SENYAWA DASAWARSA PERTAMA, BANDUNG 2020


Buatmu apa arti dari sebuah dasawarsa ? Apakah dasawarsa hanya sebuah waktu yang berjalan maju namun tidak terasa apapun ? Atau sebuah waktu yang panjang, membuatmu sesak dan memberikanmu banyak pengalaman hidup yang berguna bagi kehidupanmu sekarang ? Pertanyaan yang sama juga mungkin terukir dalam benak Rully Shabara dan Wukir Suryadi dari Senyawa. Tahun ini adalah tahun kesepuluh mereka menjadi sebuah duo yang terjadi secara tidak sengaja di pertengahan tahun 2010, di sebuah acara musik garapan Yes No Wave.

Dan selama itu, mereka menemukan jalannya menjadi sebuah grup yang melanglang buana tanpa sekat dan jarak dengan karya yang orisinal, melawan pakem musik modern khususnya musik pop. Dan hasilnya adalah grup ini terkenal di seantero jagad, membuat dan berkolaborasi karya dengan banyak musisi hebat dan memiliki album yang bagus, baik secara produksi, instrument yang tidak akan ditemukan di band lain juga dengan kepiawaian Rully dalam merekam bebunyian dari mulutnya.

Ini perjumpaan kedua saya dengan Rully, setelah di tahun 2014 saya beruntung menonton bandnya yang lain, Zoo, pada acara Netlabel Audio Festival tahun 2014 di Bandung. Saya sendiri tidak begitu asing dengan Zoo, karena saya sering mampir di web Yes No Wave, dan menemukan banyak band – band seru disana, salah satunya adalah Zoo yang kalau tidak salah baru merilis album Prasasti tahun itu.

Hanya saja music Zoo masih begitu asing di telinga saya, bebunyian yang rancak, olah vocal yang cukup aneh di telinga, dan tema yang diambil sebagai dasar pembuatan album yang buat saya waktu itu adalah suatu tema yang “berat”. Namun saat mereka bertandang ke Bandung untuk pertama kalinya tahun itu, saya berjanji didalam hati akan datang dan menonton pertunjukannya. Sebuah janji yang akhirnya membawa saya mengenal bagaimana sebuah karya yang dibawakan di atas panggung akan menjadi suatu pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.

Berdasarkan hal itu juga, akhirnya tanpa pikir panjang saya memutuskan akan menonton pertunjukkan Senyawa : Dasawarsa Pertama ini, di hari sabtu kemarin. Namun akibat kepadatan jadwal saya sebagai budak korporat, saya baru bisa membeli tiket pertunjukan tersebut sehari sebelum pertunjukannya dimulai. Beruntungnya saya, tiket yang saya beli adalah tiket terakhir pre-sale yang dijual. “Rejeki ngga kemana”, ucap saya dalam hati. Dan pada sabtu malam saya langsung menuju ke Selasar Sunaryo, sialnya saya melewatkan setengah dari aksi A Stone A yang didaulat menjadi Opening Act pada malam itu akibat kemacetan di daerah Dago Bawah dikarenakan banyaknya orang-orang yang malam itu akan menikmati weekend.

Saya masuk bertepatan saat Amenkcoy dan Ewing akan memainkan set terakhirnya, membawakan musikalisasi cerita erotis. Amenkcoy malam itu yang berkostum macam cover album Barasuara, sibuk bersaut-sautan dengan gebukan drum electronic yang dibawakan oleh Ewing. Menceritakan sebuah romansa segitiga yang dibumbui dengan pergulatan hasrat yang menggebu, Amenkcoy berhasil membawa saya terhanyut dengan cerita tersebut, namun hanya sebentar. Di saat saya sedang mengawang membayangkan sebuah romansa antara tiga orang muda-mudi tiba tiba set ditutup dengan klimaks, menyisakan kepenasaran saya akan judul dari buku yang dibaca oleh Amenkcoy tersebut.

A Stone A menutup set tepat pada pukul 20.15 menit. Setelah set A Stone A berakhir saya langsung berpindah ke depan panggung, di sebuah pendopo yang malam itu seakan menjadi tempat sakral dimana sebuah Upacara Penyambutan akan segera dilaksanakan. Menurut info memang ini adalah pertunjukkan “Resmi” pertama Senyawa di Bandung. Namun pertama kali mereka bermain di bandung yakni pada tahun 2011, saat Wukir Suryadi melakukan resindensi dengan artis experimental dari Olympia, Washington yakni Arrington de Dionsyo dalam tur Malaikat dan Singa ditemani oleh Terbujurkaku di Commonroom.

Tak berapa lama, tim dari Senyawa gesit mempersiapkan alat yang akan mereka pakai malam itu. Persiapan yang tangkas dan cepat membuat pertunjukkan dimulai tepat pukul 20.30, sesuai rundown. Dibuka dengan track Terbaktilah Tanah Ini, saya melihat langsung bagaimana kepiwaian Rully dalam merangkum bunyi yang keluar dari mulutnya: suara geraman, lengkingan, dan harmonisasi vocal luwes dibawakan olehnya, pun dengan suara musik yang “kaya” dari alat music yang dimainkan oleh Wukir.

Membuat malam itu (jika boleh meminjam dari captionnya Limunas) adalah sebuah pengalaman trandensial yang cukup magis. Saya yang meskipun pada saat yang bersamaan menikmati pengalaman tersebut sambil merekam mimik dan pengalaman menikmati musik mereka dalam kamera tetap saja membuat saya merinding ditambah dengan tata lampu dan permainan asap yang tidak berlebihan membuat suasana yang dibangun semakin magis. Kembali saya ingin menyalami tim lightning dan sound dari “Backstage Boys” Limunas yang malam itu bekerja dengan sangat sangat maksimal.

Pengalaman, ilmu dan bagaimana kerja keras mereka dalam menghasilkan suatu karya yang baik tanpa ingin dikotak-kotakkan menjadi sebuah genre tertentu menyadarkan saya bahwa konser ini adalah sebuah pengalaman yang mahal dan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Set Senyawa malam itu banyak didominasi album Sujud, album Reharsal Session yang baru saja dirilis oleh Orangecliff Records yang banyak berisi lagu-lagu dari album Menjadi yang mereka rekam ulang di Studio Senyawa, beberapa lagu dari album Acaraki dan selain itu ada beberapa lagu dari album–album kolaborasi seperti lagu Anak Kijang yang ada dalam album “I Said No Doctors” bikinan Dymaxion Groove sebuah label dari New York yang merekam berbagai macam band–band seru yang dalam membuat musiknya mereka “merusak atau membuat sebuah alat musik tertentu untuk menghasilkan sebuah karakter yang unik atau sebuah metode pembuatan musik yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya”.

Malam itu Senyawa membawakan hampir sekitar 20 lagu termasuk sebuah lagu encore yang diberikan oleh Rully dan Wukir sebagai penghormatan kepada Selasar Sunaryo karena sudah memberikan tempat kepada mereka untuk menyelenggarakan sebuah konser yang epiK. Dan benar pengalaman menyaksikan sebuah konser yang bermutu adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan, sehingga hingga hari ini euforianya masih terasa. (MY)

 

Made Yana adalah reporter tamu di laman heartcorner.net yang bertugas melaporkan gigs di Bandung dan sekitarnya.

Previous RAND SLAM - “9051” Album
Next Penjelajah Cinta Luar Angkasa Itu Bernama Space Cubs