Babak Baru ETA Band


Sebagai sebuah skena, indies mungkin telah banyak berubah ke bentuk-bentuk yang lebih kini –jika tidak mau disebut mati– Tetapi tidak begitu dengan para pelakunya. Di antara mereka yang menanamkan fondasi skena ini di pertengahan dekade 90, nyatanya masih ada yang punya hasrat, bahkan lebih jauh lagi berkarya secara nyata. Tidak banyak memang, dan ETA memilih menjadi bagian dari yang tidak banyak ini.

Dibentuk pada hari valentine 23 tahun silam, ETA terlanjur dikenal sebagai replika The Smiths/Morrissey di Bandung. Besar di tongkrongan Paguyuban Rocker Bandung (PRB) yang merupakan satu dari sekian banyak tongkrongan indies di Bandung era 1995-1999, ETA memang tidak pernah menjadi nama yang terlalu mentereng layaknya Pure Saturday, Cherry Bombshell, Kubik, bahkan juniornya Mocca. Tetapi setidaknya, ETA adalah band yang konsisten. Mereka teruji dan mampu bertahan di tiap era perubahan.

Saat tren indies mulai meredup, berganti dengan generasi yang lebih anyar dan referensi yang lebih segar misalnya, ETA masih diperhitungkan. Bersama rekan seangkatan -dan setongkrongannya-, Kamehame, ETA mengisi satu trek di kompilasi pivotal, “Delicatessen” (poptastic! Records 2002), bersahutan dengan band-band baru yang lebih banyak mengisi treklist di kompilasi tersebut.

Pasca-Delicatessen, ETA memang tidak banyak terdengar. Tetapi lagi-lagi ETA bukan berarti tiada. Hanya butuh waktu sekitar enam tahun agar namanya kembali berkibar di skena. Lewat acara reguler bertajuk “Britpop Coming Home” yang digelar oleh Chairway Ent, ETA kembali dikenal oleh generasi yang lebih muda dengan citra yang tidak berubah: Spesialis cover version The Smiths dan Morrissey. Dari situ, ETA kembali menapaki cerita barunya sampai hari ini.

Menjadi ETA tentunya tidak mudah. Perlu konsistensi dan rasa suka yang besar pada apa yang mereka percaya. Apalagi dengan kondisi yang sudah banyak berubah dibanding era ketika mereka memulai segalanya.

Dan sebuah EP dengan tiga lagu di dalamnya tentu tak berlebihan. Ini menjadi semacam penegas sekaligus perkenalan ke generasi masa kini kalau ETA lebih dari sekadar pembawa repertoar The Smiths/Morrissey saja. ETA adalah bagian dari perjalanan skena yang kini telah banyak berkembang hingga mengaburkan bentuk awalnya, ketika karakter musik ini secara masif masuk ke Indonesia.

Tiga lagu yang kemudian menjadi cermin sejarah bagi ETA sendiri. Bernyanyi tentang “Heni” yang dulu sering menjadi anthem ETA di panggung-panggung indies, “Sepi” yang bersama “Heni” terangkum dalam debut mini album mereka bertajuk, Eksperimen (self-realesed, 1998), hingga “Selama Dia” karya terakhir ETA yang hadir di kompilasi Delicatessen (poptastic!, 2002). Cerita panjang yang hendak mereka sajikan sebagai penggugah nostalgi sekaligus perkenalan bagi mereka yang selama ini belum mengenal ETA.

Lebih jauh lagi, mungkin sudah saatnya ETA menjadi ETA yang sepenuhnya. Tak melulu tentang The Smiths/Morrissey tetapi tentang “Heni”, “Sepi”, “Selama Dia”, dan lagu-lagu lain yang mungkin kini tengah dipersiapkan oleh mereka. The Smiths/Morrissey cukup sebagai sisipan.

Karena bagaimana pun, di era ini, dengan tiga lagu dalam mini album yang memanaskan kembali mesin ETA, sudah sangat cukup sebagai bekal untuk melangkah lebih jauh. Ke babak yang baru tentunya.

