Sajama Cut – Godsigma


Artis: Sajama Cut | Album: Godsigma | Label: The Bronze Medal Recording. Co| Tahun: 2020 | Genre: Alternative/Pop

 

I

Di latar sebuah museum seni modern terpampang poster besar berlatar dominasi warna biru. Gambarnya adalah dua tangan yang saling menggenggam. Satunya tangan orang dewasa sedang satunya tangan anak kecil. Huruf-huruf tegas berwarna merah disusun dalam sesuatu yang terbaca menjadi Godsigma.

Dua orang tampak mengamati poster tersebut. Mereka saling menatap dan memutuskan untuk masuk ke dalam pertunjukkan di museum seni modern tersebut. Beberapa langkah setelah masuk, mereka dihadapkan pada dua buah pintu. Pintu pertama bertuliskan “tersenyum” dan pintu kedua bertuliskan “mengernyit”. Mereka kembali saling menatap. Masing-masing memilih pintu yang berbeda.

Di dalam kedua ruangan tersebut ternyata tidak ada satupun yang terpajang. Hanya tergelar ruangan putih tanpa kombinasi warna apapun. Pengalaman datang dari instalasi suara-suara yang tersusun menjadi 9 komposisi.

II

Komposisi pertama adalah “Adegan Ranjang”. Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum “Semua senang, kan datang kusarankan kulum kembali”. Ia merasa rasa cintanya yang paling liar terwakilkan oleh suara tersebut.

Komposisi kedua adalah “Kesadaran/Pemberian”. Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum kembali kedua kalinya “Oh damai kapan kau pulang?”. Ia merasa menerima pemberian penuh kesadaran atas bencana-bencana yang selama ini menjadi teman baik sepanjang hidupnya.

Komposisi ketiga adalah “Menggenggam Dunia”. Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum kembali ketiga kalinya “Berdisko ria di Vihara”. Ia merasa mampu menggenggam dunia melampaui keinginan-keinginannya yang mejan sehari-hari.

Komposisi keempat adalah “Rachaminoff” Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum kembali keempat kalinya “Aku akan pulang kerja, dua tiga abad lagi”. Ia merasa rentang waktu itulah yang menggambarkan bagaimana ia akan sungguh-sungguh pulang dari kesehariannya yang tertimpa tangga korporat. Komposisi ini merupakan kesukaannya.

Komposisi kelima adalah “Lukisan Plaza Selamanya”. Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum kembali kelima kalinya. Ia merasa bisa melihat kecantikan Leslie Cheung dalam Happy Together di dalamnya. Lagi dan lagi. Berharap ia selalu membutuhkannya.

Komposisi keenam adalah “Lautan yang Memeluk Cermin”. Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum kembali keenam  kalinya. Ia merasa ada yang mewakilinya ketika tertimpa celaka seumur hidup menikahi cermin usang.

Komposisi ketujuh adalah “Katedral Tiongkok”. Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum kembali ketujuh kalinya. Ia merasa menemukan tempat memanjatkan doa yang tepat di sana.

Komposisi kedelapan adalah “Tekstur Kulit”. Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum kembali kedelapan kalinya. Ia merasa bisa mengabarkan pada teman-temannya bahwa ia telah berselancar di lekuk tubuh perempuan kaya yang molek. Mengecupi tiap inci tubuh yang terbalut kulit serupa porselen. Dan meninggalkan jejak kepuasannya di manapun.

Komposisi terakhir adalah “Terbaring di Pundak Pesawat”. Di dalamnya terdapat suara yang membuat orang pertama tersenyum terakhir kalinya. Ia merasa merasakan perasaan tak bernama di antara bahagia dan kesedihan. Seinci dari pintu keluar ia merapalkan pertanyaan “Siapa yang akan datang? Siapa yang akan pulang?”

Ia keluar dari ruangan itu dengan menyajikan ekspresi yang terpampang di pintu masuk. Tersenyum.

III

Di ruangan sebelahnya, yang meyajikan semua hal yang sama, orang kedua berada dalam limbo. Ia tak menemukan satupun adegan ranjang. Ia tak menemukan sedikitpun kilasan wajah cantik Leslie Cheung. Ia tidak merasakah bahagia juga sedih. Ia memercepat langkahnya menuju pintu keluar.

Ia keluar dari  ruangan itu dengan menyajikan ekspresi yang terpampang di pintu masuk. Mengernyit.

IV

Kisah di atas adalah kisah membual yang dijadikan sekadar ilustrasi belaka. Tujuan dibuatnya adalah agar pembacanya tidak terjebak dalam predikat hitam putih yang kadung disematkan pada hal apapun. Musik ini baik karena demikian, band itu buruk karena suatu hal, dan lirik mereka baik karena melibatkan tata bahasa kelas tinggi. Tidak melulu demikian.

Kebanyakan tulisan sebelum tulisan ini telah sepakat untuk menganggap bahwa Godsigma adalah salah satu album rilisan lokal terbaik di 2020 yang terkutuk kemarin. Tulisan ini tidak hendak menggugatnya. Tulisan ini hanya hendak menghadirkan alasan lain mengapa Godsigma menjadi album yang baik.

Yang menjadikan Godsigma album yang baik adalah karena kemampuan mereka untuk menciptakan ruang-ruang yang sangat demokratis untuk menikmati sebuah karya musik. Karena di dalamnya susunan kata yang membentuk lirik dibiarkan tidak beraturan, mereka tidak kemudian memaksa pendengarnya menghadirkan dan menghasilkan impresi tunggal atas lirik-lirik tersebut. Sebaliknya, mereka meyediakan dua hal yang diilustrasikan melalui kisah bualan di atas. Orang bebas tersenyum karena tergelitik dan terwakili melalui absurditas yang porak-poranda. Orang juga bebas mengernyitkan dahinya karena tidak menemukan satupun kata yang disusun berdasarkan tata bahasa yang lazim.

Hal-hal yang terlampau tunggal dan bersifat didaktis seharusnya menjadi tempat yang membosankan dalam sebuah karya musik. Lirik dan musik sebagai sebuah kesatuan seharusnya merupakan ruang yang luas bagi segala penafsiran. Entah ngawur maupun pseudo-saintifik. Lagi pula, kalau seseorang ngotot bahwa lirik dan musik itu harus selalu bermakna tunggal, Tuhan mana yang menurunkan nubuat kitab sucinya dalam bentuk lirik dan musik? (WR)

Previous Menikmati Liburan Dengan "Lemon Tea, Grace" Dari Hurier Maples
Next Kisah Kotak Pandora yang Menggoda Dari The Melting Minds Lewat Single Perdana "The Snake"