AK//47 Gelar Konser 20 Tahun: “Mengingat yang Belum Tercatat”


Diisi set reuni di tengah penampilan


SEMARANG –
Setelah menyelesaikan tur Asia Tenggara, baru-baru ini AK//47 menggelar konser dalam merayakan eksistensi 20 tahun. Konser bertajuk “20 Years On The Grind” tersebut berlangsung di Gosty Lounge, Semarang, Senin, 19 Agustus 2019. Dengan band pembuka Aimless dan Tiderays, adapun band terakhir ini juga melangsungkan tur bersama AK//47 di lima negara, yakni Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Singapura dengan sembilan pertunjukan.

Konser diprakarsai oleh Semarang On Fire dan S-45 Music Club ini merupakan set terpanjang bagi band grindcore yang berdiri tahun 1999, dengan membawakan lagu-lagu dari album Verba Volant, Scripta Manent (2016) seperti “Ignorant Middle Class” dan “Merawat Ingatan” yang menjadi nomor pembuka dalam konser yang dipadati penonton. Hingga kemudian kolaborasi pertama diserukan bersama Debronzes, yang dikenal sebagai vokalis band death metal, Syndrome, yang mengkomando pada lagu “So You Call Yourself A Revolutionary?”

“Komposisi ini memang selayaknya diisi beliau, mengemban tempo yang lamban di tengah sekian lagu kami yang cepat dan padat. Tentunya kiprahnya sebagai ilustrator dan musik di Semarang ini telah menginspirasi berbagai generasi,” ujar Novelino Adam, pencabik bass.

Setelah menggencarkan “Kepada Bunga Yang Tumbuh di Beton” dan “Tanah Berkarat”, Yogi Ario (drum) memandu dengan drum blast beat dalam “Makan Semen” yang berkolaborasi dengan Rudy Murdock, vokalis dari Radical Corps. “Lagu ini didedikasikan untuk perlawanan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, kami masih ingat betul ketika berkolaborasi dengan kawan-kawan disana melalui performance art bersama Jatra Palepati aka Ata yang menyeburkan semen dengan api,” tambah Yogi yang akrab dipanggil Kotob.

Hingga kemudian disambung dengan “Grinkor Petir”, sebuah komposisi anthemic yang disambut nyanyian membahana baik dari penonton maupun di panggung dengan tata cahaya yang gumebyar. Pergantian posisi pun dimulai saat set reuni dipersiapkan dengan formasi awal AK//47 yakni Manusia Kera (vokal, bas), Bhaskoro (gitar) dan Garna Raditya yang semula set utama pada vokal dan gitar beralih pada drum.

“Menghabiskan waktu muda hanya untuk tunduk dengan agama dan negara, kalian akan kehilangan masa yang indah dalam hidup kalian,” ujar Manusia Kera membuka set reuninya dengan “Yang Muda Yang Melawan” yang direspon menggila dari penonton. Nomor-nomor lainnya turut dikumandangkan seperti “Hipocrisy Crew” dari rilisan Tidak Setuju (EP, 2003) dan Barricades Close The Street But Open The Way (2006) hingga tembang milik band legendaris Warzone, “The Sound of Revolution”.  Nomor demi nomor terus dikumandangkan dari “Lempar Petasan ke Podium”, “Loncati Pagar Berduri” hingga ditutup dengan “Punguti Aksara” oleh Afri (Sergapanmalam) yang didapuk mengisi vokal.

Seperti diketahui sebelumnya, selepas tur Asia Tenggara, AK//47 dan Tiderays menggelar sharing session dan pemutaran dokumentasi video selama tur. Menurut Garna, rangkaian selebrasi 20 tahun ini akan terus berlanjut dengan berbagai rencana yang masih dalam pengerjaan. Salah satunya adalah membuat rilisan spesial yang akan melibatkan berbagai insan kreatif dari Semarang dan pengerjaan video dokumenter yang terus berlangsung hingga sampai tahun depan.

“Tahun ini merupakan masa yang tepat berkontemplasi untuk kami bahwa untuk apa masih bertahan di jalan ini. Ini agar kami tetap saling merawat dalam lintas masa, baik semangat maupun ingatan-ingatan yang belum tercatat,” tuturnya.(*)

 

AK//47 – LIVE AT 20 YEAARS ON THE GRIND (Full Performance)
https://www.youtube.com/watch?v=4AeacYcqSGU

AK//47 – 20 YEARS ON THE GRIND (RECAP)
https://www.youtube.com/watch?v=TesasvbQoRg

Previous Seberapa Bebas Kita Sebenarnya (1-Bersambung)
Next Sehari Lagi', Lagu Ode Perpisahan Dari SUN