Dari Tekyan Sampai Ke Sean Wotherspoon: Wawantawa Bersama Hilarius Farlando


Wawantawa Bersama Hilarius Farlando 

Pembukaan Singkat

Bagi sebagian orang membeli barang bekas seperti sepatu, baju, celana dan perangkat fashion lainnya, mungkin sudah menjadi hal biasa. Pilihan utamanya karena semakin tinggi harga barang-barang branded yang beredar dipasaran. Tetapi apakah membeli barang bekas adalah sebuah kebutuhan dasar atau terdapat sebuah trend fashion di dalamnya?

Kita mengenal istilah thrifting, yang bisa kita artikan sebagai kegiatan membeli barang bekas untuk mengefisienkan dan menghemat penggunaan uang. Tetapi bagi beberapa orang, kegiatan thrifting dapat menjadi sebuah hobi. Orang bisa mencari barang-barang dengan cara hunting untuk menemukan barang yang bagus, menarik dan rare dengan harga yang murah. Saat ini thrifting kembali menjadi trend yang digemari anak muda.

Sejarah Singkat

Untuk lebih kerennya, mari kita coba mengulas sedikit sejarah tentang thrifting. Kegiatan membeli barang bekas bermula dari revolusi industri di abad 19. Dimana segala sesuatu didorong untuk diproduksi secara massal. Konsekuensi dari proses produksi secara massal adalah harga barang yang murah. Jadi di tahun 1760-1890, pakaian masih dianggap barang murah yang bisa sekali pakai. Saat itu, masyarakat memiliki tingkat konsumsi yang sangat tinggi. Ditambah lagi ketersediaan barang yang beraneka ragam mewarnai seluruh aspek dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Secara kebutuhan dasar sebenarnya tidak butuh-butuh amat. Secara khusus, di amerika menjadi salah satu leader dalam lokomotif industri modern. Mulai bermunculan perusahaan yang membuka pasar saham. Banyak perusahaan akhirnya mulai tumbuh dengan keuntungan yang sangat besar.

Namun, itu tidak bertahan lama. Sekitar tahun 1929-1939, Amerika mengalami krisi ekonomi. Padahal pertumbuhan ekonomi amerika pada tahun 1920 tergolong sangat pesat. Tetapi perkembangan ekonomi yang pesat memunculkan spekulasi besar-besaran di pasar saham. Hal ini yang kemudian menjadi titik balik terjadinya The Great Depression. Pelambatan ekonomi terjadi di perkotaan hingga pedesaan. Tingkat pengangguran yang tinggi, krisis perbankan, krisis kredit hingga kelumpuhan di sektor industri produksi. Kesulitan ekonomi membuat masyarakat bahkan tidak mampu membeli sehelai pakaian pun. Saat itu dimulailah era kebangkitan thriftshop.

Sampai pada medium tahun 1960an, thrifting sudah menjadi gaya hidup. Ditambah dengan arus flower generation yang kerap disebut summer of love dengan melahirkan kultur hippie. Mulai bertumbuh gerakan sosial dengan mendistribusikan barang-barang bekas melalui lembaga donasi maupun NGO.

Sebenernya saya ingin menulis panjang tentang gerakan ini hingga akhirnya thrifting masuk sebagai industri. Tentunya saya akan membahas bagaimana kapitalisme bekerja dalam sektor ini. Tetapi sepertinya tidak perlu, selain bikin saya capek mikir, netijen juga sudah cukup pintar untuk mencari tau dari berbagai sumber. Jadi mari langsung lanjutkan saja ke sesi wawancara saya bersama Hilarius Farlando, berikut:

Henrikus : Hallo, Mas Hila? Gimana kabarnya? Lama banget ga kontakan kita, terakhir ketemu waktu NOK 37 main ke Purwokerto kalau ga salah 2012.

Hilarius : Hallo, mas. Iya lama banget itu.

Henrikus : Mau ngobrol-ngobrol nih mas, setauku kan Mas Hila dari dulu udah mainan barang barang second tuh. Cerita awalnya gimana tuh?

Hilarius : Awalnya waktu pindah ke Singkawang, Kalimantan Barat. Sebagai pecinta musik hip hop pasti lekat juga donk sama fashionnya. Nah pas dulu aku pindah pertama kali ngawul gitu ngelihat barang-barang yang biasa dipakai sama rapper. Gimana ya, pertama semua orang pasti pernah menjadi posser lah. Terus lihat barang semacem Air Force, Jordan, Timberland di depan mata. Dulu waktu di Jogja kan cuma bisa lihat outwear cuma dari majalah. Pun kalau mau beli harus nabung dulu. Jadi ya, kaya seneng banget pertamanya beli buat sendiri, terus kadang temen di Jawa pada nitip gitu. Akhirnya mulai coba serius tahun 2015. Aku bikin lapak namanya Lelong Sneaker Team (LST), semacam plesetan dari Indonesia Sneaker Team (IST). Lelong itu semacam bahasa slang buat awul-awul gitu kalau di sini. Sampai tahun 2017, aku berhenti main sepatu. Karena udah ga bisa kasih jaminan soal barang. Aku ga mau juga membohongi konsumen dan bermain aman. Terus 2018, aku beralih ke pakaian. Bikin lapak di IG lagi namanya @tekyanforlove ya sampai sekarang masih suka berburu ngawul.

