkan area Indoor Futsal GOR Satria ini, berhasil diselenggarakan kembali oleh sekumpulan orang dalam naungan Goeboeg Production.

Event yang berlangsung dari siang hari sampai malam dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Dengan terselenggaranya PMF yang ke lima ini cukup mengembalikan angin segar, kerinduan beberapa massa hitam akan kegiatan yang bisa membuat kibasan headbang brutal dan melingkar memutari moshpit akhirnya tersalurkan.
Dengan menggandeng Turbidity sebagai headline utama dalam pertunjukan berhasil membuat penonton bersatu melakukan ritual gerakan tangan ala Frank Mullen di udara. Gerakan kibasan tangan khas menjadi salah satu menu wajib penonton dalam mengiringi band asal Bandung ini. Frekuensi suara distorsi gitar yang menggulung dengan blastbeat kecepatan penuh membuat area moshpit semakin panas dipenuhi peluh penonton.

Pada tahun ini panitia menyediakan 14 slot penampil untuk meramaikan stage tanpa menggunakan sistem registrasi. Betapa sadarnya panitia akan suramnya skena musik metal beberapa tahun terakhir di Purwokerto membuat mereka tidak memaksakan adanya sistem registrasi untuk Band performer. Band penampil bergantian mempresentasikan materi seramnya sampai malam hari. Tanpa adanya sponsor dari perusahaan besar yang menjadi sumber dana utama, Goeboeg Production ingin kembali menunjukkan eksistensinya dengan event bergengsi ini.

Kegelapan malam dirasakan oleh penonton yang tidak begitu mendapat porsi sorotan lighting. Pada setiap performing band di malam hari, lighting hanya terfokus pada stage yang membuat area moshpit semakin gelap dan seram. Mungkin ini salah satu strategi agar penonton lebih menghayati ritual pelantunan ayat dengan teknik penyampaian gutural dan pigsqueal yang menukik langsung ke poros bumi.

Terhitung lebih dari 200 penonton yang silih berganti memadati venue. Tidak begitu penuh dan berdesakan untuk kapasitas indoor futsal GOR Satria yang mungkin muat untuk kapasitas lebih dari 800 orang. Mekanisme independensi panitia sangat terasa bahkan sebelum event terselenggara. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, event kali ini hanya menggunakan publikasi via online seperti sosial media dan beberapa media warta lokal. Tanpa menggunakan atribut baliho besar, poster dan spanduk yang bertebaran seperti 5 tahun silam tidak membuat panitia berkecil hati dengan jerih payah yang mereka usahakan.

Salah satu yang menjadi istimewa adalah headline dalam acara ini tidak ditempatkan pada singgasana terakhir sebagai penutup. Justru local Hero Pernicious Hate Unit grindcore yang beberapa pekan lalu berulang tahun ke 20 menduduki singgasana puncak akhir pertunjukan. Pernicious Hate sebelumnya sempat dikabarkan mengurungkan penampilan mereka karena kabar duka hadir dari ayah Imam sang vokalis. Namun pada akhirnya mereka tetap melunasi tanggung jawabnya memberikan performance yang maksimal membuat headbang penonton semakin binal.

Ditutup dengan penampilan apik dari salah satu dedengkot Grindcore Purwokerto, event ini berjalan cukup lancar tanpa ada kendala yang signifikan. Meskipun pada akhirnya nostalgia tidak lagi menjual, event yang diselenggarakan dengan tiket masuk sebesar 35 ribu ini cukup membuat keresahan penggemar setia musik metal di Purwokerto terobati. “Mari bangkitkan skena musik metal di Purwokerto kembali” Ujar Huda dalam orasinya sebagai vokalis band Death Metal Notion Baby Murder yang menjadi salah satu penampil pada malam hari. (Farobi Fatkhurridho)

Previous SIARAN PERS - MUARASUARA
Next Seberapa Bebas Kita Sebenarnya (2-Bersambung)