Take Me to Java (Pembedahan Kegelisahan antara Pluralisme dan Budaya Jawa) oleh Nrvldrums


7 Januari 2021 menjadi sebuah hari pemecah keheningan dari mandeknya acara dengan substansi drum dan perkusi di Purwokerto. Pasalnya komunitas “Purwokerto Drummer” yang beberapa tahun belakangan dikenal menaungi kegiatan-kegiatan tersebut cukup lama terhenti dan tidak ada aktivisme apapun. Adalah Nurvilio Ramadhani atau Nrvldrums yang memberanikan diri mempresentasikan hasil karyanya dengan basis instrumen drum dan mengangkat tema kultural.

Kegiatan tersebut diadakan di Kebon Kopi dengan bantuan lihat.kebonku dan diselenggarakan secara terbatas. Beberapa hari sebelum kegiatan berlangsung sebenarnya Nrvldrums melalui bantuan Ipras dari lihat.kebonku sempat mencoba menghubungi komunitas Purwokerto Drummer, entah hanya sekadar memberi informasi atau ajakan untuk kurasi kegiatan tersebut bersama namun perbincangan tersebut tidak sempat terlaksana. Hanya Ipras yang akhirnya berbincang tipis dengan saya yang kebetulan masih dianggap sebagai pengurus komunitas Purwokerto Drummer. Dengan komunitas yang berada dalam kondisi tidak berapi-api lagi dan bahkan mungkin enggan menyalakan api untuk berkegiatan dan melaksanakan program seperti sebelumnya, saya hanya bisa membantu menyampaikan pesan kepada anggota lainnya untuk hadir dan meramaikan.

Acara yang dijadwalkan pada jam 19.00 dimulai kurang lebih pada jam 20.30 malam. Hal tersebut tidak perlu menjadi soal lagi pula yang saya pikirkan ketika datang ke acara tersebut sama seperti datang ke gigs santai lainnya. Sebuah drumset minimalis dengan posisi tom yang sejajar dengan snare ala drummer-drummer punk terkenal yang doyan muter-muterin drumstick sudah tertata rapih di tempat pertunjukan. Situasi pada saat acara tidak terlalu ramai, ada beberapa rekan dan sanak saudara dari Nrvldrums serta beberapa kawan komunitas Purwoketo Drummer yang hadir.

Setelah menunggu dan berbincang sedikit dengan teman-teman komunitas akhirnya acara dimulai. Acara dibuka dengan penampilan tari kontemporer oleh Yurika Meilani yang datang bersama rombongan Nrvldrums. Penampilan tari kontemporer ini cukup membuat suasana menjadi hening seketika dan nuansa seram nan canggung cukup saya rasakan karena jarak yang cukup dekat antara penonton dan penampil.

Dalam penampilannya Yurika Meilani menggunakan topeng sebagai properti utama dalam konsep yang ia bawa. Penampilan pertama ini berlangsung sekitar 15-20 menit diiringi musik latar yang diproduksi oleh Nrvldrums. Tidak sekedar menari namun pada awal penampilannya ia juga melantunkan beberapa bait tembang jawa. Dalam sesi bincang-bincang bersama pembawa acara selepas penampilannya, ia mengatakan bahwa konsep tari topeng yang dibawakan adalah menunjukan dua sifat manusia yang berbeda. Saya juga tidak tahu apa itu, tapi ya sudahlah karena sepertinya penonton juga tidak begitu peduli dengan apa yang disampaikan karena penampilan dan gerak tubuhnya yang sudah cukup membuat merinding.

Nrvldrums sebagai penampil utama pada acara malam itu bergegas bersiap setelah sesi Yurika selesai. Dengan persiapan yang tidak memakan waktu lama Nrvldrums memainkan komposisi musik yang ia produksi sendiri dan yang hendak dibedah juga dalam kegiatan tersebut. Ia fokus memainkan instrumen drum sebagai identitasnya serta diiringi oleh musik dari squencer yang sudah ia persiapkan sebelumnya.

Komposisi yang ia mainkan meliputi konsep musik EDM yang dipadupadankan dengan bunyi gamelan jawa. Dengan waktu pertunjukan kurang lebih 5-7 menit berisi komposisi yang repetitif dan ketukan drum yang cukup datar membuat saya bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin disampaikan setelah ini. Mengingat komposisi musik serupa bukan menjadi sesuatu yang baru dan sudah sangat banyak artis atau musisi yang menggunakan konsep serupa dalam komposisi musiknya.

