Pameran Perancangan Font, ENERGI AKSARA: Tipografi Tatto Nusantara


Kurator:
Elfa “Mali” Swaratama
Pembukaan:
Sabtu, 20 Juli 2019
18:30 WIB
Kopi Kebon
JL. H.R Bunyamin No.112, Bancarkembar, Purwokerto
Durasi Pameran
20 Juli – 30 Juli 2019
Sejarah Indonesia mencatat sulitnya kebudayaan tato berkembang di negara ini. Pada tahun 1960-1980 mereka yang memiliki tato mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan karena Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) serta kehilangan haknya untuk menjadi ABRI dan PNS. Upaya kriminalisasi tato tersebut berdampak pada kehidupan kita sekarang, eksistensinya masih dikaitkan dengan kekerasan, kesalahan pergaulan, dan hal-hal negatif lainnya.
.
Hal itu berdampak pada eksistensi kebudayaan tato tradisional yang dimiliki oleh Bali, Mentawai, dan Dayak. Bagi orang-orang dengan pemikiran kolot, rajah tubuh tersebut masih dianggap tabu dan melanggar nilai dan norma ke-indonesia-an tanpa memandang latar belakang budaya dan adat.
.
Proyek ini sebenarnya tidak memiliki misi untuk melestarikan, karena itu terlalu muluk-muluk menurut saya. Cuma mau menggunakan apa yang tersedia di negara kita namun dikesampingkan dan mengingatkan akan keberadaan tato yang bukan sebagai bagian dari budaya pop, tapi lebih ke tradisi. Tato yang memang bagian dari kekayaan bangsa kita tercinta.
.
Lalu, kenapa harus bikin font? Kan banyak cara yang lain? Bikin penggalangan dana, ato festival tato mungkin? Ato apalah?
Alasan pertama, sebagai desainer grafis font berperan sebagai sistem komunikasi yang bisa diakses oleh orang banyak, membantu menyampaikan informasi secara tidak langsung. Desainer grafis yang baik dapat dengan bijak memilih dan menggunakan font dalam project yang ia kerjakan.
Alasan kedua, karena pergerakan sosial tidak herus dilakukan dengan turun kejalan dan buat postingan yang viral. Kita dapat melakukan perubahan melalui bidang yang kita tekuni dan yang menjadi fokus keahlian kita.
Alasan ketiga, karena penggunaan font yang luas. Seiring dengan kematangan pemahaman manusia tentang teknologi, kebutuhan atas komunikasi digital sangat diperlukan. Saat ini dibanding menulis, manusia lebih sering mengetik.
.
Pada proyek ini, desainer-desainer muda ini akan menampilkan font yang terinspirasi dari 3 kebudayaan tato di Indonesia, yaitu Dayak, Bali, dan Mentawai. Pengunjung pameran dapat dengan bebas mendownload, menggunakan, bahkan mengembangkan font tersebut.
.
Selain itu pameran proyek ENAK (Energi Aksara) ini juga tidak hanya menampilkan gambar2 huruf dan link download saja, namun proses dibaliknya juga disajikan. Bagaimana membuat font yang baik tidak hanya harus pintar menggunakan software digital, namun perencanaan dan eksplorasi konten yang dibahas merupakan hal yang krusial. Karena mendesain itu tidak semudah nge-like postingan instagram.
.
Semoga dengan adanya pameran ini, skena visual Purwokerto lebih dinamis layaknya kehidupan Lucinta Luna dan goyangan Cita Citata
.
Seni itu pendek, macet itu panjang
.
Previous AK//47 DAN TIDERAYS GELAR TUR ASIA TENGGARA
Next Black//Hawk – Disfare Split Album