Catatan dari Banjoemas Arts Festival


 (Teks oleh Gibransyah Putra)

3 Oktober 2020, pukul 14.57, sore itu tanpa basa-basi rekan saya, Anindya Ryadinugroho, meminta izin memakai lagu band saya, Surn, untuk digunakan sebagai lagu latar tarian kontemporer yang akan ditarikan oleh Rianto di acara Banjoemas Arts Festival. Sebelum menjawab saya masih merasakan dilema lagu mana yang akan dipakai. Antara “Dive” milik Surn atau ”Temper Tantrum” dari The Telephone. Saya tidak peduli lagu mana yang akan dipilih, karena kedua band tersebut adalah band saya juga. Mimpi apa semalam. Salah satu lagu dari 2 band saya ini akan ditarikan oleh Rianto, penari yang namanya sudah tidak usah diragukan lagi.

“Mau dipakai kapan, memangnya?”, tanya saya.

“Nanti malam. Nanti malam live”, jawab Anin.

Gila! Bukan saya meragukan kemampuan Rianto berimprovisasi. Saya hanya heran, untuk nama sebesar Rianto dan acara festival seni dengan membawa Banyumas di namanya, saya cuma memiliki waktu sependek itu.
Ah masa bodoh. Mau bagaimanapun teknisnya, yang penting salah satu lagu band saya bakal ditarikan oleh Rianto. Karena bakal dilangsungkan malam itu juga, saya meminta izin Anin untuk ikut melihat aksi Rianto. Kebetulan di acara tersebut Anin didapuk sebagai motion graphic artist & video mapping.

“Yaudah sini, bareng aja, setengah 6 berangkat dari rumah.”, ujar Anin.

Tanpa pikir panjang, karena waktu sudah lumayan mepet, saya bergegas ke rumah Anin. Sesampainya di sana, saya menunggu sebentar karena kabarnya ada yang mau ikut nebeng juga. Beberapa saat berselang, akhirnya datang juga yang ditunggu, Adan Fajar M atau lebih dikenal dengan nama Maruciel. Kebetulan dia adalah illustrator di acara ini. Waktu telah menunjukkan pukul 17.30. Kami pun berangkat bertiga menuju Pendopo Kecamatan Banyumas, tempat di mana acara ini akan dilangsungkan.

Sepanjang perjalanan saya dikagetkan dengan cerita kedua orang ini membicarakan bagaimana ketidak jelasan panitia. Mulai dari susunan acara yang tidak pasti, sampai jobdesk yang tidak jelas. Saya yang sebelumnya tidak begitu peduli dengan acara ini, menjadi tertarik karena obrolan tersebut. Jujur saja saya kurang informasi tentang acara ini. Entah kurangnya publikasi atau saya sendiri yang terlalu acuh. Tetapi setelah saya kulik informasi lebih dalam, ternyata acara ini tidak hanya diisi oleh Rianto. Tetapi beberapa nama besar berskala nasional seperti Garin Nugroho, Didik Nini Thowok, Eko Supriyanto, dan Sujiwo Tejo. Sebetulnya masih banyak lagi tetapi tidak bisa saya tulisakan satu persatu di sini.

Sungguh sebenarnya ini adalah acara yang menarik. Membawa Banyumas di nama acaranya, menyuguhkan deretan nama-nama mentereng, tetapi mengapa saya baru tahu ada acara macam ini? Kira-kira itulah pertanyaan yang menghantui sepanjang perjalanan menuju tempat dilangsungkannya acara.

Sesampainya di sana, kami disambut dengan backdrop properti video mapping yang belum terpasang. Ya!! kami bertiga, saya, Anin, & Maruciel terpaksa harus nukang dulu. Saya heran mengapa panitia setidak siap itu. Padahal hari ini acara berlangsung. Acara macam apa ini? Saya kira yang akan menyuguhkan kesenian kontemporer adalah Rianto saja. Ternyata panitia acara juga ikutan kontemporer & improvisasi total. Yang penting acaranya berjalan.

Singkat cerita, backdrop telah berdiri dengan dibantu oleh beberapa panitia. Sementara Anin yang dibantu oleh Maruciel mempersiapkan pertunjukkannya, saya mlipir saja menyimak talkshow yang sebentar lagi akan berlangsung.

Acara dengan tema “Sapa Eling Balia Maning” ini ternyata telah berlangsung sejak pukul 13.00 dengan beberapa segmen. Saat itu waktu menunjukkan pukul 19.00, segmen ketiga baru akan dimulai. Waktu yang cukup tepat untuk saya menyimak kegiatan yang akan berlangsung. Tentu saja, karena acara ini adalah siaran langsung di youtube, dua pembawa acara masuk menyapa pemirsa.

Di sesi tiga yang pertama ini kebetulan menampilkan film sendratari buatan Sanggar Wahyu Tri Doyo berjudul Sendratari “Slave of Love”. Karena di tempat acara tidak disediakan layar yang menampilkan film tersebut, saya mengambil telepon genggam, membuka aplikasi youtube, nonton live streaming di situ. Sebuah drama musikal yang ceritanya diangkat dari babad Pasir Luhur yang menurut saya cukup apik menjadi tontonan pertama petang itu.

