Berjanji Setia Kepada Jurgen Habermas


Pembaca, apa kabar? Masihkah kalian menikmati sajian sederhana dari web kreatif kami beberapa bulan ini? Mewakili kawan-kawan yang berada dibalik layar web kreatif ini sudah barang tentu harapan saya adalah pembaca menjawab dengan jawaban “iya kami baik-baik saja dan kami menikmati sajian yang kalian sajikan”. Pembaca, pada editorial board edisi ketiga ini saya ingin membicarakan sebuah konsep yang pernah dikemukakan oleh pemikir yang saya sebut namanya dalam judul, ya Jurgen Habermas. Mungkin masih ada pembaca yang awam terhadap nama Jurgen Habermas, oleh karena itu dalam kapasitas tanggung jawab saya yang hendak bercerita ijinkanlah saya untuk menerangkan siapa itu Habermas dan apa konsep briliannya yang akan menjadi pokok bahasan saya pada editorial board kali ini.

Seperti banyak kita temukan di situs serba pintar namun rawan manipulasi, Wikipedia, Jurgen Habermas adalah pemikir yang berafiliasi dengan Frankfurt School, sebuah sekolah yang termashyur dengan pemikir-pemikir Post-Strukturalisme Karl Marx-nya. Habermas sendiri termashyur dengan konsep kesetaraan berpikir dalam ruang publik yang bertujuan untuk menemukan kesepakatan bersama yang dapat diakses oleh semua orang dalam lingkup pemikiran yang seragam maupun yang tidak seragam. Notasi besar Habermas dalam pemikiran di era post-modernisme saat ini adalah usahanya meyakinkan masyarakat luas bahwa post-modernisme adalah ilusi, sebab modernisme sendiri belum mencapai akhir dinamikanya. Habermas selalu berusaha meyakinkan bahwa masih banyak bangunan-bangunan modernisme yang belum usai dibangun dan dia masih sangat meyakini bahwa konsensus atau kesepakatan bersama masih dapat dicapai di era sekarang ini. Hal tersebut berbeda sekali dengan pandangan pemikir-pemikir post-modermisme yang beranggapan bahwa pada saat ini semua manusia dibebaskan menafsirkan simbol-simbol sesuai dengan kemampuan berpikir mereka, sehingga tidak lagi diperlukan dan tidak lagi dimungkinkan terjadinya  sebuah grand theorie berupa konsensus seperti yang terjadi pada era modernisme.

Untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan ini, aparat-aparat kroco itulah yang seharusnya mengakomodasi peran negara dalam penciptaan ruang publik, bukan malah mengerdilkannya

Pembaca, dari penjelasan singkat diatas saya ingin mengarahkan opini pembaca pada realitas di kota Purwokerto menurut pemikiran ruang publik Habermas yang kaitannya dengan tempat band-band-an (istilah untuk gigs dalam bahasa skena Purwokerto-red). Seperti kita ketahui bersama belakangan ini banyak acara band-band-an cutting edge di Purwokerto diadakan pada tempat yang cukup aneh. Aneh yang saya maksud disini adalah diadakan di tempat-tempat baru yang tadinya sama sekali tidak pernah terpikir buat dijadikan sebuah tempat band-band-an. Sejak keruntuhan gedung legendaris Soetedja, mau tidak mau tipologi gigs di purwokerto berubah dari gigs besar guna meraup massa atau penonton yang masif menjadi gigs yang tidak lagi berorientasi pada penonton yang berjumlah terlalu masif, namun lebih mengedepankan keintiman interaksi antara band dengan penontonnya. Tempat-tempat “aneh” inilah yang awalnya bisa menyajikan keintiman tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, birokrasi melalui aparatnya kembali memainkan peranan dalam upaya penyempitan ruang  publik alternatif dengan dalih ketertiban masyarakat. Hal yang entah secara sadar atau tidak sadar dilakukan aparat tanpa maksud yang jelas dan tidak beralasan ini sangat kontraproduktif dengan pemikiran Habermas, karena  menurut  saya penciptaan ruang publik sama saja dengan penciptaan ruang tempat berkumpul dan mengalirnya ide yang membutuhkan tanggung jawab campur tangan dari negara melalui penciptaan dan pelaksanaan kebijakan-kebijakan yuridis yang konkret. Untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan ini, aparat-aparat kroco itulah yang seharusnya mengakomodasi peran negara dalam penciptaan ruang publik, bukan malah mengerdilkannya. Dalam menghadapi tuntutan tersebut aparat tidak boleh berpikir sempit, karena ruang publik itu penciptaannya tidak semudah membangun taman kota, perpustakaan kota, atau infrastuktur kota lainnya (yang entah mengapa dengan mudahnya dilabeli sebagai ruang publik) yang sekadar ramai di awal namun minim ketepatan sasaran, pelestarian dan pengelolaann dalam pelaksanaannya. Ruang publik haruslah suatu ruang yang  merupakan hasil dari dinamika berpikir masyarakat yang mendiami suatu wilayah atau kota dan bentuk administatifnya tidak dapat diatur atau diseragamkan oleh aparat itu sendiri.