Ya intinya sih, aku besar di culture hip hop, mainan di grafiti, akhirnya ketemu temen bikin musik, sampai sekarang masih ngulik musik juga. Sampe akhirnya jualan juga berdasarkan knowledge itu. Ibaranya ya, Bro c’mon kalau kamu tau culture siapa ga mau pakai jordan, air force dll. Ceritanya tekyan bisa grow up ga ada niat juga. start mulainya sebagai posser, terus main ke barang bekas ngelihat outwear yang biasa dilihat di majalah, skrg bisa lihat di depan mata. Dulu sebenernya bukan karena pure pingin jualan. Jadi starting dari temen dan keluarga akhirnya mulai buat jalan. Jastip temen.

Henrikus : Aku sebenernya penasaran mas beberapa hal terkait soal jualan barang bekas ini. AKu juga cukup lama menjadi salah satu konsumen barang bekas. Kayanya barang baruku bisa dihitung jari deh. Ada perdebatan soal barang second yang sampai saat ini tidak kunjung selesai, yaitu soal fake dan original. Gimana menurut mas Hila?

Hilarius : Hahahahah, menurut pengetahuanku sih. Soal itu tergantung seller-nya. Tapi memang sebelum tahun 2015 masih lebih gampang untuk dapat barang bekas yang original. Mungkin semakin naiknya kebutuhan penjualan jadi barang apapun disikat aja. Kadang misal ada yang tanya itu barang asli atau bukan, ada seller yang memang beneran tau, tapi ya ga menutup kemungkinan ada yang pura-pura tidak tahu. Balik lagi karena kebutuhan pasar sekarang itu cukup gede.

Henrikus : Terus mas, aku pernah dapat info juga terkait bahwa sebenernya definisi soal palsu itu juga cuma soal barang itu diproduksi di pabrik yang ditunjuk oleh brand aja. Dan terkadang, barang second itu juga sebenernya adalah barang baru yang diproduksi rumahan dengan material yang sama, tapi karena pasar barang bekas sedang laku keras jadi dijual sebagai barang bekas. Terus soal barang baru tapi dijual seperti barang bekas, piye tuh mas?

Hilarius : Iya itu soal perspektif aja mas. Karena sebenernya memang ada tuh pekerja yang bisa dapat blue print produknya. Terus nanti diproduksi rumahan dengan material yang sama persis. Jadi secara kualitas mungkin bisa jadi sama, cuma bedanya itu dari pabrik atau rumahan. Memang ada perbedaan yanbg mendasar dari hasil produksi itu. Tapi buat ngebedain itu juga jelas orang yang udah punya jam terbang tinggi Misalnya nih, bulan ini pabrik ngerjain jordan 1 untuk rilis, ada ngejual blue print. Diproduksi rumahan dengan material asli, jadi perbedaan semakin susah. Perbedaan mungkin ada tingkat kerapian.

Kebutuhan barang bekas juga banyak dipenuhi dari import. Sangat memungkinkan kalau itu sebenernya produk baru, dijual second. Intinya hanya perubahan budaya barang yangg didapat beli barang bekas di tahun 2015 ke bawah lebih sering dapat original bekas. Mungkin kalau yang sekarang yang barang fake pun bisa dijadikan alternatif market. Fake tapi material original, cuma karena bahan material sama. Pasar udah berjalan dengan sangat bagus. Dulu barang bekas mungkin memang cuma 1-5 kali pakai, tapai kalau sekarang bisa pakai 1th-2th lebih masih laku dijual.

Henrikus : Sebenernya kalau beli barang bekas gitu gimana mas? Apakah per pasang atau karungan gitu. Kalau yang aku dengerkan biasanya beli itu karungan tuh. Sistemnya gimana mas? Terus soal mengetahui barang itu akan laku, milihnya gimana?

Hilarius : Ngambil barangnya dari awul-awul, barang banyak dari malaysia dan singapore bekas pakai. Tahun 2015 harga 3-4jt per karung. Terus ada kategorinya, misal size khusus laki-laki atau campur dengan size perempuan. Biasanya sih satu karung itu ada sekitar 60-70 pasang. Ada juga yang memang hunting, jadi modelnya pengambilannya hand pick up, ga beli karungan. Pengetahuan soal shortir sepatu yang biasanya dari tongkrongan juga sama temen-temen yang juga jualan. Misalnya fashion punk dan skin head (docmart, converse) atau harcore hip hop sport wear(adidas, nike, rebook).

Henrikus : Eh, denger-denger Mas Hila juga nyetokin barang buat Sean Wotherspoon? Gimana tuh ceritanya? Ngeri banget gaulnya sama tukang awul-awul selebritis.

