Seperti Menonton Film yang Penuh Ost.-Ost. saat Membaca Amigdala (Perjalanan Merepresi Memori)


“Hidup adalah tentang bagaimana kamu menghadapi kegagalan dari sekian banyak rencana yang telah kamu susun sedemikian rupa. Hidup adalah tentang bagaimana kamu menghadapi ketakutan tentang segala ketidakpastian dan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang bisa kapan saja terjadi.”

Beberapa larik di atas merupakan kalimat yang tersusun dan tercantum pada cover belakang buku Amigdala (Perjalanan Merepresi Memori). Ditulis oleh seorang penyintas kekerasan dalam rumah tangga yang lebih suka memperkenalkan dirinya dengan nama Ega MpokGaga. Secara definitif Amigdala dipercayai merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi.

Buku ini merupakan bagian pertama dari trilogi semesta Amigdala, sembari menunggu kisah selanjutnya dari sesi kedua dan ketiga Amigdala ini keluar saya akan memberi ulasan singkat ala kadarnya untuk buku Amigdala yang baru dirilis Februari 2020 lalu.

Minggu lalu saya mendapat mandat untuk melakukan ulasan buku ini dari seorang penyintas kesendirian sebut saja inisialnya KFR. Tidak terlalu lama waktu untuk menghabiskan buku ini, saya hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 hari untuk menyelesaikan sesi pertama Amigdala ini. Di samping karena penggunaan bahasa yang ringan, bahasa sehari-hari (khas Ibukota) dan cukup mudah dipahami, alur cerita dengan sistem plotting yang cukup menarik juga mempermudah pembaca untuk menyelesaikan buku ini dalam dua tiga kali duduk apalagi untuk pengangguran seperti saya.

Secara garis besar, Amigdala (Perjalanan Merepresi Memori) ini menceritakan kisah tokoh utama yang bernama Ishtar dalam menjalani kehidupan pasca mengalami kejadian kekerasan dalam rumah tangga yang ia dapatkan dari mantan suaminya. Perlakuan yang dialaminya ini memberi dampak yang cukup masif terhadap kehidupan sehari-hari. Mulai dari segala urusan nya dengan psikolog dan psikiater demi melepas memori buruk yang mengganggunya sampai dalam perkara kisah keberlanjutan asmaranya.

Bentuk dan kejadian kekerasan dalam rumah tangga ini di bungkus dalam balutan kisah fiksi dan dirangkai dalam 27 bagian yang terdapat di buku. Plot dan skema alur dalam cerita Amigdala sesi pertama ini cukup menarik guna memaksimalkan kinerja otak pembacanya karena menyajikan potongan-potongan kronologi secara terpisah dan cukup acak.

Namun tidak perlu khawatir untuk kebingungan menyusun alur cerita secara linear karena penulis membuat sarana “pengulangan” dari sebuah potongan momentum menjadi dua sudut pandang yang berbeda dalam satu garis waktu sebagai medium memperkuat cerita dan emosi yang ingin disampaikan.

Sebagai contoh adalah dalam sebuah situasi ketika tokoh Ishtar bertemu dengan tokoh Mike. Dalam sebuah momentum dirangkai lengkap dengan dialog dan narasi dalam beberapa halaman dengan sudut pandang Ishtar sebagai tokoh utama. Setelah itu cerita ditimpal dengan kronologi selanjutnya yang berurutan lalu kembali ke dalam cerita pertemuan Ishtar dan Mike dari sudut pandang Mike.

Balutan fiksi yang dimulai dengan kedekatan jarak dengan realitas (kesepertihidupan/lifelikeness) yang cukup berhimpit ini membuat saya beberapa kali memicingkan sebelah mata dan mengangkat satu alis di belahan mata lainnya. Teknik penceritaan yang sangat mengalir ini justru membuat beberapa hal yang cukup jauh terkesan dengan tergesa-gesa dihubungkan dan dirangkai menjadi benang-benang gagasan yang saling bertabrakan satu sama lain.Contohnya adalah proses pertemuan dan relasi antar tokoh yang terbangun ataupun yang sengaja digali dalam cerita ini.

Terlebih lagi bagian-bagian tersebut merupakan bagian yang memiliki unsur tingkat emosi cukup tinggi karena berorientasi dalam masalah romansa tokoh-tokoh yang ada di dalam buku. Mungkin 334 halaman dalam Amigdala ( Perjalanan Merepresi Memori ) pertama ini belum cukup untuk membuat hal-hal yang ada di dalamnya menjadi lebih tergambarkan dengan gamblang, melihat konten cerita dan gagasan yang diangkat lumayan berat dan kompleks.

