JAGAD LENGGER FESTIVAL 2022: Bukan Melulu Soal Pertunjukan

Latest

Simak Single Kedua dari Aruna Dawn yang Berjudul ‘right person, wrong time’

Aruna Dawn merupakan singer-songwriter berusia 16 tahun asal Tangerang....

Video Musik Terbaru dari SLEEP PARALYSIS yang Berjudul ‘Dimensi’

SLEEP PARAYLISIS adalah band yang mengusung genre emo dari...

OVERGREY Rilis EP Bertajuk “Perfectly Imperfect”

OVERGREY adalah salah satu band pop punk asal kota...

Xerikho Hadir Kembali Dengan Kisah yang Manis

Yerikho Tobias atau lebih dikenal sebagai Xerikho merupakan seorang musisi pendatang baru...

Share

Minggu, 26 Juni 2022, saya bersama rombongan Heartcorner dan Saba Studios datang ke sebuah gelaran yang bertajuk Jagad Lengger Festival (JLF) di Pendhapa Si Pandji Banyumas. Sebuah festival yang diselenggarakan selama tiga hari dari 25-27 Juni 2022. Dalam sebuah kesempatan, kami berhasil berbincang dan merekam hasil perbincangan kami bersama Otniel Tasman selaku direktur kegiatan tersebut. Dalam sesi wawancara yang singkat, ada beberapa poin menarik yang disampaikan oleh Otniel yang sekiranya dapat digunakan sebagai medium kontemplasi terutama terhadap lanskap kultural di Banyumas itu sendiri. Jagad Lengger Festival menjadi manifestasi kelangenan atau impian Otniel Tasman sebagai pelaku/penari lengger. Ia menyebutkan bahwa festival ini marupakan wujud dari pikiran dan refleksi perjalanan hidupnya berdampingan dengan lengger selama ini. Dengan bantuan berbagai pihak, JLF digelar sebagai penggambaran rute perjalanan lengger dari masa lalu, masa kini, dan bahkan proyeksi terhadap masa depan. Dinamika perubahan zaman yang terlalu cepat yang bahkan dapat merubah situasi dan perspektif kebudayaan di Indonesia menjadi urgensi dalam gelaran kali ini. Gelaran perdana festival ini menjadi menarik karena tidak melulu soal pertunjukan, ada pula sesi screening film, seminar, diskusi serta pameran yang berfungsi sebagai bentuk aktivasi arsip dan infografis mengenai kesenian tersebut. 

Ngunthili dan Napak Tilas Tradisi Lengger” diangkat sebagai tema pada festival tersebut. Ngunthili diambil dari kata Ngunthil dan Nguntal, dalam tradisi lengger ada sebuah ritual yang dinamakan Ngunthili, sementara orang yang melakukannya disebut Nguntal. Ritual atau kegiatan Ngunthili tersebut dilakukan sebagai bentuk transisi dari penari lengger amatir apabila ingin mempelajari kesenian lengger dalam tahapan lebih lanjut. Otniel mengambil metafora istilah tersebut seperti mengambil satu per satu yang berserakan kemudian dikumpulkan menjadi satu dan dibagikan kembali. Dibantu oleh dua orang kurator, yaitu Abdul Aziz Rasjid dan Linda Mayasari yang kemudian mewujudkan gelaran interdisiplin ilmu, baik seni pertunjukan, literasi, visual sampai dengan pengarsipan. Ragam interdisiplin fokus tersebut ditujukan untuk dapat menggambarkan tema dan urgensi festival ini dari berbagai perspektif.  

Yang cukup menarik perhatian saya dalam wawancara tersebut adalah keinginan Otniel untuk Lengger agar tidak lagi dilihat dari teropong dan kaca mata yang eksotis melainkan adanya kesejajaran dalam tahap global. Hal ini disampaikan melalui ceritanya ketika beberapa kali ia mementaskan lengger secara tradisional maupun eksperimental di luar negeri. Ia menyampaikan bahwa banyak diskusi sarat akan nilai yang tercipta dari medium lengger ini, jadi tidak semata-mata kesenian lengger ini dianggap sebagai sesuatu yang eksotis saja. Tubuh penari lengger menyimpan banyak wacana, mulai dari isu estetika, gender, lingkungan dan lain sebagainya. Otniel menegaskan bahwa Lengger itu bukan hanya soal gerak dan bentuk, namun juga memiliki substansi pada aspek nilai, pikiran bahkan spiritualitas yang tentunya relevan dengan perjalanan lanskap kultural di Banyumas itu sendiri.  