Sejak saat itu saya jadi menyimak keduanya. Antara live youtube dengan acara di tempat tersebut. Belum ada yang ganjil memang, tapi dari sinilah nantinya saya lagi-lagi akan menemukan ketidak-siapan panitia. Setelah memutarkan film tersebut, perwakilan dari Sanggar Wahyu Tri Doyo yang memang sudah bersiap di samping panggung pun diundang untuk masuk ke dalam frame guna memulai talkshow. Ada sosok menarik dihadirkan melalui sambungan video call (via zoom atau apa gitu), yaitu Sujiwo Tejo. Di sini panitia dipusingkan dengan teknis audio yang tidak berjalan semestinya. Suara Sujiwo Tejo tidak terdengar. Pun Ia mengaku jika hanya mendengar gaungan suara yang bertumpuk dan tidak jelas. Ketika saya perhatikan di live youtube pun, malah lebih parah, tidak ada suaranya.

Saya sempat curi dengar, mungkin pemirsa yang menonton di youtube tidak mengetahui hal ini karena di youtube tidak ada suaranya. Tetapi di tempat berlangsungnya acara, terdengar jelas Sujiwo Tejo justru mengkritik teknis audio.

Hal ini terjadi di setiap sesi acara yang menampilkan panelis dengan sambungan jarak jauh. Tidak jelas, baik di tempat acara maupun di youtube. Tidak ada pembenahan yang signifikan. Bagi anda yang tidak hadir di tempat berlangsungnya acara mungkin bertanya-tanya, obrolan apakah yang terjadi semalam? Ya, di tempat acara terdengar jelas obrolan mereka. Rata-rata obrolan ada di seputar para panelis yang menyanjung maestro budaya Banyumas dan para seniman yang hadir menanyakan eksistensi mereka, serta ucapan terimakasih mereka kepada panitia yang masih peduli terhadap budaya Banyumasan.

Setelah talkshow bersama Sanggar Wahyu Tri Doyo, susunan acara berlanjut pada live performance oleh Lengger Lanang “Rumah Lengger”. Penampilan yang cukup memukau dari para legenda lengger lengkap dengan satu set gamelam yang dimainkan secara langsung. Tetapi lagi-lagi ada cacat. Acara yang peruntukannya adalah siaran langsung ini kembali dibanjiri protes oleh para pemirsa karena pertunjukan lengger dari Rumah Lengger ini tidak ada suaranya, mute, bagaikan nonton film bisu. Begitulah mungkin keadaan yang bisa saya gambarkan. Setelah menampilkan pertunjukan tari lengger, ada 2 panelis yang sudah tersambung. Kali ini Didi Nini Thowok lalu disambung dengan Nungki Kusumastuti. Keadaan tidak jauh berbeda dengan kondisi saat perbincangan dengan Sujiwo Tejo. Output suara tidak karuan.

Setelah berbincang dengan Rumah Lengger, Didi Nini Thowok, serta Nungki Kusumastuti. Sesi acara dilanjutkan dengan Dopokan bersama Tosan Aji-Besalen Sela Kyai, yang membahas tentang keris. Menurut saya, ini mungkin obrolan paling menarik. Selain sebagai pengamat klenik, perlu diketahui saya juga menjadi penasihat spiritual partikelir. Saat ini saya memiliki satu murid yang terbilang sangat patuh yaitu YBS. Acara dilanjutkan dengan tontonan dari Tari Baladewa Bulupitu Community, lalu sesi obrolan ditutup dengan lawakan Peang Penjol beserta panelis terakhir, Eko Supriyanto.

Setelah melewati rangkaian acara yang cukup panjang, akhirnya sesi yang dinanti pun tiba juga, penampilan tari kontemporer oleh Rianto. Saya dan Anin memutuskan untuk memilih “Temper Tantrum” milik The Telephone sebagai lagu pengiring penampilannya. Suara hujan dari intro lagu mengalun menuju bagian instrumental mengantar Rianto memasuki lantai tarinya. Ia meliak-liuk indah, sembari mengeluarkan aura magisnya. Merinding, tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana saat itu. Saya tidak pernah membayangkan hal demikian sebelumnya. Bagi saya semuanya terlalu liar. Saya dan Anin pun saling bertatapan, tidak ada kata yang terucap. Kami hanya bisa menyepakati bahwa pertunjukkan yang berlangsung 6 menit 55 detik itu sangat indah.

Setelah itu acara ditutup dengan closing statement oleh mas Rianto, Anin, dan Maruciel.
Waktu menunjukkan pukul 22.30. Kami harus segera kembali ke Purwokerto karena Anin dititipi susu untuk anak-anaknya. Tidak banyak perdebatan dalam perjalanan pulang. Kami bertiga sepertinya sepakat atas acara malam ini. Hal yang bisa saya apresiasi malam ini adalah kepedulian terhadap seniman senior seperti Rumah Lengger dan Peang Penjol. Di mana mereka sedang kesulitan dengan keadaan sekarang. Selain pandemi mereka dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka makin memudar. Hal itu dibuktikan dengan jarangnya ada acara yang mengundang mereka.

Sesampainya di rumah, saya harus melongo keheranan dan penuh tanya terhadap malam panjang yang baru saja saya alami ini. Acara macam apa ini? Sebagai warga Banyumas saya berhak mempertanyakannya. Mengingat acara ini menggunakan nama Banyumas di dalamnya. Sungguh absurd sekali. Tidak ada kata lain yang patutu dialamtkan kepada mereka selain “Saya harap kedepannya bisa lebih baik lagi”. (GP)

Previous Aamaga x Artmate Rilis Single Berjudul "Come and Find Me"
Next Dari Kota-Kota, Kesedihan, Hingga Dian Sastrowardoyo: Percakapan dengan Beni Satryo