Selain menonjolkan sisi gelap dari kekerasan rumah tangga di usia muda dan bentuk diskriminasi gender yang kasusnya sampai saat ini masih terus bertumbuh. Buku ini juga dipenuhi dengan sistem konvensi percintaan dengan segala carut marut problem khas kota besar yang ada di dalamnya. Mulai dari gaya hidup, cara berkomunikasi, hingga budaya yang ditampilkan dalam buku ini sangat relevan dengan kemasan keseharian Ibu Kota.

Namun kembali lagi hal tersebut pada akhirnya menjadi kuasa pengarang untuk menggambarkan dan menghubungkan relasi antar tokoh. Pun kisah perjalanan merepresi memori Ishtar belum selesai dan masih menunggu bagaimana kelanjutan kisahnya di edisi kedua dan ketiga dari trilogi Amigdala ini.

Yang membuat imajinasi saya sebagai pembaca lebih ditarik masuk lagi kedalam suasana cerita yaitu penempatan kutipan-kutipan lirik lagu yang cukup banyak tersebar di kolom-kolom cerita. Hal tersebut cukup menggiring saya sebagai pembaca untuk membayangkan ilustrasi kejadian lengkap beserta bunyian latar belakang dengan lirik lagu yang terpampang di dalam teks.

Membaca buku ini menjadi pengalaman yang cukup menarik bagi saya sebagai penikmat musik lintas aliran, mulai dari musik sedih sampai dengan musik syaiton. Suguhan penggalan-penggalan lirik di beberapa kolom cerita merangsang otak, membuat pengalaman layaknya menonton film yang penuh dengan Ost.-ost. Bagian teks berubah menjadi adegan yang terbayang dengan begitu rinci ketika saya membaca sambil membayangkan kutipan latar lagu yang diputar di kepala.

Penggunaan medium penggalan lirik lagu merupakan sarana yang jarang saya temui dalam membangun emosi ketika membaca novel atau teks lain nya. Bagi saya membaca Amigdala ini serasa dibawa layaknya menonton film. Contohnya seperti film Janji Joni yang memiliki banyak selipan Original Soundtrack band-band dengan genre yang beragam dalam menghadirkan emosi suasana tertentu.

Saya ingat adegan ending dimana Konservatifnya The Adams dimainkan di akhir cerita setelah Angelique meminta Joni untuk memutar rol film terakhir karena Joni yang telat. Kira-kira hampir serupa pengalaman yang saya rasakan ketika membaca apabila membandingkan nya dengan sebuah film, ilustrasi suasana, mimik dan gerak-gerik tokoh menjadi lebih rinci terbayang dalam kepala. Sungguh menyenangkan merasakan pengalaman baru dalam membaca sebuah buku.

Berikut merupakan daftar lagu yang liriknya terselip pada beberapa momentum dengan kebutuhan emosi khusus di dalam buku. Saya merekomendasikan untuk mendengarkan beberapa lagu tersebut sembari membaca buku ini, atau bahkan bisa dibuat playlist Amigdala ( Perjalanan Merepresi Memori ) sendiri untuk menemani membaca buku ini. Buku ini bisa menjadi sarana untuk menambah literasi dan juga referensi bagi antum-antum yang gemar mendengarkan musik.
1. Come in my kitchen – Robert Johnson hal. 36
2. King of Sorrow – sade hal. 47
3. Over My Head (Cable Car) – the fray hal. 58
4. In My Own Tears – Ray Charles hal. 78
5. Love Lost – Temper Trap hal. 132
6. P.D.A. (We Just Don’t Care) – John Legend hal. 155
7. Ain’t That a Bitch – Aerosmith hal. 165-166
8. Rangkum – Polkawars hal. 175
9. Secret Garden – Bruce Springsteen hal. 185
10. The Space Between – Dave Mathew Band hal. 186
11. John Hiatt hal. 206
12. Everything is Allright – Justin Pierre (Motion City Soundtrack) hal. 211
13. Bad – U2 hal. 218-219
14. Mengunci Ingatan – Barasuara hal. 269
15. Gotten – Slash ft. Adam Levine hal. 272
16. Kunto Aji – Pilu Membiru hal. 275
17. Holocene – Bon Iver hal. 295
18. Heartbrake warfare – John Mayer hal. 303
19. U got it bad – Usher hal. 307
20. Sementara – Float hal. 328 (FF)

Previous N.O.K.37 Rilis Single Dan Video Klip Berjudul Frasa Klausa
Next Tamago Mempersembahkan Single Terbaru, Five Past One