Hilarius : Hahahahha, Kalau ditarik mundur, berhubungan pemahaman budaya fashion di thrifting udah lama. Jadi budaya thrift memang ada dari luar, indonesia mengaplikasi apa yg lagi booming aja. Vintagae fashion memang  lagi trend di luar. Mulai dari street wear, merchandise, sport wear, military fashion.  Pertama kali kontakan, itu cuma via DM Instagram. Kenalan ya biasa, haha hihi, talk shit juga terus akhirnya ngomongin bisnis. Kenal Sean itu tahun 2018 awal, sampai sekarang yang masih ngirim stock kalau dia butuh atau aku rasa ada barang bagus ku tawarin ke dia.

Ada perbedaan sebenernya soal pengetahuan barang bekas di Indonesia sama di luar yah. Kalau di luar selalu menghargai barang apapun, sekalipun penilaiannya dari banyak aspek soal histori, dipakai siapa, dan semacamnya.Nah, Kalau di indonesia terlalu ngomongin kurasi, soal apa yang layak dan kualitas barang biasanya. Kalau di luar vintage fashion ya bisa pakai kaos robek, itu udah part culture. Kalau di Indonesia, masih dikurasi, ada yang bolong dipilih-pilih, kalau di luar tidak jadi soal baju itu bolong. Ya, namanya udah jadi culture popular, pasti ya ada juga posser-nya. Sedikit mungkin orang yang sadar soal scene vintage fashion. 

Henrikus : Sampai sekarang masih berarti kirim-kirim barang ke Sean? Sebelumnya udah ada belum sih yang berbisnis salam dia?

Hilarius : Kayanya di tahun 2012, di Indonesia banyak senior yang pernah berbisnis ke Sean juga. Menurutku sih, Sean itu asik aja, dia kalau udah nyari barang diterima kondisinya ya sama yang kita tawarin. Pun misal kita nawarin barang, kalau itu punya nilai buat dia ya akan diambil. Sean menerima segala kondisi. Kemungkinan sih memang ada gap knowledge soal fashion vintage. Biasanya juga Sean yang langsung kasih harga, dan karena nilai tukarnya rupiah sama dollar jadi tinggi harganya.

Henrikus : soal keuntungan dan metode jualan mas? Pengen buka toko sendiri ga mas?

Hilarius : Wah Keuntunganbisa lebih dari 1000%. Kita kasih contoh, kita dapat di awul metalica rilisan tua 80/90an dengan harga 35rb-100rb yang jelas ga bakal dijual 300rb. Kalau metode penjualannya sih dengan sosial media sekarang membantu banget. Ketimbang tahun-tahun sebelumnya kan masih terbatas.

Kalau aku belum tertarik lah buka toko. Masih coba konsisten ngejaga tradisi ngawul gitu. Masih asyik hunting jalan-jalan nyari barang muter-muter gitu. Hahahahahha, aku lebih asik kaya gitu soalnya.

Henrikus : Ada unek-unek mau disampaikan seiring dengan hype-nya barang bekas ini mas?

Hilarius : Yang jelas kalau dari unek-unek ku, kita sebagai pelaku ga bisa menerapkan budaya luar di Indonesia. Jjadi ada keluh kesah misal pada saat dapat barang sesuai dengan pasar luar, dijual di sini juga sama dengan harga luar. Tapi ya memang balik lagi sih itu urusan penjualnnya ya. Ada beberapa orang memang yang sudah punya pasar, konsisten soal harga jual. Ngomongin seller itu kan ada beberapa kategori, ada yang pakai embel-embel passion, ada yang cuma iseng juga, ada yang memang butuh dan ga ada pilihan lain buat jualan. Menurutku, orang lelong kalau dikasih kesempatan mau kerja apa, ya tetep memilih kerjaan yg menjanjikan. Karena ada seller yang jual karena terpaksa untuk bekerja dengan jualan barang bekas. Ga punya modal buat buka usaha, akhirnya merintis pelan-pelan dari barang bekas. Ada yang memang sudah jadi kolektor dan hobi terus akhirnya jualan sekalian. Balik lagi, semua pilihan masing-masing dengan motifnya sendiri-sendiri juga.

Henrikus : Terakhir neh, gimana soal Hip Hop?

Hilarius : Hahahahaha, ya kalau musik masih pending nih. Dulu kan aku bikin grup namanya Street MC, harusnya sih 2020 ini rilis. Tapi belum jadi, nanti lah semoga segera. Sempet juga 2012-2014 diajak Rezano di Bloccalito, tapi abis itu 2014 keluar jawa karena menikah dan dapat istri juga dari Kalimantan.

Henrikus : Set playlist favorit mas, bagi donk!

Hilarius :

Playlist :

  1. Sound Provider
  2. Jazz Liberatorsz
  3. DJ Premier
  4. A Tribe Called Quest
  5. Joey Bada$$

 

 

Previous PÖSSED; HARDCORE WILL NEVER DIE BUT YOU WILL
Next Rilisan Single ‘Terang’ dari Andhika Mahendra