Isu gender dan seksualitas menjadi salah satu poin yang cukup diperhatikan oleh masyarakat umum belakangan ini ketika membahas kesenian Lengger. Sebagai seorag pelaku kesenian tersebut, Otniel menyatakan bahwa isu tersebut menjadi irisan paling dangkal dalam hirarki nilai yang terkandung dalam kesenian Lengger. Ia bahkan menceritakan pengalamannya berjumpa dengan Bu Dariah, seorang maestro lengger lanang dari Banyumas yang terkenal memiliki perjalanan penuh spiritualitas selama hidup dengan lengger. Perjalanan spiritual yang merubah sosok Sadam menjadi Dariah, totalitasnya menghayati dan menjaga kesenian lengger tersebut menjadi salah satu acuan Otniel dalam proyeksinya memahami lengger dan tubuh.  Ketika bertemu dengan Bu Dariah, Otniel bercertia bahwa ia melontarkan pertanyaan perihal gender Bu Dariah, apakah Bu Dariah seorang laki-laki atau perempuan. Ia mengatakan Bu Dariah hanya menjawab dengan penuh candaan “Koe wani mbayar nyong pira?” yang berarti “Kamu berani bayar berapa?” hanya untuk mengidentifikasi hal tersebut. Dari obrolan itu, Otniel menangkap bahwa perkara gender dan seksualitas bukan lagi hal yang terlalu masif untuk dipermasalahkan. Ada hal penting lainnya pada pemaknaan pergerakan lengger di masyarakat, yaitu menyangkut isu politik solidaritas yang bisa mencari di berbagai spektrum, bukan hanya isu politik identitas yang mengarah pada aspek yang personal.  Menjamin keberlangsungan kesenian lengger untuk kedepannya menjadi tanggung jawab bersama. Bagaimana menyikapi stigma-stigma yang hadir di tengah masyarakat, terutama pada isu-isu sensitif mengenai gender dan seksualitas adalah jalan yang terus dibangun, edukasi serta gelaran semacam ini menjadi salah satu usaha faktual yang bisa dilakukan. 

Selepas berbincang dengan Otniel, kami mengikuti beberapa rangkaian kegiatan di hari tersebut, salah satunya adalah screening dan diskusi film Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho. Cukup disayangkan karena awalnya kami pikir sang sutradara akan hadir langsung untuk berdiskusi dan mengikuti festival ini, namun Garin Nugroho hanya bisa hadir dan mengikuti diskusi secara virtual via Zoom Meeting. Dalam sesi diskusi tersebut saya sempat menanyakan perihal aspek cultural diversity melalui Kucumbu Tubuh Indahku, menilik keputusan Garin untuk mengangkat tema yang sensitif dan mendapatkan respon yang cukup keras pada 2018 ketika film tersebut dirilis. Garin Nugroho menyampaikan aspek cultural diversity yang ingin ia sampaikan melalui Kucumbu Tubuh Indahku meliputi, bahwa manusia berhak hidup damai tanpa kekerasan, diskriminasi dan persekusi serta kekerasan dalam keberagaman berbangsa. Perjalanan tubuh seorang lengger, trauma, serta substansi isu moralitas yang sensitif dalam film dikemas sebagai bentuk otokritik terhadap kehidupan dan budaya masyarakat itu sendiri. 

Ada interkoneksi antar teks dan interteks dari ruang sosial, politik dan religi dalam masyarakat. Isu-isu yang cukup jarang diangkat tersebut sebetulnya dihadirkan sebagai opsi tontonan kepada masyarakat dari pokok bahasan yang sudah sering dibicarakan. Garin menyampaikan bahwa tema-tema homoseksual biasanya diambil dari latar belakang masyarakat kelas menengah dan dibicarakan dengan penuh olokan. Kemudian, ia melihat isu serupa pada masyarakat pedesaan yang justru memiliki relevansi secara historis dan menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa, namun tidak cukup banyak orang yang berusaha menceritakan kepada masyarakat. Hal tersebut menjadi rumpang yang ingin diisi oleh Garin ketika memutuskan mengangkat kultur lengger dalam film Kucumbu Tubuh Indahku. Film tersebut memiliki substansi perjalanan tradisi sekaligus perjalanan kontemporer seseorang melalui latar lengger.