*tulisan ini ditulis sebagai pembuka perilisan kembali materi materi ETA yang dirilis warkopmusik kedalam format cassette

oleh irfanpopish


Perjalanan Panjang dan Belum Berakhir ETA Band 1995-2018

Berawal dari sebuah tongkorongan dan pertemanan di era 90’an, tepatnya pertengahan tahun 1995, dikala banyak sekali band band pop Underground (sebutan masa itu) kadang kata pop disini dihilangkan dimasanya, saya berkenalan dan berteman dengan banyak pemain band, salah satu band yang paling dan cukup saya kenal adalah Pure Saturday, sebuah band pop underground, selain secara band itu sudah menurut saya band almamater saya di SMP Negeri 2 Bandung, band yang banyak membawakan lagu-lagu dari tanah Britania raya, dengan setelan Rock berambut pendek menjadi ciri khas tersendiri, dan pertanyaan bagi anak- anak muda pada jaman itu bertanya “kenapa yak band nya berdistorsi tapi berambut pendek” meskipun pendalaman ke genre musik tersebut banyak di dapat dilihat secara jelas setelah melihat barang-barang yang dibawa teman (bukan tean-teman / jamak) dari luar negeri (98) atau setalh tahun 95 tersebut, karena masih jarang teman yang bisa bepergian keluar negeri pada saat itu, jiwa rebel, jelas tersirat didalam genre ini, saya yang terbiasa mendengarkan artrock atau heavy metal sampai thrash metal, yang akhirnya dari hati menyukainya.

Berlanjut ketahap berikut dan berjejaring dan mempunyai teman baru adalah kesukaan, atau sesuatu yang saya selalu saya dalami, dengan tidak bermaksud apa- apa sebetulnya, kebetulan saja di tahun 96 saya berkenalan dengan Bobby seorang vocalist dari band Britpop After Sunset, melalui band ini lah membuat kenalan banyak bertambah, bertemu lebih banyak dengan teman-teman lainnya yang menyukai musik rock berambut pendek ini, selain Bobby yang memang cukup dekat dengan saya, dan kerap menginap dirumah, membuat kenalan dengan teman-teman yang menyukai musik ini, sebutlah Aditya Wibisana, vocalist The Bride (salah satu orang yang juga mengenalkan saya ke area elektronika) , New Market, Peanut, Dua Sejoli, Cherry Bombshell dll. Ada dua tempat tongkrongan waktu itu selain di Dipati Ukur atau barudak PRB (Paguyuban Rock Bandung), dengan sederet band nya seperti Kamehame dan ETA Band dengan salah satu penggeraknya Andi Asmawir, juga di Kintam (Jl. Ranggamalela, sebuah warung depan toko mainan VEGA) .Percakapan berawal berawal dari kumpulan tersebut baik itu bagaimana membuat sebuah acara sampai membuat sebuah media/event tersendiri, dan akhirnya banyak tercetus, sebutlah Frantic, di Dago Tea House,Indies Party di Pasific Café (Bandung Indah Plaza) atau Day Dreamer

Tercetusnya banyak acara Britpop di Bandung jelas membuat semangat untuk menjadi berkumpul semakin menjadi, saya merasakan itu karena pada saat itu posisi saya hanya memperhatikan, dan ikut-ikutan saja atau menjadi seorang groupies, menjadi groupies After Sunset dan Electrofux adalah adalah salah satu kegiatan saya waktu itu dalam menikmati musik musik seperti ini, selain faktor tumbuhnya acara-acara di Bandung, mungkin letak geographis menentukan pada saat itu, saya banyak mendapat informasi acara dari, Adit The Bride, selain dari After Sunset, karena letak rumah nya yang berada di daerah Gegerkalong, sehingga mungkin kalo dari hitungan, dari 10 acara indies yang dibuat, 9 saya menghadirinya. Kebiasaan mengcover lagu band lain atau band luar adalah budaya pada saat itu, seperti sebuah rukes tak tertulis saja mungkin termasuk, band band seperti NAIF dan Pure Saturday pun masih mengcover lagu band internasional pada saat itu.

