Hetero Stage: Gelora Indie Berjaya, Road To Heterofest

Share

Masih dengan tabiat yang sama, setelah jarang sekali membuat gigs. Heartconer mencoba untuk menggelar kembali gigs yang sungguh sangat mindblowing. Bagaimana tidak? Ketika saya sampai di Hetero Space yang merupakan venue dari acara tersebut. Saya hanya melihat segerombolan orang yang hampir semuanya saya kenal. Meski ada beberapa wajah baru, tapi mereka juga hasil kaderisasi tipu-tipu dari SABA, sebagai salah satu unit produksi dari Heartcorner.

Acara dengan tajuk, Hetero Stage: Gelora Indie Berjaya, Road To Heterofest diadakan pada Jumat, 29 September 2023 mengambil tempat di Hetero Space. Dalam deskripsi di websitenya, Hetero Space merupakan coworking space dan juga creative hub hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah bersama dengan Impala Network. Hetero Space diharapkan bisa menjadi pilihan bekerja yang berkualitas dengan harga yang terjangkau untuk generasi muda yang kreatif. Hetero Space juga bisa menjadi wadah bagi para komunitas yang  berkegiatan serta menjadi pusat program pelatihan untuk UMKM dan industri kreatif.

Cukup menarik juga konsepnya, terlebih karena membawa label industri kreatif. Seperti banyak yang sudah diketahui bahwa ruang-ruang semacam itu biasanya hanya bersifat monumental. Tantangan yang lumayan besar untuk membuat ekosistem di mana hal-hal yang bersifat kreatif. Secara khusus dalam bidang seni, akan dimonetisasi dengan harapan mewadahi orang-orang yang ingin konsisten pada jalur-jalur yang seni.

Dalam hal ini, menyambung dengan acara yang dibuat. Untuk dapat menikmati pertunjukan, penonton harus membayar tiket yang dibanderol Rp 20.000,-. Ketika saya tanya ke Kemal, “kenapa acaranya tiketing?”, ia menjawab “Harus mulai dibiasakan membuat acara dengan tiket”. Saya tidak bertanya lebih lanjut, asumsi sederhana saya, perpaduan ruang seperti Hetero Space yang notabene berasal dari anggaran pemerintah dengan model public-private partnership memang perlu di exercise. Salah satu cara melakukan exercise-nya adalah membuat acara independen yang berbayar. Apalagi di tengah kondisi ketergantungan para musisi yang telah terokupasi industri rokok (jika merasa terokupasi) dalam mencari nafkah. Tapi tenang, pembahasan itu tidak akan saya bahas di sini. Karena akan lebih panjang dan tentunya ndakik-ndakik.

Konsentrasi saya akan tertuju pada banyaknya band-band yang tengah dan atau baru saja memulai debut mereka. Memulai dari gigs kecil di level komunitas dan hustling level mereka sampai bisa dikenal oleh banyak orang. Saya pikir itu adalah ide konsisten yang dibawa oleh Heartcorner, dan Hetero Space paling minimal bisa menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan inkubasi. Di tingkat yang paling minimal, memberikan stage untuk menambah jam terbang yang secara performatif dapat mendorong teman-teman menuju kematangan konsep, ide  dan experiences nya dalam bermusik. Karena tidak bisa dipungkiri, ada sebagian orang yang memang ingin berkiprah dijalur musik. Jadi kebutuhan ruang dan ekosistem sangat menentukan tumbuh-kembang mereka. Sisanya tetap, orang-orang yang ngebend cuma buat buang duit dan melepas penat. Spesies macam ini tidak perlu kita pikirkan, biarkan mereka sewa tempat, alat dan bikin acara yang ditonton sendiri.

Lanjut, acara yang direncakan dimulai pukul 19.00 WIB, molor menjadi pukul 20.00 WIB. Kali ini molor-nya bukan karena kebiasaan. Di bagian luar venue masih diadakan pound fit, senam yang pakai stik tapi tidak ada drumnya. Sarana olahraga yang dapat menjadi alternatif bagi mamak-mamak muda melepas penat. Tingkat emosinya dapat dilihat dari seberapa keras mereka mengayunkan stik hingga membentur lantai. Menciptakan bunyi, tak, tuk, tek, tek, tak, tak, dan semoga di dalam hatinya tidak sambil misuh karena bojone ora gelem gantian ngurus anak.

Acara dibuka Pukul 20.00 WIB oleh Sad Story On Sunday alias Kisah Sedih di Hari Minggu. Band aliran post-rock yang sudah malang-melintang di Purwokerto puluhan tahun tapi ora kunjung terkenal, dan kayanya mereka juga tidak peduli. Tergolong sebagai band yang isi personelnya memang pengen buang duit aja. Sebagian penonton sudah berada di dalam ruangan sambil duduk di pojok-pojokan. Duduk sambil ngalamun adalah cara terbaik menikmati lagu mereka. Membawa vokalis cabutan dari band Bunker bernama Sidiq karena Pak Deskon terserang tipes. Beruntung kali ini Kibonk as gitaris tidak melanjutkan kebiasaannya membanting-banting gitar sampai tangannya mleceh. Terindikasi akibat gitar barunya berasal dari approval atas permohonan panjang kepada sang istri.

Reumina melanjutkan sebagai penampil kedua. Duo pop folk yang digawangi oleh Muhammad Sidiq Arroyhan & Salsabila Ade Safitri. Reumina menyajikan musik berkonsep minimalis, dengan vokal yang diiringi piano bernuansa gelap. Sabela pada vokal, dan Arroyhan sebagai pianis. Mereka membawakan 5 buah lagu milik mereka sendiri. Penonton hanya bisa duduk termenung, karena apa yang mau dijogeti?sing ana malah nyesek dan lara mendengar mbaknya menyanyi. Sambil sesekali mbaknya melirik ke arah penonton, mungkin mbaknya sambil mbatin, “sing nonton wong mumet kabeh apa ya?”. 