Begitu selesai menampilkan dan memainkan hasil karyanya acara dilanjutkan pada sesi diskusi dan diawali dengan presentasi oleh Nrvldrums. Mencoba mengikuti dan memahami presentasi Nrvldrums yang membedah serta menjabarkan karyanya sendiri seketika saya terbayang suasana seminar proposal atau seminar hasil skripsi lengkap dengan dosen yang siap marah-marah. Konteks dan konsep yang dijabarkan oleh Nrvldrums membuat saya semakin kalang-kabut perihal substansi acara tersebut. Karena jujur saja saya merasa baik objek karya yang dipertunjukkan oleh Nrvldrums dan penjabarannya seperti dua hal yang terpisah dan terlalu dipaksakan untuk saling kait-mengait.

Presentasinya meliputi budaya Jawa, mulai dari bahasa, dialek, tata krama, sampai dengan substansi normatif yang disampaikan membuat saya sebagai penonton justru lupa apabila ia sedang membicarakan karyanya. Presentasinya yang melebar cukup jauh ini justru terkesan meniadakan objek yang sedang dibahas yaitu karyanya sendiri. Yang saya tangkap hanya sebatas kesederhanaan dan masuknya ornamen gamelan jawa dalam musiknya sebagai bentuk representasi kultur yang sedang ia presentasikan. Namun alih-alih menimpanya dengan presentasi yang lengkap dan rinci saya malah tidak merasakan konteks “Take Me to Java” yang digaungkan sepanjang acara dan juga dijadikan judul dari komposisi musik Nrvldrums.

Dengan tema acara “Pembedahan Kegelisahan antara Pluralisme dan Budaya Jawa” justru saya menjadi semakin gelisah setelah menyimak presentasi dari Nrvldrums dan tidak membuahkan diskusi seperti yang diharapkan. Hanya ada dua umpan balik pada sesi diskusi yaitu dari saya dan seorang drummer sejuta band dengan nama samaran Masianto atau nama asli Kemal Fuad Ramadhan sebagai penonton.

Tentu saja ucapan apresiasi menjadi topik pertama dan utama yang kami utarakan bahkan Masianto pun menyampaikan apabila kegiatan semacam ini bisa menjadi sebuah pencerahan tersendiri terhadap tidak bergeraknya kegiatan serupa dan diharapkan menjadi pemicu khususnya bagi komunitas Purwokerto Drummer untuk kembali produktif.

Kemudian tanpa adanya umpan balik lagi dari penonton lain acara ditutup dengan jamming bersama termasuk saya dan Masianto juga ikut serta karena memang dari penonton yang hadir cenderung pasif selama kegiatan berlangsung.

Meski tidak selaras dengan ekspektasi, energi yang dihadirkan oleh Nrvldrums memang cukup besar sampai akhir acara. Setelah acara selesai Nvrldrums atau yang kemudian lebih akrab dengan sapaan Rama ikut bergabung duduk-duduk nongkrong haha hihi dengan teman-teman anggota komunitas Purwokerto Drummer yang cukup lama tidak berkumpul pasca hiatus dari berbagai bentuk produktivitas.

Dalam obrolan santai ini Rama menyampaikan bahwa ide bedah dan presentasi karya seperti ini datang dari Yurika yang menempuh jalur pendidikan seni di Jogjakarta. Justru saya menjadi penasaran dengan tarian yang dibawakan Yurika karena tidak ada sesi diskusi setelah penampilannya.

Energi, harapan, dan ekspektasi dari Rama tidak habis-habisnya diutarakan bahkan sampai pada situasi tongkrongan dan obrolan ngalor ngidul yang terbangun. Yang kemudian terlintas di pikiran saya dan teman-teman komunitas ketika larut dalam obrolan adalah akan sejauh mana energi tersebut masuk dan memicu pergerakan komunitas. Yang jelas hadirnya energi serupa yang dibawa Rama bukan kali pertama dirasakan oleh teman-teman komunitas, sebelumnya hadir beberapa kali angin segar semacam ini yang kemudian hanya berhembus lewat begitu saja.

Kesibukan, kepenatan, dan tidak adanya regenerasi mungkin menjadi beberapa faktor yang lagi-lagi muncul. Namun sirkulasi seperti itu memang sudah menjadi hal yang biasa dirasakan oleh anggota dan komunitas Purwokerto Drummer.

Mengesampingkan pada substansi acara setidaknya kegiatan dan energi yang dihadirkan Rama membuat beberapa anggota berkumpul lalu sedikit menyinggung perihal program-program yang belum sempat terlaksana. Akan terealisasi atau tidaknya program-program tersebut tentu tidak bisa dipastikan, lalu apakah energi yang dihadirkan Rama akan bertahan dan diolah dengan baik oleh anggota komunitas tentu saja juga tidak bisa dipastikan. Setidaknya masih bisa sesekali guyon dalam keadaan sehat dan bugar dalam keadaan seperti saat ini. (FF)

Previous ETHNOISM; DEBUT EP RHYTHM OF LIFE, EKSPLORASI METAL, WORLD MUSIC, HINGGA NOISE
Next Bias Angkat Isu Perempuan Dengan Luncurkan "Selir Pemberontak"