Sullen EP – Barefood


Artist: Barefood  |  Album: Sullen EP  |  Genre: Alternative Rock  |  Label: Anoa Records  |  Tahun: 2013
 

Nuansa dan euphoria nostalgia sudah terlanjur melekat pada extended play (atau lazim dikenal sebagai mini album) milik Barefood, duet pop/alternative rock asal Jakarta yang sedang menyita perhatian kancah musik non-mainstream tanah air. Tentu bukan tanpa alasan jika unit kreatif ini menjadi semakin sering dibicarakan. Keberanian mereka untuk mengusung genre yang diklaim sebagai salah satu genre terbaik milik generasi yang tumbuh besar pada era 90-an adalah alasan utama yang membuat Barefood mendapat respon yang sangat baik secara luas. Pemilihan sound yang tepat semakin melengkapi keistimewaan mini album yang diberi judul Sullen ini. Gabungan kedua formula tersebut membuat pendengar yang mungkin mengalami kejayaan dan menyukai musik alternative rock 90an untuk segera klop dengan materi yang disuguhkan oleh Ditto Pradwito bersama kompatriotnya, Rachmad Triyadi. Mereka berdualah aktor intelektual dibalik komposisi sederhana yang memiliki tempo dinamis berisikan riff-riff gitar catchy dan dibalut dengan distorsi kasar namun dikemas secara presisi. Komposisi serta corak sound pada album Sullen memang terasa begitu akrab dengan band-band alternative rock 90an yang mempengaruhi Barefood. Berada dalam titik  tersebut tidak lantas membuat Barefood jatuh dalam predikat band yang hanya ingin mengusung nostalgia melulu, sebab dengan cerdas Barefood mampu meramu unsur-unsur musik pop kontemporer dalam balutan alternative rock90an, sehingga ramuan final mereka dalam Sullen masih sangat relevan untuk diperdengarkan pada masa sekarang.

Berbicara mengenai gelombang resureksi alternative rock bercita rasa 90an secara global,saya sebagai penikmatnya tidak dapat mengacuhkan diri dari pengaruh Yuck ataupun Tripwires yang setia mengusung genre tersebut serta mempertahankan ramuan serta rumus-rumus alternative rock dengan baik. Jika boleh sedikit memasukan diskursus pribadi saya mengenai arah perkembangan musik modern secara global, saya berpendapat bahwa tren musik belakangan ini seperti terbagi dalam dua kutub yang berbeda. Ketika banyak pelaku musik mencoba membuat musik yang komposisinya cenderung futuristik dan akrab dengan berbagai jenis teknologi yang semakin berkembang, disisi lain pasti terdapat pula sebagian pelaku musik yang justru cenderung ingin mempertahankan kemurnian sebuah genre yang sudah sejak dahulu ada serta berpengaruh dalam relung-relung terdalam memori masa kecil pelaku-pelaku musik tersebut. Dari diskursus singkat saya tersebut, saya berpendapat letak Barefood berada di posisi sebagai pelaku musik yang cenderung ingin mempertahankan kemurnian sebuah genre yang sudah sejak dahulu ada. Mungkin justru tendensi inilah yang membuat apa yang disuguhkan Barefood melalui Sullen terasa begitu fresh dan menarik untuk disimak, meskipun sebenarnya tidak menampilkan sesuatu yang benar-benar baru.

…Barefood melalui EP pertamanya menunjukan kematangan dan kemantapan mereka dalam membentuk karakter musik…

Kembali pada pembahasan utama mengenai konten-konten dalam Sullen, kesederhanaan tampilan artwork terlihat pada cover berupa sebuah frame foto lawas yang menampilkan sesosok perempuan bergaya casual sedang memainkan gitar  Fender Jaguar. Saya, sebagai pendengar Sullen sekaligus (kembali) sebagai penikmat alternative rock 90an, menginterpretasikan cover tersebut dalam 2 logika berkhayal yang cukup liar. Pertama Sullen seakan ingin menunjukan pada pendengarnya jika komposisi yang mereka buat sangatlah jauh dari kesan rumit, seperti adanya dan langsung tertangkap maksudnya sama seperti artwork covernya. Kedua adalah kaitan alternative rock 90an dengan Fender Jaguar dimana gitar tersebut adalah identitas serta kebanggaan pengagum sound fuzz pada masa jayanya. Saya pikir selain kesederhanaan secara harfiah melalui artwork cover, Barefood ingin secara harfiah pula menunjukan identitas musik yang mereka usung dalam Sullen melalui hal yang sangat sederhana, Fender Jaguar. Kita sebagai pembeli yang sebatas masih memandang artwork  cover Sullen, sebelum menjadi pendengar, diajak berpikir secara sederhana dalam sesuatu yang kalau boleh saya kalimatkan menjadi “Hei, kalian ingat bagaimana bunyi Fender ini? Nah, itulah warna musik kami dan kalian akan menemukannya sepanjang album ini’. Brilian bukan kesederhanaan mereka dalam mengintegrasikan artwork cover dan konten mini albumnya?