Masih dengan tema menyayat-nyayat. Surn menapaki panggung sebagai penampil ketiga. Ini juga salah satu band post rock tajirnya Purwokerto. Manggung paling banyak setahun 3 kali, tapi alatnya pasti ada yang baru setiap tampil. Kali ini Gibran datang dengan membawa alat yang sangat proper sambil pamer punya gitar baru. Sisanya, tidak usah diragukan lagi, efek gitar baru punya Faishal, bass 6 senar punya (sapa nyong kelalen jenenge) dan seperangkat alat drum punya Naufal yang milih bawa sendiri dari pada pakai yang sudah ada. Penampilannya ditonton sekitar 20 manusia, ratusan jin gembil dan lautan  jin muslim.

Setelah mendengar lagu dari 3 band yang bikin males hidup. Dilanjutkan oleh Hockey Hook, band asal Bandung yang beranggotakan Ongki (vokal, gitar), Ojan (bass), Riyan (drum), Eki (perkusi) dan Tibon (trombone). Saya tidak tahu persis, tapi beberapa lagu mereka dibawakan dengan beberapa jenis genre. Ada yang modelnya mirip Sublime dan Dropkick Murphys, tapi juga ada NO-FX dan Rancid yang ada ska-nya. Oke, ini band punk yang ada ska-nya. Semenjak terbentuk pada tahun 2010 silam, unit ini sudah merilis dua EP dan satu album penuh, yakni EP The Best of The Bad di tahun 2013, album Randomness di tahun 2016 dan yang paling teranyar, EP Watch Your Mind di tahun 2020.  Penonton pun memenuhi sisi depan panggung karena musiknya enak untuk dijogeti, meskipun tidak lebih dari 50 orang yang menonton acara ini. Saya tidak mau pakai kata-kata “acara berlangsung intim”, ini lebih ke acaranya yang berlansung khidmat seperti saat mengheningkan cipta dalam upacara tiap Senin. Bahkan peserta upacara juga lebih banyak dari ini, meski ada sifat wajib dan pemaksaan.

Betul sekali, acara ini sangat sepi untuk kategori gigs yang dapat dikatakan sangat proper dari segi tempat dan stage setup nya. Entah karena Hetero Space masih belum cukup familiar atau memang Heartcorner sudah sangat elitis sehingga tidak lagi dapat menyentuh penonton lainnya. Atau, memang band penampilnya ada dalam list spotify yang  jumlah pendengarnya hanya berkisar ratusan saja. Lebih dari itu, gigs semacam ini memang penting. Kalau ramai penonton karena menampilkan superstar  sudah biasa. Tapi gigs semacam ini justru menjadi medium bagi band yang memang belum masuk dalam radar untuk menjajal stage performance mereka.

Deskripsi di atas cocok dengan penampilan The BattleBeats, band yang juga berasal dari Bandung yang sedang mengadakan Rocking Rampage Tour. Saya sebagai penonton sangat mengapresiasi mereka. Meski dengan kondisi acara yang sangat sepi. Band yang didirikan Andresa Nugraha tetap maksimal memainkan lagu-lagunya. Tentu bagi musisi, main di antara podium penonton yang sepi akan mempengaruhi mood bermain, tapi tidak untuk mereka. Dalam formasi live yang beranggotakan Andresa, Gemilang (Defectum) dan Robi Trianda Putra (Defectum, Breh and The Bangsat), melibas lebih dari 5 lagu beraliran garage punk dengan performa yang sangat baik. Sungguh nampak sebagai band yang sudah berpengalaman mengatasi banyak kondisi panggung.

Begitupun untuk penampilan Muchos Libre. Mentalitas mereka tidak kendor sedikitpun meski telah banyak penonton yang pulang. Band asal Bandung yang beranggotakan Bagongtempur (Vokal), Korongmentah (vokal), Hilman Hakim Nugroho (srum), Nizar Oktriyadi (bass), Ardian Aziz Oktriyana (gitar), dan Rizky Varama (gitar) menunjukan bahwa penonton buka satu-satunya alasan untuk tidak bermain maksimal. Mereka masih dalam satu rombongan Rocking Rampage Tour yang akan mengakhiri tour-nya pada 30 September 2023 di Ciamis. Vokalis mereka menggunakan topeng mirip Rey Mysterio dengan asik membawakan materi-materi lagu beraliran garage rock hingga ditutupnya acara.

Entah saya perlu merasa miris atau tidak terhadap kondisi penonton yang sepi. Tapi dari pada mempedulikan hal semacam ini. Konsen acara ini lebih kepada memberikan ruang yang luas untuk para pemain band untuk menampilkan lagu-lagunya. Dan saya yakin, Heartcorner tidak akan berhenti untuk mengadakan acara semacam ini berulang kali, meski dengan sepi lagi dan sepi lagi. Justru ruang semacam ini yang jarang diisi oleh para event organizer, maka peran komunitas justru lebih signifikan untuk mengangkat talenta-talenta baru. Kalau ngundang band superstar ticketing, dengan sponsor mentereng dan menghasilkan profit, saya jelas tidak heran. Kalau udah ada sponsor besar dan tiketing tapi masih ngosak-ngosek duit buat menutup kerugian. Sponsor macam apa yang meminta namanya ditempel dimana-mana dan menyelenggarakan acara megah tapi tidak meng-cover seluruh biaya produksinya?. Itu lebih menggelikan daripada bikin acara gigs mandiri dengan tiketing dan sepi. Whats the difference? Peace y’all.!!!!