Unit metal asal Bogor, Kraken, resmi merilis album penuh kedua mereka yang diberi tajuk Kaliyuga. Album ini merupakan sebuah narasi besar yang merangkum tema kebangkitan, kemarahan, hingga bentuk perlawanan terhadap penindasan di tengah realitas sosial yang semakin kompleks.
Lagu “Awakening” dipilih sebagai pembuka untuk memperkenalkan karakter musik Kraken yang tegas, agresif, dan sarat distorsi. Dari titik ini, Kraken mulai membangun fase kesadaran pendengar yang kemudian dikembangkan menjadi potret konflik batin serta brutalitas sosial melalui lagu “Fatamorgana“.
Secara harfiah, judul Kaliyuga merefleksikan kondisi zaman yang ditandai oleh kemunduran etika dan moral. Di tengah situasi tersebut, lagu “Kalam Menikam” hadir menggambarkan semangat untuk tetap bertahan dan bangkit dari keterpurukan serta tekanan yang terus datang bertubi-tubi.
Aspek kritis Kraken terhadap kekuasaan dan praktik manipulasi disampaikan secara lugas melalui “Manipocalypse” dan “Retorika Tirani“. Kedua nomor ini menyoroti rusaknya moral penguasa, penggunaan narasi sebagai alat intimidasi, serta praktik penindasan sistematis. Intensitas album mencapai puncaknya lewat “Parade Genosida“, sebuah trek yang menggambarkan kekerasan, propaganda, dan dominasi kekuasaan secara gamblang.
Di sisi lain, Kraken memberikan ruang reflektif melalui “Labirin” yang mengusung tema pencarian makna di tengah kesesatan, serta “Paradigma” yang mengangkat isu kerakusan manusia dalam mengejar simpati dan kekuasaan. Sebagai penutup, lagu “Belati Neraka” menjadi klimaks gelap yang menegaskan luapan amarah, luka, serta konsekuensi dari dunia yang telah kehilangan nurani.
Lewat Kaliyuga, Kraken memposisikan album ini sebagai pernyataan sikap terhadap kondisi manusia dan pentingnya menjaga kesadaran di tengah kekacauan zaman.