Pembahasan selanjutnya adalah pembahasan yang paling esensial dari Sullen, yaitu interpretasi saya mengenai track per track dalam EP tersebut. Track pembuka Sullen adalah “Perfect Colour” yang disajikan begitu lugas tanpa basa-basi, didominasi oleh raungan gitar penuh fuzz distorsi, ketukan drum minimalis namun penuh energi, dan penuturan vokal penuh semangat yang menyerukan betapa pentingnya melakukan pengendalian diri. Track ini menyimpan potensi besar untuk menjadi idola para sing-a-long goers ketika dimainkan secara live. Selain kebrilianan dalam menyampaikan pesan melalui cover seperti yang saya bahas diatas, Barefood nampaknya juga cukup brilian dalam membuka sebuah rangkaian track yang terekam dalam mini album, hal tersebut dapat saya buktikan melalui track Perfect Colour” yang memberikan suasana fun dan bersemangat, sehingga bagi saya track tersebut merupakan pilihan cerdas sebagai pengantar untuk mendengarkan track demi track selanjutnya. Menunggu dibelakang “Perfect Colour” , masih dengan formula yang sama tetap dengan sound a la Dinosaur Jr, “Grey Skies” mengalun dengan sedikit mengingatkan saya pada beberapa nomor milik Yuck dan My Vitriol. Pada track ini Barefood mencoba bercerita tentang kegelisahan untuk menentukan arah dalam suatu relationship.

