“Berbagi Kamar” – Rekah


Artist: Rekah | Album: Berbagi Kamar | Genre: Post Hardcore | Label: Royal Yawns | Tahun: 2017

Perkenalan pertama kali saya dengan Rekah terjadi bulan Agustus 2017. Twitter merupakan platform yang berjasa menjembatani saya untuk mengetahui lebih lanjut tentang mereka. Berawal dari cuitan ulang salah seorang warganet twitter yang berisikan tautan youtube, rasa penasaran saya muncul karena thumbnail dari cuitan tersebut sangat menarik; sebuah video klip dari band bernama Rekah yang berjudul Tentang Badai/Belajar Tenggelam berhasil mencuri 12 menit waktu hidup saya untuk menontonnya. Dari situ saya mencoba mencari tahu band seperti apa Rekah itu.

Dengan modal koneksi internet, saya mengetahui bahwa Rekah merupakan sebuah kolektif yang dibentuk pada tahun 2014 dan telah merilis dua single “Untuk Gadis yang Selalu Memakai Malam” dan “Belajar Tenggelam” dan satu EP yang diberi judul “Berbagi Kamar”. Keduanya dirilis oleh Royal Yawns. Berusaha untuk mendengar seperti apa EP tersebut, saya langsung membuka platform musik Spotify yang mengarahkan saya pada EP “Berbagi Kamar”.

Gelap dan Kelam adalah impresi pertama saya saat melihat kover dengan perpaduan warna merah dan hitam “Berbagi Kamar”. EP tersebut terdiri dari lima nomor yaitu “Lihat Aku Menghancurkan Diri”, “Mengeja Langit-langit”, “Seribu Tahun Lagi”, “Tentang Badai dan Pagi Setelahnya” dan “ Belajar Tenggelam”. Saya tidak yakin akan memberi label apa untuk genre yang diangkat oleh EP ini, karena Rekah mampu mengombinasikan banyak genre mulai dari Post-Rock, Shoegaze, Math-Rock sampai ke Hardcore/Punk, dan Black Metal.

Tema yang diangkat dalam album ini adalah seputar gangguan mental seperti apa yang dirasakan oleh frontman Rekah, Tomo, yang pernah berjuang menghadapi hal tersebut. Melalui lirik-lirik di EP ini mereka ingin menghilangkan stigma dan membicarakan bahwa gangguan mental merupakan hal yang penting. Tema gangguan mental sendiri bukanlah sebuah hal baru di ranah budaya popular, tak terkecuali dalam album musik dan film. Album musik yang mengangkat tema gangguan mental antara lain Joy Division – Unknown Pleasure (1979) dan The Cure – Disintegration (1989). Sedangkan dalam film terdapat cerita-cerita gangguan mental pada Fight Club (1999), A Beautiful Mind (2001), Shutter Island (2010), dan rangkaian serial animasi Jepang berjudul Neon Genesis Evangelion (1995). Khusus untuk Neon Genesis Evangelion, saya merasa ada beberapa adegan di serial tersebut yang direpresentasikan dalam EP Berbagi Kamar. Sebagai contoh, karakter utama pada serial animasi tersebut, Shinji Ikari, seorang anak yang menderita depresi karena mendapatkan tekanan dan berujung pada perbuatan mengasihani dan menyalahkan dirinya sendiri.

Secara penulisan lirik, setiap lagu di Berbagi Kamar membentuk sebuah cerita tentang bagaimana seseorang yang tengah berjuang menghadapi gangguan mental. “Lihat Aku Menghancurkan Diri” dijadikan nomor pertama di EP Berbagi Kamar. Spoken words yang sangat depresif menjadi pembuka nomor ini diteruskan dengan raungan gitar khas black metal merupakan alasan yang baik untuk mendengarkan EP ini hingga tuntas. Beberapa episode awal Neon Genesis Evangelion seketika terbayang di benak saya saat nomor tersebut dimainkan, saat Shinji Ikari terpaksa harus mengendarai mengendarai EVA-01 -sebutan untuk robot di serial Neon Genesis Evangelion-, meski dia harus tersiksa dengan hal tersebut. “Mengeja Langit-langit” merupakan nomor selanjutnya. Nomor ini bercerita tentang ketakutan terhadap gangguan jiwa yang diderita namun si penderitanya harus tetap bertahan atau setidaknya menunggu bantuan dari orang lain. Dipadukan dengan dinamika musik yang naik turun saya merasa seolah-olah ada dua kepribadian di dalamnya. Tensi tersebut mengingatkan saya pada adegan ketika Shinji Ikari merasa tidak sanggup lagi menjadi pilot EVA-01 dan memilih untuk melarikan diri dari semua hal yang berhubungan dengan EVA. Namun, Misato Katsuragi datang memberikan bantuan. Dia memberikan apa yang dibutuhkan Shinji yaitu keluarga.

“Seribu Tahun Lagi” dibuka dengan tremolo picking gitar khas Black Metal. Spoken words kembali muncul di nomor ini meski dengan nuansanya tak begitu kelam seperti pada nomor-nomor sebelumnya karena sang pengidap gangguan mental sepertinya sudah menemukan titik terang dalam menghadapi penyakitnya. Sama halnya dengan Shinji, pada awal hingga menjelang akhir episode dia menjadikan Rei Ayanami dan Kaworu Nagisa di episode akhir untuk menjadi alasannya terus bertahan menjadi pilot EVA. Nomor selanjutnya “Tentang Badai dan Pagi Setelahnya” memang kurang begitu berbahaya dibandingkan dengan tiga nomor sebelumnya. Mungkin nomor ini bertujuan untuk mengistirahatkan pendengar sebelum masuk ke nomor terakhir.

Nomor terakhir dalam EP Berbagi Kamar adalah “Belajar Tenggelam” yang menjadi favorit saya. Pada nomor tersebut seolah harapan yang dibangun melalui nomor-nomor sebelumnya mulai pudar. Sama seperti Shinji Ikari saat mengetahui bahwa Rei Ayanami hanyalah sebuah kloning dan Kaworu Nagisa harus mati di tangan EVA-01 yang dipilotinya. Nomor ini berhasil mengakhiri EP Berbagi Kamar dengan sempurna. Penggalan lirik “…mungkin kita ditakdirkan karam, agar belajar tenggelam” yang ada pada nomor tersebut adalah alasan mengapa saya menobatkannya sebagai nomor favorit. Lirik tersebut memberikan semangat kepada saya dan mungkin kepada seluruh individu yang mengalami gangguan jiwa untuk terus berusaha melampaui penyakit tersebut.

Pada akhirnya Evangelion dan “Berbagi Kamar” mengakhiri diri dengan good ending; dalam sebuah alternate universe seluruh karakter mengitari Shinji Ikari dan mengucapkan selamat dan dalam “Berbagi Kamar”semuanya berakhir baik-baik saja. Meskipun terkesan klise, Tomo dan Rekah mencapai sebuah keberhasilan dalam menyampaikan urgensi dari gangguan mental yang dideritanya dengan sangat apik. Ia seolah mampu menyuarakan kondisi seseorang yang tengah menderita gangguan mental dengan bahasa yang universal dan sekaligus memberikan cara bagaimana mengatasinya dimana sama seperti Shinji Ikari, dia berusaha kembali untuk menghadapi masalahnya karena sadar bahwa lari dari masalah bukanlah penyelesaian yang tepat. (RH)

Previous Pratima Mempersembahkan "How Art You Today"
Next Dekade Dekadensi: Persinggungan Gangster dengan Pelajar di Purwokerto