Pengantar menuju #MENOLAKLUKA: Sebuah Pameran Patah Hati


Tuhan pernah berfirman bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan dari tanah dan ditakdirkan berpasang-pasangan. Namun, Ia tak pernah menurunkan firman apabila usaha untuk berpasang-pasangan tersebut gagal neraka dunia akan dihadirkan-Nya.

Entah benar atau tidak, Tuhan kemudian menurunkan seorang suci bernama Valentine di belahan dunia sana untuk menyebarkan kasih sayang sehingga mempermudah manusia untuk berpasang-pasangan. Meskipun narasi tersebut ditentang oleh pemercaya Tuhan yang lainnya, hari kematian orang suci tersebut nyatanya dirayakan sebagai hari kasih sayang tiap tanggal 14 Februari.

Valentine dirayakan dengan berbeda-beda. Perayaannya bisa berupa kentha-kenthu; ini diperuntukkan bagi umat Tuhan yang sedang beruntung tidak dalam kedaan tuna asmara atau berupa memendam rindu dan bersendu; ini diperuntukkan bagi umat Tuhan yang tengah dalam keadaan tuna asmara.

Perbedaan-perbedaan perayaan di atas membuat kini tiap mahluk Tuhan berhak untuk merevisi narasi tunggal Valentine sebagai hari kasih sayang. Sebagai contoh yang paling mudah adalah bagaimana kami di kolektif ini merevisi valentine menjadi fallentine dengan tujuan menggeser arti hari kasih sayang menjadi hari untuk merayakan masa-masa kejatuhan.

Masa-masa kejatuhan adalah masa terbaik untuk dirayakan sendirian atau berjamaah, dengan tujuan untuk menertawainya, mengenangnya, atau sengaja membuat kita makin terjatuh tanpa keinginan untuk bangkit kembali.

Kita diberi akal dan inisiatif untuk menemukan cara merayakan masa tersebut: menangis sendirian, menenggak alkohol dengan jumlah kelewat-lewat, terus-menerus meneror orang yang membuat kita terjatuh melalui pesan pendek, memandangi jam yang sengaja dihentikan pada pukul dan tanggal saat kita terjatuh sambil berusaha memutar kembali waktu, mengunjungi lokalisasi kelas teri sambil membayangkan lawan main kita adalah orang yang membuat kita terjatuh atau dengan cara yang hendak ditawarkan kolektif ini; memajang barang pemberian orang yang membuat kita terjatuh dalam sebuah eksebisi patah hati tepat di hari yang dikatakan sebagai hari kasih sayang.

Tawaran kami jelas bukan sesuatu yang baru apalagi asli. Di belahan dunia lain dalam rentang waktu yang entah kapan, eksebisi semacam ini tentu sudah pernah dilakukan. Tapi, belum di kota ini. Oleh karena itu, seperti yang sudah-sudah, kami hendak meminta bantuan para Pembaca untuk berpartisipasi meyakinkan dan memberanikan diri membagi secarik cerita masa-masa kejatuhan dan menertawainya bersama kami. Cara partisipasinya mudah belaka:

  1. Pembaca cukup menghubungi Kemal di nomor 085870000042 atau mendatangi Markas Besar Dewan Kesedihan Banyumas di Singgah Kopi di bilangan Sumampir;
  2. Setelah menghubunginya atau mendatangi Markas Besar, bilang saja hendak berpartisipasi dalam #MENOLAKLUKA;
  3. Serahkan barang pemberian mantan, bisa berupa bentuk apapun, mulai dari pakaian couple, sampah botol anggur merah yang dihabiskan untuk menemani terapi melupakannya, tiket bisokop, struk pembayaran makan, atau struk pembayaran kamar hotel, sampai alat kontrasepsi bekas;
  4. Di situ kemudian Pembaca harus menyerahkan pula secarik cerita mengapa memilih barang tersebut untuk dipamerkan. Ceritakanlah yang tersedih. Buatlah cerita sedih itu tidak hanya membuat anda menangis ketika menceritakannya kembali, tapi juga membuat semua orang di Markas Besar menangis. Lebih baik lagi kalau cerita tersebut nanti mampu membuat pengunjung pameran menangis berjamaah sampai-sampai galon dan ember yang kami sediakan sebagai penadah air mata tak mampu menampung air mata yang dihasilkan dari secarik cerita tersebut;
  5. Periode pengumpulan barang akan dimulai dari tanggal 23 Desember 2018 – 1 Februari 2019. Waktu yang disediakan cukup panjang karena kami masih harus menentukan kelolosan secara administrasi yang dilanjutkan dengan TKD (tes kompetensi dasar patah hati), dan diakhiri dengan TKB (tes kompetensi bidang kesedihan) yang akan menentukan apakah pemberian mantan dan cerita yang disajikan pantas untuk dipamerkan.

Demikian pengantar ini dibuat hanya dengan tujuan untuk membuat para Pembaca berpartisipasi. Kami tidak bermaksud menggalang massa untuk tahun politik 2019 apalagi mencouba mengubah narasi firman bahwa manusia terbuat bukan dari tanah melainkan dari genangan air mata. Kami hanya ingin merayakan kesedihan bersama, membagi memori kolektif sambil sedikit membumbuinya dengan senyum getir.

KAMI TUNGGU PARTISIPASINYA. INGAT SKENA MEMANGGIL!

 

Previous BURNING DOG “MESIN PERUSAK MORAL”
Next PRESS RELEASE : Sweet After Tear Rilis Single Baru "In the Bosom"