Nampaknya mengenai konten lirik, Barefood memilih untuk tidak bertutur terlalu dalam, namun hal tersebut tidak membuat mereka lantas mengabaikan estetika dalam setiap makna dari sebuah lirik. Terlihat mereka lebih memilih tema ringan dan sederhana dalam setiap nomor yang ada dalam Sullen ini, padahal mereka terdengar cukup fasih melafalkan setiap bait lirik melalui lantunan vokal Rahmat yang bernyanyi layaknya John Davis dari Superdrag, pasti tidaklah sulit bagi para pendengarnya untuk menangkap maksud yang ingin mereka sampaikan. Hal tersebut terdengar kembali pada track dengan durasi paling singkat, “Teenage Daydream”. Dalam track ini Barefood masih bertahan dengan komposisi serta tema lirik yang sederhana, namun kali ini mereka mencoba menceritakan banyak tema dalam satu track dibandingkan pada track-track sebelumnya. Oh, atau mungkin mereka tidak hanya sekadar bercerita  pada track ini tapi mungkin mengajak para pendengarnya untuk lebih memahami diri agar dapat menyikapi hidup lebih bijak sambil tidak lupa untuk selalu menikmatinya? Mungkin juga. Rasanya saya perlu menanyakannya ketika mereka nanti berkesempatan menggelar gig di Purwokerto. Barefood mencoba tampil berbeda di track selanjutnya, seakan sebuah film cult yang pantang menampilkan plot mudah ditebak serta selalu bermain-main dengan ekspektasi para penikmatnya, mereka tampil lebih lembut dengan sound catchy dengan sedikit sentuhan Power Pop milikTeenage Fanclub, The Posies, ataupun The Lemonhead. Tampilan tersebut dipermanis lagi dengan hadirnya guest vocalist perempuan sekaligus aktris yang bertanggung jawab terhadap penulisan lirik di track ini yaitu Putriani Mulyadi. Putri sebenarnya menyanyikan lagu ini dalam kadar suara yang biasa-biasa saja, atau lebih tepatnya datar, tapi justru itulah yang menjadi kekuatannya sebagai guest vocalist pada track “Sullen”. Rahmat dan Putri benar-benar berhasil menjalin tali makna perasaan sebuah lagu tanpa perlu menyaksikan mereka bertatapan di panggung atau saling menjulurkan tangan untuk saling meraih guna memahami lagu ini adalah lagu balada.  Dengan nuansa yang begitu dingin dan suara Putri yang datar namun haunting (begitu istilah inggrisnya), tak diragukan lagi track “Sullen” bakal jadi track favorit bahkan bagi telinga awam sekalipun, saya berani bertaruh untuk pendapat saya kali ini. Selepas mengawang bersama “Sullen”, Barefood bersiap mengakhiri sajian lezat dalam mini album mereka. Guna menutup perjalanan penuh nostalgia ini,  Barefood sepertinya ingin menutupnya dengan sesuatu yang epic. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meletakan “Droning”, yang memiliki durasi lebih dari 7 menit, sebagai track penghabisan, perpisahan, penutup, atau apapun itu guna mengakhiri nostalgia kita dengan alternative rock 90an a la Barefood. Menjadi sebuah pilihan cerdas karena selain perihal durasi, komposisi di nomor ini pun terasa begitu megah dengan menghadirkan nuansa yang kelam lengkap diiringi suasana gelisah. Bahkan ada beberapa part yang terdengar cukup sludgy dan beberapa bagian lainya yang sekilas terdengar dreamy seperti MBV (My Bloody Valentine) atau Tripwires. Komposisi tersebut terasa pas untuk mengungkapkan kejenuhan atau kebosanan terhadap rutinitas namun si pelaku rutinitas ini tidak tahu apa yang harus dilakukan, seperti yang mungkin digambarkan oleh liriknya. Secara komposisi, di track ini Barefood bermain cukup sabar dengan membangun emosi secara perlahan, kemudian ketika tensi semakin meninggi  diikuti dengan alunan melody yang telah menjadi semakin liar lalu tiba-tiba emosi saya yang telah terbangun dikonversi ke dalam suatu gimmick berwujud feedback gitar meraung-raung dan akhirnya…..KABOOM!!! Barefood sukses menutup pengalaman berpetualang mengarungi lautan kreativitas lintas zaman ini dengan sajian yang berkelas.

Uraian diatas membuktikan apa yang disuguhkan Barefood melalui EP pertamanya menunjukan kematangan dan kemantapan mereka dalam membentuk karakter musik. Hal tersebut didukung oleh fakta meskipun nama mereka baru terdengar luas belakangan ini, namun sepak terjang dan masa pembentukan karakter mereka sudah dimulai sejak 2010, sehingga bukan menjadi hal aneh jika materi yang terangkum dalam Sullen terasa begitu kuat karakternya serta berisikan komposisi yang benar-benar (kalau boleh saya ungkapkan dengan bahasa yang sangat jujur) bule sekali, jauh dari kesan murahan yang identik dengan band yang hanya mengulang trend semata. Mendengarkan EP ini cukup memberikan pengalaman menarik, semenarik ketika setelah kita dewasa kita kembali mememukan kepingan Tazos yang kita simpan dahulu atau semenarik ketika kita tiba-tiba mendapati wahana permainan kontemporer kembali menyediakan mesin ding-dong yang berisi lakon ”Double Dragon” atau “Captain Commando”. Seberapapun menariknya nuansa nostalgia yang dibawakan oleh Barefood dalam album Sullen, akan semakin menarik lagi jika rilisan perdana hasil kolaborasi bersama Anoa Record ini tidak hanya sekadar jadi ajang nostalgia bagi para “gen-x” tapi lebih dari itu dapat menjadi penanda lintas generasi bahwa dahulu terdapat sebuah genre yang menjadi idola pada masanya dan kini berulang, sehingga pengulangan tersebut dapat memberi semangat baru yang lantas membawa perubahan positif bagi industri musik kreatif tanah air agar lebih maju, atau mungkin pemikiran saya terlalu jauh? Ahh, lebih baik mari kembali bernostalgia dengan Sullennya Barefood. (AR)

Previous PARADE BAND TERBAIK 2014
Next Kepada Pak Polisi Tanpa Seragam Semalam di Kafe Ramsha