Glass – Sebuah Pengantar Pada Kesadaran Kolektif


Oleh : Isro Adi

 

Sebelum membaca tulisan ini, saya sangat menganjurkan anda untuk menonton Glass terlebih dahulu karena tulisan saya bukan ditujukan untuk mengulas keseluruhan cerita dalam film tersebut.

 

Bagi saya, tidak ada keraguan dalam menjawab pertanyaan “siapa sutradara box office yang menjadi idola saya”. Jawaban pertama yang muncul dari bibir saya pastilah M. Night Shyamalan, baru Guillermo del Toro. Sementara nama lain tidak bisa saya sebutkan karena saya tidak terlalu fanatik dengan karya-karya mereka.

Tanpa menyebutkan The Last Airbender dan After Earth, bagi saya film-film M. Night Shyamalan tidak cukup disebut menarik. Lebih dari itu, brilian. Kecuali selera anda adalah tontonan dengan plot yang datar, megangkan, tempo cepat, dan penuh ledakan, jangan berharap mencapai klimaks melalui karyanya. Film berat dengan ritme yang umumnya lambat disertai banyak celah yang mengisakan pertanyaan seakan menjadi benchmarknya.

Bagi saya, panduan menonton karya M. Night Shyamalan adalah bersabar, perhatikan dan simak dengan seksama, tonton sampai akhir baru bertanya. Jika masih ada pertanyaan, cari referensi ilmiah sesuai konteks. Memang demikian, hampir semua film M. Night Shyamalan memiliki latar belakang kajian teoritis atau isu aktual yang sedang berkembang. Sebut saja The Village dengan gagasan sosiologis panopticon, The Happening yang berlatar kajian ekologis, atau karya yang menyabet 6 nominasi Oscar-The Sixth Sense, dengan gagasan filsafat eksistensialisme.

Ribet? Tidak juga. Inilah keunikan M. Night Shyamalan dalam membuat film. Seakan sudah menjadi keahliannya untuk mencuil sedikit wacana teoritis yang luas dan membingungkan menjadi sebuah hiburan di waktu senggang. Kita akan dibawa dalam sebuah pola pikir di mana seakan sang sutradara baru membaca sebuah makalah, kemudian memberikan sebuah analogi dalam bentuk film. Dibumbui sisi artistik berupa konflik dalam film menjadi sebuah alur cerita utuh dengan kesimpulan. Kadang mengambang.

Tidak sampai di situ, menurut saya film-film tersebut pada dasarnya adalah sebuah pengantar-atau bahkan pekerjaan rumah bagi kita-menuju wacana yang jika dikaji lebih lanjut, adalah bagian dari sebuah bidang keilmuan. Kembali pada diri audiens untuk mencoba menelaah atau cukup sampai di situ, yang penting tugasnya sebagai produser/sutradara telah selesai dalam menyajikan sebuah alur cerita.

Untuk saya yang selalu menantikan karya M. Night Shyamalan, saya melihat ada sebuah pola dari film-filmnya. Ada sebuah gambaran besar bahwa kebanyakan filmnya merupakan bentuk paradoks dari sebuah gagasan yang diawali dengan pertanyaan “what if”, “bagaimana jika”, atau “seandainya”.

Tidak terkecuali dengan film Glass yang sebetulnya berisi tentang gagasan sederhana dalam budaya sehari-hari. Tentang bagaimana jika superhero di dalam komik sesungguhnya benar-benar ada di dunia nyata? Pernahkah kita sadari jika konsep tersebut ternyata benar, maka sebetulnya akan berdampak sangat besar dalam kehidupan kita.

Seperti sudah anda saksikan, Glass yang berpusat pada 3 tokoh utama dengan kelebihan seorang superhero dan kekurangan seorang manusia. Jika kita runut lebih jauh, Glass merupakan satu kesatuan dengan Unbreakable yang dirilis 19 tahun lalu. Dilanjutkan Split pada tahun 2016 yang menurut saya merupakan potongan puzzle untuk melengkapi teka-teki gagasan konsep supervillain sekaligus penghubung menuju sebuah keimpulan yang disampaikan melalui Glass.

Adapun menurut saya, inti yang ingin disampaikan sebetulnya sudah diutarakan secara tersurat maupun tersirat oleh M. Night Shyamalan. Untuk melihatnya, anda memerlukan pisau bedah yang disebut semiotika. Jika istilah itu terlalu tinggi, sederhananya anda hanya perlu menelaah melalui alur cerita atau dialog percakapan dari tokoh-tokoh yang terlibat. Dalam uraian berikut saya mencoba menunjukkan kepada anda sebagian poin penting dari masing-masing film dalam Trilogy Unbreakable.