Managerial adalah hal yang sangat jarang ditemui di era tersebut, menjadi seorang manager dan focus mungkin, hanya dimiliki band band yang sudah dibandrol label atau sudah menghasilkan, nah sampailah di siang hari di rumah juga kantor saya waktu itu sampai sekarang LOL , Jl Dr Setiabudhi No. 56 tahun 1997 saya dikenalkan oleh Bobby (After Sunset, T band) dengan seorang manager dari ETA band, band yang sudah sering saya tonton di acara acara indies atau Britpop tersebut memberikan sebuah kaset rilisan sendiri, dia mengutarakan bagaimana dia coba untuk menyebar kaset tersebut, ETA adalah band yang cukup rapih pada saat itu membawakan lagu lagu dari Morrisey dan The Smith, sebagai groupies jelas saya memperhatikan mereka lebih seksama mungkin dari panitia lain yang notabene kadang adalah personil band yang perform, walaupun kayaknya agak segan dan sulit untuk berkenalan dengan personilnya secara langsung, satu satunya orang yang saya kenal dari ETA adalah manager nya Busi Babud yang memberikan saya kaset rilisan sendiri tersebut. Dengan single nya “Heni”, Bobby menyebut babud sebagai Manager Of the Year , wajar sih karena waktu itu jangankan terpikir untuk meyebar , terpikir untuk fokus membuat lagu sendiri pun sepertinya ga terbayang oleh saya. Apalagi menangani logistic sebuah grup band dengan genre yang tidak banyak dikenal orang, ya kebanyakan genre mendayu melayu adalah market besar pada saat itu.

ETA band satu band yang cukup banyak mengenalkan saya pada lagu –lagu band Britpop klasik The Smith dan Morrisey, kemiripan dan kerapihan yang mungkin dikejar membuat lagu lagu yang dibawakan ETA sangat mirip dengan di CD, setelah mereka mengeluarkan album tersebut, lagu yang mereka buat juga banyak disempil dan dibawakan, oleh mereka, sampailah dititik dimana akhirnya dari mulai menjadi seorang groupies nya, coba untuk mensikapi dan mengapresiasi karyanya, sampai ke akhirnya coba memberanikan diri mengajak mereka tampil di acara POPTASTIC di Laga PUB pada tahun 2003, sampai mencoba untuk merilis karya lama mereka. Perbincangan kontinyu dengan lead Vocal ETA Wishnu di linimasa media sosial menjadi sebuah pemantik buat saya merilis, bersama untuk Tresna Galih pemilik Warkop Musik, di tahun 2018 ini mencoba untuk mungkin bahasanya dilagi memperkenalkan, tapi kalo kata bahasa Sunda “Yeuh baheula the Aya band Ieu” , ujur saja indahnya pertemanan, menyerap segala informasi baru adalah era yang tidak pernah saya lupakan sampai sekarang, keberanian dalam merilis 3 track ETA band , terkadang membuat saya berkata dalam hati “bener yeuh kitu atau bener yeuh jigana” sampai akhirnya saya mencoba menghubungi Inu panggilan dari Wishnu untuk merilis album romantis ETA band dan sumbangsihnya untuk perkembangan musik di Kota Bandung dan Indonesia, lagi niat untuk berkontribusi kepada semua pihak baik itu Personil, pihak Warkop Musik adalah niatan awal mengapa kita mempunyai keinginan untuk merilis rilisan berisi 3 track ini. Dikemas dalam bentuk kaset dan dirilis sebanyak 150 copy saja, Mudah mudahan dengan dirilisnya album ini bisa menjadi sebuah pengingat dimana yang muda bisa belajar untuk terus belajar, dan generasi sebelumnya untuk terus berkarya juga terus belajar, kontribusi adalah harus tidak pernah dan harus berhenti, dan inovasi itu sangat bisa dipelajari dari masa lalu, dan bagaimana saja kita mensikapinya, dengan tidak ngoyo dan niat baik, harapan mudah-mudahan band yang saya ikuti dari era 90 an ini bisa berjalan.

(Marin Ramdhani, April 2018)

Cek link berikut: https://soundcloud.com/user-347635186/heni

Previous 5678things Rilis Dua Buah Lagu Pada Gelaran Records Store Day 2018 chapter Purwokerto
Next Game of Thrones, Opeth dan Final Fantasy Bertemu di Album Terbaru Goddess of Fate