Good Morning, A Music Tour by Olski: Di Antara Buaian Nostalgia Indiepop dan Pemandangan Penonton-penonton Baru di Gig Heartcorner

Share

Akhir-akhir ini, akhir pekan di Purwokerto bukanlah hal yang menyenangkan jika tidak ada gig. Begitulah gig menjadi penyelamat setelah hampir setiap akhir pekan di April ini, selalu turun hujan. Terhitung sejak akhir pekan pasca lebaran, selalu saja terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang menganggu kegiatan akhir pekan. Akan tetapi, adanya gig nampaknya berhasil menyelamatkan pantat-pantat pemalas seperti penulis dari rutinitas -kalau hujan di rumah saja, selimutan sambil lempar opini di media sosial- Karena, terlihat sejak Local Fest dan Record Store Day (yang digelar di akhir pekan sebelumnya), hujan dengan intensitas tinggi bukanlah sebuah alasan untuk tidak hadir dalam kegiatan ben-benan. Begitu pula pada gelaran akhir pekan kali ini, 27 April 2024 yaitu Rusaliar 10th Anniversary dan yang berita reportase saya tulis, “Good Morning, A Music Tour by Olski” di WECOLD be anyone else Coffee, Kedungmalang.

Good Morning, A Music Tour by Olski” adalah rangkaian tur akhir pekan mandiri dari Olski, band indiepop/tweepop manis asal Yogyakarta dalam rangka memperkenalkan album baru mereka “Good Morning” dan sejauh ini sudah dua kota yang kebagian yaitu Malang dan Surabaya. Untuk kemudian dilanjutkan Purwokerto dan Solo. 

Berbicara mengenai Hujan, Purwokerto dan Olski, trio yang digawangi Febrina Claudya (Vokal), Shohih Febriansyah (Pianika/Glockenspiel) dan Dicki Mahardika (Gitar) nampaknya sudah cukup “berpengalaman”. Tercatat sudah dua kali mereka menyambangi Purwokerto, pertama saat menjadi bintang tamu di SMA N 2 Purwokerto, mereka harus apes gagal manggung karena acara dihentikan karena terjadi badai yang tidak memungkinkan acara terus berlanjut. Kedua di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman pun hujan turun sehingga terjadi keberjarakan antara penonton dan band. Pada gelaran ketiga ini, hujan kembali menyertai. Namun, tidak memberikan keapesan serupa penampilan Olski sebelumnya, hujan kali ini justru memberikan intimasi dan nuansa hangat sepanjang gig berlangsung. Sebuah keuntungan.

Gig kedua Heartcorner yang diadakan di WECOLD Coffee ini seharusnya dimulai pada pukul tujuh malam. Akan tetapi saya datang lebih awal karena dititipi beli rames untuk para the unsung hero alias Sound Crew. Dan setibanya di sana, hujan deras menyambar setelah awalnya malu-malu, atau mungkin, merujuk pada pengalaman yang disampaikan di atas, hujan besar di Purwokerto memang dasarnya satu paket dengan Olski yang sedang check sound. Sesuai SOP lah, pokoknya kalo riff Olski mulai berbunyi di Purwokerto, akan turun hujan, hahahaha. Krik~. 

Seperti biasa saya cukup optimis gig kali ini akan sepi seperti gig Heartcorner yang sebelum-sebelumnya, apalagi gig indiepop yang entah terakhir kapan digelar. Terlebih gig kali ini mengalami beberapa penyesuaian dan pengkondisian tempat dan alat karena hujan (meskipun digelar indoor). 

Setelah melewati berbagai kemungkinan-kemungkinan buruk, gig akhirnya dimulai pada jam setengah delapan malam tepat. Dibuka oleh MC Jijang Hehe, saya yang sejak persiapan gig terduduk di baris kedua sembari mendengarkan album baru Full Of Hell, Coagulated Bliss agar nampak seram dan sangar, cukup kaget saat menengok ke belakang karena banyak segerombolan anak muda, kebanyakan dedek-dedek berhijab dan beberapa pasangan muda mudi entah pacaran, mengajak gebetan menonton gig lucu atau malah kopdar akun alter. Pun, pertama kali pula dalam sejarah menonton gig besutan Heartcorner saya duduk di antara orang yang sama sekali asing. 

Setelah MC Jijang Hehe berbasa-basi sebentar sembari terbatuk-batuk dan terindikasi sedang mabar game online jika dilihat dari telepon genggamnya yang terus dipegang secara vertikal, akhirnya Reumina naik panggung. Ketika naik panggung mereka sukses mengecoh soundman yang sebelumnya hanya menyiapkan 4 channel karena termakan omongan sotak Farobi Eternal Desolator yang menjawab bahwa format Reumina adalah duo vokalis dan piano. Tetapi, ternyata tidak untuk gelaran kali ini! Band asal Banjarnegara tersebut memakai format dua keyboard, dua vokalis latar sekaligus gitar akustik. 