Pertama. Saya coba menyegarkan kembali ingatan anda 19 tahun lalu dalam Unbreakable yang secara garis besar menekankan konsep adanya kemungkinan/probabilitas bahwa satu dari sekian banyak umat manusia biasa, terdapat satu sosok manusia yang sangat ringkih di bawah rata-rata. Saking ringkihnya, bahkan jatuh atau tertimpa benda ringan sekalipun akan membuat tulang-tulangnya remuk berhamburan. Manifestasi dari probabilitas tersebut bernama Ellijah Price atau Mr Glass yang di sisi lain diberkahi dengan kemampuan berpikir dan daya analisa di atas manusia pada umumnya.

Tokoh lain sebagai antitesis dari probabilitas tersebut dimanifestasikan dalam sosok David Dunn, yaitu tokoh dengan kekuatan dan insting melebihi manusia. Namun demikian, David Dunn memiliki kelemahan terhadap air yang dapat membuatnya tak berdaya.

Kedua. Kembali pada tahun 2016, di luar konteks cerita tentang tokoh dissociative personality disorder Kevin Wendell Crumb dalam Split, M. Night Shyamalan sejatinya menarik garis tegas antara karakter protagonis dan antagonis. Di akhir cerita, David Dunn kembali dihadirkan sebagai antitesis dari Kevin Wendell Crumb sekaligus menegaskannya sebagai supervilain. Sebuah cara klasik yang cerdas untuk memberi tahu audiens spoiler bahwa film tersebut masih akan berlanjut pada sequel selanjutnya, yaitu Glass.

Sengaja atau tidak, saya menduga M. Night Shyamalan melihat kesempatan untuk meneruskan kembali gagasan probabilitas superhero yang saya sebutkan di atas. Bahkan menggesernya pada sebuah gagasan lain, yaitu tentang kesadaran kolektif. Jika hal tersebut telah direncanakan sejak 19 tahun lalu, maka M. Night Shyamalan adalah mastermind yang sabar sekaligus jenius. Jikapun bukan kesengajaan, tetap saja bagi saya hal itu merupakan skenario yang halus untuk mengalihkan sebuah pesan.

Ketiga. Dalam Glass, M. Night Shyamalan menyebutkan secara eksplisit bagaimana kecenderungan tentang karakter-karakter superhero maupun supervillain diceritakan dalam komik sebagai produk budaya pop. Serta bagaimana awal kemunculan seorang tokoh beserta evolusinya dari waktu ke waktu. Semua disampaikan sekilas melalui narasi tokoh yang terlibat dalam film berdurasi 2 jam 9 menit tersebut. Walaupun ritme film yang cukup lambat, James McAvoy sukses menghadirkan terror psikologis dengan memerankan sosok The Beast.

Pada kurang lebih seperempat akhir film, saya menyadari bahwa film itu bukan lagi bercerita dalam konteks probabilitas adanya manusia dengan kemampuan di atas rata-rata. Tetapi M. Night Shyamalan mencoba membawa kita pada situasi bagaimana jika-what if- apa yang selama ini kita abaikan dan tidak kita percayai ternyata benar, nyata, atau ada. Saat ketidakpercayaan itu terbukti dan berlaku secara umum, kemudian menjadi sebuah kesadaran kolektif, maka apa yang akan terjadi? Sayangnya M. Night Shyamalan kembali memberikan jawaban sebatas pengantar untuk memahami situasi yang akan terjadi, yaitu “histeria massa”. Situasi tersebut diwakili adegan viralnya video pertarungan 2 superhuman pada akhir cerita, sementara belum ada pernyataan akan ada sequel film lain atau tidak.

Lalu apakah cerita itu hanya sampai di sini? Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, film-film M. Night Shyamalan sebagian besar merupakan pengantar menuju bidang lain dari sebuah aspek. Mari kita coba hubungkan dengan situasi yang sedang berkembang dalam budaya modern.

Sejenak, lupakan sekat antara fakta dan fiksi karena jika kita cermati, perkembangan teori ilmiah saat ini sekalipun-misal fisika-semakin terdengar seperti cerita fiksi. Luangkan waktu untuk mempelajari fisika quantum tentang bagian terkecil dari benda hingga batas dari alam semesta. Saat ini para ahli masih terus mencari jawaban atas ketidaktahuan tersebut, bagaimana dengan anda?

Saya ambil contoh lain, cobalah buka referensi tentang tipe-tipe peradaban dalam Kardashev Scale termasuk di dalamnya konsep Dyson Sphere. Jika sudah, apakah hipotesis tersebut terdengar cukup “fiksi” menurut anda? Jika menurut anda contoh itu masih kurang fiksi, carilah informasi tentang The Simulation Argument yang diketengahkan Nick Bostrom. Bahwa sejatinya kita hidup dalam simulasi seperti dalam film The Matrix. Aneh?

