Jahiliyyeah Kolektif City Leap Vol 2 : Ajang Pamer Materi Baru


Sejak sore segerombolan anak muda sudah berduyun-duyun menuju lantai 2 sebuah coffee Shop di kota Purwokerto. Beberapa menit setelah saya datang dan memesan minum, gerombolan ini masih bertambah. Dengan berbekal satu gelas es kopi susu yang dipesan, saya menuju ke lantai 2 menyusul mereka yang sudah lebih dulu. Saya cukup heran dengan Mate Coffee yang berani menjadi tuan rumah gigs malam ini mengingat coffee shop ini berada di lingkungan padat penduduk. Ketika membuka pintu lantai 2, ruangan sempit ini sudah penuh oleh muka-muka baru yang tidak saya kenal juga hawa panas yang akibat banyaknya manusia.

Cukup lama saya menunggu acara dimulai, kesempatan ini digunakan untuk bertegur sapa dengan beberapa teman yang datang. Cukup lama memang tidak ada gigs kolektif macam ini. kalau tidak salah, ini adalah acara pertama tahun 2020 yang mengumpulkan beberapa band lokal. Tidak lama teman-teman seumuran saya mulai datang satu persatu, dan tidak lama juga acara sudah dibuka oleh MC, orang-orang yang menunggu di bawah juga beranjak naik ke lantai 2, keadaan semakin pengap dan panas, tapi acara tetap saja harus dimulai.

5678 Things yang didaulat sebagi penampil pertama membawa kami yang dibarisan belakan merangsek maju. Selain memang kami sudah akrab dengan lagu-lagu mereka, saya, Kemal dan Ndan Tile tidak mau melewatkan kegemazan Dek Alve mengingat kami bertiga adalah Alvenisti garis keras, maka haram hukumnya melewatkan penampilan Dek Alve. 4 tracks yang diambil dari EP Siurversa membuat penonton bernyanyi bersama-sama. Agaknya 5678 Things sudah harus memikirkan lagu baru, syukur-syukur album baru. Mengingat lagu mereka sudah akrab di telinga penonton. Menjadi catatan agak penting dari penampilan 5678thing, cara mengikat rambut dek Alve cukup membuat saya berkata, “ih gemez banget sih”.

Inisiator yang sedang sibuk di dapur rekaman menjadi penampil selanjutnya. Tidak ada yang diragukan dari kualitas musik dan perform mereka. Almo sebagai komandan dalam grup ini memang sudah cukup matang memainkan musik. Setelah menyelesaikan tugasnya, saya sempat berbincang dengan Almo soal materi album pertama Inisiator, mari kita doakan agar bisa mendengarkan seluruh materi musik mereka, mengingat saat ini sedang dalam proses mixing dan mastering. Yok bisa yok!

Menjadi penampil selanjutnya adalah Megpie. Setelah cukup lama tidak bermain dalam gigs, malam itu mereka sepertinya sudah bisa mengatasi kelangkaan personil mereka. Suasana pun semakin panas setelah dibantu dengan tambahan air sebotol. Nyatanya air hanya bertahan sampai lagu ke 2. Malam itu mereka juga membawakan lagu baru berjudul Itch. Sebuah track yang baru saja mereka luncurkan dalam kanal digital. Mungkin ini sebagai pertanda bahwa mereka akan segera mengeluarkan album terbaru. Cepat atau lambat.

Memasuki penampil yang ke 4, The Telephone, band kawakan ini adalah satu-satunya band yang tidak mempunyai materi baru. Mereka masih membawakan materi dari album Madilog yang diluncurkan pada tahun 2013 melalui pesta bernama Diorama. The Telephone yang berisi musisi kawakan agaknya harus mulai membuat materi baru, meskipun kesempatan perform hanya setahun sekali. Paling karena salah satu personilnya adalah aktifeast records label lokal.

Duo yang mendaku sebagai Playboy antar galaksi menjadi penampil selanjutnya. Spcae Cubs dengan materi paling anyar mereka, Space Play Fuckboy menjadi salah satu band yang saya tunggu. Setelah mendengarkan seluruh materi dalam kanal digital saya rasa penting untuk melihat penampilan mereka secara langsung. Dengan didukung kemal sebagai penggebug drum, Space Cubs memang sudah selayaknya menjelajahi panggung di luar kota dengan lebih rutin lagi. Selamat ya btw untuk album barunya.

Memasuk inti dari acara adalah penampilan dari Circle Fox. Band asal Yogyakarta ini tak datang dengan tangan kosong. Berbekal Album Polaroid mereka mantap mengunjungi Purwokerto. Sebagai orang yang kurang update soal perkembangan kalcer musik indie kiwari, materi mereka bisa membuat saya paling tidak menganggukan kepala. Jika saja gaji saya sudah turun malam itu mungkin saya akan membeli rilisan fisik mereka. Selain materi yang baik, bassis Circle Fox juga membuat saya kagum. Sebagai perempuan satu-satunya dalam band, dia menjadi satu-satunya pula yang tampil sangat enerjik. Tapi mungkin saja saya terlalu fokus pada dia.

Dan penampilan selanjutnya adalah Hyndia, band yang beberapa waktu lalu video lamanya viral di twitter tampil sebagai penutup. Band paling produktif se Banyumas Raya ini membawakan lagu-lagu andalan dari album Winter Song seperti Warna, Satu Notasi dan track andalan lainnya. Hyndia juga membawakan lagu baru dalam kesempatan ini, lagu berjudul Pemikat Alam yang bercerita tentang bagaimana orang buta melihat dunia dengan cara mereka. Tentunya lirik lagu ini ditulis oleh Aga sang gitaris terlihat dari cara penulisan lirik dan kata-katanya yang khas.

Akhirnya gigs harus berakhir. Kita semua berfoto bersama dan saling berjabat tangan. Saya dan gerombolan hedkorner menutup dengan makan nasi uduk bersama di Sumampir. Membicarakan gigs malam itu sangatlah luar biasa, ada materi baru yang dibawakan oleh band lokal, dan sepertinya tahun ini akan penuh kejutan. (ZM)

Previous Debut Karokewan yang Menggairahkan
Next Lihat Talk: Seni Instalasi & Critical Making