Goddess Of Fate – Spiral Orchard Pt. I


Artist: Goddess Of Fate | Album: Spiral Orchard Pt. I | Genre: Progressive | Label: Narcoleptica Production | Tahun: 2018

Dalam setiap kritik tidak ada satupun situs agregator yang secara bulat memberikan nilai 100. Ada banyak hal yang dimunculkan untuk dijadikan faktor pengurang bahkan untuk karya yang begitu baiknya.”

Setelah merilis A Reversal Of Civilization pada tahun 2011, Goddess Of Fate, yang selanjutnya dalam tulisan ini akan disingkat menjadi GOF, memutuskan untuk berhiatus untuk waktu yang tidak ditentukan. Keputusan itu tidak benar-benar menghentikan proses kreatif dari para personelnya. Karena ketika berhiatus, mereka tetap membuat beberapa projek serius seperti Cloudburst.

Pada akhir 2017 dalam sebuah tautan facebook, mereka memutuskan untuk memutus hiatus mereka melalui sebuah pernyataan tegas: single yang berjudul “The String’s Eclipse”. Pernyataan tersebut menandai babak baru dalam perjalanan GOF, mereka bangkit kembali dan mengoperasikan metode baru untuk memaknai kata progressive.

Pernyataan mereka akhirnya dilanjutkan dalam sebuah album yang berjudul “Spiral Orchard Pt. I” yang bernasib tidak terlalu beruntung karena molor dari jadwal rilis yang ditentukan. Meskipun demikian, album tersebut merupakan album yang menarik untuk ditunggu dan disimak dengan baik merujuk pada apa yang dikemukakan pada paragraf sebelumnya: mengoperasikan metode baru untuk memaknai kata progressive.

“Spiral Orchard Pt. I” adalah salah satu album yang mengoperasikan metode baru. Album ini mampu membuat saya mengalami pengalaman sinematik.

Dalam pengalaman mendengarkan musik, pengalaman-pengalaman demikian biasanya dihadirkan oleh band-band progressive yang sengaja menyusun albumnya dalam satu tema besar. Mari saya ceritakan bagaimana album sebuah band prog memberikan pengalaman sinematik melalui dua contoh album.

Contoh pertama adalah Yes dalam album “Close To The Edge”. Album tersebut bagi saya memberikan pengalaman sinematik bagaimana manusia mencari hal-hal baru seperti yang tergambar dalam berserakannya film-film bertema sci-fi pada tahun album tersebut dirilis. Sedikit bantuan psikadelia dalam “Lucifer Rising” mungkin akan membantu pembaca untuk mendapatkan gambaran sinematik secara utuh dalam album tersebut.

Contoh kedua datang dari album Between The Buried and Me yang membuat saya memutuskan untuk berhenti mengikuti eksplorasi mereka sampai hari ini, “The Great Misdirect”. Album tersebut mampu memberikan gambaran sinematik yang membentang luas dari genre sci-fi kelas B sampai thriller yang dihadirkan oleh mahluk-mahluk asing. Paduan “Videodrome” karya David Cronenberg dan “The Thing” milik master of horror John Carpenter merupakan hal paling tepat untuk mewakili album tersebut.

Tidak sampai di situ, album ini juga memberikan cetak biru bagaimana sebuah album yang hendak memberikan pengalaman sinematik pada pendengarnya disusun dalam dramaturgi melalui penyusunan urutan tensi nomor dalam album.

“Spiral Orchard Pt. I” memberikan gambaran sinematik yang berbeda dari dua contoh di atas. Meskipun mereka berutang banyak pada cetak biru yang dipresentasikan oleh “The Great Misdirect”, album tersebut memiliki caranya sendiri untuk bercerita.

Pengalaman sinematik dalam album tersebut dibuka melalui “Aromantic Pt.I”. Nomor tersebut semacam dendang seorang peziarah yang hendak menemukan tanah baru. Kilasan sinematik dalam “2001: A Space Odyssey” muncul ketika saya menyimak nomor tersebut.

Kilasan “2001: A Space Odyssey” dilanjutkan dengan permaianan tensi pada nomor “Bipolar Elixir” dan “The String’s Eclipse”. “Aromantic Pt.II” menjadi penurun tensi sekaligus penanda bahwa album ini akan memberikan kilasan sinematik yang berbeda lagi.

“Limbo” dan “Discovery” merupakan nomor pivot yang menandai perubahan kilasan siemantik. Dua nomor tersebut menghadirkan kilasan sinematik berupa kehampaan dalam masterpiece berjudul “Event Horizon”. Selain sebagai penanda dalam album, keduanya merupakan nomor favorit saya karena bekerja dalam cara saling melengkapi: untuk tersesat dan menemukan jalan kembali.

“Enshrouded in Crystals” merupakan nomor paling melankolis dalam album ini. Nomor ini adalah semacam retrospeksi dari apa yang diputuskan pada keseluruhan album ini: untuk menjadi seorang peziarah yang meninggalkan semuanya di belakang. Melankoli dalam nomor tersebut ditutup dengan “Pillar Of Autumn”. Sebuah ratapan yang memberikan kilasan sinematik di mana Ikari Shinji tengah meratapi Akibat Keempat di atas reruntuhan Stasiun Dogma.

Sebuah album yang mampu memberikan bentangan kilasan sinematik sebegitu luas pasti bukan merupakan album yang buruk.

*

Beberapa hari sebelum memutuskan untuk menyicil tulisan ini saya berbalas pesan dengan pemain bass Goddess Of Fate. Saya menanyakan perihal acara peluncuran album mereka. Pembahasan berubah menjadi panjang lebar ketika kami sampai di sebuah pertanyaan: apakah mereka memainkan seluruh setlist dalam “Spiral Orchard Pt. I” dan memainkannya sama persis dengan apa yang ada di album?

Si pemain bass menjawab bahwa progressive, dalam ranah musik, adalah progresi yang melibatkan emosi. Emosi tentu saja tidak pernah berada dalam takaran yang sama dalam hal apapun. Takaran ketika berada dalam studio untuk menulis dan berdebat dan merampungkan album ini pasti berbeda dengan takaran emosi ketika berada di panggung. Selama masih dalam taraf improvisasi yang wajar dan masuk akal, tidak ada salahnya untuk tidak bermain sama persis seperti apa yang terrekam dalam album.

Jawabannya memberikan satu lagi metode baru untuk memaknai kata progressive selain melalui pengalaman sinematik yang ditulis di atas. Bagi saya, apa yang hendak dikemukakannya dapat disimpulkan dalam kalimat “ia ingin mengajak pendengarnya mengalami progresi emosi dalam album dan dalam pertunjukan langsung. Karena keduanya merupakan hal yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang tidak sama”.

Sebuah album yang mampu memberikan bentangan kilasan sinematik sebegitu luas  dan mampu mengaitkannya dengan progresi emosi pasti bukan merupakan album yang buruk.

Pertanyaan yang diajukan sesungguhnya sesuatu yang konyol. Tapi mau tidak mau, pertanyaan semacam itu harus diajukan karena dalam setiap kritik tidak ada satupun situs agregator yang secara bulat memberikan nilai 100. Ada banyak hal yang dimunculkan untuk dijadikan faktor pengurang bahkan untuk karya yang begitu baiknya. Dan pertanyaan tersebut adalah salah satu contoh kecil yang harus mereka hadapi berkali-kali.

Previous Grrl gang Not Sad, Not Fulfilled Tour : Gejolak Cinta Kawula Muda
Next Bunker - Sunburn Press Release