Cloudburst – S/T


Artist: Cloudburst | Album: S/T | Genre: Metallic Hardcore | Label: Samstrong Records | Tahun: 2018

Dalam setiap film gelut, mulai dari yang bergenre wu xia, sampai yang bergenre gelut jalanan, selalu ditemukan narasi bahwa suatu hari terdapat seorang murid yang sukses menyamai kemampuan gurunya.”

Pai Mei terlihat mengarahkan pandangan menyepelekan kepada seorang perempuan berambut pirang yang berlutut di hadapannya. Sesaat setelah si perempuan itu memohon kepadanya untuk diangkat menjadi murid, ia tidak dapat memberikan balasan apapun selain pandangan menyepelekan. Ia memerintahkan pada si perempuan untuk memilih senjatanya dan menghadapinya dengan segenap kemampuan. Si perempuan pontang-panting bahkan hampir mati. Ia dipaksa untuk memohon dengan merendahkan diri untuk diangkat menjadi muridnya.

Setelah menjalani latihan fisik yang berat. Jurus mematikan pertama yang diperlihatkan Pai Mei kepadanya adalah pukulan satu inci. Pukulan tersebut dikatakannya merupakan jurus yang sangat esensial ketika suatu saat nanti ia melakukan pertarungan jarak dekat yang memangkas kesempatan untuk berpikir panjang. Usaha pertama si perempuan berambut pirang gagal total. Bahkan hingga beberapa kali percobaan. Tidak ada peningkatan yang dialaminya selain tangannya yang hampir hancur dan latihan yang terbawa sampai ke dalam mimpi.

Adegan tersebut ternyata hanya sebuah kilas balik. Sekarang si perempuan berambut pirang tengah berada di dalam  peti mati yang mengurungnya di kedalaman kuburan bernisan Paula Schulz. Sekuat tenaga ia berusaha meremukkan satu bagian peti mati yang berjarak tidak lebih dari 20 centimeter di hadapannya. Itu adalah pertama kali ia merasa berhasil menyamai kemampuan Pai Mei.

*

Variabel pertama yang digunakan untuk membuka tulisan ini sebenarnya sesuatu yang sangat cair. Kita bisa menggantinya dengan hal-hal lain. Tidak hanya gelut, kita bisa menggantinya dengan kata kerja-kata kerja lain seperti menulis, memasak, memecah batu, memanipulasi nota pembelian, sampai menjinakkan ular. Asalkan variabel kedua tidak diubah, relasi guru-murid; superior-inferior, maka premisnya akan tetap sama saja; ada seorang murid yang akhirnya menyamai kemampuan gurunya.

Apabila pembaca tidak percaya dengan formula di atas, mari saya tunjukkan sebuah percobaan. Mulai dari paragraf ini sampai paragraf-paragraf selanjutnya akan diadakan perubahan kata kerja yang akan digunakan sebagai variabel pertama. Dari gelut akan diubah menjadi band-bandan. Variabel keduanya, sebagai guru adalah Converge dengan jurus mautnya yang terrekam dalam album monumental yang dikenang-kenang sepanjang masa, “Jane Doe”, sedang muridnya adalah Cloudburst.

Kita tentu setuju bahwa “Jane Doe” merupakan jurus mematikan sekaligus monumental. Ia menyimpan energi yang meledak-ledak dan dapat meremukkan pendengarnya dalam jarak sepersekian menit. Pada segala sesuatu yang kelewat hebat, hal selanjutnya yang terjadi adalah pengkultusan terhadapnya. Segala sesuatu yang terdengar mirip demikian, akan langsung dianggap sebagai muridnya.

Cloudburst adalah salah satu murid yang memelajari jurus tersebut dalam album debut mereka “Crying of Broken Beauty”. Dalam album tersebut, sama seperti gurunya, mereka menggunakan jurus dengan energi meledak-ledak dan mereka juga memiliki kemampuan yang sangat baik untuk meyalurkan energi tersebut.

Perasaan berbeda saya alami ketika mendengarkan nomor pembuka di album terbaru mereka, “S/T”,  “Strange Acrobat” – meskipun sebenarnya saya lebih senang melabeli album tersebut dengan meminjam sepotong terakhir bio mereka di bandcamp “Embodiment of Chaos”, merujuk keberhasilan mereka di album ini untuk menjadi demikian -. Ada asumsi yang menunjukkan bahwa kali ini mereka berhasil mengolah energi yang meledak-ledak yang menjadi ciri utama jurus mereka dalam kemasan yang lebih bernas ketimbang yang disajikan di album debut mereka.

Asumsi saya hadir selepas menamatkan album tersebut beberapa kali. Nomor-nomor dengan durasi panjang yang menjadi favorit saya memperkuat asumsi tersebut. Dalam “Crimson Mask”, “Eternal Gunfight”, dan “Human Origami” mereka membuktikan bahwa mereka tidak kehilangan cara untuk menjaga esensi serta energi jurus tersebut dalam durasi yang cukup lama, kalau bukan dibilang mereka malah menemukan jurus yang baru.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak mereka capai dalam album debut mereka. Sebagai pembanding, “Harakiri Rhapsody”, yang merupakan nomor dengan durasi terpanjang dalam album tersebut, menurut saya terlihat kelelahan menjelang akhir lagu dan tidak lagi mampu menjaga esensi sekaligus energi jurus andalan mereka.

*

Ketika si perempuan berambut pirang menghadapi pertarungan terakhir menghadapi nemesisnya, ia melancarkan sebuah jurus yang memukul lima titik pada tubuh lawannya. Setelahnya, tanpa sadar, saat lawannya melakukan lima gerakan, jantungnya akan meledak dan ia mati. Jurus itu adalah pukulan penghancur jantung yang juga diajarkan oleh Pai Mei. Itu adalah jurus pamungkas yang tidak diajarkan kepada sembarang muridnya. Ia adalah murid yang beruntung karena mewarisi jurus tersebut. Dengan diwariskannya jurus tersebut ia kini telah benar-benar berada di tataran yang sejajar dengan gurunya

*

Dua nomor penutup di album “S/T” Cloudburst berjudul “First Cry” dan “Final Cry”. Bagi saya dua nomor ini adalah sesuatu yang esensial. Keduanya merupakan penanda perpisahan sekaligus pembuka babak baru yang hendak dicapai oleh Cloudburst di album selanjutnya.

“First Cry” adalah semacam rekap ucapan perpisahan pada jurus “Jane Doe” milik guru mereka. Mereka seperti hendak menyalami gurunya bahwa telah tuntas memelajari jurus itu sekaligus memeragakannya dengan sangat baik di album debut mereka.

Mereka lalu menyambung nomor tersebut dengan “Final Cry”. Nomor ini merupakan penanda babak baru bahwa kini mereka telah berada di tataran yang sama dengan guru mereka. Mereka kini bisa memainkan tensi, pola, dan cara penulisan lirik dan musik yang setara dengan jurus mematikan terakhir yang diajarkan sang guru melalui “All We Love We Leave Behind”.

Tentu saja, sebagai nomor penutup, “Final Cry” seharusnya memberikan rasa haus besar bagi pendengar Cloudburst untuk menunggu jurus apa yang akan mereka peragakan di album selanjutnya. Mengingat guru mereka terlihat pontang-panting memeragakan jurus barunya dalam “The Dusk In Us”, mungkin mereka akhirnya akan melampaui gurunya di album selanjutnya. (WR)

Previous Zimna Wojna: Instalasi Cinta Kedua Pawlikowski
Next Pembatalan RUU Permusikan dengan Album Kompilasi Digital “BERSAMA BERSUARA”