Ego is me: Sebuah Pengantar Menuju Pendewasaan


“In brief, egoism in its modern interpretation, is the antithesis, not of altruism, but of idealism.”
-John Buchanan Robinson

Jika mendengar kata ego? Apa yang ada dibenak anda? Pacar yang ngeyel terus? Orang tua yang otoriter? Thomas Hobbes dalam bukunya yang bertajuk Leviathan mengemukakan bahwa, “No man giveth but with intention of good to himself; because gift is voluntary; and of all voluntary acts the object to every man is his own pleasure“. Hal tersebut menunjukkan bahwa kata pada dasarnya manusia dilahirkan keinginan untuk menyenangkan dirinya sendiri, tidak ada keinginan tulus dan total untuk menyenangkan orang lain tanpa memasukkan diri sendiri kedalam maksud tindakannya tersebut.

Kata ego sendiri mempunyai konotasi yang cenderung negatif oleh masyarakat. Sifat selfness yang melekat dalam tiap individu tersebut seolah-olah dibenci bahkan dijadikan bahan gunjingan. Namun apakah ego benar-benar senista itu? Bijakkah kita menilai sesuatu hanya hitam dan putih? Mari berikan sejenak ruang abu-abu diantara perdebatan tersebut. Dalam konteks seni, ego memiliki ruang tersendiri untuk ditelaah, dan bukan rahasia lagi bahwa seni itu menjadi subjektif ketika terdapat unsur ego bernama idealisme didalamnya. Bila dipandang dengan sisi positif, idealisme tersebut memang harus dimiliki setiap seniman dalam setiap prosesnya. Idealisme sangat penting dalam pembentukan signature style. Signature style lebih dari karakter gambar, signature style mencakup pula gaya komunikasi yang dituangkan dalam setiap karyanya. Signature style tersebut tidak pernah terbentuk secara instan, perlu eksperimen dan konsisen yang bahkan dapat gagal dan menyerah dalam proses pencarian signature style itu sendiri.

Seiring perkembangan jaman, suatu hal dapat bekerja melebihi dari esensi yang dikandungnya. Distribution Outlet (Distro) mengalami perluasan tanggung jawab, distro (berusaha) menjadi sebuah ikon anak muda. Tak berlebihan rasanya bahwa  perkembangan tersebut dapat disebut “pendewasaan”. Karena proses pendewasaan bukanlah terjadi dari diri sendiri saja, faktor lingkungan berpengaruh secara tidak langsung dalam proses pendewasaan distro dalam menjual seni.

Ikon pendewasaan dipinjam dalam pameran ini. Pameran ini menjadikan distro sebagai ruang alternatif pameran Ego Is Me. Pameran ini adalah sebuah langkah besar untuk menunjukkan bahwa pendewasaan karya seni generasi baru Purwokerto telah terjadi. Ini adalah sebuah momen dan perayaan esensi baru dari generasi seni rupa Purwokerto yang baru, yang telah termakan oleh budaya-budaya populer dan akan dimuntahkan dengan estetis dan egois dalam pameran seni rupa ini.

Peace, Love, & Gaul

Elfa “Mali” Swaratama

Previous Meraung Ruang: Kerja Bareng Antara Teater Si Anak dan Susu Ultra Records
Next 1991 EP - Scaller (Simply Called Reverse)