JAKARTA – Di balik pagar sebuah bangunan bernama Atiga di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, waktu seolah bergerak lebih lambat pada Minggu (5/4) lalu. Hari itu, unit pop retro kebanggaan Indonesia, White Shoes and The Couples Company (WSATCC), kembali menggelar hajatan open studio, yakni sebuah tradisi open house sekaligus halal bihalal yang kini telah menginjak edisi kelima sejak mereka menetap di sana pada 2018.
Atiga bukan sekadar bangunan studio yang kaku dan normatif. Ia adalah ekosistem kreatif yang hidup. Di sana, WSATCC membangun hidup dan berbagi nafas dengan ruang kreatif lainnya: mulai dari aromatik dapur Warpopski, hingga ketajaman visual dari biro arsitek Svaloka dan pppooolll.

Riuh Rendah Sunday Market
Acara dibuka oleh Indra Ameng, manajer WSATCC yang juga sosok sentral di balik layar. Alih-alih hanya sekadar pertunjukan musik, Ameng menghadirkan lingkaran pertemanan mereka dalam format garage sale atau sunday market.
Sedari siang, di tengah cuaca Jakarta Selatan yang cukup menggigit, suasana berlangsung khidmat. Para kolektor dan penggemar tampak antusias berburu special merchandise dan juga sisa-sisa “stok perjuangan” berupa piringan hitam yang kini mulai menipis keberadaannya. Di dalam bangunan Atiga, Rio Farabi menjaga suasana melalui deretan set lagu klasik Indonesia yang diputar melalui tombol-tombol turntable di bawah jari-jemarinya, menemani pengunjung yang sedang menyisir ‘museum’ mini berisi memorabilia perjalanan band selama dua dekade lebih.

Senandung di Teras Rumah
Tepat pukul 17.00 WIB, barikade antara idola dan penggemar mulai runtuh. Setelah sesaat seluruh personel WSATCC melangkah menuju instrumen mereka yang ditata di area teras rumah yang disulap menjadi panggung mini, pengunjung dalam sekejap merangsek bagai barikade hidup yang siap menjaga keberlangsungan acara intim sore itu.
Tanpa basa-basi, lagu “Sabda Alam“ meluncur sebagai pembuka, memicu koor massal sejak bait pertama. Keintiman begitu terasa ketika jarak antara penonton dan musisi hanya terpaut hitungan jengkal. Berturut-turut, mereka membawa penonton melintasi linimasa karier mereka melalui nomor-nomor hit seperti “Windu & Defrina“, “Roman Ketiga“, “Vakansi“, “Sunday Memory Lane“, dan tentunya “Kisah dari Selatan Jakarta“

Merawat Ekosistem Bersama
Menjelang senja, Sari “Sartje” mengambil sedikit jeda. Ia mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung yang hadir bukan hanya untuk menonton, tetapi juga karena telah menjaga kelangsungan ekosistem kreatif mereka dengan membeli produk-produk yang disajikan. Baginya, dukungan ini adalah bahan bakar utama agar kolektif di Atiga tetap bisa berdenyut.
Pertemuan sore itu ditutup dengan sebuah lingkaran penuh. WSATCC membawakan “Senandung Maaf”, sebuah lagu yang membawa mereka sejauh ini; lagu di mana semua ini bermula. Saat nada terakhir memudar, gelaran di Vakansi Studio sore itu bukan lagi sekadar acara open house, melainkan pengingat bahwa di tengah industri yang makin digital, interaksi fisik dan dukungan komunitas tetaplah menjadi akar dan fondasi yang paling kokoh. (KF)