Usut punya usut, penampilan spesial mereka malam itu terkait dengan materi lagu-lagu baru yang akan mereka bawakan. Denting piano muram sukses membuat suasana yang khidmat, magis dan sendu terbangun seiring mencairnya lilin yang selalu menemani performa Reumina di panggung manapun. Rangkaian penampilan mereka ditutup dengan lagu baru yang berjudul ‘Alur’ yang nampak memaksimalkan format live terbaru mereka.

Saya sempat bertanya kepada Kemal selaku bapak skena kenapa indiepop manisnya perlu impor dari Banjernegara Gilar-gilar. Ternyata terjadi krisis musik indiepop/tweepop/folkpop entah yang karakter musiknya manis, ceria maupun suram di Purwokerto. Jadi, ayolah kawan pembaca, mari kembali ramaikan Purwokerto dengan genre-genre tersebut kembali atau kalian para bedroom musician anonim Purwokerto yang serupa, Hey, nongol!!!

Jijang Hehe, yang masih saja terbatuk-batuk dan memegang telepon genggamnya secara vertikal, sedikit lebih berani karena sudah ada asupan kolesom yang lewat di tenggorokannya. Ia mulai menginterogasi penonton di jeda pertunjukan. Sasaran utamanya tentu saja penonton yang datang  berpasangan. Selain itu ternyata kebanyakan penonton adalah mereka yang sudah menantikan penampilan Olski sejak Pensi SMA dan Kampus di atas. Dengan cepat saya menyimpulkan bahwa basis penggemar mereka cukup kuat di Purwokerto. 

Tiba saatnya Olksi mengambil alih stage dan memulai setnya dengan ‘Sepeda Senja’ Di situlah moment gigs hangat nan intimate yang sudah lama tidak saya rasakan saat kejayaan indiepop di Purwokerto, akhirnya kembali (sorry to say Jahilliyeah, kalo ke gig kalian vibesnya kayak ngaji karena branding kalian sendiri ye wkwkwkwk). 

Bebunyian Tweepop manis yang dibawakan Olksi bagi saya sudah cukup langka. Mati di Purwokerto pun di kancah nasional. Mungkin sudah mencapai level sukar dicari yang sebanding -di luar nama besar yang sudah ada seperti misal Mocca. Padahal lagu-lagu dengan karakter seperti mereka pernah berada pada puncak kejayaannya di era 2007-2009. Purwokerto pun punya kebanggaanya tersendiri kala waktu itu dengan Tunas Bangsa Symphony. Sehingga perasaan nostalgia semasa SMA mucul. Secara tidak sadar badan ikut bergoyang tipis dan pada akhirnya dengan sadar saya mengikuti koreografi simple bersama penonton lain pada lagu ‘Berlayar’. Menyenangkan!!!

Oke, saya mengakui bahwa sebelumnya sama sekali belum pernah mendengarkan Olski. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat saya kehilangan minat. Saya bahkan tidak melakukan jeda untuk keluar sejenak dari ruang AC menghisap rokok -walau anti sponsor rokok pada gig-, mimi harom, mendengarkan gibah-gibah skena. Selama Olski tampil saya sepenuhnya berada di dalam venue. Ketika mereka membawakan ‘Duduk Berdua’ saya dibuat ternganga karena hampir semua penonton sing along. Pemandangan yang lagi-lagi sangat langka untuk gig Heartcorner yang biasanya nol kompromi siapa penampilnya dan siapa penontonnya. Hingga akhirnya terjadi koor massal penonton yang diulang beberapa kali dan diabadikan dalam bentuk video oleh Olski

Tiba saatnya lagu terakhir dimainkan yang penonton sudah tau itu lagu apa, ‘Titik Dua & Bintang’ yang menurut Bg QQ Yearns adalah kode emot yang tidak pernah dia gunakan sebagai wota dan kolektor kode nuklir sejati. Justru saya yang tanpa sadar nyeletuk “…yahhh.” Celetukan tersebut ternyata dilakukan oleh penoton lain. Olski tidak dapat berbuat lebih banyak. Mereka hanya meminta maaf karena terbatas membawakan sepuluh lagu dan tidak bisa lebih karena gitarisnya berhalangan sehingga dibantu kru gitarnya (semoga mas Dicki lekas sembuh yaa!!!). Dan penonton pun kembali sing a long hingga usai. 

Berakhir sudah “Good Morning, A Music Tour by Olski” chapter Purwokerto. Berikutnya tentu saja diisi dengan sesi foto-foto dan alhamdulilah merchnya laris manis walau penontonnya masih malu-malu untuk meminta legalisir dan foto secara personal dengan personil dan perlu diarahkan. Hal tersebut membuat saya bertanya, apakah para penonton kali ini belum pernah ke DIY gig yang intimate? Yang tidak perlu menunjukkan KTP sebagai bukti sudah legal? Yang tidak ada keberjarakan antara penampil dan penonton dalam jurang pemisah antara backstage, barikade dan pengamanan penuh dari sponsor? Kalau memang demikian, sudah saatnya mereka mencicipi lebih banyak gig yang diselenggarakan oleh Heartcorner yang menyenangkan. Kalau ada satu-satunya yang tidak menyenangkan malam itu mungkin karena ada kejadian di mana ternyata biaya sewa sound < konsumsi kok. Lucu sekali!!! (RW)