Pembaca, dengan penyajian kenyataan yang terjadi di Purwokerto ini kita sepertinya dipaksa untuk dengan sangat cerdas dan licin dalam menciptakan ruang publik-ruang publik kreatif yang lepas dari kepedulian aparat. Mungkin memang sudah seharusnya kita tidak perlu lagi dan tidak harus lagi bergantung pada kebijakan pemerintahan melalui aparatnya karena pada kenyataannya kita jauh lebih pintar dari mereka. Pembaca, mengerucut pada bagian kesimpulan yang berbicara mengenai kesulitan tempat buat band-bandan, saya sejujurnya mendedikasikan editorial board kali ini pada manusia-manusia pilihan yang entah sengaja atau tidak sengaja mampu benar-benar melaksanakan pemikiran Habermas mengenai penyediaan ruang publik yang berkualitas melalui cara-cara alternatif. Jujur saja saya sangat salut pada orang-orang yang mampu menyediakan ruang publik untuk menciptakan kesepakatan bersama bahwa dalam musik yang sudah kadung segmented ini,  masih ada ruang bagi musik yang lebih segmented lagi. Mereka dengan gigih menyediakan ruang publik sebagai tempat mengekspresikan diri bagi band-band segmented tersebut,  sehingga band-band tersebut akhirnya mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama berupa  “musik yang mereka bawakan atau ciptakan masih memiliki ruang untuk dikenal walaupun pada skala yang kecil dan tidak terlalu masif”. Sampai saat ini saya masih kerap berpikir, adakah manusia-manusia tersebut memahami betul atau bahkan khatam dengan diskursus-diskursus ruang publiknya Habermas? Atau mereka berada pada tataran yang lebih hebat lagi dengan tidak banyak berkata-kata tapi dengan tindakan konkret melaksanakan pesan Habermas? Sampai saat ini saya belum menemukan jawaban yang empiris.

Pembaca, kiranya sekian editorial board kali ini. Saya berharap tulisan saya kali ini dapat memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin pembaca alami selama ini mengenai ruang publik, meskipun tulisan ini belum menyediakan jawaban bagi pembaca yang mengalami kesulitan yang sama dengan manusia-manusia diatas dalam menciptakan tempat band-bandan. Lebih jauh kedepan seperti yang sudah-sudah apabila pembaca tertarik untuk bekerja sama dengan manusia-manusia yang saya sebut namanya diatas dalam menciptakan ruang publik untuk mengekspresikan band-band cutting edge baru, maka datanglah tak perlu sungkan. Mari bersama menciptakan ruang publik yang berdinamika tinggi, bermutu dan yang terpenting mari bantu manusia-manusia diatas menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang kerap mereka lontarkan “Arep band-bandan neng ndi ya? Masa studio gigs maning?” (mau bikin acara band dimana ya? masa studio gigs lagi?). Selamat membaca pembaca, salam. (WR)

Previous Paris In The Making & ANECHOIS Polymorphous Tour
Next Parade Band Terbaik 2014