Sesi selanjutnya pada hari kedua JLF diisi dengan penampilan Calengsai dari Paguyuban Asimihoa berkolaborasi dengan Sanggar Sekar Budaya pada sore hari, dan pertunjukan Sekargandrung dari Rumah Lengger di malam hari. Calengsai merupakan akronim dari Calung, Lengger, dan Barongsai.

Hujan deras mengguyur sepanjang siang hingga malam hari, infonya bahkan mengguyur hampir seluruh pelosok Banyumas Raya. Cuaca yang basah tidak menghentikan pertunjukan dan antusias masyarakat untuk menonton pagelaran tersebut. Pertunjukan Calengsai dilaksanakan indoor di dalam Pedopo. Sebuah momentum menggelitik cukup menarik perhatian saya pada saat berlangsungnya pertunjukan Calengsai. Sekumpulan Ibu-ibu dan beberapa remaja bergerombol menyibukan diri mengajak berfoto salah satu pengunjung asing. Terlihat pria berambut panjang dan berparas kaukasia ini sedang menyaksikan pertunjukan Calengsai sendirian, kemudian datang beberapa orang menghampirinya dan seketika mengajak berfoto bersama begitu pertunjukkan Calengsai berakhir.

Akhirnya, setelah pertunjukan usai, ada dua sesi foto bersama yang terjadi dalam satu tempat, tim Calengsai yang berfoto bersama di dalam panggung dan beberapa orang yang berfoto bersama mas-mas bule tersebut di luar panggung. Tidak ada tendensi apapun ketika menyaksikan momentum menggelitik tersebut, hanya sekadar kontemplasi sesaat atas apa yang telah disampaikan oleh Otniel Tasman beberapa waktu sebelumnya. Semoga apa yang dicita-citakan dan tanggung jawab bersama tersebut dapat menjadi realitas dalam spektrum kolektif yang luas. 

Pada hari ketiga JLF dibuka dengan seminar dan diskusi yang diisi oleh Budiman Sudjatmiko dan Rene T.A Lysloff, seorang profesor pakar etnomusikologi yang juga pemilik arsip-arsip lengger yang dipamerkan pada gelaran JLF tersebut.

Sore harinya, para penonton dimanjakan penampilan lengger dari Seblaka Sesutane, komunitas pelaku lengger yang berdomisili di Surakarta dengan membawakan nomor “The Cosmos of Leng” ciptaan Otniel Tasman.

Ada fakta menarik dari gelaran Jagad Lengger Festival ini. Hari pelaksanaan yang cukup janggal, yakni 25-27 Juni yang jatuh pada hari Sabtu, Minggu, dan Senin membuat kami bertanya-tanya, apakah ada perhitungan khusus dalam penentuannya. Kami berasumsi demikian karena notabene dalam penyelenggaraan kegiatan seni tradisi di Banyumas, atau hari-hari penting memiliki perhitungan khusus. Namun setelah kami investigasi, ternyata itu adalah murni kesalahan dari tim pelaksana dalam menyimak kalendar.

“Sebetulnya itu salah hari, bung. Kita pikir harinya udah pas Jumat-Sabtu-Minggu. Kita taunya itu salah itu H-7 kalo ga salah hahaha”, tutur Aziz.

Cuaca hari ketiga cenderung bersahabat, namun dihiasi angin yang cukup kencang sepanjang harinya. Bahkan sempat terjadi insiden yang menimpa 1 set lighting tertiup angin kencang hingga jatuh dan mengalami kerusakan.

Sebelum masuk ke acara puncak, malam harinya dibuka dengan pidato kebudayaan yang cukup tajam dan menohok dari Sutanto Mendut, seniman dan budayawan asal Magelang pendiri Komunitas Lima Gunung.  Dalam salah satu pidatonya, Sutanto menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat, bahkan hingga tingkat pejabat harus bersama-sama memperhatikan serta memahami kesenian daerah masing-masing yang tentu memiliki karakteristik yang berbeda tiap daerah.

Masuk pada acara puncak, adalah penampilan spesial dari Otniel Dance Community yang membawakan nomor “Lengger Laut“, sebuah komposisi yang berkisah tentang perjalanan hidup sang maestro Bu Dariah yang digambarkan seperti laut, meski badai dan ombak menerjang, beliau tetap tabah dan tenang dalam menjalani hidup seperti yang beliau inginkan.

Utik-utik gunung gugur, aku tak berkutik liat kamu pake sampur~