Nyatanya hipotesis tadi bukan tanpa dasar, namun didukung dengan perhitungan matematis hingga permodelan dan simulasi komputer. Lebih lanjut, disebutkan bahwa secara perhitungan matematis terdapat 11 dimensi, sementara kita hidup dalam realitas 3 dimensi. Ada bentuk kehidupan-makhluk lain yang hidup di atas dimensi kita, di atas lagi, dan di atasnya lagi. Ada bentuk kesadaran lain yang lebih kuasa (higher consciousness), namun kita tidak dapat menjangkaunya karena tidak dapat melompat ke dimensi yang lebih tinggi. Sementara mereka dapat menjangkau kita sebagaimana kita dapat menjangkau bentuk-bentuk 2 dimensi. Apa sudah terdengar cukup gila?

Melalui Glass, M. Night Shyamalan mengetengahkan “variabel” lain yang menjadi “hambatan” terhadap sebuah kesimpulan, dimanifestasikan dalam sosok Dr Ellie Staple. Ia adalah seorang psikiatris-yang walaupun pada akhirnya kalah strategi dengan Mr Glass-merupakan perwakilan dari perkumpulan rahasia yang berusaha menekan agar fakta adanya manusia-manusia super tetap tersembunyi dari perhatian publik. Dr Ellie Staple merupakan analogi dari komunitas superior yang sering dituding bertanggungjawab atas berjalannya sistem global oleh para penganut teori konspirasi. Sebutlah pemerintah, Freemason, New World Order, atau kelompok penguasa lain.

Inilah inti dari Glass. Bahwa M. Night Shyamalan mengajak kita berpikir seandainya kenyataan yang selama ini tidak tercantum dalam buku-buku pelajaran kita ternyata benar. Dalam hal ini saya ambil sebagai-perlu digarisbawahi-contoh tentang hipotesis yang dikemukakan oleh Erich Von Daniken tentang asal-usul manusia masa lampau.

Antropolog asal Jerman tersebut beranggapan bahwa manusia berasal dari bentuk kehidupan lain dari alam lain dengan tingkat teknologi dan peradaban yang jauh lebih maju. Merekalah yang disebut sebagai dewa-dewa dalam Epos Mahabarata. Mereka pula yang menciptakan peninggalan megalitik raksasa dengan tingkat presisi melebihi teknologi manusia saat ini.

Bagaimana jika sebuah peristiwa kemudian terjadi dan membuktikan bahwa hipotesis tersebut benar. Lantas merubah sejarah dan memaksa merubah kurikulum maupun buku sejarah antropologi manusia.

Misalnya, bagaimana jika terjadi sebuah peristiwa kemunculan atau bahkan invasi alien dari planet lain seperti yang dalam film Independence Day atau War of The World? Jika peristiwa semacam itu benar-benar terjadi, saya pribadi beranggapan bahwa akan ada tiga fase, dengan asumsi peradaban manusia masih tetap berdiri.

Fase pertama, akan terjadi histeria massa dan kepanikan. Kritikan, kecaman, dan sebagian kalangan pasti akan sekuat tenaga menentang fakta tersebut dengan berbagai argumen. Tapi histeria massa akan bersifat temporer, sementara.

Fase kedua, cepat atau lambat seluruh umat manusia akan menerima fakta tersebut dan mengakuinya sebagai sebuah sejarah baru bagi umat manusia. Umat manusia bahkan menjadikannya sebagai dasar fundamental baru dalam kehidupan mereka.

Fase ketiga, dengan dasar fundamental baru tersebut manusia mulai beranjak pada tingkatan yang lebih tinggi dalam peradaban manusia. Peradaban bahkan berjalan lebih cepat hingga mencapai bentuk ideal.

Apakah itu akan terjadi? Siapa yang tahu. Kita bahkan tidak tahu sampai kapan ras manusia dapat mempertahankan keberlangsungannya. Bagaimana jika ternyata peradaban manusia terlebih dahulu punah karena umat manusia saling menghancurkan diri satu sama lain. Saat ini ancaman perang nuklir bisa terjadi kapan saja. Mungkin saja perang nuklir akan mengakhiri seluruh peradaban manusia dan mencegah ras manusia menjadi sebuah peradaban maju di alam semesta sebagaimana disebut The Great Filter dalam Fermi Paradox.

Namun demikian, sebelum ada pembuktian secara empiris tentang sebuah fakta atau peristiwa sebagaimana saya contohkan tadi terjadi, maka semuanya hanya sebuah andai-andai. Mentoknya hanya menjadi sebuah hipotesis, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tetapi yang terbaik adalah dengan menerima semua gagasan secara terbuka.

Previous Y-DRA Rilis Album Perdana "No-Brain Dance" di Hari Pemilu 2019
Next POLKADOTS RILIS SINGLE BARU "AKHIR CERITA INI”