Hands Upon Salvation – Heresy


Artist: Hands Upon Salvation | Album: Heresy | Genre: Metalcore | Label: Diorama Records | Tahun: 2018

“Hands Upon Salvation merilis Heresy pada waktu yang tepat dimana narasi arus utama Hardcore Beatdown mulai runtuh perlahan dengan tidak meninggalkan satupun album esensial”

Dalam setiap hal semuanya terbagi dalam dua narasi: Mayoritas-Minoritas, Arus Utama-Arus Pinggir. Keadaan kontemporer kehidupan kita membuktikan premis tersebut. Mari saya ambilkan contoh melalui dua hal: kepercayaan dan musik.

Dalam narasi kepercayaan selalu terdapat sematan kepercayaan mayoritas. Ia berdampingan dengan kepercayaan minoritas. Sedangkan dalam musik pembagian narasi tersebut bekerja membuat musik terbagi dalam istilah mainstream dan cutting edge. Pembagian narasi menghasilkan predikat kafir dan penebar bid’ah bagi tiap-tiap hal yang berada di luar mayoritas atau arus utama.

Dalam ranah cutting edge yang sebenarnya sudah merupakan hal minoritas, narasi pembagian tersebut pada kenyataannya masih bekerja. Album dalam tulisan ini akan menjadi contohnya.

Hands Upon Salvation, selanjutnya dalam tulisan ini akan disingkat menjadi HUS, adalah sebuah band yang tumbuh berkembang dalam habitat Hardcore yang pekat. Namun, kenyataan tersebut tidak membuat mereka menjadi entitas yang patuh terhadap patron-patron yang terbangun dalam narasi arus utama hardcore.

Dalam arus utama hardcore, patron-patron narasi yang diajukan berkutat seputar semangat-semangat komunal, machismo, dan kehidupan jalanan semi ghetto. Ketiganya kerap tertuang dalam penulisan lirik dan fashion. Meskipun sudah lama dicetuskan menjadi patron resmi berkat kesepakatan yang diulang-ulang, ketiganya baru terlihat menjadi patron wajib band-band hardcore yang muncul di awal 2010an berkat amplifikasi sosial media. Sebagai band yang tumbuh besar dalam lingkungan hardcore yang pekat, HUS sama sekali tidak pernah menyentuh ketiga narasi utama tersebut. Mereka lebih memilih  menginterpetasi ketiganya, kalau bukan malah cenderung  menjauhinya.

Amplifikasi sosial media yang membuat hardcore serupa bahasa seragam yang melahirkan Hardcore beatdown di awal 2010an. Keseragaman tersebut akhirnya runtuh pada sekitar tahun 2017. Orang-orang mulai jengah dengan hal yang begitu-begitu saja dan parahnya hal terebut  tidak menghasilkan satupun album yang cukup esensial, paling tidak bagi saya.

Entah berkaitan atau tidak, ketika HUS merilis album terbaru bertajuk Heresy, mereka seperti tengah memerlihatkan otokritik sepaham dengan apa yang dikemukakan pada paragraf-paragraf di atas sekaligus menandai rekam jejak perjalanan mereka dalam memertahankan diri.

Dengan tidak pernah menyentuh narasi utama dalam hardcore, HUS sesungguhnya serupa para kafir. Mereka tak pernah mendapat tempat untuk teramplifikasi. Dan tentu saja apa yang mereka bicarakan dalam albumya adalah bid’ah. Setelah sekian lama memahami hal-hal tersebut merupakan keputusan yang sangat besar bagi mereka untuk akhirnya merilis album bertema secara eksplisit untuk pertama kalinya.

Heresy berisi 9 lagu dan satu cover version. Seluruh lagu yang ditulis oleh HUS bergerak dalam satu tema yang sama; cerita para kafir yang menebar atau menghasilkan bid’ah terhadap narasi-narasi utama. Heresy menyuguhkan antologi cerita dengan kandungan metafor-metafor yang sangat baik di sekujur liriknya. Mulai dari nomor pembuka “Flames of Discontent” yang menceritakan Euromaidan Revolution di Ukraina sampai nomor penutup “We Came From The Sky” yang bercerita tentang epos invasi kehidupan ekstraterestrial di bumi seperti menekankan bahwa album ini adalah kompilasi perjalanan panjang para penyebar bid’ah yang ada sebelum mereka menjadi penyebar bid’ah-bid’ah dalam Hardcore.

Sebuah metode yang patut diapresiasi adalah bagaimana mereka menyertakan satu cover version dari Liar yang sesungguhnya tak berbeda dari mereka: penebar ajaran bid’ah bernama H8000. Metode tersebut merupakan cara yang sangat baik untuk memerkenalkan sekaligus menjadi rujukan bagi para peminat bid’ah dalam hardcore, karena Liar dan skena H8000nya serupa Rasul sekaligus situs sakral yang membuat HUS terjangkit ajaran yang dibawanya.

Tema-tema dalam Heresy tentu saja tidak ada kaitannya dengan semangat-semangat komunal, machismo, dan kehidupan jalanan semi ghetto yang ditetapkan sebagai patron narasi Hardcore. Sebaliknya album ini mengandung lirik dengan tema nihilisme, anti-machismo, dan anxiety yang akhirnya menyemen predikat  HUS sebagai salah satu penebar bid’ah dalam Hardcore.

*

Dalam album Entity yang merupakan rilisan terakhir sebelum Heresy, HUS menutup album tersebut dengan eulogy berjudul “Chapter 2: Grey”. Mereka seperti memberikan pertanda bahwa suatu hari mereka akan menunjukkan diri siapa mereka sebenarnya; si abu-abu yang hidup sekaligus menentang sebuah dunia bersamaan. Pertanda tersebut akhirnya menjadi kenyataan dalam Entity. Sedangkan dunia yang dimaksud, merujuk dalam paragraf yang disusun dalam tulisan ini, tentu saja Hardcore.

Berbeda dengan Entity, Heresy tidak menutup dirinya melalui nomor terakhirnya, “We Came From the Sky”, karena album ini bukan merupakan album yang akan selesai dalam artian masih banyak kisah penebar bid’ah yang belum terkompilasi dan masih bisa dikembangkan dalam tema yang lebih luas. Saya yakin suatu hari HUS akan melanjutkan proyek antologi para penebar bid’ah ini.

Maka, alih-alih menutup album ini dengan sebuah nomor, mereka dengan sangat brilian memilih menutupnya dengan sebuah kutipan mashyur milik Albert Camus “Blessed are the heart can bend, they never broken“. HUS tengah menyatakan bahwa mereka tidak pernah patah karena merupakan entitas bengal lagi  fleksibel yang mampu bertahan dalam keadaan seperti apapun. Sebagai buktinya mereka mampu merilis album ini pada waktu yang tepat dimana narasi arus utama Hardcore Beatdown mulai runtuh perlahan dengan tidak meninggalkan satupun album esensial.

(WR)

Previous PRESS RELEASE : REDAM - USELESS
Next PRES RILIS : ALBUM LVMINTV IKSAN SKUTER