Dari Kota-Kota, Kesedihan, Hingga Dian Sastrowardoyo: Percakapan dengan Beni Satryo


(Wawancara dilakukan oleh Wiman Rizkidarajat & Fajar Peloo)

Pada hari Selasa malam, di igstory Havitz Maulana, Sotografer tenar dengan attitude kurang itu, terpacak ia tengah makan malam di Soto Loso Jl. Bank. Saya berinisiatif mengirimkan pesan padanya? “Nggak mampir, wan?” Ia segera membalas “Lamsungan, wan”.

Alasan saya mengirim pesan padanya adalah karena terdapat seorang karib di igs tersebut. Mereka katanya tengah mencoba kekuatan badaniah dengan melintas Jakarta-Yogyakarta dengan sepeda motor.

Selang beberapa hari seorang karib yang saya maksud mengirim pesan kepada saya. Ia berkata ingin menginap semalam di rumah untuk meredam nyeri di boyoknya. Saya mengiyakan.

Menjelang pukul 10 malam pada hari yang dijanjikan, ia akhirnya datang. Mukanya terlihat lelah tapi tersamarkan oleh kebahagiaan yang dibawanya dari Yogyakarta. Buru-buru, ia bercerita bahwa ini adalah perjalanan paling menyenangkannya ke kota itu setelah meninggalkan banyak urusan di sana untuk ditelantarkan dan dibiarkan membeku.

Sementara itu, para anggauta tengah riuh di Margi Rizki co.working space. Mereka tengah menggoreng seorang anggauta baru yang kedapatan memiliki doki-doki pada seorang perempuan. Saya dan salah satu anggauta yang kebetulan tengah menggoreng ybs, Fajar Pelo, dalam sekejap mata memutuskan untuk mewawancari karib yang baru datang ini. Namanya Beni Satryo. Ia dikenal sebagai penulis puisi yang kocak dan menyedihkan, pada waktu yang bersamaan.

Kami merekam wawancara tersebut, yang merentang panjang dari ngalor sampai ngidul, di bawah ini.

Heartcorner (HC): Mengenai puisi, dari dua buku yang sudah diterbitkan, secara luas 2 buku itu kan mengangkat tentang kesedihan, kesunyian, dan cukup getir. Apakah Mas Ben ini memang sebagai pribadi yang menyedihkan? Hehe
Beni Satryo (BS): Tidak juga. Saya ini pribadi yang keren sebetulnya. Cuma mudah merasa kasihan saja. Hati saya lembut seperti biri-biri. Dan roda kehidupan saya semakin lama semakin mengharukan saja perjalanannya. Buat sebagian orang, barangkali ini terlihat menyedihkan. Padahal, ya memang sedih.

(HC): Dari buku pertama, pendidikan jasmani dan kesunyian banyak ditemukan puisi-puisi yang jenaka, dan lebih banyak menggunakan kuliner sebagai templatenya, tetapi setelahnya adalah kesedihan dan keresahan. Apa benar dalam pembuatan buku pertama keresahan-keresahan yang muncul hanya sebatas kesedihan dan usaha untuk bertahan hidup?
(BS): Puisi-puisi yang ada di buku Pendidikan Jasmani dan Kesunyian adalah puisi-puisi yang saya bikin pada momen penting dalam hidup saya. Waktu itu, saya memutuskan pergi dari Yogya dan memulai hidup baru di Jakarta –sesuatu yang sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya, karena keinginan saya setelah selesai sekolah waktu itu ya akan menetap di Yogya.

Saya hanya menuturkan saja apa yang saya alami sehari-hari pada momen itu, makan di warung, pergi kerja, pulang kerja, merindukan teman, jatuh cinta, ya kegiatan-kegiatan umum yang orang lakukan. Ada yang membacanya sebagai sebuah kesedihan, ada pula yang menganggapnya sebagai humor. Ya saya bisa bilang apa?

(HC): Jujur saja dari kedua buku yang sudah terbit, saya lebih suka dengan buku pertama, Mas Beni lebih losss, bisa ceritakan apa yang berpengaruh dari kedua buku tersebut?
(BS): Buku pertama itu ibarat saya sedang belajar silat. Menjajal beragam bentuk jurus dan gerakan sebanyak mungkin. Puisi-puisi yang muncul ya akhirnya begitu itu, mengandalkan tenaga dalam. Mbabit, kira-kira begitu. Dan ketika mengumpulkan puisi-puisi itu dalam sebuah buku, ya saya masukkan saja semuanya nggak pakai mikir tapi pakai perasaan belaka.

(HC): Tapi bukan berarti buku kedua itu gagal. Contoh saja di buku kedua, Mas Ben langsung saja menghantam di puisi pertama. Apa itu merupakan identitas seorang Beni Satryo dan masih berusaha mengangkatnya?
(BS): Saya asumsikan identitas yang dimaksud di sini adalah suara si-aku. Dan, iya saya merasa nyaman dengan suara si-aku yang saya gunakan di Antarkota Antarpuisi. Suara ini muncul malu-malu di Pendidikan Jasmani dan Kesunyian dan saya perjelas di Antarkota Antarpuisi. Biar lebih kedengaran.

(HC): Dari kedua buku tersebut, saya merasa buku kedua benar benar melewati kurasi yang mungkin lebih ketat. Bisa ceritakan?
(BS): Bila buku pertama adalah rekaman saya belajar silat, nah di buku kedua ini saya mulai fokus pada satu jurus atau gerakan saja. Puisi-puisinya tak lagi mbabit, dan tak lagi mengandalkan tenaga dalam belaka. Tata letak puisi per halamannya juga diatur sesuai tema cerita: di kampung halaman, pergi ke Jakarta, sampai di Jakarta, dan hidup di Jakarta. Kira-kira begitu. Puisi-puisinya pun tak semalam jadi dan melewati proses bongkar pasang sampai ketemu yang cocok dan oke.

(HC): Sedikit melenceng, pertanyaan titipan. Metode menangys apa yang Mas Ben biasa gunakan dalam berpuisi? Hehehe
(BS): Menangis dalam salat dan doa.

(HC): Dari kedua buku yang sudah terbit yang saya pribadi suka banyak mengangkat kehidupan akar rumput. Seberapa dekat mas ben dalam kehidupan akar rumpu? Apakah kehidupan akar rumput sangat berpengaruh dalam Mas Ben membuat puisi?
(BS): Saya hidup berdampingan dengan mereka dan pada titik tertentu, saya sama saja seperti mereka: pernah kalah dan diludahi nasib dalam putaran roda kehidupan yang kurang bermurah hati. Tapi, pada akhirnya tetap saja bertahan di Jakarta. Beragam upaya mereka untuk tetap bertahan dan memelihara harapan di kota ini menurut saya adalah puisi itu sendiri.

(HC): Dan semua puisi ini banyak bercerita juga mengenai beberapa kota, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan tentunya Purwokerto. Dari beberapa kota yang disebut kota mana yang mempunyai ikatan batin paling kuat dengan Mas Ben?
(BS): Sulit rasanya menentukan atau merasakan kota mana yang punya ikatan kuat dengan saya. Saya punya kawan baik di Yogya, Jakarta, dan Purwokerto. Hati dan pikiran saya tentu akan selalu bersama mereka di sana. Bandung adalah kota cita-cita masa muda sebab dulu saya pernah ingin sekali bersekolah di sana tapi nggak kesampaian. Ibu dan keluarga abang saya sekarang tinggal di Makassar dan saya pun pernah menjalani masa kecil yang menggembirakan di sana. Sungguh, ini pertanyaan yang sulit dijawab.

(HC): Di buku kedua Mas Ben seperti lebih pasrah dengan Jakarta hehehe. Walau masih bisa dirasakan keresahan tersebut. Apa benar?
(BS): Boleh jadi. Antarkota Antarpuisi lahir setelah saya tinggal dan bekerja di Jakarta selama 5 tahun. Alih-alih pasrah, saya lebih senang menganggap diri saya mulai menjadi bagian dari gerak kehidupan manusia-manusia di kota ini.

(HC): Buku pertama dan kedua mas ben selalu masuk long list Kusala Sastra. Mana yang lebih membanggakan, masuk short list atau diposting Dian Sastro?
(BS): Saya tak pernah melihat tukang tambal ban merasa bangga setelah ia berhasil menambal satu atau dua lobang di ban dalam sepeda motor seseorang. Ya sebab memang itu kebolehannya dan memang sudah semestinya ia mampu menambal ban.
Pun demikian dengan saya dan puisi-puisi yang saya bikin. Masuk nominasi atau dinotis Dian Sastro ya memang sudah semestinya. Wajar belaka. Kecuali puisi-puisi saya mampu membikin malaikat Isrofil untuk segera meniup sangkakalanya, nah itu lain soal. Bukan cuma bangga, saya mesti tumpengan setiap hari sampai kita semua remuk.
Namun, khusus soal puisi saya yang diposting Dian Sastro, setidaknya saya jadi tahu selera puisi beliau sungguh berkelas.

 

Beni menyelesaikan permintaan kami dengan sangat cepat. Bahkan ia masih sempat mengirim pesan kalau-kalau jawabannya masih kurang memuaskan. Saya bisa paham mengapa ia melakukannya. Di penutup surel yang dikirim kepadanya, saya menuliskan sebuah kalimat pendek “Jangan sampai kukirim Budi Nova ke Jakarta untuk menagih jawaban wawancara ini”.

Previous Catatan dari Banjoemas Arts Festival
Next Kita Baik-Baik Saja untuk Merasa Tidak Baik-Baik Saja